Cerita untuk 17+ ya..
Chika terpaksa harus menerima sebuah perjodohan dari orangtuanya. Perjodohan yang membuat Chika menolaknya mentah-mentah, bagaimana tidak? Dia harus menerima pernikahan tanpa cinta dari kakak pacarnya sendiri.
Kok bisa? Chika berpacaran dengan Ardi tapi dinikahkan dengan kakaknya Ardi yang bernama Bara. Seperti apa kelanjutan pernikahan tanpa cinta dari perjodohan ini? Mampukah Bara menakhlukan hati Chika? Lanjut baca Kak..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rena Risma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Keesokan harinya aku terbangun, aku langsung melepaskan tangan Ardi yang menggenggam erat tanganku. Aku buru-buru keluar dari ruang rawat Ardi. Aku menatap Bara duduk di kursi ruang tunggu.
Aku menghampiri suamiku, lalu duduk disamping Bara. Ya Tuhan, kenapa aku bisa sampai ketiduran didalam ruang rawat Ardi. Aku menggenggam tangan Bara, aku melihat ada raut wajah kecewa terpancar dari tatapan matanya.
"Darimana saja? Kenapa baru keluar?" tanya Bara.
"Kemana Alghi dan Alesha?" tanyaku.
"Sayang, itu bukan jawaban dari pertanyaanku," kata Bara terlihat kesal.
"Aku minta maaf. Ardi memintaku untuk menemaninya. Aku benar-benar tidak tega melihat kondisi Ardi. Jadi..."
"Jadi kau biarkan Ardi melakukan keinginannya. Kau disentuhnya, dipelukkannya, dan menemaninya sampai kau tiduran. Ayo kita pulang! Aku tidak mau kau berlama-lama disini bersama Ardi," ucap Bara sambil menarik lembut tanganku.
Aku baru kali ini melihat Bara marah dan kecewa. Mungkin yang ku lakukan semalam itu salah. Harusnya aku menolak keinginan Ardi, bukan malah mengiyakannya.
Kami sudah sampai didepan rumah, Bara langsung masuk tanpa menoleh kearah ku. Aku hanya bisa meneteskan air mata. Maafkan aku Bara, maaf...
Aku berjalan masuk kedalam rumah, aku mencoba untuk menenangkan hatiku. Aku duduk di sofa sambil merenungi kesalahanku. Tiba-tiba kepalaku sakit, rasanya badanku tidak enak.
Marisa datang menghampiriku, dia menatap kearah ku, lalu duduk disampingku.
"Ada apa Mbak? Suamimu terlihat begitu kesal? Apa yang terjadi?" tanyanya.
"Tidak ada."
"Mau saya buatkan teh hangat?" tanya wanita itu.
"Boleh."
Marisa berjalan menuju dapur, lalu kembali membawakan aku secangkir teh hangat. Dia masih duduk menemaniku, terlihat dia begitu khawatir dengan keadaanku.
"Mbak, jika ada yang bisa saya bantu, katakanlah!" ucapnya.
"Tidak ada. Aku hanya ingin sendiri," ucapku pelan.
Marisa mengerti, dia lalu pergi meninggalkan aku sendirian. Aku meneteskan air mataku, aku merasa gagal menjaga hati dan cintaku. Aku mengusap air mataku menyesali kebodohan ku.
Aku menatap Bara turun dari lantai atas, dia mengganti bajunya dengan seragam kantor. Aku masih menangis, tanpa bergerak sedikitpun. Mataku menatap Bara namun tidak berani untuk mendekat. Aku takut Bara marah lagi padaku. Aku memang bodoh!
"Berhenti menangis!" bisik Bara sambil duduk disampingku.
Aku tidak menjawab, tapi air mataku terus mengalir membasahi pipiku. Bara memeluk tubuhku, lalu mengusap punggungku lembut.
"Maafkan aku. Harusnya aku tidak memarahi mu tadi," ucap Bara sambil mengusap air mataku.
"Aku memang salah," bisikku pelan.
