Zanna Kemal lebih memilih tinggal seorang diri setelah ayahnya meninggal dunia dari pada tinggal bersama ibu dan ayah tirinya, hidup dengan sederhana menjadi seorang perawat di rumah sakit swasta di kota Praha. Anna begitu ia disapa suatu hari terpilih menjadi perawat untuk merawat anak sang pemilik rumah sakit tempatnya bekerja yang bernama Kerem Abraham, ia sudah terbaring koma selama dua belas tahun akibat kecelakaan yang dialaminya.
Setelah beberapa bulan merawat Kerem, pria itu pun akhirnya sadar dari komanya, tapi sejak Kerem sadar mereka tidak pernah bertemu lagi.
Bagaimana kisah pertemuan mereka kembali sehingga keduanya terikat dalam sebuah pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Melya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbongkar
“Kerem, aku suka yang ini untuk ibumu,” ucap Anna sambil menunjukan cincin berlian itu pada Kerem. Kerem mengamati cincin berlian itu ditangan Anna. "Baiklah, kalau begitu aku pilih yang ini,” ucapnya sambil menunjukan kalung yang sempat Anna tanyakan
pada pelayan toko tadi.
Anna melototkan matanya pada Kerem, saat ia memutuskan memilih sendiri hadiahnya. ” Iiiiihhhh....kau ini benar-benar. " Anna berucap menggertakkan giginya menahan rasa kesal, Anna pun membalikan tubuhnya dan pergi meninggalkan Kerem yang terlihat begitu senang karena berhasil membuat Anna kesal padanya.
Anna masih mengumpat kesal pada Kerem yang senang sekali mempermainkannya, “Kalau dia bisa memilih sendiri hadiahnya untuk apa mengajaku.” Anna mendudukan tubuhnya di sofa tak berminat untuk melihat-lihat perhiasan lagi tingkah Kerem benar-benar membuat moodnya hancur, Anna merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya tapi ia kembali berdecak kesal karena ponselnya masih disimpan Kerem.
“Kerem kau….” geram Anna sambil memukul– mukul pahanya pelan dengan kepalan tangannya.
“Ada apa sayang, kenapa terlihat begitu kesal." Kerem berkata dengan nada santai sepertinya belum puas menggoda Anna. Kerem yang sudah berdiri di depan Anna tanpa wajah bersalah sedikit pun, ia mengulurkan tangannya pada Anna dengan senyum tipis diwajahnya. Anna pun bangkit dari duduknya dan mengabaiakn uluran tangan Kerem lalu berjalan mendahuluinya, Kerem menarik satu dudut bibirnya sambil mengangkat bahunya lalu berjalan
menyusul Anna.
“Kau tak ingin mengambil ponselmu kembali.”
Anna menghentikan langkahnya dan menolehkan wajahnya melihat Kerem sedang mengangkat ponselnya, Anna pun berbalik untuk mengambil ponselnya dari tangan Kerem tapi saat ia akan meraih ponselnya, Kerem kembali menyimpannya ke dalam saku jasnya.
“Kembalikan ponselku,” rengek Anna mencoba menjangkau ponsel itu dalam saku Kerem tapi kedua tangannya ditahan oleh Kerem yang terlihat begitu bahagia.
“Kerem…”
“Cristian…”
“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Cristian menatap Kerem dan wanita yang tangannya
berada dalam saku jas Kerem. Anna yang seakan baru tersadar dengan cepat menarik tangannya kembali.
“Aku kesini untuk membelikan kado untuk ibuku. Kau sedang apa,” Kerem balik bertanya
melihat Cristian seorang diri saja.
“Aku sedang menemani Sonya membeli cincin, dia sedang ke toilet.”
“Dan ini siapa?” Tanya Cristian menautkan kedua alisnya melihat wanita cantik yang berdiri di sebelah Kerem.
“Ohhh, ini Anna kekasihku. Sayang kenalkan ini Cristian temanku.” Ucap Kerem sambil
melingkarkan tangannya kepinggang Anna. Keduanya pun bersalaman sambil
menyebutkan namanya masing masing. Setelah mengobrol sebentar Kerem pun pamit pada Cristian, Cristian menatap kepergian Kerem tak melepaskan senyum
dibibirnya.
“Kau melihat apa sayang senyum-senyum sendiri seperti itu,” sapa Sonya yang baru saja
datang.
“Tadi aku bertemu Kerem dan Kekasihnya mereka baru saja pergi.”
“Benarkah. Kerem sudah punya pacar sekarang,” Tanya Sonya.
“Iya.”
“Sayang sekali aku terlambat, aku penasaran seperti apa rupanya sampai bisa menaklukan
sidingin Kerem,” ucap Sonya penasaran.
“Ya sudah nanti kau pasti juga tau. Ayo,” Cristian berkata sambil merangkul Sonya untuk memilih cincin mereka.
