NovelToon NovelToon
Anaknya Disusui, Daddy-nya Yang Terpikat

Anaknya Disusui, Daddy-nya Yang Terpikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Janda / Cinta Seiring Waktu / Pengasuh / Ibu susu
Popularitas:52.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ita Yulfiana

Firdha diusir dengan kejam oleh Ibu mertuanya 2 hari setelah dia melahirkan bayinya. Dirasa tidak berguna lagi, Firdha diperlakukan seperti sampah.

Di sisi lain, ada Arman yang pusing mencari Ibu Susu untuk bayinya, tak disangka takdir malah mempertemukannya dengan Firdha.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 : Hanya Modus

"Apa Akira sudah tidur?" Arman muncul secara tiba-tiba dan menyelinap masuk ke dalam kamar putrinya.

"Sudah, Tuan." Wanita itu sedang duduk di atas tempat kasur, dengan buku di tangannya. Seperti biasa, dia akan menyempatkan diri membaca beberapa halaman hingga rasa kantuk datang menyerang.

"Oh, baguslah kalau begitu." Arman menghampiri Firda lalu mengangsurkan beberapa map kepada ibu susu Akira tersebut.

"Ini, tadi sore pak Rachmat mengirimkan ini untuk kamu pelajari sebelum mulai masuk ke kantor besok pagi."

"Apa ini, Tuan?" tanya Firda, menerima map tersebut.

"Map-map itu berisi data–data penting dan struktur organisasi di PT Sinar Abadi. Kamu harus mulai mempelajarinya sekarang." Arman lantas duduk di samping Firda, memperhatikan wanita itu yang mulai membaca isi map. "Kalau ada yang kurang jelas, tanya aku langsung. Aku di sini untuk membantumu."

Firda tersenyum. "Terima kasih banyak, Tuan."

Firda kemudian lanjut mempelajari. Ketika ada hal yang tidak dia mengerti, dia langsung menanyakannya kepada Arman. Dan seiring pertanyaan demi pertanyaan yang Firda lontarkan, tanpa sadar membawa Arman 1 inci lebih dekat, hingga tanpa sadar tubuhnya sudah mepet kepada wanita itu.

Lain ceritanya dengan Arman yang menikmati momen kedekatan mereka, Firda justru mulai merasa terganggu. Apalagi saat dia sudah mulai mendengar deru napas Arman yang sesekali menerpa telinganya, dan itu menimbulkan sensasi aneh di dalam diri Firda. Wanita itu mengangkat sedikit pan*atnya menjauh lalu berkata, "Mm ... Tuan, sepertinya malam ini sudah cukup," Firda mendongak menatap jam dinding, jam sudah menunjuk pukul 22.17, "sudah larut. Tuan Arman harus istirahat, saya pun demikian."

Arman mengangguk mengerti. "Ya sudah, kamu istirahatlah," ucapnya tersenyum.

"Terima kasih banyak, Tuan," kata Firda balas tersenyum.

Sebelum bangkit Arman menatap Firda dengan lekat, membuat wanita itu tertunduk, pura-pura menatap sampul map di tangannya demi mengurangi kecanggungan.

"Tunggu sebentar, apa ini di pipimu?" kata Arman.

"Eh, ada apa?" Firda refleks menyentuh pipinya sendiri, tidak tahunya tangan Arman sudah lebih dulu mendarat di sana. Keduanya kemudian saling bertatapan. Arman yang sejak awal hanya modus pun tersenyum, bibirnya semakin mendekat. Malam-malam begini berdekatan dengan wanita cantik yang diam-diam disukainya membuat sesuatu bergelora di dalam dirinya. Tapi, tepat sebelum sesuatu terjadi, Akira yang tertidur di box bayinya tiba-tiba menangis. Arman dan Firda langsung terkejut.

Arman langsung menarik tangannya dan berdiri. "Aku naik ke kamarku sekarang," katanya, berjalan cepat menuju pintu tanpa sedikit pun menoleh.

