Apakah waktu adalah dapat mengubah semuanya? Termasuk setiap kehidupan. Mungkin iya. Dan itulah yang dirasakan oleh gadis biasa yang terlempar ke dunia lain, dalam seketika dia mengubah semuanya dengan kedua tangannya sendiri.
Sebuah Negara yang amat besar harus terpecah belah menjadi dua sehingga memiliki latarbelakang yang sangat buruk.
Kehadiran gadis itu mungkin bukan main-main. Sehingga siapa saja dapat mengira bahwa gadis itu adalah 'Sebuah Ancaman'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mauraa_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hilang 2
Ada seseorang yang selalu ditunggunya tetapi yang ditunggu menjauh dengan sendirinya. Orang yang selalu diakui kuat namun tidak selamanya akan begitu. Hari ini sepertinya akan menjadi hari yang paling Hiragi benci, serta muak.
Hiragi, bukan hanya gadis berambut biru gelap itu, Erthan dan Gorsa juga ikut terkejut dan melotot masing-masing. Hiragi yang masih gemetar yang membuat sekujur tubuhnya dingin membekku itu berlinang air mata. Tidak menyangka bahwa hari begitu jahat pada dirinya.
Hiragi perlahan-lahan mendekati Harui kembali dengan tatapan asing dari sebelumnya, tapi sayang pria dengan tatapan asing itu perlahan-lahan menghindari Hiragi.
"Ha-Haru-Harui~" Lirih Hiragi yang masih berusaha meraih Harui, namun terhalang oleh Gorsa dan Erthan. "Ha-rui in-"
"Siapa kau dengan beraninya memanggilku seperti itu!"
Sangat dingin, dingin dari sebelumnya. Melebihi apapun tatapan asing menakutkan lebih mengerikan. Tatapan itu membuat Hiragi mati ketakutan. Sebelumnya Harui sama sekali tidak pernah membuat Hiragi mati ketakutan, tetapi keadaan saat ini terbalik dengan jelas.
Hiragi memalingkan wajahnya mengarah ke Krista dengan ganas serta liar, urat-urat nadi Hiragi menjadi jadi. Hiragi meraih pergelangan tangan Krista dengan kuat, alhasil menciptakan suara jeritan.
"Apa yang kau lakukan pada Harui?!" Bentak Hiragi pada Krista yang diam-diam selalu tersenyum licik. "Jujur saja, saat ini aku siap untuk membunuhmu!" Hiragi dengan siap mengeluarkan senjatanya dari Force Meginal miliknya. "Katakan! Apa-"
Plaaak!
Tamparan keras mendarat di pipi kanan Hiragi. Tamparan itu cukup kuat. Bahkan beberapa orang yang berlalu di jalan berhenti untuk melihat kejadian itu.
"Apa yang gadis itu lakukan pada Nona Muda Krista?"
"Lihat ada seorang gadis rendahan melawan Nona Muda."
Banyak cibiran di mana-mana, tapi kedua telinga Hiragi serasa tuli, tidak mendengarkan apa-apa. Dan yang tak dia sangka selama ini. Pria dingin namun perhatian itu saat ini menjadi kejam tanpa ampun, tanpa belas kasihan dia menampar Hiragi dengan keras. Darah segar mengalir di sudut bibir Hiragi.
Gorsa dan Erthan tau, bahwa Hiragi berusaha menahan sakitnya itu, jadi mereka berdua memutuskan untuk menenangkan Hiragi.
Deg!
"Apa ini?" Batin Harui.
Harui langsung mendekat ke arah Hiragi yang masih tertunduk serta tetesan darah yang tiada hentinya.
"Jika kau menyentuh seujung rambut Krista kau akan tamat." Ucap Harui dengan sangat kejam dan dingin.
Krista sangat senang, dia merasa seluruh dunia saat ini menjadi miliknya, segala cara akan dia gunakan untuk tujuannya. Saat ini Harui berhasil jatuh di tangannya dan selanjutnya dia pasti berencana untuk menyingkirkan Hiragi.
Krista mendekat ke arah Harui serta merangkul sebelah lengan Harui dengan santai serta tatapan kemenangan yang hebat.
"Jangan ganggu kami." Lirihnya dan langsung meninggalkan mereka bertiga di tempat.
