Malam itu, di balik rimbun ilalang takdir seorang gadis muda yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu berubah selamanya. Seorang wanita sekarat menitipkan seorang bayi padanya, membawanya ke dalam pusaran dunia yang penuh bahaya.
Di sisi lain, Arkana Xavier Dimitri, pewaris dingin keluarga mafia, kembali ke Indonesia untuk membalas dendam atas kematian Kakaknya dan mencari sang keponakan yang hilang saat tragedi penyerangan itu.
Dan kedua orang tua Alexei yang di nyatakan sudah tiada dalam serangan brutal itu, ternyata reinkarnasi ke dalam tubuh kucing.
Dua dunia bertabrakan, mengungkap rahasia kelam yang mengancam nyawa Baby Alexei
Bisakah Cintya dan Arkana bersatu untuk melindungi Alexei, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
"Huaaakk! Huaaakk!"
Tangisan Baby Alexie memecah kesunyian di tengah ketegangan yang mencekam. Anastasya membeku, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu, mereka pasti ketahuan.
Para musuh yang mendengar suara tangisan seorang bayi langsung berhenti dan berbalik, mata mereka menyipit tajam mencari sumber suara.
Jack bertindak dengan cepat. Ia mendorong Anastasya ke belakang tumpukan kayu, lalu melompat keluar dengan pistol terhunus kedepan.
"Lari, Nyonya! Selamatkan Tuan Muda!" teriak Jack, sambil terus menembak ke arah musuh.
Dor!
Dor!
Suara tembakan demi tembakan terdengar memekakkan telinga. Jack bertempur dengan gagah berani, melindungi istri dan anak dari bos-nya. Ia sudah berjanji untuk selalu melindungi keluarga Dimitri, dan ia akan memegang teguh janji itu.
Anastasya, dengan Baby Alexie dalam gendongannya, berlari sekuat tenaga. Ia tidak tahu harus pergi ke mana, tapi ia tahu ia harus segera menjauh dari bahaya yang mengintainya.
Peluru-peluru beterbangan di sekelilingnya, menghantam dinding dan pepohonan. Ia bisa merasakan angin peluru itu menyentuh rambutnya.
Ia terus berlari, tanpa henti, tanpa menoleh ke belakang. Ia hanya fokus pada satu hal: menyelamatkan putranya. Demi Alexie, ia akan melakukan apa saja.
"Aw! Sial!" rintihnya tiba-tiba, ia merasakan sengatan tajam di pahanya. Ia terjatuh, rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya namun dekapan tangannya semakin erat memeluk sang buah hati.
Ia mencoba untuk bangun, tapi kakinya terasa lemas. Namun ia tak menyerah begitu saja. Tidak! Ia tidak boleh menyerah! Alexie membutuhkannya!
Ia menoleh ke belakang, melihat Jack masih bertempur melawan para musuh. Bertepatan seorang musuh yang mencoba menyerang Jack dari belakang.
Dengan sisa tenaga yang ada, Anastasya merangkak mencari sesuatu di sekitarnya, bertekad untuk membantu Jack.
Anastasya mengabaikan rasa sakit di pahanya. Ia harus membantunya, ia tidak bisa membiarkannya Jack berjuang sendirian setidaknya untuk terakhir kalinya.
Ia meraih sebuah batu sedang di tanah, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Dengan sekuat tenaga, ia melemparkan batu itu ke arah musuh yang sedang mengincar Jack.
Batu itu tepat mengenai kepala sang musuh, membuatnya terjatuh pingsan.
Jack menoleh ke arah Anastasya, matanya menunjukkan rasa terkejut sekaligus kagum.
"Pergi, Nyonya! Selamatkan diri dan Tuan Muda!" teriak Jack lagi.
Anastasya tak menghiraukan teriakan Jack amarahnya membara, Ia meraih pistol yang terjatuh dari tangan musuh yang pingsan, lalu mengarahkannya ke musuh lainnya.
Dengan tangan gemetar, ia menarik pelatuknya.
Dor!
Suara tembakan memecah kesunyian malam. Musuh itu tersungkur ke tanah.
Anastasya dan Jack saling bertukar pandang sesaat. Namun, tiba-tiba, seorang musuh muncul dari belakang Anastasya. Musuh itu mengangkat senjatanya, siap untuk menembak.
Anastasya tidak menyadarinya. Ia terlalu fokus pada musuh di depannya.
Saat musuh itu mengangkat senjatanya, siap untuk menembak Anastasya dari belakang, Jack yang melihatnya. Tanpa ragu, ia menerjang ke arah Anastasya, mendorongnya hingga terjatuh.
Peluru itu mengenai Jack, tepat di dadanya. Ia tersungkur ke tanah, darah membasahi pakaiannya.
Anastasya dengan refleks menembak musuh itu tepat sasaran. Lalu ia mendekat, berlutut di samping Jack. "Jack! Ya Tuhan, Jack!" Ia berusaha menekan luka di dada Jack dengan tangannya yang gemetar.
Jack terbatuk, darah menyembur dari mulutnya. Ia menatap Anastasya, matanya menunjukkan rasa sakit dan penyesalan.
Anastasya menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis. "Jangan bicara, Jack. Jangan bicara. Kita harus keluar dari sini." Ia tahu, itu bohong.
Jack menggeleng lemah. "Tidak bisa, Nyonya." Ia terengah-engah. "Pergi ... selamatkan Tuan Muda."
Anastasya menatap Jack, dengan air mata berkaca-kaca. "Aku ... aku tidak tahu harus apa."
