Setelah mengalami kecelakaan, mata batin Nino terbuka. Pemuda berusia 20 tahun itu jadi bisa melihat makhluk astral di sekitarnya.
Sejak tersadar dari komanya, pemuda itu selalu diikuti oleh arwah seorang wanita muda yang dilihatnya ketika kecelakaan terjadi.
Karena tak kuat terus menerus harus melihat makhluk astral, Nino meminta bantuan Pamannya untuk menutup mata batinnya. Sang Paman pun memberikan doa agar bisa menutupi mata batin.
Alih-alih menutup mata batin, kemampuan Nino yang awalnya hanya bisa melihat, justru berkembang jadi bisa berkomunikasi dengan para arwah.
Tak mau menderita sendirian, Nino pun meminta sahabatnya yang penakut, Asep untuk ikut membaca doa dengan dalih supaya menjadi berani. Dan ketika Asep mengamalkannya, sama seperti Nino, pemuda itu juga bisa melihat makhluk halus.
Kejadian demi kejadian aneh terus menimpa kedua sahabat tersebut. Lewat petunjuk dari makhluk astral, mereka bisa mengungkap kejahatan kasus kriminal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertolongan Tepat Waktu
Ketika dua preman yang tersisa hendak mendekati Nino dan Asep dengan tali di tangan mereka, tiba-tiba saja punggung keduanya terkena tendangan hingga mereka jatuh tersungkur.
“Pak Miko!” pekik Nino sumringah.
Melihat kedatangan Miko dan Iqbal, si botak dan si gondrong melepaskan Nino juga Asep. Keduanya langsung menyerang kedua petugas polisi tersebut. Dua rekannya yang lain juga ikut membantu. Sekarang pertarungan jilid dua kembali terjadi. Hanya saja kali ini pertarungan berjalan imbang.
Tubuh salah satu preman terpental kemudian jatuh ke lantai setelah mendapat tendangan dari Miko. Nino buru-buru mendekat kemudian menduduki pria itu agar tidak bisa bangun lagi.
Sebuah tinju Iqbal mengenai wajah salah satu preman hingga tubuhnya terdorong beberapa meter. Asep juga masih ingin membantu. Pria itu langsung berdiri dan menyerbu pria itu sambil sedikit menundukkan tubuhnya.
“Sundulan mauuuuttt!”
Asep menghantam perut lawannya dengan kepalanya hingga jatuh terjengkang. Sama seperti Nino, pemuda itu juga langsung duduk di atas lawannya yang sudah keok.
Tak lama berselang giliran si botak dan si gondrong yang dibuat terkapar oleh dua petugas polisi tersebut. Miko memborgol tangan si botak dan si gondrong dalam satu borgol. Sementara Iqbal mengurus dua orang lain.
“Kalian tidak apa-apa?” tanya Miko. Pria itu menelisik keadaan dua pemuda di depannya. Nampak di wajah keduanya ada sedikit memar.
“Iya, Pak. Alhamdulillah.”
“Kalian lebih baik ke rumah sakit untuk diperiksa.”
“Ngga usah, Pa.”
“Kalian harus ikut ke kantor polisi untuk memberikan keterangan sekaligus melaporkan mereka. Aku yakin kalau mereka suruhan Anton, supaya kita bisa cepat mengeluarkan surat penahanan untuknya.”
“Boleh, Pak. Tapi kita mau ambil motor dulu di depan mini market.”
“Ya, sudah. Saya tunggu di kantor polisi.”
Dengan langkah tertatih, Nino dan Asep segera meninggalkan gedung hotel tersebut. Rasa sakit yang mereka rasakan tadi tidak sebanding dengan kebanggaan karena sudah berhasil melawan hingga akhirnya empat preman itu tertangkap polisi.
“Siapa yang memerintah kalian?” tanya Miko sambil membawa keempat preman itu ke mobilnya. Tapi tidak ada jawaban dari mereka.
“Kalian menjawab atau tidak, tetap saja akan dibawa ke penjara. Tapi bedanya kalau kalian tutup mulut, orang yang menyuruh kalian bisa tetap bebas, sementara kalian mendekam di penjara,” lanjut Iqbal.
“Pertanyaan terakhir, siapa yang menyuruh kalian?”
“Bang Mardi,” jawab si gondrong.
“Di mana dia sekarang?”
“Dia jadi security di klub malam Heaven yang ada di jalan Braga.”
“Bal, kamu di sini dulu sambil nunggu petugas lain datang. Aku mau langsung jemput si Mardi.”
“Oke.”
Bergegas Miko menuju mobilnya. Pria itu akan langsung menuju klub malam Heaven untuk menjemput Mardi. Masalah ini harus tuntas secepatnya sebelum Anton melarikan diri.
Sementara itu, Iqbal masih menunggu petugas datang untuk menjemput empat orang yang berhasil dibekuk. Pria itu memang sudah memanggil bantuan untuk datang ke lokasi hotel di mana dirinya berada.