"Kau memang salah. Tapi, harusnya aku tidak melakukan hal yang membuatmu menangis. Aku tidak bisa melihat orang yang kucintai menangis dihadapanku," ucap Bara sambil kembali memeluk tubuhku.
Hatiku sedikit tenang, mendengar ucapan dari bibir Bara. Aku membalas pelukan itu sambil menatap wajahnya.
"Kau sudah memaafkan ku?" tanyaku.
Bara mengangguk masih memeluk tubuhku erat. Aku tadi sempat ketakutan saat melihat Bara marah. Tapi kenapa semudah itu dia memaafkan kesalahanku?
"Maafkan aku," ucapku sambil mencium pipi Bara. Bara tersenyum menatap kearah ku, sambil mendekatkan wajahnya kearah wajahku.
"Jangan pernah berhenti mencintaiku," ucap Bara sambil mengusap lembut wajahku.
"Ayo kita jemput Alesha dan Alghi. Mereka ada di rumah Ibuku," ucap Bara sambil menuntunku keluar menuju mobilnya.
Aku masuk kedalam mobil, mataku tak henti menatap laki-laki yang berada disampingku. Bara mulai mengemudikan mobilnya, sesekali menatap kearah ku.
"Ada apa sayang? Kenapa kau menatap wajahku seperti itu?" tanya Bara sambil menggenggam sebelah tanganku. Dia masih fokus menyetir dengan sebelah tangannya.
"Maafkan aku. Jangan pernah tinggalkan aku, Mas! Aku tidak akan mengulangi kesalahanku," ucapku.
"Aku sudah memaafkan mu, sayang!" ucap Bara.
"Terimakasih."
"Iya, sayang!" kata Bara sambil tersenyum menatapku.
Tak lama mobil berhenti didepan rumah Bara, dia langsung menggendong Alghi dan membawa Alesha masuk kedalam mobil. Aku diminta menunggu didalam mobil. Kalau seperti ini, untuk apa Bara mengajakku kemari!
Aku menggendong bayi Alghi, rasanya aku sangat merindukannya. Bayi Alghi tersenyum menatap kearah ku, mungkin dia juga merasakan hal yang sama.
Bara kembali melajukan mobilnya menuju rumah kami, lalu berhenti tepat didepan rumah. Alesha langsung berlari keluar mobil. Sementara tanganku digenggam erat oleh Bara. Bara mencium tanganku penuh cinta.
Degup jantungku berdetak lebih cepat, padahal kami ini sudah lama menikah, tapi aku selalu merasakan hal ini setiap kali Bara melakukan hal romantis padaku.
Aku menatap kearah wajah Bara, lalu Bara mengecup bibirku. Selalu ada jutaan sensasi saat bibir Bara menyentuh bibirku.
"Sudah. Hanya itu?" ucapku pelan dengan raut wajah kecewa.
"Mau apa lagi memangnya?" tawa Bara.
"Tidak." Wajahku tiba-tiba memerah, kenapa aku bisa mengucapkan kata-kata itu.
"Nanti malam bersiaplah. Aku akan memberikan seluruh cintaku padamu," bisiknya. Ada senyum yang terpancar dari wajahnya, begitupun dengan diriku.
Aku keluar dari mobil Bara, lalu Bara membuka kaca jendela mobil. Dia melambaikan tangannya kearah ku dengan senyum manisnya. Rasanya aku bahagia, sesederhana inikah keinginanku?
Aku berjalan masuk kedalam rumah, Marisa terlihat menunggu kedatanganku. Wajahku yang semula muram kini berganti senyuman. Tentu membuat Marisa heran, pasti aku terlihat bodoh. Biarlah, aku memang sudah hilang akal saat aku mencintai suamiku.
"Mbak kenapa? Sudah baikan dengan Pak Bara?" tanyanya.
"Marisa, tolong jaga Alghi sebentar! Aku mau mandi dulu," ucapku, sengaja tidak menjawab pertanyaan Marisa.
Aku masuk kedalam kamar, lalu mandi dan mengganti bajuku. Aku menatap foto pernikahanku dengan Bara. Terlihat wajahku begitu sedih sekali disana. Pernikahan yang awalnya aku pikir akan menyiksaku, ternyata bisa membuatku bahagia.
