Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 - Ketika Seseorang Mulai Berjuang
Senin pagi, suasana kantor kembali sibuk.
Nadira baru saja duduk ketika aroma kopi memenuhi mejanya.
Ia menoleh.
Arga meletakkan segelas kopi hangat dan sepotong roti di samping laptopnya.
"Pagi."
Nadira tersenyum kecil.
"Kamu mulai lagi?"
"Mulai apa?"
"Belikan sarapan."
Arga mengangkat bahu.
"Aku cuma nggak mau ada orang yang masuk angin gara-gara lupa makan."
"Kamu ini..."
"Kalau mau marah, nanti dulu. Makan dulu."
Nadira menggeleng geli.
Semakin hari, perhatian Arga terasa semakin nyata.
Bukan perhatian yang berlebihan.
Melainkan perhatian kecil yang muncul tanpa diminta.
---
"Selamat pagi semuanya."
Pak Dimas masuk ke ruang kerja sambil membawa beberapa map.
"Besok kita presentasi awal ke calon klien baru."
Beliau membagikan jadwal.
"Lalu..."
Pak Dimas berhenti sejenak.
"Karena proyek ini cukup besar, kita akan bekerja sama dengan konsultan eksternal."
"Siapa, Pak?" tanya Rina.
Pak Dimas membuka map.
"Farhan Prasetyo."
Seketika Arga mengangkat kepala.
"Farhan?"
"Iya."
"Dia konsultan branding."
"Kebetulan pernah menangani beberapa perusahaan besar."
Nadira ikut terkejut.
"Farhan yang kemarin datang ke rumah?"
Pak Dimas mengangguk.
"Kalian sudah kenal?"
"Sedikit."
Arga hanya diam.
Entah kenapa, mendengar nama itu disebut saja sudah membuat dadanya terasa sesak.
---
Keesokan harinya, Farhan datang tepat waktu.
Ia mengenakan kemeja biru muda dengan senyum ramah yang sama seperti saat pesta ulang tahun.
"Pagi semuanya."
"Pagi."
Pak Dimas memperkenalkan Farhan kepada seluruh tim.
Meski baru bergabung, Farhan cepat membaur.
Ia tidak banyak bicara, tetapi setiap masukannya selalu tepat sasaran.
Saat sesi diskusi dimulai, Farhan duduk di samping Nadira.
"Kalau bagian ini digeser sedikit, alurnya akan lebih kuat."
Nadira membaca kembali dokumen itu.
"Kamu benar."
Ia segera memperbaiki beberapa poin.
Arga yang duduk di seberang meja memperhatikan semuanya tanpa berkata-kata.
---
Jam makan siang.
Rina sengaja menarik kursinya mendekati Arga.
"Kamu kenapa?"
"Apa?"
"Dari tadi diem."
"Lagi capek."
"Capek atau..."
Rina memperkecil suaranya.
"...cemburu?"
Arga menatap Rina datar.
"Kamu sama saja kayak Mama."
"Berarti benar?"
Arga mengembuskan napas panjang.
"Aku cuma..."
"Cuma?"
"...nggak nyaman."
Rina tersenyum tipis.
"Ya wajar."
"Kenapa?"
"Soalnya sekarang ada saingan."
Kalimat itu terus terngiang di kepala Arga.
**Saingan.**
Selama ini ia tidak pernah menganggap ada orang lain.
Ia terlalu yakin kedekatannya dengan Nadira akan berkembang dengan sendirinya.
Ternyata...
Hidup tidak sesederhana itu.
---
Sore harinya, pekerjaan selesai lebih cepat.
Farhan menghampiri meja Nadira.
"Nadira."
"Iya?"
"Kebetulan aku mau survei lokasi klien besok."
"Hm."
"Kalau kamu nggak keberatan..."
Ia tersenyum sopan.
"...boleh ikut?"
Nadira berpikir sejenak.
"Sebenarnya aku harus tanya Pak Dimas dulu."
"Tentu."
"Kalau beliau mengizinkan, ayo."
"Oke."
Percakapan itu terdengar jelas oleh Arga.
Ia menggenggam pulpen sedikit lebih erat.
Namun ia memilih diam.
---
Saat semua orang mulai pulang, Arga menghentikan langkah Nadira di lobi.
"Dir."
"Hm?"
"Boleh ngobrol sebentar?"
"Ada apa?"
Mereka berdiri di dekat taman kecil depan kantor.
Angin sore bertiup pelan.
Arga tampak berpikir cukup lama sebelum akhirnya berbicara.
"Aku mau minta maaf."
"Minta maaf?"
"Iya."
"Kalau akhir-akhir ini aku terlalu banyak bercanda."
Nadira tersenyum.
"Aku sudah biasa."
"Bukan itu."
Arga menggeleng pelan.
"Aku sadar..."
"...selama ini aku cuma menunjukkan kalau aku nyaman sama kamu."
"Tapi aku belum pernah benar-benar menunjukkan kalau aku serius."
Nadira menatapnya tanpa berkedip.
Arga melanjutkan dengan suara tenang.
"Aku nggak mau buru-buru."
"Aku juga nggak mau bikin kamu merasa terpaksa."
"Tapi mulai hari ini..."
Ia menarik napas panjang.
"...aku mau berjuang."
"Bukan supaya kamu langsung memilih aku."
"Melainkan supaya suatu hari nanti..."
"...kalau kamu benar-benar memilih seseorang..."
"...aku nggak menyesal karena pernah diam."
Jantung Nadira berdegup kencang.
Kalimat itu bukan gombalan.
Tidak terdengar seperti rayuan.
Justru terdengar seperti sebuah keputusan yang telah dipikirkan matang-matang.
Nadira tersenyum pelan.
"Kamu tahu?"
"Apa?"
"Kamu memang masih nyebelin."
Arga tertawa kecil.
"Aku tahu."
"Tapi..."
Nadira menatapnya dengan lembut.
"...aku senang kamu akhirnya jujur."
Belum sempat Arga membalas, suara seseorang terdengar dari belakang.
"Maaf mengganggu."
Mereka berdua menoleh.
Farhan berdiri beberapa langkah di belakang sambil membawa map proyek.
"Aku cuma mau kasih tahu..."
Ia memandang Arga, lalu Nadira bergantian.
"...besok aku juga berniat mengajak Nadira makan siang setelah survei."
Suasana mendadak hening.
Tatapan Arga dan Farhan bertemu.
Tidak ada permusuhan.
Namun untuk pertama kalinya...
Keduanya sama-sama sadar bahwa mereka sedang melangkah ke tujuan yang sama.
Dan Nadira berada tepat di tengah persimpangan itu.
**Bersambung ke Episode 20...**