NovelToon NovelToon
Tak Sengaja Membangun Surga Di Hutan Kematian (I Accidentally Built A Paradise In The Death Forest)

Tak Sengaja Membangun Surga Di Hutan Kematian (I Accidentally Built A Paradise In The Death Forest)

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Fantasi / Slice of Life
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kūkyo

Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Orang yang Tidak Seharusnya Dipanggil

​Sore itu, langit di atas kota terlihat seperti kanvas yang dicoret-coret warna jingga dan ungu. Haruto Mirakawa sedang sibuk dengan dunianya sendiri di halaman belakang rumah kakeknya. Dengan tangan yang sedikit kotor terkena tanah, ia menyiram deretan tanaman kangkung dan tomat kecil yang ia tanam di kotak kayu.

​"Kamu ini aneh, Haruto," suara Kakek terdengar dari kursi goyang di teras, diselingi suara sruputan teh hangat. "Anak muda zaman sekarang biasanya sibuk di depan layar ponsel, berteriak-teriak soal rank game tembak-tembakan atau apalah itu."

​Haruto tersenyum tipis tanpa menoleh. "Aku juga main game kok, Kek."

​Kakek menaikkan sebelah alisnya yang lebat. "Oh ya? Game apa yang dimainkan cucuku yang aneh ini? Pasti yang ada naga atau pedang raksasanya, kan?"

​"Simulator berkebun," jawab Haruto datar. Ia meletakkan botol penyiram dan menyeka keringat di dahi. "Ada sistem irigasi, rotasi tanaman, dan manajemen pupuk. Sangat menenangkan."

​Kakek terdiam. Ia mematung dengan cangkir teh yang menggantung di udara, menatap cucunya dengan tatapan campuran antara rasa heran yang dalam dan sedikit rasa iba. Setelah hening selama beberapa detik, Kakek hanya bisa mengembuskan napas panjang dan kembali ke tehnya. "Mungkin dia butuh teman," gumam pria tua itu pelan, yang untungnya tidak terdengar oleh Haruto.

​Beberapa ratus meter dari sana, di trotoar jalan yang biasa Haruto lewati sepulang sekolah, suasana jauh lebih bising. Sekelompok siswa kelas 2-B sedang berjalan beriringan. Ada Kenji, sang kapten klub sepak bola yang suaranya selalu paling keras, dan Rina, gadis yang selalu sibuk dengan ponselnya. Haruto, yang baru saja selesai dari rumah kakeknya, kebetulan melintas di dekat mereka, berniat kembali ke rumahnya sendiri.

​Tepat saat Haruto melintasi mereka, dunia seolah-olah tersedak.

​Bukan karena gempa, bukan karena suara petir. Itu adalah suara "robekan" di realitas. Sebuah lingkaran sihir raksasa, selebar lapangan basket, tiba-tiba berpendar di bawah kaki mereka. Cahaya keemasan yang menyilaukan meledak dari dalam lingkaran itu, menelan segalanya.

​"Hah? Apa ini?!" teriak Kenji.

"Tolong! Aku tidak bisa bergerak!" jerit Rina.

​Haruto, yang berada di pinggiran lingkaran, sempat mencoba melompat mundur, namun gravitasi tiba-tiba menariknya seperti magnet raksasa. Cahaya itu bukan hanya menyilaukan, tetapi terasa dingin dan padat. Segala sesuatu yang ia kenal—aroma tanah basah, suara teh kakeknya, bau aspal—lenyap seketika, digantikan oleh sensasi jatuh ke dalam sumur tak berdasar.

​Haruto membuka matanya dan mendapati dirinya tidak lagi berada di jalanan. Ia berdiri di atas permukaan yang menyerupai marmer putih, namun entah bagaimana, permukaan itu terasa seperti awan. Langit di atasnya adalah hamparan putih tanpa awan, tanpa matahari, tanpa ujung.

​Di depannya, seorang pria berjubah putih yang tampak seperti pria paruh baya yang kelelahan sedang berdiri memegang papan klip. Ia terlihat sangat malas, bahkan sempat menguap sebelum menyadari kehadiran kelompok siswa itu.

​"Selamat datang, para Pahlawan," ucap sang Dewa dengan nada yang lebih mirip pengumuman di loket antrean bank.

​"EEEEHHHH?!" Paduan suara jeritan siswa itu cukup untuk membuat telinga Haruto berdenging.