Kini rasa cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu. Hatiku kini berhasil dimiliki oleh Bara. Hidupku menjadi sempurna karena cinta tulus yang diberikan Bara padaku. Hal bodoh apa yang ku lakukan tadi malam. Kenapa aku punya niat kembali pada Ardi? Harusnya aku bisa menjaga hati dan cintaku untuk suamiku. Bukan malah mengingat masa laluku bersama Ardi.
****
Sore harinya, Bara sudah pulang dari kantor. Dia langsung memeluk tubuhku, wajahnya berbinar-binar menatapku.
"Sayang, aku merindukanmu!" ucapnya. Marisa yang berada disampingku ikut tertawa.
"Mas, kamu mau minum teh hangat atau kopi? Biar aku buatkan," ucapku sambil melepas pelukannya.
"Aku punya sesuatu untukmu," ucapnya.
"Apa?"
Bara mengambil sesuatu dari saku celananya, lalu memberikan hadiah kecil itu padaku.
"Bukalah!" ucap Bara.
Aku membuka hadiah itu, Bara memberikan aku sepasang cincin yang bertuliskan nama ku dan namanya. Aku menatap kearah Bara, bukankah kami sudah punya cincin pernikahan? Lalu cincin ini untuk apa?
"Kenapa? Kau tidak suka? Aku sengaja membelikan cincin itu untuk kita," ucapnya.
"Tapi kita sudah punya cincin pernikahan kan? Lalu cincin ini untuk apa?" tanyaku.
"Agar kau selalu terikat denganku, agar kau selalu mengingat namaku di manapun kau berada! Aku sangat mencintaimu Chika," ucap Bara sambil memeluk tubuhku.
Aku menoleh kearah Marisa yang tersenyum sambil tepuk tangan. Dia kenapa? Apa dia benar-benar menonton kami?
Bara menuntunku masuk kedalam kamar. Bara langsung mandi, sementara aku menyediakan pakaian Bara. Mataku menatap kearah Bara yang baru keluar dari kamar mandi. Dia tersenyum, langsung menerkam ku dengan buas. Apa akan terjadi hal itu lagi?
Bara mulai menciumi bibirku, dia mencium dan menggigit lembut bibirku. Sentuhan tangannya yang terus menjalar menelusuri setiap bagian tubuhku. Aku hanya bisa menutup mataku dengan aksi suamiku.
Pertempuran sengit itu terus berlanjut, Bara melakukan keinginannya dan aku menikmatinya. Suasana semakin panas, terdengar suara erangan dari bibirku dan bibir Bara. Sensasi yang luar biasa, yang tidak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata.
Bara selesai dengan keinginannya, dia menjatuhkan tubuhnya disampingku. Kecupan masih terus didaratkan Bara dipundak ku yang sudah polos tanpa pakaian.
"Aku mencintaimu Chika, aku mencintaimu." Ucap Bara.
Aku mengusap wajah Bara lalu mengarahkan wajah itu agar menatapku.
"Aku juga mencintaimu, suamiku!" bisikku.
"Mulai sekarang, aku tidak mengizinkan kau bertemu dengan Ardi. Kau itu milikku, dan hanya akan menjadi milikku," ucap Bara sambil mengecup bibirku.
Aku hanya tersenyum lalu memeluk tubuh Bara. Benar kata Bara, aku harus menjauhi Ardi. Agar bayang-bayang masa laluku bersama Ardi hilang. Aku tidak mungkin memiliki dua cinta sekaligus. Aku hanya akan bersama Bara, aku hanya ingin bersama Bara. Maaf Ardi, aku tahu ini tidak adil untukmu. Tapi aku tidak mau kehilangan cinta Bara. Aku hanya akan membagi hati dan cintaku untuk suamiku.
Tetap tinggalkan jejak Komen, Like atau Jempol juga Vote ya.
Terimakasih sudah membaca karyaku.
Salam santun Author.💕💕
Pokoknya aku ga mau .............................
Tapi Kalo Ganteng, Baik, keren 👍👍👍 Aku mau 😂😂😂