Menikah dengan pria usia matang, jauh di atas usianya bukanlah pilihan Fiona. Gadis 20 tahun tersebut mendadak harus menerima lamaran pria yang merupakan paman dari kekasihnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Familiar
Usai pertemuan keluarga itu, mereka pun pulang ke kediamannya masing-masing. Arga satu mobil dengan sang mama, sepanjang jalan tatapan kosong. Bahkan saat Bu Sasmita menanyakan pendapat rencana pernikahan Arga dan Dona, pria tersebut terkesan menyerahkan sepenuhnya pada sang mama.
Arga lebih banyak melamun dan menatap lampu jalanan lewat jendela mobil. Melewati beberapa gedung perkantoran, salah satunya adalah kantor lamanya, yang kini sudah dipegang oleh perwakilan dari pihak kepercayaan keluar besar.
Melewati depan gadung perkantoran itu, Arga seperti merasakan sesuatu.
"Berhenti!" ucapnya saat sudah melewati gedung tersebut.
"Ada apa?" tanya Bu Sasmita yang bingung kenapa Arga minta berhenti.
Arga membuka jendela lebar-lebar, kemudian menoleh ke belakang. Menatap gedung yang menjulang tinggi tersebut.
Bu Sasmita mulai panik, jangan sampai ingatan Arga kembali. Ia pun langsung mengalihkan perhatian.
"Tutup jendelanya, Mama tidak bisa kena angin malam. Anginnya lumayan kencang," pinta Bu Sasmita.
Arga diam sejenak, kemudian menutup kaca jendelanya.
"Jalan lagi, Pak!" seru Bu Sasmita pada sang sopir.
"Baik, Bu."
Mobil kembali berjalan, Bu Sasmita melirik Arga. Ia kemudian membahas keluarga Dona lagi, biar Arga tak fokus pada gedung perkantoran di belakang sana.
"Bagaimana menurutmu dengan bulan depan? Tidak perlu pertunangan ... Langsung saja pernikahan," kata Bu Sasmita.
Arga menoleh. "Itu terlalu cepat. Dan lagi ... Aku sama sekali belum cukup mengenal Dona."
"Biarkan waktu mengalir apa adanya, nanti kalian juga akan sama-sama semakin mengenal dan semakin dekat. Dona kelihatan menyukaimu. Keluarganya juga, apalagi yang kamu cari. Dia cantik, lulusan luar negeri. Sopan dan keluarga nya juga memiliki latar belakang yang bagus."
Bu Sasmita mencoba membujuk agar putranya mau segera menikah. Sebelum ingatan Arga pulih, Bu Sasmita harus melakukan segala cara untuk membuat Arga menikahi perempuan lain.
"Coba kamu pikir baik-baik. Dona itu sangat sempurna sebagai seorang wanita," ucap Bu Sasmita. Sudah mirip sales yang giat promosi produknya.
"Kita bahas nanti saja, Ma." Arga menempelkan punggungnya di kursi, kemudian menutup mata. Enggan membahas perempuan dan pernikahan.
...****************...
Beberapa hari kemudian
Dona muncul di kediaman Bu Sasmita, wanita yang fashionable itu datang membawa kue untuk Bu Sasmita.
"Mas Arga mana, Ma?" Dona melihat sekeliling. Tidak ia temukan batang hidung Arga sejak datang beberapa saat lalu.
"Ada, tuh ... Di kolam renang. Kamu ke sana saja," ucap Bu Sasmita santai.
"Oh ... Boleh aku ketemu mas Arga, Ma?"
"Kok bertanya? Anggap rumah sendiri. Sebentar lagi kamu juga akan menikah dengan Arga," ucap Bu Sasmita penuh keyakinan.
Senyum mengembang di bibir Dona. Wanita cantik itu terlihat semakin sumringah dan bersemangat.
Dona pun pergi ke kolam, dilihatnya Arga sedang berenang dari ujung ke ujung. Terlihat mahir dan saat pria itu muncul ke permukaan, dengan tanpa pakai baju atasan, mata Dona langsung berbinar-binar. Apalagi melihat air yang menetes dan mengaliri barisan roti sobek, Dona tambah gemas. Ingin sekali memeluk lelaki tampan tersebut.
(Sebentar lagi kamu akan jadi milikku)
Dona jalan penuh percaya diri, mungkin jalannya licin, atau dia kurang hati-hati. Dona malah terjatuh ke dalam air kolam tersebut.
"Aaahhh!"
Mendengar ada yang teriak dan terjebur, Arga langsung berenang dan meraih tubuh Dona.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Arga begitu selesai mendudukkan Dona di pinggir kolam.
Dona yang masih kaget, dia kemudian melihat kakinya.
"Tidak sengaja terpeleset, mungkin mataku tidak hati-hati," ucap Dona.
Arga lalu beranjak, ia mengambil handuk dan memakainya di punggung. Setelah itu, ia raih lagi satu untuk Dona.
"Keringkan dulu badanmu! Biar aku panggil pelayan untuk siapkan baju ganti," ucap Arga datar.
"Tunggu!" cegah Dona sambil meraih tangan Arga.
Reflek Arga melepaskan tangannya, Dona kelihatan kecewa atas sikap Arga barusan. Namun, bibirnya mencoba untuk tetap tersenyum ramah.
...----------------...
Arga sendiri langsung masuk ke dalam rumah setelah melilitkan handuk di pinggangnya.
Dona didatangi pelayan, dia diberikan baju ganti bersih. Dona juga diantar ke kamar untuk berganti dan kalau mandi juga boleh.
Sebenarnya, sudah ditunjukan kamar lain, tapi Dona sempat bertanya pada pelayan.
"Kamar Arga yang mana, Bik?"
Bibi menunjuk dengan tangannya, "Sebelah sana nona."
"Oh, terima kasih."
Saat pelayan pergi, Dona langsung menuju kamar Arga. Laki-laki itu pasti sedang mandi sekarang. Pelan-pelan Dona membuka pintu kamar Arga, syukurlah tidak dikunci.
Dona dengan perhitungan matang dan startegi di dalam kepalanya. Ia langsung melepaskan pakaiannya yang basah.
Klik!
Pintu kamar mandi terbuka, Arga keluar sambil menggosok rambutnya pakai handuk kering. Matanya melotot sewaktu melihat sosok jelmaan hantu wanita di depannya.
Arga spontan balik badan.
"Pakai bajumu dan keluar sekarang!" desis Arga marah.
Bukannya pergi, Dona justru semakin nekat.
"Kita sudah sama-sama dewasa, pernikahan kita juga sudah dibahas oleh dua keluarga ... Mas Arga, kenapa kamu tidak melihat ke sini ..." Dona mencoba meraih lengan Arga.
Satu kali hentakan, tubuh Dona langsung jatuh ke atas ran jang.
"KELUAR!"
Dona langsung cemberut, wajahnya masam. Ia pun mengenakan pakaiannya dengan gusar. Lalu pergi dengan kesal.
Setelah emosinya memuncak, kepala Arga langsung sakit. Ia memegangi kepalanya, sekilas bayangan wanita cantik tanpa mengenakan apapun muncul dalam kepalanya, bukan Dona. Tapi wanita lain dengan keadaan yang sama seperti Dona, tanpa mengunakan sehelai benang pun.
Arga masih memegangi kepalanya, bayang-bayang kejadian masa lalu mulai muncul dengan acak.
Arga memejamkan matanya, kepalanya semakin sakit, dan bayangan perempuan yang samar-samar itu mulai nampak wajahnya dengan jelas.
Yang terpenting semua nya baik2 sajah