"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."
Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.
Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.
Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KONTRAKSI DAN SEBUAH DUGAAN
Malam berganti pagi, membawa ketegangan yang kian memuncak di kediaman Dirgantara.
Langit baru berwarna jingga pucat.
Burung belum sempat berkicau.
Baru saja fajar menyingsing, jeritan histeris dari arah kamar utama memecah keheningan mansion.
Suara itu menembus dinding tebal, menembus ruang makan, menembus dapur.
Keysha tersungkur di lantai marmer dingin.
Gaun sutra tidurnya kusut. Ia mencengkeram perutnya yang membuncit dengan kedua tangan Wajahnya memucat pasi.Peluh dingin bercucuran di pelipis, di leher, di punggung. Napasnya tersengal-sengal.
Janin yang ada di dalam rahimnya memaksa ingin keluar jauh sebelum hari perkiraan lahir (HPL) yang ditentukan dokter.
Masih 3 minggu lagi.
Kontraksi hebat melanda Keysha secara mendadak.
Satu...
dua...
tiga...
Tidak ada jeda.
"Toooolong!!!" teriak Keysha.
Suaranya serak.
"Sakit!
Sakit banget!"
Arga yang baru saja selesai bersiap untuk pergi ke kampus segera menghampiri sumber suara.
Dasi yang baru dikalungkan langsung ia lepas.
Kemeja putihnya masih rapi.
Meskipun hatinya dipenuhi rasa muak yang teramat dalam karena tahu janin itu bukanlah darah dagingnya,
naluri kemanusiaannya sebagai seorang pria berpendidikan tidak membiarkannya tinggal diam.
Ini nyawa.
"Mas... sakit, Mas!
Tolong aku... bayinya, Mas!"
jerit Keysha tersengal-sengal.
Ia mencengkeram ujung celana bahan Arga dengan sisa-sisa tenaganya.
Kukunya hampir sobek.
"Aku nggak kuat..."
Arga mengembuskan napas pendek.
Panjang.
Ia menekan egonya dalam-dalam.
Menelan rasa jijik.
"Tahan," ucapnya dengan suara bariton yang datar namun sigap.
"Saya telepon ambulans sekarang."
Tangannya gemetar saat meraih ponsel.
'Tut... tut...'
Namun, air ketuban Keysha ternyata sudah pecah.
'Bers.'
Membasahi lantai marmer mahal itu.
Baunya anyir bercampur parfum.
Keadaan menjadi sangat darurat.
Wajah Keysha semakin pucat.
Bibirnya biru.
Dengan cekatan dan setenang mungkin, Arga membantu memindahkan tubuh Keysha ke atas ranjang. Berat. Ia mengangkatnya seperti mengangkat karung.
Di bawah panduan darurat dari tim medis rumah sakit yang dihubungi lewat telepon speaker,
Arga terpaksa turun tangan membantu proses persalinan darurat tersebut sebelum ambulans tiba di kediaman mereka.
"Tekan di sini, Pak. Bimbing kepalanya.Jangan panik,"
instruksi suster dari telepon.
Tangan Arga yang biasanya menandatangani kontrak miliaran kini berlumuran darah.
Keringatnya bercampur dengan keringat Keysha.
Bagaimanapun juga, keselamatan nyawa manusia di hadapannya tetap menjadi prioritas utama.
Selama 17 menit yang terasa seperti 17 jam, Arga menahan napas.
Sampai akhirnya terdengar tangisan bayi.
Waaa... waaa...
Seorang bayi laki-laki.
Kecil.
Merah.
Berteriak.
Arga tidak menatap bayi itu.
Ia langsung menyerahkan ke ART yang baru datang.
Lalu duduk di lantai.
Napasnya kacau.
Ia baru saja menolong melahirkan anak dari pria lain.
Sementara itu, di belahan kota yang lain, atmosfer di ruang kelas Fakultas Ekonomi terasa sangat bertolak belakang.
AC dingin.
Papan tulis penuh rumus.
Dosen sedang menjelaskan di depan.
Di barisan bangku tengah, Queen duduk dengan menyangga kepalanya menggunakan kedua tangan.
Sikunya di meja.
Wajah baby face-nya yang biasanya memancarkan binar nakal nan ceria, kini tampak pucat pasi bagai kekurangan darah. Bibirnya kering.
"Ugh..."
Queen melenguh pelan. Suaranya tertahan.
Tangan kanannya refleks meremas perutnya sendiri.
Di bawah meja.
Tiba-tiba saja, rasa mual yang teramat hebat bergejolak di ulu hatinya.Seperti ada ombak.
Membuat lambungnya serasa diaduk-aduk tanpa ampun.
Dunia berputar.
Karin yang duduk tepat di sebelah Queen langsung menyadari perubahan drastis sahabatnya itu.
Sebagai sahabat yang paling peka, pengertian, dan keibuan, Karin langsung menempelkan punggung tangannya ke dahi Queen.
"Eh, Queen!
Lo kenapa?" tanya Karin panik.
Suaranya setengah berbisik.
"Muka lo pucat banget gila, kayak mayat hidup.
Lo lagi sakit, ya?
Belum sarapan lu pasti?
Tadi pagi gue tawarin roti juga nolak."
"Gak tahu, Rin..." jawab Queen dengan suara lemas.
"Tiba-tiba pusing banget, terus...
hoek..."
Queen membekap mulutnya sendiri dengan punggung tangan.
Matanya berkaca-kaca.