Hanya dalam waktu sepuluh menit, Miko sudah sampai di klub malam Heaven. Kondisi klub sudah cukup banyak didatangi pengunjung walau waktu masih menunjukkan pukul delapan malam. Pria itu memperlihatkan kartu indentitasnya pada petugas yang berjaga di depan pintu klub.
“Saya mencari Mardi. Katanya dia petugas keamanan di sini. Di mana dia?”
Bukannya menjawab, dua petugas tesebut malah saling berpandangan. Keduanya masih menutup mulutnya.
“Jangan menghalangi tugas polisi atau kalian akan ditahan juga karena sudah menghalangi tugas kepolisian.”
“Mardi ada di dalam.”
“Antar saya bertemu dengannya.”
Mau tidak mau, salah satu petugas itu masuk ke dalam klub bersama dengan Miko. Suara musik yang berasal dari DJ dan penerangan yang temaram langsung menyapa indra Miko. Keduanya berjalan melewati deretan meja dan kerumunan orang yang tengah berkumpul di lantai dansa.
“Itu Mardi,” tunjuk pria yang bersama Miko pada pria berambut cepak yang tengah berbicara dengan bartender.
Miko segera melangkahkan kakinya mendekati Miko. Sadar dengan kemunculan Miko, Mardi hendak pergi, namun segera ditahan oleh Miko.
“Saudara Mardi, ikut saya ke kantor polisi.”
Dengan cepat Mardi menarik tangannya lalu melayangkan tinjunya pada Miko. Dengan cepat Miko mengelak sambil menarik tangan Mardi. Kini giliran pria itu yang memberikan bogeman ke wajah Mardi sebanyak dua kali.
Tubuh Mardi terdorong ke belakang. Belum sempat dia menguasai dirinya, sebuah tendangan mengenai perutnya. Pria itu langsung jatuh terkapar di lantai. Perkelahian yang terjadi di antara keduanya tentu saja mengejutkan semua pengunjung dan pegawai yang ada di sana.
Miko mendekati Mardi, membalikkan tubuhnya yang terkapar kemudian menarik kedua tangannya ke belakang. Dia segera memakaikan borgol ke tangan Mardi. Pria itu segera menarik Mardi sampai berdiri kemudian menggiringnya keluar dari klub malam.
***
Sesampainya di kantor polisi, Nino dan Asep sudah berada di sana juga. Kedua pemuda itu baru saja melaporkan apa yang menimpa mereka. Keempat preman tersebut langsung dimasukkan ke dalam sel. Miko langsung membawa Mardi ke ruang interogasi.
Untuk sementara Mardi ditinggal di sana, sementara Miko menemui Nino dan Asep lebih dulu.
“Kalian sudah selesai buat laporan?”
“Sudah, Pak.”
“Lebih baik kalian pulang sekarang. Istirahat.”
“Baik, Pak. Terima kasih.”
Nino dan Asep segera meninggalkan kantor polisi. Tubuh keduanya memang sudah lelah, dikejar-kejar preman, didatangi makhluk halus dan menghadapi keempat preman. Rasanya mereka sudah tidak sabar untuk merebahkan tubuhnya di kasur.
***
Tanpa melalui drama panjang, Mardi langsung mengatakan kalau orang yang menyuruhnya menculik Nino dan Asep adalah Anton. Pria itu juga menunjukkan bukti transkasi transferan yang dikirimkan Anton padanya.
“Segera keluarkan surat penangkapan untuk Anton,” titah Sudirman, kepala unit Jatanras.
“Baik.”
Setelah mendapatkan surat penangkapan untuk Anton, Miko, Iqbal dibantu yang lain langsung menuju kediaman Anton.
Dalam waktu dua puluh menit, Miko dan Iqbal sudah tiba di kediaman Anton. Rumah Anton nampak sepi ketika mereka datang. Sepertinya semua penghuni rumah sudah masuk ke kamar masing-masing. Nino langsung membunyikan bel.
Setelah menunggu beberapa saat, pintu rumah terbuka. Dari dalamnya muncul asisten rumah tangga bersama dengan istri Anton.
“Selamat malam, Bu. Kami dari satuan Jatanras Polrestabes Bandung. Apa Pak Anton ada?” Miko menunjukkan surat penangkapan pada istri Anton.
“Bapak tidak ada, Pak.”
“Bapak kemana?”
“Katanya ada tugas keluar kota dari kampus.”
***
Nah istrinya kaget ngga tuh
Nino sama Asep bagi² rejeki tuh bang Miko, berhubung bang Miko n Bang Iqbal ga bisa lihat hantunya ya kebagian gendong hantunya aja deh, nanti gantian gendongnya ya bang Miko n bang Iqbal 🤣🤣🤣🤣
selamat ya Asep kamu the winner 👍🏻