NovelToon NovelToon
Bos Kucing Oranye

Bos Kucing Oranye

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:969
Nilai: 5
Nama Author: La Runa

Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.

​Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.

​Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diet Kelas Pekerja

Aroma bumbu mi instan goreng yang gurih nan melegenda memenuhi setiap sudut apartemen tipe studio milik Kinanti. Di atas kompor satu tungku, asap mengepul tipis dari wajan kecil. Kinanti dengan lihai mengaduk mi, menambahkan satu butir telur ayam, dan menaburkan bawang goreng ekstra di atasnya. Sederhana, murah, namun bagi pekerja korporat yang kelaparan di malam hari, ini adalah hidangan bintang lima.

Di atas kasur busa, sepasang mata hijau zamrud milik Arkan—yang masih terjebak dalam wujud kucing oranye gembul—mengikuti setiap pergerakan Kinanti. Hidung kecilnya kembang-kempis. Bau MSG yang tajam itu entah bagaimana berhasil menembus ego aristokratnya dan langsung memicu air liur di mulut kecilnya.

Kriuuuk.

Perut Arkan berbunyi lagi, kali ini lebih keras. Kucing itu mendengus kesal, merasa dikhianati oleh organ tubuhnya sendiri.

Kinanti membawa piring mi instan itu ke lantai dekat kasur, duduk bersila, lalu mulai menyuap mie dengan garpu. "Selamat makan, Pak Arkan. Kalau Bapak berubah pikiran, baunya gratis kok," goda Kinanti, sengaja mengunyah dengan suara yang agak keras.

Arkan menegakkan tubuhnya. Ia menatap piring mi tersebut, lalu menatap makanan kucing kalengan murah merek swalayan yang tadi sempat Kinanti beli di minimarket bawah apartemen saat taksi berhenti. Makanan kaleng itu berlabel "Rasa Tuna Spesial", tapi bagi penciuman tajam Arkan, baunya menjijikkan.

Dengan langkah kaku dan penuh kehati-hatian, si kucing oranye melompat turun dari kasur. Ia berjalan memutari piring Kinanti, menjaga jarak sekitar tiga puluh sentimeter, lalu duduk dengan anggun. Ia mengeong pelan, nadanya tidak lagi sekeras di kantor, melainkan lebih seperti sebuah perintah yang terpaksa diperhalus. ‘Beri saya bagian yang tidak pakai racun kuning itu (telur).’

"Eh? Bapak mau?" Kinanti meletakkan garpunya, menatap sang bos dengan tidak percaya. "Ini mi instan lho, Pak. Makanan rakyat jelata yang penuh natrium. Lambung Bapak yang biasa diisi daging wagyu berlapis emas nanti bisa kaget."

Arkan membalas dengan tatapan dingin, lalu mengangkat satu cakar depannya dan menepuk lantai dengan tidak sabar.

"Oke, oke. Sebentar," Kinanti bangkit, mengambil sebuah piring kecil dari rak dapur. Ia memisahkan beberapa helai mi yang bersih dari bumbu cabai, meniupnya sampai dingin, lalu memotongnya kecil-kecil agar mudah dikunyah oleh struktur mulut kucing. "Nih. Jangan protes kalau besok Bapak sariawan."

Piring kecil itu diletakkan di depan Arkan. Sang CEO menunduk, mengendus mi tersebut selama beberapa detik untuk memastikan tidak ada racun, lalu mulai mencicipinya.

Nyam. Nyam. Nyam.

Kinanti menahan napas, memperhatikan ekspresi wajah kucing itu. Detik berikutnya, mata hijau Arkan sedikit melebar. Sapuan lidah merah mudanya menjadi lebih cepat. Dalam waktu kurang dari dua menit, piring kecil itu sudah bersih mengilat, tidak menyisakan sehelai mi pun.

Arkan duduk kembali, lalu dengan refleks yang tak bisa ia kontrol sebagai bangsa kucing, ia mengangkat kaki depannya dan mulai menjilati sisa bumbu mi di sekitar kumisnya. Begitu menyadari apa yang sedang ia lakukan di depan bawahannya, Arkan langsung membeku. Ia menurunkan kakinya dengan cepat, berdehem dengan suara mengeong pendek yang canggung, lalu memalingkan wajah ke arah lain.

Kinanti meledak dalam tawa. "Hahaha! Astaga, Pak Arkan! Ternyata seorang Arkananta Mahardika juga bertekuk lutut di hadapan mi instan goreng kearifan lokal!"

