❗️Kisah hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama atau tempat itu ketidaksengajaan
Nesya, seorang gadis sederhana, bekerja paruh waktu di sebuah restoran mewah, untuk memenuhi kebutuhannya sebagai mahasiswa di Korea. Namun takdir membawanya menikah dengan laki-laki tampan dan kaya di korea.
Hari itu, suasana restoran terasa lebih sibuk dari biasanya. Sebuah reservasi khusus telah dipesan oleh Jae Hyun, seorang pengusaha muda terkenal yang rencananya akan melamar kekasihnya, Hye Jin, dengan cara yang romantis. Ia memesan cake istimewa di mana sebuah cincin berlian akan diselipkan di dalamnya. Saat Nesya membantu chef mempersiapkan cake tersebut, rasa penasaran menyelimutinya. Cincin berlian yang indah diletakkan di atas meja sebelum dimasukkan ke dalam cake.
Tanpa berpikir panjang, ia mencoba cincin itu di jarinya, hanya untuk melihat bagaimana rasanya memakai perhiasan mewah seperti itu. Namun, malapetaka terjadi. Cincin itu ternyata terlalu pas dan tak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amelia's Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keyakinan Jae Hyun
Saat sore menjelang, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah Nesya. Dari dalamnya, Jae Hyun keluar dengan jas hitamnya yang rapi, diikuti oleh Lee Joon yang membawa sebuah kotak kecil berisi cincin dan kalung berlian.
Ayah dan ibu Nesya yang masih merasa kecewa dengan kejadian sebelumnya hanya bisa menatap kedatangan mereka dengan ekspresi dingin. Nesya sendiri berdiri di belakang ayahnya, enggan untuk bertatap muka dengan Jae Hyun, namun dalam hatinya, ia tahu bahwa laki-laki itu datang bukan sekadar untuk berbicara.
Jae Hyun melangkah mendekat, kemudian membungkukkan badannya dengan hormat. "Tuan, Nyonya... saya datang ke sini dengan maksud serius. Saya ingin melamar Nesya secara resmi, dengan cara yang benar."
Ayah Nesya menatapnya tajam, lalu matanya beralih pada kotak yang dibawa Lee Joon. "Apa ini? Kau pikir pernikahan bisa dibeli dengan perhiasan mahal?"
Jae Hyun tetap tenang, meski sedikit gugup. "Bukan, Tuan. Ini bukan tentang harga atau kekayaan. Saya ingin menunjukkan kesungguhan saya. Saya tahu saya sudah banyak membuat kesalahan, dan saya tahu kepercayaan tidak bisa didapatkan begitu saja. Tapi saya benar-benar ingin menebus semuanya dan menjadikan Nesya istri saya yang sesungguhnya."
Nesya mengepalkan tangannya. "Jae Hyun, kau tidak perlu melakukan ini..." suaranya lirih, penuh kebingungan.
Jae Hyun menatapnya dengan mata yang penuh keteguhan. "Aku harus, Nesya. Aku tidak bisa lagi berpura-pura bahwa kau tidak berarti bagiku."
Ayah Nesya masih belum memberikan jawaban, ekspresinya sulit ditebak. Ia melirik istrinya yang juga tampak bimbang.
"Kami butuh waktu untuk berpikir," kata ayah Nesya akhirnya. "Pernikahan bukan sesuatu yang bisa diputuskan dalam semalam, apalagi setelah semua yang telah terjadi."
Jae Hyun mengangguk paham. "Saya mengerti, Tuan. Saya akan menunggu keputusan kalian."
Setelah itu, ia menatap Nesya dalam-dalam, seolah ingin menyampaikan sesuatu yang lebih dari sekadar kata-kata. Namun, Nesya hanya diam, masih terjebak dalam kebingungan hatinya sendiri.
Ketika Jae Hyun dan Lee Joon pamit, suasana rumah masih terasa tegang. Nesya tahu, keputusan ini akan mengubah hidupnya selamanya—apapun jawabannya nanti.
Ayah Nesya menatap Jae Hyun dengan tajam sebelum akhirnya menghela napas panjang. "Jika kau benar-benar ingin menikahi putriku, maka kau harus masuk Islam. Aku tidak akan pernah merestui pernikahan yang berbeda keyakinan."
Suasana di ruang tamu menjadi semakin tegang. Nesya terkejut mendengar pernyataan ayahnya, sementara Jae Hyun tetap berdiri tegap, tidak menunjukkan tanda-tanda keraguan. Lee Joon yang berdiri di sampingnya pun ikut menahan napas, menunggu jawaban dari bosnya.
Tanpa ragu, Jae Hyun menatap mata ayah Nesya dengan penuh keyakinan. "Saya bersedia, Tuan."
Mata Nesya membelalak. "Jae Hyun… kau tidak perlu melakukan ini." Suaranya terdengar lirih, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Namun, Jae Hyun tersenyum lembut. "Aku tidak melakukannya hanya karena ingin menikah denganmu, Nesya. Sejujurnya… sejak aku mengenalmu, aku mulai tertarik memahami keyakinanmu. Aku melihat bagaimana kau begitu teguh dalam imanmu, dan itu membuatku ingin belajar lebih dalam. Jika menjadi seorang Muslim adalah jalan yang benar, maka aku akan melangkah di jalan itu dengan kesadaran penuh."
Ayah Nesya masih menatapnya lekat-lekat, mencoba mencari kejujuran dalam kata-kata pria Korea itu.
