Diumurnya yang ke 27 tahun, Afra belum terpikir untuk menikah apalagi dengan kondisi ekonomi keluarganya yang serba kekurangan. Hingga suatu hari disaat Afra mengikuti pengajian bersama sahabatnya tiba-tiba sebuah lamaran datang pada Afra dari seorang pria yang tidak ia kenal.
Bagaimana kisah selanjutnya?
Apa Afra akan menolak atau mernerima lamaran pria tersebut?
Siapa pria yang melamar Afra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Afra yang mendengar hal itupun merasa bersalah dan hendak mengambil timunnya dari piring Faiz, namun Faiz menjauhkan piringnya dari Afra. "Mulai sekarang saya suka timun Pak," ucap Faiz dan melanjutkan kunyahannya.
"Kalau Mas Faiz gak suka timun, jangan dimakan Mas," ucap Afra.
"Gak, Mas suka kok," ucap Faiz dan menghabiskan semua timun yang ada di piringnya.
Afra juga menghabiskan makanannya, namun Afra merasa bersalah karena ulahnya membuat Faiz harus memakan timun yang ternyata tidak disukainya.
Afra dan yang lainnya pun keluar dari restoran menunggu Faiz dan Ustadz Gio yang membayar semua makanannya, "Saya kagum dengan Gus Faiz," ucap Ustadz Gio.
"Kagum kenapa?" tanya Faiz.
"Kayaknya hampir semua orang di pondok pesantren tau kalau Gus Faiz tidak menyukai timun dan hanya Ning afra yang belum tau, saya ingat ketika kita pernah makan di masjid dan Gus Faiz menyisihkan timun bahkan saat Ning Hira yang memaksa Gus Faiz memakannya pun Gus Faiz menolaknya, tapi tadi saat Ning Afra menawarkan timun tadi pada Gus Faiz, Gus Faiz memakannya hingga habis," ucap Ustadz Gio.
"Saya hanya menyukai timun ketika istri saya tidak bisa memakannya," ucap Faiz dengan tersenyum lalu keluar dari restoran.
"Masyaallah, sejak Gus Faiz menikah, aku belum pernah melihat Gus Faiz senyuman itu luntur dari wajah Gus Faiz. Sepertinya Gus Faiz sangat mencintai Ning Afra," gumam Ustadz Gio.
Setelah beristirahat, mereka pun melanjutkan perjalanannya dan kali ini suasana mobil begitu hening karena semua sudah lelah. "Kamu tidur aja, nanti kalau udah sampai aku bangunin," ucap Faiz.
"Gapapa Mas?" tanya Afra.
"Gapapa, semuanya juga udah pada tidur," ucap Faiz lalu Afra pun melihat ke belakang dan ternyata semuanya sudah terlelap, Afra pun mengikuti saran Faiz.
Faiz yang melihat Afra terlelap segera membawa kepala Afra utnuk bersandar pada bahunya, lalu Faiz juga terlelap. Hingga beberapa saat kemudian, mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki kota A dan mereka hampir sampai di hotel tempat mereka akan menginap.
"Sayang, bangun. Kita udah mau sampai," ucap Faiz, dengan menggoyangkan lengan Afra.
Afra bangun dan melihat Faiz tepat di sampingnya, "Mas Faiz pasti capek ya, maaf ya Mas," ucap Afra.
"Gapapa, ayo siap-siap. Sebentar lagi kita sampai," ucap Faiz.
Tak lama setelah itu, akhirnya mobil mereka sampai di hotel, mereka pun segera kekuar dari mobil dan masuk ke hotel tersebut. Ustadz Gio pun mengurus semuanya karena memang sebelumnya ia sudah memesan kamar di hotel tersebut, sedangkan yang lain menunggu di sofa yang ada di lobby hotel tersebut.
Ustadz Gio dan Ustadz Adit lun datang menghampiri mereka, "Ada masalah?" tanya Gus Faiz ketika melihat wajah bingung Ustadz Gio dan Ustadz Adit.
"Begini Gus, seingat saya itu, saya sudah pesan 5 kamar, dua untuk santri putra dan dua lagi untuk santri putri, lalu satu kamar untuk Gus Faiz sama Ning Afra, tapi ternyata saya lupa pesankan yang satu kamar untuk Gus Faiz sama Ning Afra karena kan satu kamar itu pesannya menyusul setelah saya pesan 4 kamar dan tadi saya ingin pesan satu kamar lagi ternyata sudah penuh," ucap Ustadz Gio.
"Kamu tidur sama santri putri gapapa?" tanya Faiz.
"Gapapa Mas, tapi kamarnya muat kalau aku ikut di kamar santri putri?" tanya Afra.
"Insyaallah muat Ning," ucap Ustadz Gio.
