Luna Evelyn, gadis malang yang tidak diinginkan ayah kandungnya sendiri karena sang ayah memiliki anak dari wanita lain selain ibunya, membuat Luna menjadi gadis broken home.
Sejak memutuskan pergi dari rumah keluarga Sucipto, Luna harus mencari uang sendiri demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Hingga suatu malam ia bertemu dengan Arkana Wijaya, seorang pengusaha muda terkaya, pemilik perusahaan Arkanata Dinasty Corp.
Bukannya membaik, Arkana justru membuat Luna semakin terjatuh dalam jurang kegelapan. Tidak hanya menginjak harga dirinya, pria itu bahkan menjerat Luna dalam ikatan rumit yang ia ciptakan, sehingga membuat hidup Luna semakin kelam dan menyedihkan.
"Dua puluh milyar! Jumlah itu adalah hargamu yang terakhir kalinya, Luna."
-Arkana Wijaya-
Bagaimana Luna melewati kehidupan kelamnya? Dan apakah ia akan berhasil membalas dendam kepada keluarga Sucipto atau semakin tenggelam dalam kegelapan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melia Andari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Ada Artinya
Sebenarnya kau ingin aku pergi darimu, atau justru membutuhkan kehadiranku?"
Arkana terdiam. Tatapannya pun menjadi muram.
"Pergi," ucapnya dengan suara serak.
Luna tertegun.
"Kau yakin menyuruhku pergi?" tanya nya.
"Jangan kembali jika aku tidak memintanya!" jawab Arkana.
"Tapi bagaimana dengan magang dan kuliahku?"
"Aku akan mengurusnya. Kau akan tetap lulus meski tanpa magang di perusahaan ku! Tapi sebagai gantinya, pergi dari kehidupanku, Luna Evelyn!"
"Baiklah," sahut Luna.
Wanita itu berjalan ke arah pintu, namun belum sempat ia menyentuh gagang pintunya, pintu itu telah lebih dulu terbuka.
Luna tercekat. Maya berdiri di ambang pintu dengan menatapnya tajam. Antara terkejut dan juga marah. Mengapa kakak tirinya bisa berada di sini?
Perempuan jalang sialan, kenapa dia di sini?
Maya kesal, rasanya ingin menarik rambut Luna saat ini juga. Tetapi ia tak bisa melakukannya karena di depan sana ada Arkana.
"Kak Luna? Sedang apa di kantor calon tunangan ku?" tanya Maya dengan suara manja.
Mendengar itu Arkana pun terkejut. Ia memalingkan wajahnya ke arah Luna dan Maya.
Maya menoleh ke arah Arkana, berharap pria itu memberinya penjelasan.
"Ada apa ini Kak Arkana?" tanya nya.
Luna pun tersenyum sinis dan hendak beranjak tanpa mempedulikan kebingungan Maya. Namun ternyata adik tirinya itu tidak terima. Ia menahan tangan Luna dengan kuat.
"Jelaskan padaku," ucapnya tegas.
"Kamu tanyakan sendiri saja pada tunanganmu itu," sahut Luna seraya menepis tangan Maya.
Maya pun memalingkan wajahnya pada Arkana.
"Kak?" tanya nya.
"Dia adalah mahasiswa magang di tempatku. Menjadi sekretaris sementara untukku," ucap Arkana pada akhirnya.
Mendengar itu, Maya pun terhenyak. Ia melirik Luna singkat lalu tersenyum mengejek. Luna tak mengerti arti tatapan Maya, tapi ia tak peduli.
Ia pun kembali berjalan, hendak keluar dari ruangan.
"Oh jadi dia orang tidak penting dan tidak ada artinya yang kakak katakan waktu itu?" tanya Maya.
Mendengar itu, Luna pun menghentikan langkahnya.
Tidak ada artinya?
Luna pun tertawa miris, merasa lucu dan bodoh.
Tentu saja tidak artinya. Wanita yang sudah dipakai beberapa kali seperti ku, tentu tidak ada artinya jika dibanding Maya yang masih terlihat polos itu.
Dada Luna terasa sesak. Matanya panas menahan airmata. Untung saja ia membelakangi kedua manusia menyebalkan itu, sehingga mereka tidak bisa melihat ekspresinya.
"Ya, seperti apa yang telah kamu dengar," sahut Arkana dengan tatapan mata dingin yang tertuju pada punggung Luna.
Luna mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya.
Ia tersenyum tipis lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh.
...----------------...
Luna menyetir mobil Porsche 718 Spyder RS nya dengan perlahan. Satu tangan memegang kemudi, satu lagi memegang keningnya. Ia menyetir dengan perasaan hampa.
Pikirannya terus teringat akan ucapan Maya, bahwa dia tidak ada artinya. Itu memang benar, tapi kenapa rasanya sakit sekali?
Berjalan tanpa arah selama beberapa jam membuat Luna lelah. Ia menepikan mobilnya di tepi jalan dan membeli minuman untuk menghilangkan dahaga.
