Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.
Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.
Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.
Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.
Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Rantang, Stiker, dan Kenangan yang Pulang Sendiri
Beberapa kenangan tidak perlu diundang untuk datang. Kadang, mereka pulang sendiri dengan membawa rantang dan alasan untuk gugup lagi.
...Happy Reading!...
...*****...
Tok tok tok.
Cahaya lampu teras menyinari sosok perempuan yang berdiri di depan rumah tetangganya sambil memegang dua benda: rantang makanan dan paper bag. Malam yang seharusnya tenang kini dipenuhi degup jantungnya sendiri.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.
Saka muncul dengan penampilan santainya memakai kaos hitam polos, celana pendek, dan wajah datar khas orang yang baru saja berhenti membaca buku atau menonton film dokumenter.
Cayra, yang sudah bersusah payah mengatur napas, langsung menyodorkan rantang ke arah pria itu.
"Nih. Titipan dari Mama buat Anda," ucapnya datar tapi sopan, seolah tidak sedang berusaha keras untuk tidak salah tingkah.
Saka menatap rantang itu dengan alis mengernyit. Ia tidak bergerak, hanya memandang Cayra seolah dia membawa bom waktu, bukan makanan rumahan.
"Apa maksudnya?"
Cayra menghela napas. "Ya Tuhan, tinggal terima aja susah amat. Itu makanan ucapan selamat datang dari Mama, karena... ya, Anda sekarang tetangga kami."
Saka akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Tolong sampaikan terima kasih saya untuk beliau."
Rantang diterima, tapi belum selesai.
Cayra menggeser paper bag dari tangan kiri ke kanan, lalu menyerahkannya lagi. Kali ini tanpa banyak basa-basi.
Saka, mungkin karena sudah cukup belajar dari kejadian sebelumnya, langsung mengambilnya. Namun ekspresi bingungnya masih tetap di wajah.
"Itu semua barang yang Anda kasih ke saya beberapa hari ini. Payung di halte, masker yang sudah saya ganti, jas hujan tadi siang. Lengkap," ucap Cayra tenang. Tapi matanya tidak bisa menyembunyikan gugup yang menyelinap di balik alisnya.
Saka menghentikan gerakan tangannya yang sedang membuka paper bag. Tatapannya naik, menatap Cayra dengan wajah nyaris panik.
"Apa maksud kau semua barang ini dari saya?"
Cayra menyibak anak rambut yang jatuh ke dahinya. "Jangan pura-pura nggak tahu. Saya kenal betul stiker kutu buku itu. Itu simbol Anda, dan cuma Anda yang pakai."
Saka diam. Matanya berkedip pelan, seolah tidak percaya apa yang baru dia dengar.
"Kau masih ingat semua tentang stiker itu?" tanyanya pelan, nyaris seperti bisikan harapan.
Cayra refleks memalingkan wajah. Tidak menatap Saka, tidak menatap apa pun, bahkan tidak menatap dirinya sendiri di kaca jendela di balik bahu pria itu.
"Apaan sih. Jelas aja saya lupa."
Lidahnya bergerak lebih cepat dari pikirannya. Bahkan dia sendiri kaget betapa defensifnya nada suaranya barusan.
Saka nyaris tertawa. Tapi tidak. Dia menahan semuanya di dalam hati dengan senyuman, kehangatan, dan kilasan masa lalu yang tiba-tiba muncul tanpa aba-aba.
"Benarkah? Tapi kenapa kau bisa yakin semua barang itu dari saya?" godanya.
"Karena dulu... hanya Anda yang punya stiker kutu buku seperti itu!" balas Cayra cepat, nyaris marah.
Saka mengangguk dalam hati. Jawaban itu sudah cukup.
Cayra merasa suasananya makin canggung. Dia berbalik, bersiap pergi.
"Pokoknya saya yakin itu dari Anda. Jadi ya, saya balikin. Jangan lupa rantangnya nanti dikembalikan," ucapnya sambil melangkah mundur.
Tapi suara Saka menahannya di tengah halaman.
