Alyssa hidup dalam pernikahan yang hancur bersama Junior, pria yang dulu sangat mencintainya, kini menolaknya dengan kebencian. Puncak luka terjadi ketika Junior secara terang-terangan menolak Niko, putra mereka, dan bersikeras bahwa anak itu bukan darah dagingnya. Di bawah satu atap, Alyssa dan Niko dipaksa berbagi ruang dengan Maureen, wanita yang dicintai Junior dan ibu dari Kairo, satu-satunya anak yang diakui Junior.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
"Junior, kamu mengurus pendaftaran sekolah anakmu minggu depan," perintah ibu Junior sambil merapikan lauk di piringnya.
Mereka duduk berempat di meja makan ayahnya, Kairo, ibunya, dan Junior. Maureen lagi-lagi tidak ada. Seperti biasa, tak ada kabar ke mana perginya. Dan sejujurnya, Junior sudah tak punya minat untuk bertanya. Untuk apa? Pikirannya justru lebih tenang saat calon istrinya itu tak di rumah.
"Aku akan cari waktu. Minggu depan mungkin padat, tapi demi dia… aku akan sempatkan," jawab Junior sambil tersenyum tipis dan mengusap kepala putranya.
"Terima kasih, Papa," ucap Kairo pelan, lalu kembali menyuap makanan.
"Aku senang kamu mau berusaha untuk anakmu. Ngomong-ngomong, Kairo, Mama-mu di mana?" tanya sang nenek sambil mengerutkan dahi.
"Tidak tahu, Nek," jawab Kairo singkat, menunduk.
Aura menoleh ke anaknya. "Kamu tidak bertanya di mana calon istrimu?"
"Untuk apa?" rahang Junior mengeras. "Aku tidak peduli ke mana dia pergi. Dia hampir tak pernah di rumah. Kalau aku jarang pulang karena kerja, dia juga begitu, padahal dia tidak bekerja."
Aura menghela napas. "Kenapa kamu begitu pada dia? Kalian akan menikah, tapi sikap kalian begini?"
Junior meletakkan sendok dan garpunya pelan. Suaranya tenang, tetapi matanya dingin. "Aku tidak ingin menikahinya. Tapi karena tidak punya pilihan, aku akan melakukannya. Sekarang, bilang padaku begitukah sikap seorang istri? Pesta dengan teman-temannya, pulang mabuk, menghabiskan uangku seolah tak ada batas. Sementara aku memeras tenaga di kantor, dia bersenang-senang. Apakah itu perilaku ibu yang baik?"
Sejujurnya, Junior tak pernah benar-benar mencintai Maureen. Ia hanya merasa dekat karena perempuan itu ada di masa ketika hatinya remuk oleh perpisahannya dengan Alyssa. Namun beberapa tahun terakhir, rasa itu terasa hampa.
Akhirnya sang ayah, Lazar, mengangkat wajah dari piringnya. Ia tampak lelah dan kecewa. "Kalau boleh bicara… aku juga tidak pernah menyukainya untukmu," ucapnya pelan.
Junior menatap ayahnya dengan senyum pahit. "Lalu kenapa Ayah diam saja?"
Lazar mengangkat bahu. "Jangan tanya hal bodoh. Kamu sudah bersamanya hampir lima tahun setelah bercerai dari istrimu yang pertama, lalu lima tahun lagi sampai sekarang. Kukira itu keputusanmu."
Junior mengepalkan tangan di bawah meja. "Tidak. Itu keterpaksaan. Aku merasa harus bertanggung jawab karena aku punya anak. Tapi Maureen tidak pernah berubah. Dia hidup seperti perempuan single. Aku pulang ke rumah dengan lelah dan tak menemukan ketenangan. Aku tidak pernah ingin menjadikannya istriku."
Aura menyela, "Dia bisa berubah. Akan Ibu nasihati."
Junior menggeleng. "Kenapa Ibu begitu membelanya? Apakah dulu Ibu juga seperti itu?"
Plak!
Tamparan mendarat di pipi Junior.
"Berani-beraninya kamu bicara seperti itu!" bentak Aura.
"Kenapa tidak?" balas Junior. "Mari jujur. Alyssa jauh lebih pantas daripada Maureen. Aku tak pernah mengerti kenapa Ibu tak mau menerimanya dulu."
Lazar ikut menyela, dahi berkerut. "Alyssa? Mantan istrimu?"
"Karena dia satu-satunya yang bersikap seperti istri dan keluarga. Dia peduli, dia bertahan. Bagaimana aku bisa melupakannya?"
"Dan dia hamil oleh pria lain!" teriak Aura. "Kamu bodoh kalau masih membela Alyssa!"
Kairo terdiam, menunduk, menelan makanannya di tengah ketegangan.
Neneknya berdiri tiba-tiba. "Ayo, Nak. Kita pergi. Kita tak pantas ada di sini."
Kairo menurut. Sebelum melangkah, ia menoleh ke Junior, matanya sendu.
"Jangan masukkan ke hati," ucap Junior lirih sambil mengangkat cangkir kopinya.
Junior hendak bangkit, tetapi ayahnya menahannya.
"Duduk dulu. Kita bicara."
Junior kembali duduk. Bahunya turun saat ia menarik napas panjang.
"Ayah melihat Alyssa beberapa hari lalu," ucap Lazar perlahan. "Dia bersama seorang anak. Sepertinya itu Niko."
Tubuh Junior menegang.
"Jangan salah paham," lanjut Lazar. "Tapi… kamu yakin Alyssa mengkhianatimu?"
Junior menelan ludah "Kenapa Ayah bertanya begitu?"
"Waktu melihat Niko… Ayah melihat diriku sendiri di usia itu. Mirip sekali. Darah keluarga kita kuat, Junior."
Junior menggigit bibir. "Ayah pikir… dia anakku?"
"Ayah tidak tahu. Tapi kemiripannya membuat Ayah bertanya. Apa yang sebenarnya Alyssa katakan dulu? Kenapa kalian benar-benar berpisah?"
Kenangan menghantam Junior, air mata Alyssa, permohonannya agar dipercaya.
"Dia bilang Maureen menjebaknya," ujar Junior pelan. "Katanya aku satu-satunya pria dalam hidupnya. Tapi Maureen menunjukkan bukti… foto-foto."
"Apa kamu tidak mencoba mencari kebenaran sendiri?" tanya Lazar tegas.
"Aku cemburu," bentak Junior. "Aku melihat foto itu."
"Kamu bisa minta tes DNA," ucap Lazar dingin.
Junior terdiam. Kata itu seperti pukulan telak.
"Kamu masih bisa melakukannya," lanjut ayahnya. "Tanya Alyssa. Uji DNA dengan Niko."
Junior teringat, anehnya, ia lebih melihat dirinya pada Niko dibanding pada Kairo.
"Dan soal pernikahan ini," Lazar berdiri. "Apa kamu benar-benar ingin melanjutkannya?"
"Aku… tidak tahu, Ayah," gumam Junior, menundukkan kepala.
Lazar menatapnya lama. "Jika Alyssa mengatakan yang sebenarnya, maka kamulah yang bersalah. Kamu memulai keluarga lain saat masih menikah."
Ia berhenti di ambang pintu "Pergilah pada Alyssa. Minta tes DNA. Jika kamu masih mencintainya dan dia masih sendiri perjuangkan dia. Minta maaf. Rendahkan egomu. Ayah yakin Niko adalah cucuku."
Lazar pergi, meninggalkan Junior sendirian di meja makan.
Junior menatap kosong.
Sial… apa yang harus kulakukan sekarang?
-