****
Anna baru saja tiba di rumah sakit dan memarkir sepedanya tiba-tiba di kejutkan oleh kedatangan Elif yang sudah berdiri di belakangnya. “ Elif...! kau membuatku kaget saja,” sapa Anna meletakkan tangannya di dadanya lalu berjalan menghampiri Elif.
“Benarkah aku mengejutkanmu,” ujarnya tersenyum lebar.
“Iya kau seperti seorang penguntit saja.”
“Tapi sepertinya aku sekarang harus berlatih jadi penguntit yang hebat,” sahut Elif menatap lekat wajah cantik Anna.
“Benarkah. Apakah kau ingin jadi seorang detektif” ucap Anna tertawa kecil.
Elif mendekatkan bibirnya ke telinga Anna,” iya, karena ada kasus besar yang sedang ingin aku pecahkan.” Suara serius Elif membuat Anna mengernyitkan keningnya dan menatap bola mata Elif bergantian.
“Kau serius,” tanyannya dengan wajah terlihat tegang. Dalam pikiran Anna terlintas apakan Elif sudah mengetahui hubungannya antara dirinya dan Kerem, tentu saja itu kabar buruk untuknya karena ia tak ingin seorang pun tau termasuk Elif.
Melihat wajah tegang Anna membuat Elif tak dapat menahan tawanya.” Ha..ha…ha… Anna kau percaya dengan bualan ku tadi, aku hanya
bercanda. Mana mungkin aku punya rahasia padamu.”
“Tapi mungkin kau punya rahasia padaku,” lanjutnya lagi yang langsung membuat Anna gugup. “Rahasia, kau ini bicara apa. Aku tidak pernah punya rahasia apa pun padamu,” elak Anna sambil menyelipkan rambutnya ke daun
teliangnnya, jantung Anna didalam sudah berpacu dua kali karena takut rahasianya terbongkar oleh Elif.
Elif tersenyum lebar lalu merangkul bahu Anna,” kau itu sahabatku mana mungkin ada rahasia antara kita. Ayo kita masuk nanti
terlambat..” Anna pun menganggukan kepalanya menyetujui ajakan Elif.
“Anna, ada hubungan apa antara kau dan tuan Kerem kenapa kalian bisa pergi bersama kemarin,” bathin Elif menolehkan wajahnya pada Anna yang berjalan disampingnya
****
Lorong rumah sakit masih ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang walaupun senja mulai turun, Anna melangkah dengan langkai gontai bersama dengan teman suster lainnya, walaupun sudah capek bekerja seharian tapi wajah mereka tak menunjukan hal itu, mereka asyik bercerita sesekali diiringi tawa renyah ketiganya, Anna yang ada diantara mereka tak banyak bersuara hanya ikut tersenyum dan tertawa saat teman-temannya itu meluncurkan guyunon lucu.
“Anna, kau kenapa aku perhatikan irit sekali bicaranya sekarang,” sapa Judith menarik lengan Anna kesebelahnya.
“Tidak, pikiranmu saja mungkin,” timpal Anna.
“Bibi Anna…! “
Terdengar suara anak perempuan memanggil Anna sehingga semuanya ikut menolehkan wajahnya kesumber suara. Seorang gadis cantik berambut coklat panjang dengan bola mata coklat muda berdiri tak jauh dari mereka, dan dengan serentak ketiganya memalingkan wajahnya pada Anna yang sedang berjalan mendekati gadis kecil itu dengan senyum sumringan di wajahnya.
“Nuha sayang, apa kabar,” sapa Anna lembut, Nuha langsung berlari dalam pelukan Anna.
“Sangat baik bibi. Bibi apa kabar kenapa tidak main lagi ke rumah bersama paman.” Sahutnya menatap Anna dengan mata berbinar. Teman-teman Anna hanya saling pandang dengan beribu pertanyaan di kepala mereka siapa gadis kecil yang terlihat begitu akrab dengannya.
“Oohhh…. Nanti bibi akan main lagi ke rumah Nuha, sekarang bibi sedang banyak pekerjaan sayang.” Anna berkata sambil mengusap lembut kepala Nuha.
“Anna, ini anak siapa,” Tanya Elif dan Judit yang mendekat pada Anna. Otak Anna berpikir keras ia tidak ingin teman-temannya tau kalau Nuha adalah keponakan Kerem, bisa habis dirinya oleh teman-temannya.
“Ini anak temanku, namanya Nuha,” ujar Annna merangkul pundak Nuha.
“Hallo bibi suster, pasti bibi suster temannya bibi Anna,” sapa Nuha tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya.
“Hai juga Nuha.” Semuanya serentak balik menyapa Nuha dengan senyum lebar menghias bibir mereka.
“Kau imut sekali sayang,” Elif mencubit pipi Nuha gemas.
“Sayang kau kesin….
Belum sampai pertanyaan Anna tiba-tiba ada yang memanggilnya dan Nuha, Anna memejamkan kedua matanya begitu mendenagr suara yang sangat
dikenalnya itu.
“Nuha…Anna…! Kalian disini rupanya.”
