Winda membenci yang namanya mantan, seperti Ardi mantan pertama dan terakhir. Penghianatan dulu membuatnya enggan menjalin hubungan sspesial dengan lawan jenis. Beberapa tahun berlalu, keluarganya ternyata mengatur perjodohan dengan Ardi tanpa ia ketahui.
(ON REVISI) Perbaikan akan dilanjutkan bab selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anindyafatika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Genit
Winda sedang dalam mode diam setelah semalam menangis dikarenakan suaminya, Ardi. Ia mengusap pelan perutnya, kegiatan itu dilihat oleh Ardi yang sedang sarapan di meja makan.
Sedangkan Winda berada jauh di sebrang tempat duduk Ardi, Ia memaklumi sikap Winda yang begini kemungkinan adalah faktor hormon Ibu hamil yang sensitif.
"Jangan jadi anak macam ayah kamu ya, nak," gumam Winda tetapi masih terdengar oleh Ardi.
"Kamu juga jangan kayak bundamu, ngeyel mulu!" jawabnya sembari menatap istrinya.
"Ish, pokoknya kamu nggak boleh kayak ayah kamu!" Winda mengusap-usap perutnya sembari melotot ke arah suaminya.
"Ya bagus dong mirip aku, artinya aku bikinnya pakai bumbu cinta."
Winda memutar bola matanya, bisa tidak jika suaminya tak bicara hal berhubungan dengan **** secara fulgar?
"Aku mau jelasin tentang sema-" belum selesai Ardi menyelesaikan ucapanya, Winda menyelanya.
"Tentang kamu punya simpanan lain?" ujar Winda menggebu-gebu, perang akan segera dimulai.
"Bukan begitu gimana ya jelasin ke kamu?" Ardi menahan tawanya.
Winda terus menatap Ardi.
"Bilang aja, ucapan aku bener kan?"
"Nggak!"
"Terus apa? Atau jangan-jangan kamu," Winda menutup mulutnya tak percaya dengan pikiran yang tiba-tiba terlintas di otaknya.
"Mesum!"
"Haha, itu kamu tahu."
"Ih, mesum kayak om-om mata keranjang," ledek Winda kemudian berdiri untuk menaruh piring kotor dan menyucinya.
Disusul Ardi yang membawa piring kotor miliknya, ia menaruh di samping wastafel dan menyenderkan tubuhnya ke samping untuk melihat istrinya.
"Nggak papa kali mesum sama istri sendiri, kok." ujarnya terus memperhatikan garis wajah Winda yang sedikit berisi bagian leher dan pipinya yang semakin bulat.
"Pipi kamu lucu banget sih, kayak bakpao yang dua ribuan itu."
Ardi mencolek pipi Winda dan mencubitnya gemas, lantas Winda memercik wajah Ardi dengan air.
"Eh, kok disiram sih udah ganteng gini juga."
"Bilang aja aku tambah gendut, iya kan!" kesal Winda.
"Siapa juga yang bilang kamu gendut, kamu yang bilang sendiri tadi."
"Aku tahu maksud tersirat dari ucapan kakanda Ardi."
"Walaupun kamu gendut kamu tetep seksi kok dimata aku," gombal Ardi sembari terkekeh.
Memang perubahan bentuk tubuh Winda sangat kentara mulai dari wajahnya yang membulat, lehernya yang sedikit berlekuk, lengannya yang bertambah besar, bagian lain jangan ditanya. Ardi selalu khilaf jika menatap yang dua itu.
Sepanjang malam Ardi merapalkan doaagar tidak tergoda dengan kemolekan tubuh istrinya sekarang. Tanpa sadar Ardi terus menatap ke arah payudara Winda.
Sontak, Winda menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Sungguh, Ardi menjadi seorang laki-laki buas yang siap menerkamnya tiba-tiba.
"Ngapain kamu lihat-lihat?"
"Ck, aku udah lihat semuanya kali Wind. Tapi kayaknya yang dua itu tumbuh dengan baik saat kamu hamil begini."
"Aww, kok dipukul sih?" jerit Ardi saat tangan Winda dengan cepat memukul dadanya.
"Mesum! pergi kamu om-om buaya darat!"
"Tapi serius Winda, kamu itu hamil gini malah tambah seksi. Dan kamu ibu hamil terseksi yang aku miliki selamanya."
"Bicara kamu ngelantur gitu, udah sana pergi kerja jangan genit-genit sama karyawan lain!"
"Siap sih yang berani genit sama aku, kalau ada udah aku pecat kali. Cuma kamu yang bisa genitin aku, coba sini kamu genitin aku." ujar Ardi sembari tertawa yang sangat enak didengar oleh telinga Winda.
"Nggak mau!"
.
.
.
.
T B C
Gimana?
bukan dibawa kepelaminan.
kwkwkwkwkkwkw