"Baiklah," kata ayah Nesya akhirnya. "Jika itu keputusanmu, aku akan mengatur agar kau mendapat bimbingan dari ustaz. Setelah kau benar-benar memahami Islam, baru kita bicarakan tentang pernikahan."
Jae Hyun mengangguk mantap. "Terima kasih, Tuan. Saya akan melakukannya dengan hati yang tulus."
Nesya masih merasa campur aduk. Ia tidak tahu apakah ini keputusan yang tepat, tapi melihat keteguhan di mata Jae Hyun, hatinya entah kenapa bergetar.
Dalam hati, ia tahu… hidupnya akan berubah selamanya.
Hari itu menjadi hari bersejarah bagi Jae Hyun. Dengan mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam, ia berdiri di depan sebuah masjid besar di kota, ditemani oleh ayah Nesya dan beberapa saksi.
Hatinya berdebar. Ini bukan hanya tentang menikahi Nesya, tapi tentang memilih jalan hidup yang baru. Ayah Nesya menepuk pundaknya, memberikan dukungan.
"Sudah siap?" tanya ayah Nesya dengan suara tenang.
Jae Hyun menarik napas dalam-dalam. "Ya, saya sudah siap."
Di dalam masjid, seorang ustaz menyambut mereka dengan senyum hangat. Setelah berbincang sejenak, tibalah saatnya bagi Jae Hyun untuk mengucapkan Syahadat.
Dengan suara tegas dan mantap, Jae Hyun mengikuti lafaz yang dibimbing oleh sang ustaz:
"Ashhadu an laa ilaha illallah, wa ashhadu anna Muhammadan Rasulullah."
(Artinya: Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.)
Setelah mengucapkan kalimat itu, Jae Hyun resmi menjadi seorang Muslim. Semua yang hadir mengucapkan takbir sebagai bentuk kebahagiaan. Ayah Nesya menyalaminya erat, wajahnya kini lebih menerima pria Korea itu sebagai calon menantunya.
"Selamat, Jae Hyun. Mulai hari ini, kau adalah saudara seiman kami," ujar ustaz dengan penuh haru.
Jae Hyun tersenyum, merasa ada kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ini adalah awal baru baginya, bukan hanya sebagai calon suami Nesya, tetapi juga dalam menemukan makna hidup yang lebih dalam.
Langkah kedua yang harus dijalani Jae Hyun untuk masuk Islam adalah melakukan khitan. Lee Joon yang selalu setia menemani Jae Hyun menatapnya dengan ragu saat mereka tiba di klinik khusus khitan dewasa.
"Kau benar-benar akan melakukannya?" tanya Lee Joon dengan nada khawatir. "Kau tahu ini pasti akan sakit, kan?"
Jae Hyun menghela napas panjang, menatap papan klinik di depannya. "Aku sudah memutuskan, Lee Joon. Jika ini bagian dari proses menjadi seorang Muslim, maka aku harus menjalaninya."
Dengan langkah mantap, Jae Hyun masuk ke dalam klinik. Seorang dokter menyambutnya dengan ramah dan menjelaskan prosedurnya dengan detail. "Khitan ini bukan hanya soal agama, tapi juga demi kesehatan. Jangan khawatir, prosedurnya cepat dan aman."
Jae Hyun hanya mengangguk meski dalam hati sedikit gugup. Setelah persiapan dilakukan, prosedur khitan pun dimulai.
Setelah beberapa waktu, Jae Hyun akhirnya keluar dari ruang tindakan dengan wajah sedikit pucat. Lee Joon langsung menahan tawa melihat ekspresi bosnya.
"Bagaimana rasanya, bos?" goda Lee Joon.
Jae Hyun menatapnya tajam. "Diam atau aku akan menyuruhmu ikut khitan juga."
Lee Joon langsung menutup mulutnya, menahan tawa.
Meskipun terasa sakit, Jae Hyun merasa lebih lega. Ini adalah langkah pertamanya menuju Islam, dan ia akan melanjutkan perjalanan ini dengan sungguh-sungguh.
Nesya terduduk di kamar, wajahnya basah oleh air mata. Hatinya sesak. Kenapa Jae Hyun begitu keras kepala? Kenapa pria arogan itu harus mengubah keyakinannya hanya demi menikahinya?
“Aku tidak mau menikah dengannya…” bisik Nesya lirih, suara bergetar.
Nisya, kakaknya, duduk di sampingnya, merangkul bahunya dengan lembut. “Nesya, kalau kau memang tidak mau, katakan saja. Ayah tidak akan memaksamu.”
Nesya menggeleng lemah. "Aku tahu tujuan Jae Hyun... Dia hanya ingin memperbaiki reputasinya. Setelah apa yang dia lakukan padaku, aku tidak bisa begitu saja menerimanya.”
Kakaknya menghela napas. “Tapi, Nesya… kau juga tahu betapa besar pengorbanannya.”
Nesya mengusap air matanya, hatinya tetap berontak. Jae Hyun mungkin sudah masuk Islam, mungkin sudah berkorban banyak, tapi itu bukan alasan untuk memaksa perasaan yang tidak pernah ada.
Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu. Ayah mereka berdiri di ambang pintu, wajahnya tenang namun tegas.
“Nesya, ayah ingin bicara.”
Nesya menegakkan tubuhnya, menatap sang ayah dengan mata sembab. Ia tahu pembicaraan ini akan menentukan masa depannya.
ceritanya bikin deg-degan
semagat terus yaa kak