“Aduhhh, mati aku,” bathin Anna meremas bajunya saat melihat ibunya Kerem dan juga Kerem sedang berjalan kearah mereka.
Semua teman-teman Anna menunduk dan menyapa dengan sopan saat melihat siapa yang datang, kemudian semuanya kembali serentak menatap pada Anna dengan sorot mata penuh dengan rasa penasaran tau sedang menjadi pusat perhatian ketiga temannya Anna meneguk wajahnya. Tidak punya pilihan dengan wajah pasrah Anna mendekat pada ibu Kerem dan menyalaminya.
“Selamat sore bibi,” sapa Anna lembut.
“Selamat sore juga sayang,” Ucap Mariam lalu mencium pipi Anna sehingga semua teman-temannya menatap tidak percaya adegan yang baru saja mereka lihat, ketiga teman Anna saling tatap sambil berbisik-bisik. Anna menolehkan wajahnya pad Elif dengan wajah memelas tidak enak hati karena sudah berbohong pada Elif, dan Anna dapat melihat tatapan rasa kecewa dari mata Elif.
“Maafkan aku Elif, sungguh aku tidak bermaksud untuk membohongimu,” bathin Anna.
“Kau sudah pulang Anna,” Tanya Maryam.
“Sudah bibi.”
Anna melirik sekilas pada Kerem yang berdiri dibelakang ibunya yang juga sedang menatap kearahnya, Nuha mengulurkan tangannya pada Anna dengan cepat Anna menyautnya dan melingkarkan tangannya ke pundak Nuha yang berdiri di depannya. Ketiga teman Anna pun mohon pamit dan meninggalkan Anna disana, Anna hanya menatap kepergian teman-temannya bingung harus bagaimana cara menjelaskan pada mereka.
“Ayo Anna pulangnya bersama bibi saja,” ajak Maryam dan Anna pun tidak bisa menolaknya, ia pun mengiyakan dan mengikuti langkah Maryam sambil menggandeng tangan Nuha. Kerem berjalan disebelah Nuha ikut menggendang tangan Nuha yang satunya lagi, Anna berjalan sambil menundukan kepalanya karena mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang berpapasan dengan mereka. Beberapa suster yang berpapasan dengan Anna menatap tak percaya pada Anna saat melihat ia berjalan bersebelahan dengan Kerem karena sebelumnya tak pernah terdengar rumor antara keduanya.
Anna sudah pasrah jika besok rumah sakit akan gempar denagn gosip seputar dirinya dan Kerem, yang ia pikirkan bagaiman cara menjelaskannya pada Elif karena ia tau pasti Elif marah padanya.
****
Anna baru saja selesai sholat zuhur lalu ia berbaring di sofa sambil membaca novel, hari ini Anna tidak masuk kerja karena ia dapat shif malam, karena itu seharian ini ia habiskan di rumah saja sambil berpikir bagaimana cara menjelaskan semuanya kepada Elif tentang peristiwa kemarin sore.
Anna bergegas bangun saat mendengar ketukan pintu apartemennya, saat ia membuka pintu betapa terkejutnya ia saat melihat siapa lyang berdiri di depan pintu apartemennya. “Kak Kayla.”
“Hai Anna,” sapa Kayla dengan senyum bahagian mereka dibibirnya.
“Bagaimana kakak bisa tau tempat tinggalku,” tanya Anna masih berdiri diambang pintu.
“Ahh itu soal gampang, apakah kau tidak menawarkanku masuk,” ujarnya dengan nada bercanda, keduanya pun tertawa.
“Ohh, tentu saja, ayo masuk Kak. Aku sampai lupa karena tak percaya melihat Kakak datang kesini,” Anna berkata sambil menggiring langkah Kayla dan menyuruhnya duduk.
“Maaf kalau kakak kurang nyaman karena tempatku sangat kecil.”
“Kau ini bicara apa,” ujar Kayla tak suka dengan apa yang dikatakan oleh Anna barusan.
“Tunggu sebenatr ya Kak, aku ambil minum dulu,” ucap Anna hendak melangkah pergi tapi ditahan oleh Kayla.
“Tidak perlu aku hanya sebentar. Kedatanganku kesini ingin mengajakmu pergi.”
“Pergi? Kemana Kak,” Tanya Anna menyipitkan matanya terkejut dengan ajakan Kayla yang begitu tiba-tiba.
“Nanti kau juga tau. Ayo kita pergi sekarang.”
“Tapi Kak. Aku tidak bisa karena aku harus bekerja,” tolak Anna karena ia harus masuk kerja malam ini.
“Kau tidak perlu masuk karena aku sudah mengurus izinmu,” tukas Kayla.
“Tapi Kak…
“Tidak ada tapi-tapi, ganti bajumu sekarang dan setelah ini kita langsung pergi.”
.
.
.
.
Bersambung
Selamat membaca readers 🙏🙏
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.
Terima kasih 🙏🙏
ana jangan pernah percaya sama temen dekat...