Sambil minum, pikirannya kembali ke ruang kerja Arkana. Meninggalkan pria itu bersama Maya, apakah mereka akan melakukan hal yang sama?
Apakah Arkana akan menyentuhnya dan membawa Maya ke atas ranjang nya itu? Atau akan tetap menjaga kemurnian Maya hingga mereka menikah?
Luna tersenyum miris sambil meminum kopinya.
"Sial!"
"Untuk apa aku memikirkan pria sialan itu? Dia mau melakukan apapun dengan Maya, tidak ada hubungannya denganku!"
Luna pun beranjak dan kembali masuk ke mobil. Ia memutuskan untuk pulang saja ke apartemennya. Toh Arkana telah menyuruhnya pergi.
Tidak mungkin Luna kembali ke sana jika bukan atas permintaan Arkana.
Tak membutuhkan waktu yang lama, Luna pun tiba di apartemennya. Ia merebahkan diri di atas ranjang seraya menatap langit-langit.
Bukankah aku ingin bebas darinya? Tapi kenapa hatiku rasanya sesak sekali?
Cukup lama Luna merenung hingga tertidur sampai hari sudah sore. Namun suara ponsel membangunkan dirinya. Melihat siapa yang menghubunginya, dengan malas Luna pun mengangkat telepon itu.
"Luna, datanglah ke rumah. Jika tidak, aku akan mengambil kembali saham yang ada di tanganmu."
"Kau tidak bisa mengambilnya ayah, sebab itu telah menjadi milikku."
"Tentu bisa, kamu lupa siapa yang berada di belakang kami?"
Luna mengenryit.
"Arkana Wijaya. Dia pasti akan melakukan apa saja untuk kami, Luna."
Mendengar itu Luna pun terhenyak. Tanpa aba-aba ia mematikan ponselnya.
"Brengsek!" umpatnya lalu segera pergi ke kediaman keluarga Sucipto.
...----------------...
Malam hari, Luna telah tiba di kediaman keluarga Sucipto. Dengan langkah lebar ia pun masuk ke dalam rumah tepatnya di ruang keluarga yang berada di lantai dua dan mendapati semua orang sedang menunggunya.
"Kenapa pernikahanmu batal, Luna?" tanya Hendri.
"Kamu memanggilku hanya untuk ini?" sahut Luna.
"Tidak, tapi karena kau telah menggoda tunangan Maya. Apa kau memutuskan pernikahan dengan Pak Bagaskoro lalu bermaksud menggoda Arkana?" tanya Ana.
"Aku tidak menggodanya, aku bekerja padanya."
"Hahaha dasar jalang murahan! Kamu juga tidak akan bisa menggoda Arkana. Dia menyukai wanita polos seperti ku, bukan seperti dirimu," ucap Maya meremehkan.
Mendengar itu, Luna pun tersenyum tipis. "Begitu menurutmu?"
"Apa kamu tahu wanita mana saja yang pernah ia tiduri? Atau apakah dia pernah menyentuhmu?" tanya Luna.
"Apa??" Maya terperangah.
"Dengar Maya, sebaiknya kau cari tahu dulu bagaimana calon suamimu, baru kau bisa menilai dirinya. Jangan jadi perempuan bodoh yang tidak tahu apa-apa."
"Luna!!" sentak Maya.
"Jika dia bahkan belum pernah menyentuhmu, mungkin saja dia tidak menyukaimu, Maya," bisik Luna seraya berjalan menuju tangga.
"Jangan lancang kamu Luna—"
"Diam!" sentak Luna mengentikan ucapan Ana.
"Kau yang lancang! Kau masuk dalam kehidupanku dengan membawa anak haram mu lalu tanpa malu kau menguasai semua yang seharusnya menjadi milikku!"
"Apa kau bilang?" Ana tidak terima.
Ia pun langsung menarik rambut Luna dengan kencang hingga Luna meringis.
Luna pun menarik kembali rambut Ana sehingga terjadi tarik-tarikan diantara keduanya.
"Wanita jalang! Lepaskan ibuku!" sentak Maya.
Ana tersenyum, lalu ia pun mendorong Luna dengan keras sehingga tubuh Luna terdorong menuju balkon yang belum ada pagarnya.
Beberapa hari lalu, pagar balkon itu dilepas karena Maya ingin menggantinya dengan model lain. Sehingga saat ini tubuh Luna tidak tertahan apapun dan hilang kendali saat melewati balkon tersebut.
"Tidak!!" jerit Luna ketika tubuhnya telah terjun bebas dari lantai dua.
Dia pasrah dan memejamkan mata untuk menemui kematiannya. Tubuhnya jatuh dengan kecepatan tinggi. Namun seketika ia merasa sebuah tangan sedang menangkapnya.
Tangan itu menangkap tubuh Luna dengan kuat lalu ikut terjatuh seraya mendekap Luna yang kini telah berada di atas tubuhnya.
ga tegas