Mona Kavitha Luis adalah anak yatim piatu.
Orang tuanya meninggal karena kecelakaan pada saat dia berusia 18 tahun, tetapi Mona yakin jika orang tuanya meninggal karena suatu kesengajaan, papanya meninggalkan sebuah perusahaan besar kepadanya. Mona selalu ingin menyelidiki kecelakaan yang menimpa orang tuanya tetapi selalu dilarang oleh tantenya. Mona sekarang tinggal bersama adik papanya bernama Dewi Felicya Luis. Tantenya ini sangat baik dan sayang terhadap Mona.
Apakah disini tantenya terlibat atas kecelakaan orang tuanya Mona atau Rekan bisnis papanya yang tidak menyukai keluarga mereka yang berhasil??
*****
Suatu hari Mona terpaksa menikah dengan supir pribadinya dikarenakan suatu kesalah pahaman, tetapi supir itu sendiri juga menyimpan suatu rahasia.
Siapakah supir itu, Mona tidak mengetahuinya dan bagaimana Mona akhirnya bisa menerima supir itu sebagai suaminya.
Silakan dibaca teman2
Semoga kalian suka.
Terima kasih
🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lie_lili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Malam Yang Menyesakkan Bagi Mona
Malam hari dikamar Mona, disana juga ada Gavin, tiba-tiba saja bagi Gavin, Mona terlihat berbeda, sepertinya Mona menyimpan rasa sedih, dia terdiam pandangannya kosong, menatap kebawah kakinya yang bersila diatas ranjangnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Gavin, melihat Mona yang tiba-tiba terdiam sendiri.
Mona pun terlihat menyembunyikan sesuatu dimukanya seperti tidak ingin diketahui oleh Gavin, tetapi tangannya tidak bisa menahan airmata yang jatuh dipipinya, dia mengusapnya. Hidungnya pun tersumbat, dia berusaha menarik nafas dari hidungnya dengan susah payah.
Gavin semakin yakin jika saat ini Mona sedang menangis, hanya saja dia membiarkan Mona nangis terlebih dahulu kemudian menunggu Mona menceritakan apa yang Mona kini rasakan.
Mona masih berusaha meredam tangisnya dengan memeluk bantal sekuat mungkin, berusaha untuk menenangkan hatinya, dia menangis tanpa mengeluarkan suara, hanya airmata yang terus menetes dipipinya. Sesekali dia mengusap airmatanya, bernafas dengan mulutnya, karena hidungnya kini sudah semakin tersumbat karena menangis.
"Aku sangat merindukan orang tua ku" tangis Mona kian pecah dengan suara paraunya dia berkata ke Gavin. Gavin dengan setia menunggu Mona berbicara.
"Hiks, hiks, hiks"
"Hikkkksssss, hikksss!"
Mona menutup matanya, mengambil nafas dalam masih hanya untuk meredam tangisnya. Rasa sesak didada Mona menahan rindu ini.
Hati Gavin benar-benar pilu melihat Mona yang menangis sedalam-dalamnya.
"Gavinnnnn, aku rindu sekali dengan orang tua ku" suara kesedihan dari Mona.
Gavin pun berpikir kembali ketika dia juga ditinggal selamanya oleh papanya karena penyakit, tetapi Gavin tidak sesakit Mona, karena dia tidak ditinggal secara tiba-tiba, papanya sudah bertahun-tahun menderita sakit, bagi Gavin lebih baik daripada papanya menderita lama-lama, Gavin bukan lah dari keluarga yang tidak mampu, hanya saja penyakit yang papanya derita sangat langka dan belum ada obatnya.
Berbeda dengan Mona, dia ditinggal mendadak dengan kedua orang tuanya, Mona juga sempat depresi lama karena kepergian orang tuanya.
"Aku rindu kedua orang tua ku, besok adalah hari kepergian mereka yang mendadak" ucap Mona dengan suara lembut, parau dan tangis yang sudah sedikit bisa ditahannya.
