VANO SALVATRUCHA
Putra dari Vino Salvatrucha dan Vira Laurent. pria yang mengambil hampir seluruh sifat ayahnya itu kini tumbuh dewasa, Vano mengambil alih seluruh kekuasaan Salvatrucha dari tangan orangtuanya. Sebagai pewaris satu satunya Vano harus bekerja keras untuk mengembangkan seluruh perusahaan Salvatrucha namun disamping itu sifat gilanya terhadap senjata senjata tajam dan berbahaya memang sudah tidak bisa dihilangkan oleh karena itu selain menjadi pemimpin Salvatrucha Group vano adalah pemberantas mafia terbesar dinegara nya.
Vallen
Gadis delapan belas tahun yang sudah mendapat gelar sebagai pembunuh tanpa ampun, Valen adalah gadis bermata dingin dan tajam. Valen tidak memiliki hati ketika membunuh seseorang, sekali saja dia tahu dirinya dibohongi oleh musuh maka orang itu akan habis ditangan sang mafia unik ini, namun karakter yang dimiliki Vallen berbeda beda. ada saatnya dia menjadi kucing kecil penurut namun ada saatnya dia menjadi gadis tangguh yang membunuh seluruh musuhnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Yulianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
"Assalamualaikum Vano" ucap Vira saat memasuki kamar utama.
"Waalaikumussalam umi" jawab Vano langsung menyalami kedua orangtuanya.
"Hey bocah kau apakan anak orang!" Ujar Vino memukul kepala Vano saat mencium tangannya.
"Vallen sayang ada apa?" Tanya Vira mendekati Vallen untuk memeriksa luka ditubuhnya.
"Vallen baik baik saja umi" jawab Vallen seadanya.
Mata Vira menajam kearah Vano, tentu Vallen tidak mungkin melukai dirinya sendiri jika bukan Vano yang melakukannya.
"Mm hehe umi tatapannya jangan seperti itu, santai umi santai" ucap Vano menenangkan Vira agar tatapan menakutkan itu hilang dari wajah uminya.
"Kau apakan putri ku!!" Kata Vira dengan suara dingin.
"Makan tatapan tajam istriku selamat menikmati" bisik Vino lalu keluar kamar.
"A,,,abi ja,,, jangan pergi" ucap Vano memegang tangan Vino namun Vino menepisnya karena tidak ingin ikut campur jika Vira sudah bertindak.
"Kau harus bermimpi keluar dengan selamat jika belum menjawab pertanyaan ku!" Kata Vira lagi dan kali ini suaranya lebih dingin.
"Umi sebaiknya umi obati saja gadis ini, Vano harus bekerja diruangan" ucap Vano lalu berjalan cepat keluar kamar sebelum Vira sempat mengatakan sesuatu.
Vira menggelengkan kepala melihat tingkah putranya yang tidak ada bedanya sama sekali dengan Vino.
"Sayang apa Vano melakukannya dengan cukup keras sehingga membentuk luka seperti ini" ucap Vira sembari memeriksa luka Vallen.
"Tidak umi, Vallen baik baik saja" ujar Vallen tetap tidak ingin membuat nama Vano jelek.
"Jangan berbohong sayang, umi sangat tau bagaimana Vano, dia akan melakukan apapun untuk membuat seseorang jujur padanya" kata Vira.
Vallen menundukkan kepalanya sembari mengangguk pelan.
"Hanya sedikit umi tidak banyak" ucapan Vallen hampir tidak terdengar ditelinga siapapun.
"Vallen sayang dengarkan umi nak, Vano ingin membantumu keluar dari dunia gelap itu karena dia merasa seorang gadis seperti mu tidak pantas melakukan pembantaian dimana mana. Berikan dia kesempatan untuk melindungi mu dari orang-orang yang ingin menyakiti mu" tutur Vira sangat lembut sembari mengobati Vallen.
Vallen terdiam mendengar nasehat dari Vira, jika saja semuanya semudah itu pasti Vallen sudah melakukannya dari jauh jauh hari.
"Umi sebaiknya Vallen keluar dari rumah ini, Vallen hanya bisa menjadi beban untuk kalian terutama Vano" ucap Vallen semakin menundukkan kepalanya.
"Keluar? Sepertinya Vano tidak akan melepaskan mu lagi" ujar Vira terkekeh.
"Kenapa umi?" Tanya Vallen mengangkat wajahnya mendengar Vira mengatakan itu.
"Mungkin karena dia mencintai mu" goda Vira tersenyum geli.
"Cinta? Apa itu?" Tanya Vallen sembari memikirkan makna kata yang belum pernah ia dengar.
Wajah Vira kembali datar mendengar pertanyaan konyol Vallen, sepertinya ini satu dari 1000 pertanyaan bodoh lainnya.
"Cinta itu makanan mm ya makanan" jawab Vira datar sembari membereskan obat obatan.
"Vallen mengira cinta itu granat atau rakitan bom umi" ujar Vallen dengan polosnya.
"Bu,,,bukan" Vira menepuk keningnya ternyata ada Vino kedua dan itu harus membutuhkan extra tenaga untuk menangani kebodohan.
"Vallen, kau harus bersabar menghadapi Vano sayang. pria itu sangat sulit ditaklukkan namun sekali ia takluk pasti dia akan melakukan segala macam cara untuk mengikat mu disini, kau akan terjerat disini selamanya jika memang dia menginginkan mu. kau siap tinggal disini sayang?" ucap Vira tersenyum bahagia.
"Vallen memang sudah tinggal disini umi kenapa harus siap lagi" ujar Vallen.
wajah Vira datar mendengar ucapan Vallen, sepertinya gadis ini perlu dilakukan uji coba kepintaran terlebih dahulu.