Berusaha sekuat tenaga menahan cairan yang hendak mendesak keluar dari tenggorokannya.
"Aduh, ya ampun!
Lo tunggu di sini bentar ya," ucap Karin cekatan.
Ia langsung berdiri.
"Gue ke UKS dulu mintain minyak kayu putih sama teh anget buat merendahkan rasa mual lo."
Tanpa menunggu jawaban Queen, gadis itu langsung berlari keluar kelas.
Tasnya ketinggalan.
Setelah Karin menghilang di balik pintu, tinggal Queen dan Alya yang tersisa di bangku tersebut.
Alya yang sejak kemarin sudah mengetahui rahasia besar hubungan intim antara Queen dan kakak kandungnya, Arga, langsung menyipitkan mata bulatnya.
Alih-alih panik seperti Karin, ekspresi Alya justru berubah menjadi sangat menyelidik dan penuh kecurigaan.
Bibirnya membentuk senyum miring.
Alya memajukan tubuhnya.
Berbisik sangat pelan di dekat telinga Queen.
Hangat.
"Heh, Queen. Lo jujur sama gue sekarang."
"Apaan sih, Al... pala gue muter nih," keluh Queen dengan suara lemas. Ia memejamkan mata.
"Jangan-jangan..."
Alya menjeda.
"Lo hamil, ya?"
tebak Alya blak-blakan dengan nada berbisik namun sarat akan penekanan.
Queen membuka mata.
Kaget.
"Gue tahu ya," lanjut Alya.
"Lo berdua abis 'main' kan kemarin siang di apartemen.
Terus di kantor privat Mas Arga juga.
Di meja kerjanya itu."
Alya mencondongkan badan lagi.
"Gue mau nanya... selama berhubungan badan sama kakak gue, dia buangnya di dalam atau di luar?"
Mendengar pertanyaan frontal bin ugal-ugalan dari calon adik iparnya, Queen seketika membelalakkan matanya yang sayu.
Pipinya yang pucat mendadak panas.
Rasa mualnya mendadak terdistraksi oleh rasa malu yang menjalar hingga ke leher.
Sampai ke telinga.
"Di dalam..." jawab Queen jujur dengan suara yang teramat cicit.
Hampir tidak terdengar.
Wajahnya mendadak memerah tipis di tengah kepucatannya.
"Tapi... masa langsung jadi sih, Al?Perasaan baru beberapa kali doang semenjak resmi pacaran rahasia. Belum sebulan."
Alya langsung menepuk jidatnya sendiri.
'Plak.'
Keras.
Ia menatap Queen dengan pandangan gemas sekaligus tidak percaya.
"Ya ampun, Queen!
Ya gimana gak langsung jadi, Cegil!" bisik Alya dengan nada menyalahkan.
"Lo berdua itu rutin banget melakukannya sama Mas Arga!Tiap hari ketemu!"
"Kak gue itu pria matang yang subur.
Umurnya 28. Dan lo juga lagi di usia produktif.
21 tahun.Subur-suburnya."
"Ditambah lagi,"
Alya menunjuk perut Queen dengan jari telunjuknya.
"Emang dasar lo-nya aja yang ugal-ugalan pasrah dimakan sama dia! Nggak pake pengaman!"
Queen hanya bisa mengerucutkan bibirnya lemas.
Tidak punya tenaga lagi untuk mendebat ucapan bar-bar Alya yang entah kenapa ada benarnya juga.
Perutnya kembali mual.
Ia menelan ludah.
Alya kemudian melirik ponselnya.
Layar menyala.
Ada pesan WhatsApp dari Bu Lastri, asisten rumah tangga di mansionnya.
Isinya:
"Nona Alya, Nyonya Keysha kontraksi hebat.
Tuan Arga sedang bantu lahiran di kamar.
Ambulans masih di jalan."
Senyum miring penuh kemenangan terukir di bibir Alya.
Matanya berbinar.
"Kebetulan banget, Queen," bisik Alya penuh arti.
Ia menepuk bahu Queen.
"Hari ini nenek sihir itu lagi kontraksi hebat dan lagi melahirkan di rumah. Dibantu Mas Arga sebelum ambulans dateng."
Queen menoleh.
Bingung.
"Nanti pulang kampus," lanjut Alya.
"Kita langsung ke apotek beli testpack. 3 biji.
Merek yang akurat."
"Terus kita periksa ya.Di toilet kampus.Sekarang juga kalau bisa."
Alya menatap perut Queen lekat-lekat.
"Kalau lo beneran hamil anak Mas Arga...
ini bakal jadi skakmat paling epik buat mendepak Keysha dari keluarga Dirgantara untuk selamanya!"
"Bayangin, Queen.Istri sah baru lahiran anak selingkuhan. Terus menantunya hamil anak kandung pewaris Dirgantara.Siapa yang bakal dipilih kakek?"
Queen memejamkan mata.
Kepalanya makin pusing.
Bukan karena mual.
Tapi karena kenyataan.
Ia meletakkan tangan di perutnya yang masih rata.
Di dalamnya...
mungkinkah ada benih Arga?
Di luar jendela, matahari sudah naik.
Di mansion, tangisan bayi baru lahir menggema.
Di kampus, kemungkinan bayi baru mulai tumbuh.
Dua perempuan.
Dua kehamilan.
Satu laki-laki.
Perang Keluarga Dirgantara babak baru...
baru saja dimulai.
recom lah pokoknyaa