Silla gadis muda yang terpaksa harus menikah muda di harus kan menjalani berbagai macam cobaan hidup yang begitu berat demi mendapatkan cinta,,akankah Silla bisa bertahan atau menyerah dengan keadaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anma Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti bunglon
Senyum indah jelas terlihat di bibir Arif.Yang ada dalam pikirannya sekarang hanya melihat dan membuat Silla bahagia walau tanpa memilikinya.
Kadang ada yang bergosip membicarakan kalau Arif sebenarnya suka dengan Silla tapi tak dia hiraukan toh memang sebenarnya itulah kenyataannya.
Dari semua teman bahkan Andika dan Silla sendiripun tak ada yang mengetahuinya,Arif sangat pandai menyimpan rahasia.
Selesai makan dan membersihkan bekas bungkus makanan Arif kembali ke kelasnya lagi.
"Ya sudah aku kembali ke kelasku lagi ya,,, sebentar lagi bel masuk".Arif berpamitan dan beranjak dari tempat duduknya.
Sebelum Arif pergi Silla lebih dulu mencegahnya dengan memegang lengan Arif.Sontak Arif berhenti dan memandang tangan Silla yang memegang tangannya.
"Ada apa??". tanya Arif dengan nada lembut dan sedikit bingung dengan tingkah Silla.
"Jangan marah-marah lagi ya,,,". jawab Silla dengan pasang wajah imutnya.
"Siapa yang marah??".
"Tadi pagi".
"Aku tak marah dan aku nggak bisa marah padamu.Mana ada kakak yang bisa marah pada adik seimut ini".kata Arif sambil mengusap sayang rambut Silla.
"Aku yang tak pernah bisa melihat mu marah dan aku nggak mau sampai kamu marah apalagi marah padaku".
"Udah yang tadi nggak usah dipikirin ya,dah aku balik dulu".
"Arif,,, terimakasih ya makanannya ".kata Silla dengan senyum di bibirnya.Dan dibalas anggukan oleh Arif.Kemudian keluar dari kelas Silla.
Tanpa pernah ada yang tahu senyum itu yang membuat Arif jatuh cinta, senyum yang bisa menyejukkan hati.
"Iihh,,kalian sweet banget deh".kata teman satu kelas Silla yang ada di dalam kelas dan sejak tadi memperhatikan interaksi antara Silla dan Arif.
"Iya bikin baper saja".tambah yang lainnya.
"Kalau saja aku nggak lihat langsung akrabnya Arif dan cowok kamu,aku masih nggak percaya deh kalau kamu dan Arif cuma temenan ".
"Kalian ni bisa aja deh,,,dah ah nggak usah yang aneh-aneh ".jawab Silla sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah teman-temannya.
"Tapi lain kali jangan seperti itu lah ya,,, kasihani lah kita-kita yang jomblo abadi ini".kata teman Silla dengan wajah melasnya.
Dan sontak membuat pecah tawa mereka semua yang ada didalam kelas.Silla hanya tertawa dan geleng-geleng kepala.
Syukurnya teman satu kelas Silla tidak ada yang julid.Semua baik bukan hanya kepada Silla tapi kepada siapa saja.
Tidak berselang lama bel masuk berbunyi.Semua masuk ke dalam kelas dan mengikuti pelajaran sampai waktunya pulang sekolah dengan tertib tanpa ada drama.
Inilah kalau sekolah disekolah favorit.Tidak ada murid yang bolos dan tidak mengerjakan tugas.Semua diajarkan untuk disiplin, tepat waktu dan bertanggungjawab.
Sepulang sekolah rutinitas Silla seperti biasa tidak ada yang berubah.Pulang bareng Arif mampir dulu di basecamp yaitu rumah Aufie.Di sana ngobrol dan bercanda sambil nunggu Andika jemput.Kalaupun Andika ada keperluan mendadak dan tidak bisa menjemput Silla masih ada banyak teman yang bisa mengantar Silla pulang ke rumah.
"Widih,,,tumben santai la??".tanya Shinta
"Iya,,, mumpung belum ada acara,,tapi entah kalau bulan depan ".jawab Silla agak lemas karena diingatkan dengan sibuknya dia di OSIS.
"Mumpung bisa santai biarin lah,,ni malah diingatkan dengan rempongnya dia nanti.Jadi lemes kan!!".Aufie ikut angkat bicara.
"Iya,,ntar aku sibuk nggak ada waktu ngumpul kalian protes pula".jawab Silla lagi sedikit sewot.
Shinta yang mengawali obrolan jadi terkikik geli melihat Silla yang sedikit sewot.
Silla itu selalu bisa bikin suasana jadi gimana gitu.Dia bisa berubah ekspresi sesuai suasana.
Dia bisa cepat tanggap jika ada teman yang ada masalah,dia bisa tegas, bijaksana, mellow,galak ,tegas dan lucu seperti sekarang tergantung suasananya saja.Sudah macam seperti bunglon saja.
"Andika nggih jemput la,tumben belum datang??". tanya Alyn mengalihkan suasana supaya Silla tidak cemberut lagi.
"Eh,,,iya jam berapa sih tumben lama nongol".Silla langsung ambil handphonenya di dalam tas.
Benar kan satu pertanyaan lain sudah langsung merubah ekspresi Silla.Dia itu memang lain dari pada yang lain.
"Coba telpon atau wa".Arif memberi saran.
"Ni dia dah wa ternyata, nggak bisa jemput ada pertemuan dadakan buat bahas pertandingan sepak bola minggu depan".
"Ya sudah nanti aku anterin nggak pa deh,,sekalian mau ambil kue pesenan mama". Shinta menawarkan diri untuk mengantar Silla pulang.
Padahal tadi Arif mau menawarkan diri untuk mengantar Silla tapi sudah didahului Shinta.Nggak apa lah mengalah dari pada terlalu memaksakan diri dan nisa menimbulkan rasa curiga.
"Ok deh... sekarang atau nanti". tanya Silla.
"Ntaran lagi deh masih panas banget ni nunggu matahari geseran dikit lah". jawab Shinta.
"Lagian ngapain sih buru-buru banget pulang??". tanya Alyn yang merasa Silla sedikit aneh.
"Nggak buru-buru sih cuma takutnya tu kue mau dipake".
"Nggak kok masih buat besok itu,cuma biasalah mama kalau semua belum tersedia suka uring-uringan ".
"Sama lah mamaku juga gitu".Aufie ikut membenarkan.
Mereka masih ngobrol banyak hal baik itu penting atau yang tidak penting.Bagi mereka yang penting kumpul bersama biarpun tidak lama tapi sebisanya menyempatkan waktu untuk kumpul.
Kadang ada yang pulang duluan karena ada urusan tiap itu tidak jadi masalah, mereka saling mengerti kesibukan masing-masing.