Sementara Firda tak menyahut, justru bergerak cepat menghampiri Akira, dengan jantung berdebar tak karuan. Untung saja bayi itu menangis, hampir saja dua orang dewasa yang bukan siapa-siapa itu melakukan hal yang melewati batas.

...****************...

"Selamat pagi dan selamat datang di PT Sinar Abadi, Bu Firda dan Pak Arman." Pak Rachmat dan beberapa petinggi lainnya langsung menyambut kedatangan mereka di depan pintu masuk utama gedung perusahaan. Firda dan Arman mengucapkan banyak-banyak terima kasih.

Sambil mereka berjalan menuju lift, Pak Rachmat terus berbicara kepada Firda dan Arman tentang kondisi perusahaan. "Kami tidak menyangka bahwa mantan direktur keuangan telah mengkorupsi dana perusahaan dengan memalsukan faktur pembelian bahan baku," jelas Pak Rachmat dengan wajah prihatin. "Entah sejak kapan dia mulai melakukannya, yang jelas dia sudah menjabat sebagai direktur keuangan selama hampir 1 dekade."

Firda dan Arman saling bertukar pandang sebentar, wajah mereka nampak serius.

"Dampaknya sangat besar bagi perusahaan kita, Bu Firda," lanjut Pak Rachmat. "Perusahaan mengalami kerugian sekitar 700 miliar rupiah, yang menyebabkan penurunan produksi, penundaan proyek, dan penurunan kepercayaan investor. Bahkan, kami terpaksa melakukan PHK terhadap 30% karyawan untuk mengurangi biaya operasional."

Mulut Firda hampir saja menganga mendengar nominal yang begitu besar. Namun, dia berusaha untuk tetap terlihat tenang. Ke depannya, angka yang lebih besar mungkin akan terdengar biasa saja. Di waktu bersamaan, dia merasa prihatin dengan nasib 30% karyawan yang terpaksa harus kehilangan pekerjaannya. Dia tidak bisa membayangkan, bagaimana kalau mereka adalah tulang punggung keluarga.

"Satu-satunya jalan keluar yang bisa kita lakukan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mencari investor yang mau menyuntikkan dana untuk perusahaan ini," ucap Pak Rachmat lagi. Pria paruh baya itu lantas menatap ke arah Arman dengan penuh harap. "Pak Arman, barangkali Valmara Holding bisa membantu meringankan beban perusahaan kami."

"Saya paham situasinya, Pak Rachmat," kata Arman menganggukkan kepala. "Valmara Holding bersedia membantu PT Sinar Abadi dengan menyuntikkan dana sebesar 200 miliar rupiah. Namun, saya harus jujur, kami tidak bisa membantu sepenuhnya karena kami sedang melakukan ekspansi besar-besaran di sektor energi terbarukan dan membutuhkan dana yang cukup besar."

Pak Rachmat menatap Firda yang sejak tadi hanya diam. Wajah pria paruh baya itu menunjukkan harapan dan kekecewaan sekaligus, tapi dia tetap tersenyum. "200 Miliar itu sangat membantu, Pak Arman. Tapi kami masih membutuhkan dana yang lebih besar lagi untuk memulihkan operasional perusahaan."

Arman mengangguk. "Saya paham. Saya sarankan Anda untuk mencari investor lain yang dapat membantu."

"Baik, Pak Arman, kami akan mencoba mencari investor lain," kata Pak Rachmat.

"Saya juga akan mencoba membantu mencari investor yang tepat. Semoga saja ada yang bersedia membantu," tambah Arman.

Pak Rachmat mengangguk, kemudian dia melanjutkan. "Ada satu lagi hal yang ingin saya sampaikan. Saat ini penyidik dari Polresta Manggala sedang menyelidiki kasus korupsi yang dilakukan oleh pak Hendra, mantan direktur keuangan kami. Penyidik sedang memeriksa beberapa dokumen dan saksi, termasuk beberapa karyawan yang terlibat dalam proses keuangan," jelas Pak Rachmat, pandangannya tertuju pada sebuah ruangan yang mereka lewati. 2 Orang polisi muda berseragam terlihat berdiri di depan pintu yang terbuka sedikit.

