NovelToon NovelToon
Better Half

Better Half

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Suami
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: fei yuu

Bagaimana jika orang yang kamu anggap biasa dan tidak penting dalam hidup mu ternyata adalah belahan jiwamu yang selama ini kamu cari.
Murat terpaksa menikahi Hanna, sahabat dari mendiang istriny zahra. Bagi Hanna ini adalah pernikahan impian karena Murat adalah cinta pertamanya, sedangkan bagi Murat pernikahan ini merupakan amanah yang harus dijalankan demi putranya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya... stay tune yah aku harap kalian suka dengan karyaku ini 🥰🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fei yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. MEDICAL CHECKUP

Hanna dan Sarah turun dari mobil. Ternyata di pintu utama Halil sudah menunggu mereka. " Hanna". Wajah Halil berbinar melihat Hanna.

" Kak Halil, maaf jadi merepotkanmu"

" Tidak masalah". Pria itu tersenyum hangat.

Sarah sedikit heran, tatapan Halil tidak biasa, Hanna sudah memberitahunya bahwa Halil adalah sepupu suaminya tetapi Sarah melihat, pria itu menatap Hanna seolah memujanya.

" Oh iya, kenalkan kak ini sahabatku, Sarah". Sarah dan Halil saling berjabat tangan.

" kau membawa baby Malika" Halil mencubit cubit pipi bayi yang sedang tertidur itu.

" Iya kak, aku takut dia rewel kalau ditinggal". Hanna jadi ragu, takutnya putrinya malah mengganggu.

"Tidak masalah, nanti kamu bisa membawa Si cantik ini ke ruangan ibu dan anak, disana ada tempat bermain untuk anak anak". Pria itu memberikan solusi.

" Baiklah, Hanna untuk medical checkup ini, butuh tahap yang sedikit panjang, mungkin waktunya sedikit lebih lama. Jadi memang keputusanmu sudah tepat dengan membawa baby Malika". Pria itu mengusap pipi bayi lucu itu dengan sayang.

" Apakah tidak apa apa Sarah?" Hanna pikir pemeriksaan ini hanya memakan waktu sebentar ternyata mungkin dia akan seharian di Rumah Sakit. Wanita itu jadi tidak enak dengan Sarah.

" Tidak masalah mbak, aku juga sudah memberi tahu Adam dan neneknya kalau kita akan pulang sedikit lebih lama, jadi santai saja". Hanna mengangguk lega.

" Baiklah sebaiknya kamu harus mengisi formulir terlebih dahulu, ehmmm...kalau tidak keberatan kamu bisa menitipkan baby mu pada Sarah".

" Maaf Sarah, aku merepotkanmu lagi" Hanna memindahkan baby Malika ke pangkuan Sarah dengan hati hati agar putri kecilnya tidak terbangun.

" Tenang Mbak, pokoknya mbak cukup mengikuti semuanya, tidak usah khawatir aku akan menjaga baby gemoy ini" Sarah memeluk baby Malika dengan gemas.

" Terima kasih".

Hanna dan Halil berjalan beriringan sesekali Halil menjelaskan rangkaian tes apa saja yang harus Hanna lakukan.

" Hanna kita keruanganku saja sekarang untuk mengisi formulir, aku sudah mengambilkan formulirnya untukmu" Jadi Hanna tidak perlu repot untuk mengantri di registration room. ternyata pria itu sudah menyiapkan semuanya.

Pria itu terus menemani Hanna melakukan berbagai tes, meskipun dia harus bolak balik keruangannya, tidak masalah baginya. Halil tidak ingin Hanna merasa sendiri. Meskipun lelah akan dia lakukan demi wanita itu.

****************

Hari sudah menunjukan pukul 15.18 WIB tetapi mata Murat tidak pernah berhenti melirik ponselnya. Pria itu gelisah menunggu kabar dari istrinya.

Jangan salahkan Hanna yang tidak pernah menghubunginya. Awal menikah Hanna begitu intense menghubungi suaminya itu.

Dulu Hanna sering menghubunginya lewat pesan ataupun telepon suara. Wanita itu selalu mengingatkan Murat untuk makan siang, mau makan apa atau pulang jam berapa.

Tetapi Suaminya itu memarahinya habis habisan karena terus menghubunginya.

" JANGAN PERNAH MENGHUBUNGIKU UNTUK SESUATU YANG TIDAK PENTING, KAMU MENGGANGGUKU !"

Murat merasa menyesal kalau ingat betapa bodohnya dia dulu , sekarang dia penasaran setengah mati apa istrinya sudah pulang atau belum.

