NovelToon NovelToon
Menyembunyikan Benih Mantan Suami

Menyembunyikan Benih Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Slice of Life / Single Mom / Nikahmuda / Cerai / Duda
Popularitas:86.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ara Nandini

Selina harus menelan pahit kenyataan di kala dirinya sudah bercerai dengan mantan suami hasil perjodohan. Ternyata tak lama setelah itu, dia menemukan dirinya tengah berbadan dua.

Selina akhirnya memutuskan untuk membesarkan bayinya sendiri, meskipun harus menjadi ibu tunggal tak membuatnya menyerah.

Berbeda dengan Zavier. Mantan suaminya yang hidup bahagia dan mewah dengan kekasihnya. Seseorang sudah hadir di hidup pria itu jauh sebelum kedatangan Selina.

Akankah kebenarannya terungkap seiring berjalannya waktu? Belum lagi Selina Kini harus terjebak dengan seorang bos yang sangat menyebalkan.

Ikuti kisahnya!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ara Nandini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

Setelah mengantar Ian ke sekolahnya, Selina langsung melajukan motor menuju kafe Lincoley. Dalam perjalanan, pikirannya sempat melayang ke acara pernikahan Zavier kemarin. Ngomong-ngomong soal Nathan, ia sama sekali tidak melihat pria itu hadir di sana. Jangankan Nathan, orang tua Zavier saja tidak terlihat. Bagaimana tidak? Selina sendiri buru-buru keluar dari gedung setelah mengucapkan selamat singkat.

Wanita itu melirik ke kaca spion, syukurlah mobil hitam tadi tak mengikutinya, mungkin tadi hanya orang iseng saja.

Saat tiba di depan kafe, Selina menghela napas, lalu melangkahkan kakinya. Namun langkahnya terhenti begitu masuk ke dalam.

Di salah satu sudut ruangan, ia melihat Jayden sudah duduk di meja dengan laptop terbuka. Pagi-pagi begini? Harusnya pria itu ada di kantor? Wajah Jayden tampak lelah, matanya setengah terpejam, seperti menahan kantuk.

“Selina,” panggil Jayden tiba-tiba saat wanita itu melewatinya begitu saja.

Rupanya pria itu melihat keberadaan Selina.

Selina menghentikan langkahnya. Ia berbalik, menatap Jayden dengan tatapan penuh tanya, alisnya berkerut.

“Bantu aku menyelesaikan laporan,” ucap Jayden tanpa basa-basi.

Selina sempat membeku di tempat. Apa dia tidak salah dengar barusan? Pria itu menyuruhnya membantu menyelesaikan laporan?

“Ke…kenapa harus saya, Pak?”

Jayden mendesah, lalu menutup sebentar matanya, memijit pelipisnya. “Kamu tinggal mengetik saja apa yang aku katakan. Kupikir tak ada salahnya tangan dan otakmu dipakai pagi ini.” Nada suaranya datar.

“Ta…tapi, Pak, saya harus kerja. Kafe ini—”

Jayden langsung memotong. “Kerja apanya? Lihat, pagi ini kafe masih kosong. Lagian Nathan itu temanku, dia nggak akan marah kalau aku ‘meminjam’ salah satu pelayannya sebentar.”

“Tapi saya harus membersihkan meja, menyapu lantai, menyiapkan—” Selina masih berusaha menolak.

“Nanti saja,” desak Jayden cepat, tatapannya menusuk. “Cepat bantu aku. Aku tidak bisa fokus, kepalaku berdenyut dari semalam.”

Selina menarik napas panjang. Mau tak mau, ia akhirnya melangkah mendekati meja pria itu.

“Duduk di sini, dekatku,” ucap Jayden tegas ketika Selina hendak menarik kursi di seberang.

Selina menurut. Ia lalu menggeser kursi dan duduk di samping Jayden.

“Apa kamu begitu alergi berdekatan denganku?” sindir Jayden, matanya melirik Selina yang sengaja menarik kursinya agak jauh darinya.

Selina menghela napas panjang, ia menyeret kursinya mendekat. Kini jarak mereka hanya sejengkal. Aroma parfum maskulin Jayden langsung menyusup ke inderanya, menambah rasa canggung yang sudah ia rasakan sejak tadi. Ia berdehem pelan, berusaha menutupi kegugupannya.

“Ini laporan tentang divisi Aetherworks. Di bagian ini kamu isi data sementara.…” ucap Jayden sambil menarik laptop ke Selina, kemudian mencondongkan tubuh agar bisa ikut membaca.