Bruk!
Hiragi jatuh sejatuh jatuhnya, kini apa yang
harus dia lakukan, Hiragi perlahan-lahan mengangkat kepalanya dan mengarahkan pandangannya ke punggung Harui yang menjauh. Hari ini sungguh melelahkan apa yang terkejar malah menjauh.
"Harui, saat ini kau seperti kupu-kupu, yang memang harus kutangkap dengan segala cara." Batin Hiragi, karena terlalu lelah pandangan Hiragi perlahan-lahan buyar, dan menidurkan kesadarannya. Erthan dan Gorsa merasa iba dan kasihan terhadap Hiragi, mereka berdua kembali menuju Mansion.
...☄☄☄☄...
"Jadi begitu." Ucap Biara dengan sedih begitupula dengan Yuri. Semenjak mengetahui hal itu dari Erthan dan juga Gorsa, Yuri seperti berusaha menyibukkan dirinya di dapur. Yang lain tau, bahwa Yuri sangat mengkhawatirkan Tuan Muda satu satunya itu.
sudah lima jam Hiragi tidak sadarkan diri.
Erthan adalah orang yang licik dan bijak, beberapa sihir Erthan gunakan agar bisa terus memantau gerak-gerik Harui dan juga Krista. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menyambut kesadaran Hiragi, suasana Mansion kali ini kembali suram.
"Paman, aku akan keluar." Ucap Gorsa yang dibalas anggukan dari Erthan. Erthan memijat kepalanya, keponakannya terkena sihir kuat karena itu menjadi amnesia, jika dipaksa terus-menerus dapat menyebabkan kerusakan otak.
"Hanson! Grid!" Panggil Erthan untuk kedua
anak buahnya.
"Selidiki tentang sihir ini."
"Baik!"
"Aku berharap ini bukan hal yang fatal."
Malam yang penuh kemeriahan ini sangat luar biasa. Malam dingin yang tak kunjung
menghangatkan begitu kejam. Erthan berjalan di lorong menuju kamar Harui yang saat ini sedang ditempati oleh Hiragi.
Erthan tidak tahu kalimat apa yang nantinya dia akan utarakan disaat Hiragi telah siuman, dan apakah dirinya sanggup menerima setiap pertanyaan dari gadis itu. Saat saat ini sungguh sulit, Harui, pria yang memiliki tekad kuat serta kemampuan luar biasa itu saat ini telah menghilang, menjauh.
Klek!
Erthan tertegun melihat gadis itu sudah
terbangun dan mengarahkan pandangannya menuju ke arah kanan jendela besar, di luar sana terdapat pohon sakura yang besar, sehingga beberapa kelopak yang indah memasuki ruangan sepi itu.
Erthan mendekati Hiragi dan ikut duduk di samping ranjang. Namun tidak ada reaksi dari Hiragi, Hiragi tetap menatapi pohon sakura itu dengan sendu. Ingin menenangkan pun sangat sulit bagi Erthan, saling diam, begitu sunyi.
"Harui mengajarkan ku..." Hiragi mengeluarkan suara, yang membuat arah pandang Erthan menuju Hiragi.
"Jika merindukan seseorang, maka lihatlah bunga besar yang ada di kamarnya." "Kurasa itu hanya khayalan,"
"Tidak ada yang nyata seperti itu,"
"Kebohongan belaka."
Hiragi mengatakan itu semua dengan suara lirih serta menahan sekuat tenaga air matanya. Sangat luar biasa hari ini. Hiragi meremas selimut yang dia pakai serta linangan air mata telah berjatuhan, gadis berambut biru yang terpapar sinar sakura itu sedang bersedih.
"Hiragi." Ucap Erthan sambil merangkuh Hiragi yang putus asa.
"Pa-Paman, apa kau pernah mengalami seperti ini?~" Ucap Hiragi terbata-bata karena tangisannya.
Linangan air mata Hiragi semakin deras, dia begitu terpuruk dalam pelukkan Erthan. Yang dapat dia lakukan hanya berusaha menenangkan Hiragi, tapi gadis itu terlalu takut untuk menerima kenyataan.