"Seberapa keras kau mengelak, saya tetap yakin kau masih ingat semuanya. Tentang stiker kutu buku. Dan tentang saya."
Langkah Cayra terhenti. Tapi hanya sejenak. Detik berikutnya dia kembali melangkah, kali ini lebih cepat. Masuk ke rumahnya, menutup gerbang. Seolah dengan menutup gerbang, dia juga berharap bisa mengunci kembali kenangan yang selama ini ia pura-pura lupakan.
Saka memandangi punggung Cayra yang menjauh dengan senyum tipis. Entah kenapa, tingkah laku perempuan itu tetap bisa membuatnya tersenyum. Padahal luka yang sama masih terasa seperti baru kemarin.
Ia masuk ke rumah, membawa rantang dan paper bag itu. Rasanya... seperti membawa kembali sesuatu yang pernah hilang.
...*****...
Di rumah seberang, Cayra membuka pintu rumah dengan tergesa. Wajahnya masih panas, jantungnya tidak karuan. Dia melewati ruang tengah tempat kedua orang tuanya sedang menonton TV tanpa berkata sepatah kata pun.
Mama mengerutkan dahi. "Ca, rantangnya udah dikasih ke Saka?"
Tidak ada jawaban.
Cayra sudah menaiki tangga, seperti zombie yang sedang melamun sambil olahraga.
"Papa, Caca kenapa sih kok gak jawab?" tanya Mama ke Papa yang duduk di sebelahnya.
Papa mengangkat bahu santai. "Udahlah, Ma. Kalau dia gak bawa pulang rantang, berarti udah dikasih."
Mama mendesah. Mood anak perempuannya memang tidak bisa diprediksi. Kadang seperti langit sore yang tenang. Kadang seperti badai. Dan kadang seperti drama Korea episode terakhir yang bikin pusing dan nangis sekaligus.
Ia hanya berharap satu hal: semoga laki-laki yang nanti menikah dengan Cayra bisa sabar. Sabar luar biasa, seperti Papa Cayra yang sekarang masih sabar menonton sinetron bareng istri setiap malam.
...*****...
Naik ke lantai dua.
Cayra melewati kamar Elan yang pintunya terbuka. Kebetulan adik laki-lakinya itu keluar dan langsung tersenyum sumringah. Waktu yang sempurna.
"Kak! Mana uang dua ratus ribunya?"
Cayra menatap Elan sebentar. Lelah. Pasrah. "Ya udah, sini masuk."
Elan heran. Tidak ada protes. Tidak ada drama. Ini baru pertama kali kakaknya memberi uang dengan wajah seperti habis zikir panjang, bukan marah-marah.
Cayra menuju meja rias, mengambil dompet dari dalam tas kerjanya, dan mengeluarkan dua lembar uang merah. Dia menyerahkannya tanpa kata-kata berlebihan.
"Makasih, Kak!"
"Sama-sama."
Elan memandangi wajah kakaknya. Ada sesuatu yang aneh. Biasanya dia disuruh jadi tukang ambil barang dulu atau dimarahin dulu. Tapi kali ini? Sunyi.
Dia keluar kamar Cayra sambil menutup pintunya perlahan. Takut kalau ternyata ini jebakan.
Dan di balik pintu itu, kakaknya sedang bertarung sendiri dengan perasaan yang bahkan tidak ingin dia beri nama.
Setelah pintu tertutup, Cayra duduk di ranjang. Dia mengacak rambutnya seperti orang yang menyesal ikut acara reuni SMA.
Dia tidak kesambet. Tidak juga sedang PMS. Tapi hatinya tidak baik-baik saja.
Saka.
Nama itu kembali muncul. Membanjiri pikirannya seperti playlist sedih yang diputar paksa. Kalau bisa, dia mau balikin juga playlist kenangan yang tiba-tiba auto-play di otaknya.
Malam minggu seharusnya bisa dihabiskan dengan camilan dan drama Korea. Tapi sekarang?
Dia malah duduk di kamar, memikirkan masa lalu yang seharusnya sudah dia buang... tapi diam-diam dia rindukan.