"Sudah 3 tahun papa dan mama pergi dan mereka tidak pernah kembali"
Gavin pun langsung memberanikan memeluk Mona, Mona pun menangis lagi dalam pelukkan Gavin, hingga bahu Gavin basah, Gavin mengelus pundak dan rambut Mona.
"Mereka tidak pernah pergi, mereka selalu ada disini" Gavin mengangkat tangan Mona dan diletakkan didadanya mona (dihati Mona).
"Mereka selalu menjadi kenangan terindah dan tidak terlupakan" ucap Gavin.
"Besok kita ke makam orang tua mu ya" ajak Gavin, dengan cepat Mona menganggukkan kepalanya menandakan dia sangat setuju.
"Sudah jangan nangis lagi" Gavin melepas pelukkannya dari tubuh Mona.
"Kita kirimkan doa untuk papa dan mamamu, semoga mereka diatas sana selalu berbahagia"
"Iya, amin" jawab Mona.
Mona pun membenarkan posisi bantalnya untuk segera tidur, dia sudah tidak sabar besok untuk berjumpa orang tuanya, walau hanya makamnya, tetapi bagi Mona itu lah tempat terindah bagi orang tua Mona.
Gavin senang Mona sudah lebih tenang dan bisa sedikit tersenyum. Dia dan Mona pun segera menutup matanya dan mereka tertidur bersama menuju alam mimpi.
*****
Ditempat pemakaman umum lah kini Gavin dan Mona berada.
"Pa, ma, Mona datang! Kalian apa kabar?" Tanya Mona menghadap batu Nisan orang tuanya. Terlihat Mona kembali meneteskan airmatanya pada saat dia berbicara, Gavin yang berada disampingnya hanya mengelus bahu Mona, seperti meminta Mona untuk bersabar, tenang.
Makamnya papa dan mama Mona berdampingan.
"Pa, ma, Mona rindu, sangat rindu, kalian sudah lama tidak hadir dimimpi Mona!"
"Pa, ma, kalian tentu sudah tau, sudah lihat dari atas sana kalau Mona sudah menikah!"
"Walau pernikahan ini terjadi karena suatu ketidak sengajaan, mama dan papa tenang ya! Mona akan mempertanggung jawabkan pernikahan Mona!"
"Ini menantu papa dan mama, dia bernama Gavin, papa dan mama kenalan ya sama Gavin!" Ucap Mona dengan memberi sedikit senyum pada saat dia berbicara.
"Hai pa, ma, saya Gavin suami Mona" ucap Gavin sedikit gugup karena bertemu dengan papa dan mama mertuanya walau hanya sebatas dimakam, tetapi bagi Gavin saat ini dia sudah berhadapan langsung dengan nyata.
"Gavin janji kepada kalian, kalau Gavin akan menjaga Mona dengan sungguh-sungguh, menyayangi Mona, walau saat ini memang kami belum ada rasa kasih sayang dan cinta, tetapi Gavin akan bertanggung jawab penuh kepada Mona" ucap Gavin dengan tegas penuh keyakinan.
Mona yang mendengarnya pun tersenyum.
Entah saat ini, apakah papa dan mama Mona berada disana bersama anak-menantunya, hanya Tuhan yang tau.
"Mama, papa sekali-kali berkunjungan lah kedalam mimpi Mona" ucap Mona yang sudah sangat tenang, setidaknya dia sudah merasa lega bisa bertemu orang tuanya.
"Ma, pa, sebenarnya Mona sangat rindu di marah mama dan papa, rindu suara kalian, rindu bercerita dengan kalian, rindu dipanggil adik sama kalian, Mona rindu semuanya tentang kalian" ucap Mona yang menitis airmatanya lagi, walau sudah sempat tidak menetes, walau ditahan dengan hati sekuat apa pun, Mona tidak tahan menahan kesedihan dia.
******
(Saat ini, sebenarnya author ini sendiri juga lagi merindukan Alm Mama, mama yang pergi mendadak karena serangan jantung, menulis eps kali ini sambil membayangkannya, membuat airmata author sendiri tidak tahan meminta untuk keluar juga)
"Maaf ya author curhat isi hati!"
Terima kasih sudah membaca!