Jack menatap Anastasya dengan tatapan yang tulus. "Lindungi Tuan Muda Nyonya. Dia ... masa depan Dimitri." Ia berusaha tersenyum, tapi rasa sakit tak bisa ia bohongi ia hanya meringis kesakitan.
Anastasya hanya bisa mengangguk, air matanya akhirnya tumpah. Jack menghela napas pendek, lalu matanya terpejam. Tangannya yang tadi berusaha meraih tangan Tuan Mudanya jatuh lemas ke samping.
Anastasya terisak pelan, menundukkan kepalanya. "Terima kasih, Jack. Terima kasih untuk segalanya."
Dengan hati hancur, Anastasya bangkit dan menyeret kakinya dengan susah payah. ia harus pergi. Demi Alexie, demi pengorbanan Jack, dan suaminya yang masih berjuang di dalam sana, ia harus bertahan.
Ia terus menyeret langkahnya dengan tertatih-tatih, mengabaikan rasa sakit yang semakin menjalar keseruh tubuhnya. Ia tak ingin menoleh ke belakang lagi. Ia hanya fokus pada satu hal: menyelamatkan putranya.
Hingga akhirnya ia tiba di sebuah jalan yang sepi dan gelap.
Ia sudah terlalu lelah, terlalu terluka, terlalu putus asa. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Akhirnya ia memutuskan bersembunyi di balik ilalang yang tinggi di bawah kegelapan malam berharap seseorang dapat menolong dirinya dan sang putra.
Tak lama setelahnya, secercah harapan muncul saat pandangannya melihat seorang gadis muda berjalan sendirian di jalan itu sambil bersenandung ria. Anastasya tahu, ini adalah kesempatan terakhirnya. Ia memohon pertolongan dengan sisa-sisa tenaganya.
______& Flashback end &______
Pagi masih buta ketika Cintya membuka matanya, ia langsung teringat saat melihat bayi di sampingnya, kalau hidupnya baru saja berubah jadi sinetron laga. "Cintya, jangan panik. Ini cuma ... bayi yang harus kau lindungi dari orang-orang jahat!" gumamnya pada diri sendiri.
Ia bangkit dari tempat tidur dan memutuskan untuk membuka dompet yang diberikan wanita itu sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Di dalam dompet itu ia menemukan sebuah alamat. Chintya membacanya dengan teliti. "Semoga aja bukan di tengah hutan. Aku nggak punya GPS, apalagi insting bertahan hidup."
Keputusan untuk pindah kontrakan sudah bulat demi keselamatan Baby Al. "Aku harus jadi superhero dadakan demi bayi ini." lanjut Cintya, Ia menatap Baby Al yang masih terlelap. Pipinya yang gembul terlihat damai, seolah tidak tahu bahaya yang mengintai. Tenang saja, Al. Bunda akan melindungimu.
Di dalam dompet, itu juga ada sejumlah uang tunai yang cukup untuk kebutuhan Baby Al untuk beberapa bulan dan sebuah Black Card.
"Oke, uang tunai buat beli popok dan Black Card buat ... beli helikopter tapi nggak yakin cara kerjanya gimana." keluh Cintya dramatis.
Hmmm! Ternyata orang tua Baby Al sudah mempersiapkan semua ini, seolah mereka tahu takdir akan memisahkan mereka. Hati Cintya mencelos. Cinta seorang ibu, seorang ayah, yang abadi bahkan dalam kematian.
Cintya terharu. Setidaknya, Baby Al akan tahu ia dicintai tanpa batas oleh kedua orang tuanya. Matanya berkaca-kaca, dan tanpa di perintah merembes di pipinya tanpa bisa dicegah.
Sangat berbeda dengan dirinya, yang dari bayi di tinggalkan, bahkan ia tak tahu alasan kenapa ia di buang begitu saja. Bayangan masa lalu menghantuinya. Panti asuhan yang dingin, tatapan kosong para pengurus, dan penantian yang sia-sia. Ia tidak punya siapa-siapa. Tidak ada yang menunggunya, tidak ada yang peduli.
"Dulu sih gitu. Sekarang ada Baby Al. Berarti gue nggak boleh mati duluan, gue tidak akan membiarkan Baby Al merasakan apa yang gue rasakan," Ia menyeka air mata dengan kasar.
"Cukup meratapi diri sendiri. Sekarang ada Baby Al yang harus kau lindungi Cintya!" peringkatnya pada diri sendiri.
"Ini bukan waktunya untuk galau! Tapi saatnya beraksi!" lanjutnya penuh semangat.
Ia mencium kening Baby Al pelan dan hati-hati. "Aku akan menjagamu," bisiknya tulus.
"Meskipun gue nggak punya pengalaman mengurus bayi, gue janji akan berusaha sekuat tenaga. Kecuali kalau disuruh berantem sama beruang kutub, itu aku nyerah duluan." cerocosnya lagi.
Dengan ransel di punggung dan Baby Al dalam gendongannya, Cintya melangkah keluar dari kontrakan. Udara pagi yang dingin langsung menyambutnya, tetapi tekadnya tak tergoyahkan. Ia tidak akan menyerah. "Lest go! Petualangan dimulai!" seru Cintya yang siap menghadapi tantangan yang ada.
Bersambung ....
ngga sabar nunggu paman & bunda sah.
kopi untuk mu
aku mencoba mampir di novel mu 🤗
di awal Bab ceritanya dh seru bgt ,, smg selanjutnya ceritanya bagus