Selina sebenarnya tidak asing dengan format laporan seperti ini. Waktu SMA dulu ia sempat ikut kursus komputer, termasuk belajar mengetik sepuluh jari dan dasar-dasar administrasi. Jadi, meskipun awalnya kikuk, ia bisa mengikuti instruksi Jayden dengan cukup cepat.

Jayden mulai menjelaskan dengan detail, sementara Selina mengetik sesuai arahan. Jemarinya menari lincah di atas keyboard. Lebih cepat selesai, lebih cepat bebas dari pria menyebalkan ini, batinnya.

“Di bagian catatan tambahan kosongkan saja. Nanti itu biar aku yang melengkapi,” kata Jayden. Tangannya terulur menunjuk layar, tapi tanpa sengaja punggung tangannya menyentuh jemari Selina yang sedang mengetik.

Selina sedikit berjengit, refleks menoleh ke arahnya. Dan rupanya Jayden pun menoleh di saat bersamaan, dan tatapan mereka bertemu.

Selina terpaku. Untuk sepersekian detik, ia menyadari betapa dekatnya wajah pria itu. Bola mata Jayden yang berwarna keabu-abuan tampak menawan dari jarak sedekat ini, kulitnya mulus tanpa cela, dan rahangnya tegas. Kenapa… dia bisa seganteng ini kalau dilihat dari dekat? pikir Selina tanpa sadar.

Jayden menaikkan sebelah alis. “Jangan memandangiku seperti itu. Nanti kamu jatuh cinta. Dan aku tidak akan bertanggung jawab dengan perasaanmu.”

Selina sontak tersentak, buru-buru mengalihkan pandangan, lalu berdehem untuk menutupi kegugupannya.

“Lanjutkan,” kata Jayden singkat.

“Baik, Pak…” jawab Selina lirih.

Ia kembali fokus mengetik. Dalam hati, Selina sedikit lega karena setidaknya hari ini Jayden tidak sedang me-reog atau memarahinya seperti biasanya.

Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Dengan wajah ceria, Ian berlari kecil ke depan lalu menyalami gurunya di depan. “Terima kasih, Bu Guru!” katanya riang lalu keluar kelas.

Biasanya, ia suka duduk sebentar di bangku taman sekolah menunggu Selina menjemput. Namun kali ini Ian memilih duduk di kursi panjang dekat gerbang, tempat yang memang disediakan untuk orang tua murid yang menunggu anak-anaknya. Bocah itu tidak berani ke taman lagi, takut kalau Aria muncul dan menjahilinya, lalu dirinya kembali dituduh macam-macam.

Ian menurunkan tasnya, membongkar isinya dengan penuh semangat. “Baik banget Kailan ngasih ini gratis ke Ian…” gumamnya riang saat melihat mainan kecil yang diberikan temannya tadi pagi di kelas.

Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Dari balik kaca depan, sepasang mata menatap tajam penuh kebencian. Jemarinya mencengkeram erat setir, hingga buku-bukunya memutih.

“Berani-beraninya dia menamparku… jangan salahkan aku jika balasannya akan aku buat anaknya menderita,” desis Maisa dingin.

Perempuan itu turun dari mobil, merapikan jaketnya sebentar sambil melirik ke sekitar. Banyak orang tua masih menunggu anak-anak mereka, membuat Maisa harus pintar menyembunyikan niat jahatnya.

“Ehem…” suaranya terdengar saat ia melangkah mendekati kursi tempat Ian duduk.

Ian yang tengah asyik menatap mainan di pangkuannya mendongak, dan seketika wajahnya pucat pasi. Mata bulatnya melebar penuh ketakutan saat mengenali sosok di depannya. Ia ingat jelas betapa kasar Maisa terakhir mereka bertemu.

Refleks, Ian berdiri dan hendak masuk kembali ke area sekolah. Namun, tangan kecilnya langsung ditangkap.

“Heh, mau ke mana?” suara Maisa terdengar tajam, jemarinya mencengkeram lengan mungil Ian.

“Tante… lepasin tangan Ian…” lirih Ian ketakutan, matanya berkaca-kaca, takut jika tangannya kembali dicengkeram hingga sakit.

“Hei, tenang saja. Aku nggak akan menyakitimu… kalau kamu diam,” ucap Maisa.

Ian menggeleng keras. “Ian nggak mau… ”

Maisa berdecak kesal. Tatapannya berubah garang. “Dasar bocah keras kepala. Diam dulu… atau mau kupukul sekarang juga?”

Ian kemudian diam, meski napasnya tersengal ketakutan. Maisa berjongkok di depannya, jemarinya terulur mengusap pipi Ian pelan dengan senyum miring di bibirnya menampilkan niat lain yang tersembunyi.