"Apakah ada perkembangan terbaru?" tanya Arman.

"Belum ada, tapi kami berharap penyidik dapat menemukan bukti-bukti yang cukup untuk menjerat pak Hendra."

...****************...

Firda baru saja keluar dari ruang rapat setelah beberapa jam mengikuti pertemuan sekaligus perkenalan dengan para petinggi perusahaan. Sekarang dia sudah masuk ke dalam ruangannya sendiri. Dadanya terasa penuh, jadi dia mencari tempat yang nyaman untuk memompa ASI-nya sebelum cairan susu membasahi bajunya dan meninggalkan bercak yang membekas. Sambil melakukan aktivitas tersebut, Firda melakukan panggilan video dengan Bi Mina. Ini pertama kalinya dia meninggalkan Akira cukup lama, jadi dia khawatir bayi 7 bulan itu menangis karena mencari dirinya.

"Tadi Non Akira sempat menangis berulang kali, Non, tapi sekarang sudah tidur," kata Bi Mina sambil mengarahkan kamera pada bayi gemuk yang sedang tertidur dengan dot di mulutnya.

Firda tersenyum melihat Akira. "Oh, dia sedang minum susu?"

"Ya, Non." Bi Mina lantas bercerita sambil tertawa. Semenjak Firda dan Arman berangkat, semua pelayan langsung cosplay jadi badut, dengan begitu Akira baru bisa berhenti menangis dan tertawa.

Firda tertawa. "Harusnya Tuan Arman naikin gaji kalian semua. Pasti kalian semua kerepotan."

"Harus itu, Non," sahut Bi Mina bercanda, lalu kembali tertawa.

Kekhawatiran Firda berkurang banyak setelah melakukan panggilan video dengan Bi Mina. Hanya berselang beberapa menit setelah aktivitasnya itu selesai, pintu ruangannya tiba-tiba diketuk dari luar.

Tok tok tok!

"Masuk! Saya sudah selesai, Tuan!" teriak Firda. Dia pikir itu Arman yang datang membawa menu makan siang untuk mereka berdua, tapi ternyata dugaannya tidak tepat.

Seorang polwan muda dengan rambut hitam pendek dan wajah oval masuk dan berdiri tegak tepat di depan meja Firda, lengkap dengan seragamnya.

"Selamat siang, Bu Firda. Saya Ipda Nadia, Asisten Kasat Reskrim Polresta Manggala. Bapak Arjuna ingin bertemu dengan Ibu untuk membahas kasus korupsi di PT Sinar Abadi. Apakah Ibu ada waktu sebentar?"

...____________________________________...

Mau lanjut nanti malam atau besok pagi? 😄😄

1
Samsiah Yuliana
lanjut kak chan ceritanya,,,
semangat untuk up episode nya🙏🙏🙏🥰
Samsiah Yuliana
lanjuuuut🙏🙏🙏
Alissia
/Facepalm//Facepalm/
Alissia
/Joyful//Joyful/
Lisa
Gpp Kak Ita..terimakasih y udh update
Ita Yulfiana: terima kasih kembali Kk Lisa
total 1 replies
Lisa
Nah ini yg ditunggu² 😊 Arman melamar Firda..sipp dech 👍
Lisa
Ada² aj nih Arman..lg caper rupanya 😊
Lisa
Wah Arman pasti cemburu nih klo tau Firda ketemuan sama polisi
Lisa
Ciee Arman langsung menyatakan cintanya nih 😊
vania larasati
lanjut
vania larasati
lanjutt
vania larasati
lanjut
vania larasati
lanjutt
vania larasati
lanjut
Lisa
Ngapain nih si mantan muncul lg 🤭
vania larasati
lanjut
Lisa
Good morning Kak Ita..makasih y utk updatenya..
Lisa: Sama² Kak Ita..Amin..terimakasih juga y Kak..🙏💪
total 2 replies
vania larasati
lanjutt
vania larasati
lanjut
Indry Saleh
bagus karya..
Ita Yulfiana: ulala Kak Indry... thanks sudah jadi orang pertama yang kasih penilaian😍🫰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!