"Yasudah kalau begitu, kita langsung ke kamar aja buat istirahat karena besok kan harus bersiap," ucap Faiz dan diangguki semuanya.
"Mari Ning," ajak Ustadzah Tiara.
Mereka pun pergi ke kamar mereka, dimana kamar mereka bersebelahan sehingga memudahkan mereka jika terjadi sesuatu.
"Yang, kamu bawa aja tasnya nanti kalau aku butuh sesuatu, aku kabarin kamu," ucap Faiz dan memberikan tas yang berisikan keperluannya dan Afra.
"Iya, Mas," jawab Afra.
Afra dan para santri serta Ustadzah pun segera masuk ke dalam, begitu mereka masuk mereka pun merasa lega karena bisa beristirahat dengan cepat, Afra tidur bersama Ustadzah Tiara dan juga 3 santriwati lainnya.
"Ning, saya mandi dulu atau Ning Afra dulu?" tanya Ustadzah Tiara.
"Ustadzah dulu aja gapapa, saya mau membereskan barang saya dulu," ucap Afra dan diangguki Ustadzah Tiara.
Ketika Ustadzah Tiara masuk ke dalam kamar mandi, suasana di kamar tersebut pun hening dan tentu saja Afra menyadari hal tersebut. "Kalian mau wafer?" tanya Afra dengan menawarkan wafer bawaannya untuk memecah keheningan yang ada.
"Tidak, terimakasih Ning," jawab salah satu santri.
"Hem, kalau boleh tau nama kalian siapa?" tanya Afra.
"Saya Lyla, ini namanya Rahma dan ini namanya Sofia," ucap Lyla.
"Adik sama namanya juga Sofia," ucap Afra.
"Masyaallah, nama saya sama kayak nama Adiknya Ning Afra ya, jangan-jangan saya juga adiknya Ning Afra," ucap Sofia dan berhasil membuat suasana kamar lebih hangat.
"Bisa jadi itu," jawab Afra.
Tak lama setelah itu Ustadzah Tiara keluar dari kamar mandi, "Disini ada 3 kasur, yang satunya ranjangnya lumayan besar kayaknya muat bertiga, jadi siapa yang mau disana?" tanya Ustadzah Tiara.
"Saya saja tidak apa-apa Ustadzah," ucap Afra.
"Jangan Ning," jawab mereka serentak.
"Kenapa?" tanya Afra.
"Ning Afra di single bed aja," ucap Ustadzah Tiara.
"Begini saja Ustadzah, lebih baik Ustadzah sama Ning Afra di kamar dengan single bed terus yang kasur buat bertiga biar kami," ucap Lyla.
"Jangan, sisanya kita pilih aja," ucap Ustadzah Tiara.
"Sudah Ustadzah jangan, kami rela kok. Lagipula kasurnya muat kok buat kami," ucap Rahma.
"Ya sudah, kalau ada yang mau tukar kakian bilang ya," ucap Ustadzah Tiara dan diangguki mereka bertiga.
Mereka pun membersihkan tubuh mereka lalu mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah lelah itu, ketika Afra tengah berbaring tiba-tiba ponselnya bergetar yang menandakan sebuah pesan masuk.
Kamu sudah tidur? Mas, mau ambil jaket.
^^^Iya Mas, sebentar.^^^
Setelah itu Afra mengambil jaket milik Faiz, "Ning Afra mau kemana?" tanya Ustadzah Tiara.
"Mau keluar sebentar, Mas Faiz mau ambil jaket," ucap Afra dan diangguki Ustadzah Tiara.
Afra pun membuka pintu kamarnya dan melihat Faiz yang sudah berada di depan pintu kamar, "Ini Mas," ucap Afra dan memberikan jaket tersebut.
"Jangan lupa pakai jaket kamu juga, diluar hujan dan kayaknya udara bakal lebih dingin," ucap Faiz.
"Iya, Mas," jawab Afra.
"Kamu nyaman di dalam?" tanya Faiz.
"Nyaman Mas," ucap Afra.
"Kamu gak tanya saya sudah mandi atau belum?" tanya Faiz.
Meksipun bingung, Afra pun menanyakan saja hal tersebut. "Mas Faiz sudah mandi?" tanya Afra.
"Sudah," jawab Faiz dan tersenyum hangat pada Afra.
"Mau diambilkan baju ganti juga?" tanya Afra.
"Tidak perlu, ini juga masih wangi kok," ucap Faiz dan diangguki Afra.
"Kalau gitu, aku masuk ya Mas," ucap Afra.
Sebelum pintu kamar tertutup, Faiz sudah menahannya. "Kamu ini gak peka ya, Mas ini lagi kangen sama kamu," ucap Faiz.
.
.
.
Bersambung.....
maaf ya Thor ceritanya bagus bgt tapi sayang banyak typo semoga bisa di perbaiki ya Thor biar bacanya enak, terimakasih 🙏