“Ikut aku sekarang, kita temui mamamu,” ucap Maisa dengan suara lembut yang dibuat-buat.

Ian langsung menggeleng keras. “Tante pasti mau berbuat jahat sama Ian. Ian nggak mau ikut Tante!”

Ekspresi Maisa seketika berubah masam, rasa kesalnya memuncak. Bocah di depannya ini rupanya tidak semudah itu untuk dibohongi.

Tiba-tiba langkah cepat terdengar, seorang wanita menghampiri mereka. Dialah Bu Fina, wali kelas Ian. Wajahnya tampak heran.

“Maaf… anda siapa ya?” tanya Bu Fina sopan namun curiga.

Ian buru-buru menunjuk ke arah Maisa. “Bu guru, Tante ini—”

“Saya bibinya Ian,” potong Maisa cepat. “Saya harus membawanya pergi. Mamanya sedang sibuk di kafe, tak sempat menjemput, jadi saya yang diminta.”

Mata Bu Fina menyipit. Ia jelas tidak langsung percaya. “Saya nggak pernah lihat anda sebelumnya. Biasanya kalau orang tua atau wali tidak bisa menjemput, mereka memberi kabar lebih dulu.”

“Bu guru, dia bukan Tante Ian! Dia orang jahat! Dia pernah marahi Ian dan pegang tangan Ian sampai sakit, sampai merah!”

Maisa sontak melotot tajam ke arah Ian.

Bu Fina dengan sigap meraih tangan Ian, menariknya mendekat dan melindunginya di balik tubuhnya.

“Pergi anda dari sini!” kata Bu Fina dengan nada keras.

Maisa mengepalkan tangannya, wajahnya memerah menahan amarah. Tatapannya menusuk ke arah Ian yang kini bersembunyi di balik tubuh gurunya.

Tanpa berkata-kata lagi, Maisa melangkah cepat ke mobilnya. Sebelum masuk, ia sempat menoleh sekali lagi, menatap Ian dengan pandangan penuh ancaman.

1
anggun Pureklolon
baik
Mirrabella
mana ni kak lama x cepetan udah gak
sabar nunggu kelanjutannya buruaann
Sunaryati
Maaf Thoor kenapa lama tidak up?
Maseni Maseni
zavier lebih jahat dari nathan... tapi ga ngaca
harusnya jangan kasih ketemu sama anaknya
gemes pengen jotos
Yasmin Natasya
up dong thor....
Umi Kazma
Tsk itu apa???
Erna Riyanto
lahhh ..malah Selina mau kesana...jaiden lgi GK sadar Selin...nnti mlh.....ahhh...tau lahhh
cinta semu
Jayden mulut lemes gitu ,,,apa g ada yg lain Thor ...karma buat Nathan mana Thor
cinta semu
punya mantan sedeng ...punya bos juga gila ...hidup u benar2 sial Selina
cinta semu
pengen ny Selina pergi yg jauuuuuuhhh ..dari awal hidup kok menderita terus ..di hina ugal-ugalan juga ...
Sunaryati
Astaga Maisa benar-benar wanita gatal, sudah habis urat malunya, itu bukan cinta tapi obsesi untuk memiliki dan serakah harta
Fitria Syafei
waduh kalau ke sana ketemu si Kunti dong.... gimana mau nolongin Jayden....🙄 KK cantik kereen 🥰🥰
Reni Anjarwani
doubel up thor
Sunaryati
Emak bantu Jawab Selina, iya Pak Jayden asal bapak berjanji mencintai, melindungi, dan menerima putraku
Sunaryati
Karma Zavier sampai sekarang belum nongol , jika nanti datang, harus ditambah. Dia juga merasakan apa yang diberikan pada Nathan. Xavier tidak pernah berkaca pada dirinya, keangkuhan masih mendominasi
Feni Puji Pajarwati
karmanya Revan kapan???
kalea rizuky
heran liat zavier ini gk sadar diri dia itu adek nya gt karena karma uda dzalim ke mantan istri
Fitria Syafei
KK yang baik dan cantik kereen 🥰🥰 terimakasih 😘
Sunaryati
Ny Bella tidak berkaca pada dirinya memandang seorang janda, padahal dirinya pernah berada diposisi itu. Ny Bella juga sadar jika putranya sudah jatuh cinta maka akan dikejar, mengapa masih menghalangi
Sunaryati
Zavi kamu nggak nyadar yang telah kau lakukan pada Selina, kamu. asih bisa sombong da arogan, karena Author masih ke kamu, kok belum dapat karma. Kim beri kesempatan pada Nathan, namun setelah bayimu lahir nikah ulang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!