" apa aku hubungi dia saja yah". telunjuknya mengetuk ngetuk meja, Pria itu sedang berpikir apa harus menelepon atau tidak.

" Bagaimana kalau mobilnya mogok, bukankah aku harus menjemputnya". Murat benar benar galau setengah mati. Dia menelungkupkan wajahnya diatas meja.

Dimas yang baru saja masuk ke ruangan Murat, tampak heran melihat atasannya.

"Ehmmmmm...."

" Ada apa dimas" Murat masih dengan posisi yang sama.

" Maaf pak ini ada laporan yang bapak minta dari divisi produksi ".

" Hmmm... simpan dimeja saja Dimas, nanti aku periksa". Murat sama sekali tidak mengangkat wajahnya, tetapi kedua tangannya masih mengetuk ngetuk meja.

Hal itu membuat Dimas penasaran ada apa dengan atasannya.

" Maaf apa bapak baik baik saja?". selama hampir 3 tahun bekerja menjadi bawahan Murat. Dimas sama sekali tidak pernah melihat Murat segalau ini.

Murat mengangkat wajahnya, dia bersandar di kursi yang dia duduki. " Hmmm... Tidak aku baik baik saja, hanya saja....."

Pria itu tidak jadi meminta saran pada Dimas, dia baru ingat kalau Dimas tidak tahu sama sekali tentang pernikahan keduanya.

Murat menggeleng " Kau boleh pergi Dimas, nanti aku kerjakan".

"Baik pak, saya permisi". Dimas undur diri padahal dia sangat penasaran apa yang akan dikatakan bosnya tadi.

Murat melirik lagi ponselnya. Dia memegang ponselnya dan mencari nama Hanna dalam kontaknya. Wajahnya ragu, tetapi rasa penasaran mengalahkan rasa gengsinya.

Akhirnya Pria itu menghubungi istrinya. Suara ponsel Murat terhubung, tetapi wanita itu tidak mengangkatnya. Beberapa kali dia menghubungi tetapi tidak di angkat, bahkan hingga panggilan ke 9.

Ponselnya dia lempar asal diatas meja. " Aaaaaah..." Pria itu sangat kesal, dia mengacak acak rambutnya.

" Kenapa dia tidak mengangkatnya?" Pria itu berdiri, dia berjalan mondar mandir terus. Hatinya sangat gelisah.

...****************...

Hari sudah menjelang sore, kini Hanna sedang duduk dikantin bersama Sarah dan putrinya. mereka sudah memesan beberapa cemilan.

" Capek mbak". Sarah tampak khawatir melihat Hanna yang sepertinya kelelahan.

" Lumayan, aku pikir tidak akan serumit ini, ternyata benar benar melelahkan" suara Hanna tampak lesu.

" Tidak apa apa mbak, namanya juga medical checkup. Aku harap semuanya baik baik saja". Sarah berharap tidak ada hal serius pada sahabatnya.

" Aku harap juga begitu". Hanna lalu mengambil baby malika dari pangkuan Sarah.

" Aduh sayangnya mamah, gak bikin tante Sarah repotkan" .Bayi gemuk itu tertawa senang karena diajak bicara oleh ibunya.

" Enggak dong, kan aku bayi pintar" Suara Sarah dibuat seimut mungkin. " Ha..ha..ha.." mereka tertawa mendengar celotehan Sarah.

Keasyikan mereka ternyata membuat Halil penasaran. Pria itu membawa nampan yang berisi 3 porsi makanan dan minuman untuk mereka dan duduk bergabung bersama kedua wanita dewasa itu.

"Ah kak, tidak perlu repot kami, sudah memesan makanan" Hanna terkejut saat melihat Pria itu membawa banyak makanan.

" Tidak masalah, tetapi sebaiknya kamu jangan memakan itu, ini aku bawakan makanan yang lebih sehat". Halil memindahkan makanan dan minuman yang dia bawa kehadapan Hanna.

Sejak awal Sarah merasa tidak nyaman melihat perhatian Halil pada Hanna. Menurutnya untuk seorang kakak ipar itu terlalu berlebihan.

" oh iya kak, apa semuanya sudah selesai?"

" Belum, masih ada satu lagi, ini yang terakhir kamu harus melakukan tes MRI (magnetic resonance imaging)

Meskipun tidak tahu untuk apa tes itu, tetapi Hanna tahu seperti apa tes MRI itu, Wajah Hanna kembali tegang.

1
Nurjannah Rajja
Semoga istrimu diambil Halil, kamu jahat sih, jadi kudoakan yg terburuk buat kamu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!