​Chaos pun meledak. Ada yang menangis sesenggukan, ada yang mencoba menelpon orang tuanya meski ponsel mereka tidak punya sinyal, dan beberapa anak yang memang kutu buku mulai berdebat tentang apakah ini isekai atau sekadar penculikan alien. Dewa itu, yang sepertinya sudah menghadapi skenario ini berkali-kali, hanya menepuk tangan sekali.

​"Dengar, dunia lain sedang dalam krisis. Kalian dipanggil untuk menjadi pahlawan. Sebagai kompensasi, masing-masing boleh memilih satu kemampuan dari daftar yang tersedia. Ayo, cepat, aku ingin segera istirahat," perintah sang Dewa.

​Layar transparan muncul di depan masing-masing siswa. Suasana berubah menjadi pasar malam yang bising.

​"Aku pilih Sword Saint! Keren sekali!" teriak Kenji.

"Jangan ambil itu! Aku mau Elemental Mage!" balas siswa lain.

"Siapa yang mengambil Spirit Master?! Itu punyaku!"

​Haruto berdiri di sudut, menatap layar transparan di depannya yang masih berkedip-kedip, berusaha memproses situasi ini. Pahlawan? Krisis dunia? Apa ini mimpi? Apakah aku tertidur saat menyiram kangkung?

​Semua skill bergengsi mulai habis. Dragon Knight, Great Sage, bahkan Shadow Assassin sudah memiliki pemilik. Suasananya begitu kacau hingga sang Dewa harus beberapa kali menyuruh mereka untuk tertib. Akhirnya, setelah semua siswa selesai memilih, sang Dewa memeriksa daftar namanya.

​Dewa itu menatap daftar di papan klipnya, lalu menatap kerumunan siswa. Ia mengernyit. Ia menghitung jumlah nama, lalu menghitung jumlah siswa yang ada di ruangan.

​"...Kenapa ada satu lagi?" gumam sang Dewa. Ia menatap Haruto yang berdiri paling belakang, masih memegang botol penyiram yang entah bagaimana terbawa bersamanya.

​Haruto menatap balik dengan polos. "Aku juga pengin tahu."

​Dewa itu memeriksa daftar pemanggilan dengan lebih teliti. "Ah... sirkulasi sihir yang tidak stabil. Kamu bukan pahlawan. Kamu hanya... terseret. Sial."

​Dewa itu melihat ke layar status Haruto yang masih kosong. Semua skill bagus sudah terdistribusi. Yang tersisa di daftar hanyalah satu baris yang tertulis dengan font yang sangat kecil, seolah-olah pengembang sistem lupa menghapusnya: Shadow Tool.

​Deskripsi: Menciptakan satu alat dari bayangan.

​Haruto menatap skill itu. "...Alat?"

​Dewa itu mulai berkeringat dingin. "Ini buruk. Kalau laporanku berantakan, aku bisa kena potongan gaji keabadian," pikirnya. "...Alat."

​Keheningan yang memalukan menyelimuti mereka berdua. Dewa itu mulai merasa bersalah. Sangat bersalah. Ia baru saja menculik seorang anak SMA yang damai dan mengirimnya ke dunia yang sedang berperang, hanya untuk memberinya skill yang bahkan tidak bisa dipakai untuk memotong bawang dengan benar.

​"Kalau begitu..." Dewa itu berdehem, mencoba menutupi kegugupannya. "Apa yang ingin kamu lakukan di dunia sana? Kamu bisa minta apa saja untuk kompensasi."

​Haruto berpikir sejenak. Ia tidak punya keinginan untuk menjadi raja. Ia tidak punya dendam pada iblis. Ia hanya memikirkan kebun kangkungnya yang belum selesai disiram. "Kalau bisa... aku cuma mau hidup santai."

​Dewa itu terdiam.

​"Punya rumah kecil," lanjut Haruto.

​Dewa itu tidak merespons, namun matanya menunjukkan rasa kasihan yang mendalam.

​"Berkebun mungkin. Bertani juga tidak buruk."

​Dewa itu menutup matanya. Sempurna. Dia benar-benar orang biasa yang tidak sengaja terseret ke dalam kiamat. Dewa itu merasa rasa bersalahnya naik berkali-kali lipat hingga mencapai batas maksimal. Ia merasa menjadi sosok orang tua yang gagal memberikan kado ulang tahun yang layak.