《Di Sisi Lain.》
"Arkh!" Harui memegang kepalanya yang sakit. Hal itu terjadi sejak dia bertemu dengan Hiragi di tengah Kota. Krista yang sedang berbaring di sampingnya pun ikut terbangun dan melihat ke arah samping tepat di Harui.
"Harui~" Panggil Krista dengan lembut.
"Ada apa, kau tidak bisa tidu-"
"Aku pergi keluar." Potong Harui dan langsung bergegas turun dari ranjang menuju luar teras.
"Tung-"
Brak!
Krista menggertakkan giginya, dia begitu yakin bahwa bayang-bayang Hiragi masih tertera dipikiran Harui.
"Memang seharsnya aku melenyapkanmu terlebih dahulu Hiragi." Batin Krista dengan geram.
Di luar teras Harui merebahkan tubuhnya di kursi besar ruang tamu kediaman Hans. Karena keadaan pikirannya saat ini Harui tidak mengingat apapun.
"Sebenarnya siapa gadis itu?" Batin Harui "Entah mengapa melihatnya terluka, hatiku terasa sakit, bahkan Krista kekasihku pun kalah."
Harui menghelakan nafas panjang sambil memijat kepalanya yang sakit, jika dipikir baik-baik, Harui terus merasa ada yang aneh pada tubuhnya, setiap meminum obat, pasti selalu ada reaksi yang sakit.
《Sebelumnya.》
"Harui, kau ini sedang dalam pemulihan jadi minumlah obat secara teratur."
Perkataan Krista tempo hari itu terdengar jelas di telinganya.
《Di Kediaman Harui.》
Erthan meninggalkan kamar yang di tempati Hiragi agar gadis itu bisa lebih tenang. Pada saat melintasi koridor lantai tiga Biara menghampiri Erthan bahwa Gorsa telah kembali dan ingin membicarakan hal penting, mungkin ini ada kaitannya dengan Harui jadi Erthan memutuskan untuk langsung menemui Gorsa dibawah.
"Gorsa apa ka-" Ucap Erthan langsung saat tiba.
"Sihir dari Negara Flores bagian Utara." Ucap tegas dari Gorsa.
"Flores? Bukannya itu dari Negaramu?" Tanya Erthan heran.
Di awal melihat Harui hilang ingatan bahkan orang sekuat Harui, Gorsa merasa dia mengenali sihir itu, namun dirinya tak memiliki sihir tersebut. Gorsa berencana untuk pergi mengunjungi Negara Utara untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Dan semua itupun benar, para Dewan serta petinggi dari Negara Utara juga tersentak karena penjelasan dari Gorsa mengenai sihir mereka yang tersebar sampai negara tetangga.
"Aku mempunyai solusinya."
...☄☄☄☄...
Cklek!
"Eh-"
"Gorsaaa! Bodoh, keluar!" Teriak Hiragi karena Gorsa memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu.
Bruaaak!
Erthan terkejut mendengar batingan di lantai tiga memutuskan untuk melihat apa yang terjadi, sesampainya di sana Erthan melihat Gorsa yang tertepar di lantai.
"Gorsa?!" Panggil Erthan dengan nada aneh.
"Eh itu, keponakan tersayang keduamu."
"Hiragi." Panggil Erthan dari luar pintu.
Tok! Tok! Tok!
Setelah mendapat jawaban dari Hiragi, Erthan langsung masuk ke kamarnya. Dia seperti gadis yang berubah sembilan puluh derajat.
"Hiragi~" Panggil Erthan lirih.
"Tenang saja aku baik-baik saja, seharusnya aku bertindak disaat seperti ini bukan termenung menangis, hehehe, aku gadis yang payah." Kata-kata yang dilontarkan Hiragi membuat Erthan terdiam dan menunduk.
Erthan perlahan-lahan mendekat dan memeluk Hiragi dengan penuh kasih sayang.
"Kau memang harus melakukan sesuatu, Hiragi." Ucap Gorsa tiba-tiba diambang pintu, membuat pelukkan keluarga itu berakhir, Gorsa mendekat ke arah Erthan dan juga Hiragi.
"Sihir itu berasal dari Negara Utara."
Moga komen ma like nya tersampaikan okey, yaa walau cuma 'Abc' ma 'Xyz'😆😆
Knp sad ending????