Kucing itu mendesis pelan, telinganya mendatar ke belakang. Jika ia sedang dalam wujud manusia, Kinanti pasti sudah dipecat atau minimal dimutasi ke cabang terjauh di pedalaman. Namun dalam wujud ini, ancaman desisan itu justru terlihat sangat menggemaskan.

Setelah makan malam yang absurd itu selesai, Kinanti membereskan piring dan mencucinya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Hujan di luar mulai mereda, menyisakan suara rintik-rintik kecil yang menenangkan. Rasa lelah yang luar biasa setelah berhari-hari lembur mulai menyerang Kinanti. Matanya terasa seberat timbal.

Ia berjalan ke arah kasur tunggalnya, lalu melirik Arkan yang sedang duduk di atas sofa lipat, tampak bingung mencari posisi nyaman karena bahan sofa yang agak kasar.

"Pak," panggil Kinanti sambil menguap. "Saya mau tidur. Besok pagi kita harus memikirkan bagaimana caranya menjelaskan ke kantor kenapa Bapak tidak masuk kerja tanpa membuat curiga Rangga."

Mendengar nama Rangga, telinga Arkan langsung tegak. Rangga adalah Direktur Operasional yang sudah lama mengincar posisinya. Jika Rangga tahu Arkan menghilang, pria licik itu pasti akan langsung mengadakan rapat umum pemegang saham darurat untuk melengserkannya.

Arkan melompat turun dari sofa, berjalan mendekati kasur Kinanti, lalu melompat ke atasnya. Tanpa permisi, kucing gembul itu berjalan ke sudut kasur yang paling dekat dengan dinding, memutar tubuhnya tiga kali, lalu meringkuk di sana, mengklaim area tersebut sebagai wilayah kekuasaannya.

Kinanti menghela napas pasrah. "Ya sudahlah, kasur saya sekarang jadi milik Bapak juga. Tapi awas ya, jangan mencakar saya saat tidur."

Kinanti merebahkan tubuhnya, menarik selimut tipisnya hingga ke dada, dan mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur berwarna kuning temaram. Ruangan menjadi hening.

Di dalam kegelapan, Kinanti tidak bisa langsung memejamkan mata. Pikirannya melayang. Bagaimana bisa semua ini terjadi? Apakah ini kutukan penyihir? Atau penyakit genetik yang aneh? Ia menoleh ke samping, menatap gundukan bulu oranye yang bernapas dengan teratur di ujung kasurnya.

Saat dalam wujud manusia, Arkan terlihat seperti raksasa yang tak tersentuh—berdiri tegak di atas podium, memberikan perintah dengan suara bariton yang tegas, dan selalu dikelilingi oleh pengawal dan kemewahan. Namun sekarang, di atas kasur murah ini, sang CEO tampak begitu kecil, rapuh, dan sepenuhnya bergantung pada dirinya.

Tanpa sadar, tangan Kinanti bergerak maju. Jemarinya dengan ragu-ragu menyentuh bagian atas kepala Arkan, tepat di antara kedua telinga segitiganya, lalu memberikan usapan lembut yang perlahan turun ke arah bawah dagu.

Tubuh kucing itu sempat menegang sesaat. Kinanti panik dan hendak menarik tangannya, mengira ia akan dicakar. Namun, sebelum tangannya menjauh, sebuah suara getaran halus mulai terdengar dari dalam dada si kucing.

Purr... purr... purr...

Arkan mendengkur. Suara dengkurannya berat dan berirama, tanda bahwa tubuh hewan itu merasa sangat nyaman dan rileks. Kucing gembul itu bahkan mendongakkan kepalanya sedikit, membiarkan jemari Kinanti mengusap dagunya dengan lebih leluasa, sementara matanya terpejam rapat.

Kinanti tersenyum kecil di kegelapan. "Ternyata, di balik semua sifat galak Bapak, Bapak cuma seekor kucing yang kesepian ya, Pak?" bisiknya pelan.

Tidak ada jawaban, hanya suara dengkuran halus yang mengisi keheningan malam. Rasa hangat yang aneh mulai menyelimuti hati Kinanti. Di malam yang dingin itu, di sebuah apartemen sempit di sudut kota Jakarta, sang sekretaris dan bos besarnya terlelap dalam damai, tidak menyadari bahwa hari esok akan membawa badai korporat yang jauh lebih besar dari sekadar urusan makanan kucing.

1
Ana Dww
😭
Ana Dww
Wait, 6 Kilogram?
Ana Dww
😭Sama seperti Cleo—Kucing oranyeku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!