​"Sebentar," Dewa itu menghilang sejenak. Ruangan itu bergetar sesaat sebelum sang Dewa kembali dengan membawa sebuah tombak emas yang memancarkan aura kuno. Tombak itu terlihat terlalu mewah untuk orang seperti Haruto.

​"Itu apa?" tanya Haruto.

​"Tombak Dewa. Anggap saja ini... uang pesangon." Dewa itu dengan cepat melakukan ritual sinkronisasi, menggabungkan tombak itu ke dalam skill Shadow Tool milik Haruto, sekaligus memberikan Berkah Dewi Pertanian—sebuah berkah kecil yang ia curi dari rak inventaris dewa lain.

​Shadow Tool berubah menjadi Divine Shadow Tool.

​"Ini kuat?" tanya Haruto polos, memandangi bayangannya sendiri yang mulai membentuk cangkul imajiner.

​Dewa itu memalingkan wajah, tidak berani menatap mata Haruto. "...Mungkin. Anggap saja alat itu bisa melakukan apapun yang kamu butuhkan jika kamu punya imajinasi yang cukup."

​Dewa itu segera melambaikan tangan, memotong pembicaraan sebelum Haruto sempat bertanya lebih lanjut. "Aku akan mengirimmu ke tempat yang tenang. Jauh dari perang. Jauh dari para pahlawan yang sombong itu."

​"Oh, itu terdengar enak. Terima kasih," ujar Haruto, merasa lega karena setidaknya ia tidak perlu terjebak dalam politik kerajaan.

​"Semoga beruntung, Haruto Mirakawa."

​Cahaya menyelimuti Haruto. Kali ini, transisinya bukan seperti jatuh ke sumur, melainkan seperti tenggelam dalam lautan madu yang hangat. Perjalanannya terasa panjang—ia merasakan sensasi menembus dimensi, melewati ruang yang penuh dengan bisikan elemen alam, hingga akhirnya sensasi itu berhenti dengan debuman halus.

​Haruto membuka matanya. Ia tidak berada di istana kerajaan, tidak pula di lapangan latihan pahlawan.

​Di depannya, pohon-pohon raksasa dengan kulit kayu yang tampak seperti baja gelap menjulang tinggi hingga menembus awan. Udaranya dingin, lembap, dan dipenuhi aroma tanah purba yang pekat. Hutan itu begitu sunyi, hingga suara detak jantungnya sendiri terdengar seperti dentuman drum.

​GROOOOOOAAARRR!!

​Sebuah raungan monster menggetarkan dedaunan di atas kepalanya. Suara itu begitu berat hingga membuat tanah di bawah kakinya bergetar. Haruto berkedip, menatap sekeliling dengan tenang, lalu bergumam pada diri sendiri, "Ini... desa terpencil?"

1
Nadja 🎀
seruu merasa baca manga.. mengingatkan manga itu yg Isekai itu
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
Nadja 🎀
bagus ceritanya ✨
ラマSkuy
keren Thor mirip dua manga yang pernah kubaca tentang terpanggil ke dunia lain dan membangun desa didunia lain 👍👍
Nadja 🎀
seruuu bgt lanjut!
ラマSkuy
emang kehidupan santai itu paling enak untuk orang introvert 😁
ラマSkuy
mirip sekai nonbiri bertani didunia lain 👍
ラマSkuy
akhirnya ada juga novel yang bukan fantasy timur 👍👍 nice Thor lanjutkan
NURC
menarik ceritanya, untuk referensi saya yg menulis novel fantasy juga
Nurul
masih menantin apakah sampai tamat atau tidak/Doubt/
Luthfi Afifzaidan: tetap sehat n semangat thor
total 2 replies
Fiks_imajinasiku
Thor dagig asap itu tanpa api kalau mau berhasil, pakai inkubasi tungku besar bisa dari batu atau kayu yang dilapisi tanah liat jadi asapnya terpokus ke daging tidak menyebar keluar, juga cara panggang gunakan tanpa api dengan cara menekan api menggunakan daun tua atau hijau bukan kering.
Kūkyo: Makasih banyak infonya, Kak.
Mungkin bisa saya pakai di bab-bab selanjutnya. Soalnya di bagian yang sekarang Haruto juga belum punya pengetahuan tentang teknik seperti itu, jadi saya usahakan perkembangannya bertahap. Terima kasih sudah berbagi ilmunya.
total 1 replies
Fiks_imajinasiku
nice thor, apakah akan ada eps 2 dengan ambisi mendirikan kerajaan di hutan?, semangat 🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!