Bagi Davina, Barra adalah cinta pertama masa kecil yang tiba-tiba menghilang. Sepuluh tahun berlalu tanpa kabar, Barra kembali ke desa, bukan lagi sebagai pemuda hangat yang ia kenal, melainkan pria asing yang dingin. Tanpa basa-basi, Barra menyodorkan penawaran gila: pernikahan kontrak.
Demi membiayai pengobatan neneknya, Davina terpaksa setuju. Namun, berharap bahagia, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Setelah menikah, Barra bersikap sangat kejam, hingga puncaknya pria itu pergi keluar negeri dan mengabaikannya selama dua tahun.
Saat masa kontrak hampir habis, Barra mendadak pulang. Anehnya, sikap pria itu berbalik 180 derajat menjadi sosok yang lembut, hangat, dan penuh perhatian, persis seperti Barra yang dulu ia cintai.
Perubahan drastis membuat Davina didera kecurigaan. Mengapa di saat kontrak akan berakhir, Barra justru ingin mempertahankannya? Rahasia besar apa yang sebenarnya disembunyikan Barra selama sepuluh tahun ini? Apa motif dibalik pernikahan kontrak mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RATU SEMALAM DI TAMAN BUNGA.
Fajar menyingsing di ufuk timur, membawa semburat warna keemasan yang mengusir embun pagi di lereng perbukitan. Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Suasana desa yang biasanya sunyi kini dipenuhi oleh riuh rendah kebahagiaan yang menular ke setiap sudut pemukiman. Sejak pagi buta, para warga sudah berbenah dan mengenakan pakaian terbaik mereka.
Namun, kejutan sesungguhnya berada di atas bukit belakang desa. Taman bunga liar yang biasanya tumbuh alami, kini telah disulap oleh tim profesional bentukan Ferdi menjadi sebuah panggung pelaminan yang begitu indah. Sebuah pesta pernikahan outdoor yang luar biasa megah.
"Ya ampun, ini benar-benar seperti di negeri dongeng!" seru Bu RT sambil merapikan kebaya batiknya saat baru tiba di lokasi.
"Betul, Bu. Lihat saja hamparan makanan katering itu, aromanya sampai ke ujung jalan," sahut Pak RT yang berjalan di sampingnya. "Neng Davina benar-benar beruntung, tapi Den Barra juga beruntung dapat anak sebaik dia. Mereka betul-betul jodoh dari langit."
Di dalam kamar rias darurat yang didirikan di dekat area pesta, Davina sedang menatap pantulan dirinya di cermin besar. Jantungnya berdegup begitu kencang, bertalu-talu dengan ritme yang tak beraturan.
Ketika gaun pengantin muslimah itu selesai dipasangkan ke tubuh mungilnya, Davina menahan napas. Gaun berwarna putih salju itu berbahan satin premium yang menjuntai indah, dilapisi brokat prancis bertabur ribuan payet kristal halus yang berkilau mewah. Jilbabnya ditata dengan sangat anggun, dilengkapi dengan tiara perak kecil berhiaskan berlian murni di atas kepalanya.
"Bagaimana, Neng Davina? Apakah potongannya sudah terasa pas?" tanya sang penata rias wanita sambil membetulkan posisi tiara.
Davina tersenyum tipis, menatap pantulan dirinya yang tampak asing karena terlalu cantik. "Iya, Mbak. Ini sangat pas. Sesuai dengan ukuran yang dikatakan Barra tempo hari."
"Neng Davina... Anda cantik sekali. Sempurna," puji sang penata rias dengan tulus, membuat pipi Davina seketika merona merah muda.
Saat pintu ruang rias dibuka, Mbak Lastri dan Nenek sudah menunggu di luar. Nenek menatap cucunya dengan mata yang berkaca-kaca penuh keharuan.
"Cucuku sayang..." Nenek menggenggam tangan Davina yang terasa sedikit dingin. "Hari ini kamu adalah wanita paling cantik di dunia. Berjalanlah dengan bangga di samping suamimu, Nak."
"Terima kasih, Nenek," bisik Davina, menyeka setitik air mata bahagia di sudut matanya agar tidak merusak riasan. "Vina tidak akan bisa berdiri di sini tanpa doa dan restu dari Nenek."
"Sudah, jangan menangis lagi. Pengantin cantik tidak boleh membuat maskaranya luntur," canda Mbak Lastri mencoba mencairkan suasana haru. "Mari Neng, Den Barra sudah menunggu di depan gerbang bunga."
Davina mengangguk, lalu melangkah keluar dituntun oleh Nenek dan Mbak Lastri menuju jalur setapak yang dipenuhi taburan kelopak mawar merah.
Begitu sosok Davina muncul di ujung jalur setapak, suasana di atas bukit yang semula riuh mendadak hening seketika. Ribuan mata warga desa terkesiap, terpesona oleh kecantikan dan aura anggun yang terpancar dari tubuh Davina.
"Subhanallah, itu benar-benar Neng Davina?" bisik Kang Cecep, salah satu petani bunga, terpukau.
"Iya, Pangling sekali ya! Benar-benar seperti ratu dari kota," sahut warga lainnya di barisan belakang.
Di ujung jalur setapak, tepat di depan gerbang yang terbuat dari besi yang setengah bulat panjang dan dipenuhi bunga-bunga, Barra sudah berdiri tegap menanti. Pria itu mengenakan jas pernikahan modern berwarna putih bersih dengan potongan slim fit yang semakin menonjolkan tubuh atletis dan gagahnya. Sebuah bros berlian kecil tersemat di dada kirinya, serasi dengan tiara yang dikenakan oleh Davina.
Saat Barra membalikkan tubuhnya dan pandangan mata elangnya bertumpu pada sosok Davina, langkah kaki pria itu seketika membeku. Sepasang matanya yang biasa menatap dunia dengan dingin, kini tampak berkaca-kaca.
Davina berhenti tepat dua langkah di hadapan Barra. Mereka saling melempar tatapan mata yang dipenuhi oleh rona cinta yang begitu mendalam dan murni.
Barra mengulurkan tangan kanannya yang besar dengan perlahan, menyambut telapak tangan mungil Davina yang bergetar lembut.
"Kamu... sangat luar biasa cantik hari ini, Vina," bisik Barra, suaranya bariton, terdengar parau karena menahan luapan emosi kebahagiaan di dadanya. "Sampai-sampai aku merasa tidak pantas berdiri di depan wanita seanggun ini."
Davina mendongak, menatap lekat mata suaminya sambil tersenyum manis. "Kamu juga terlihat sangat gagah, Barra. Terima kasih sudah menyiapkan semua ini untukku dan warga desa."
"Apapun akan kulakukan, Sayang," balas Barra lembut. "Mari, naik ke atas bersama-sama."
Dengan hati yang mantap, Barra yang sudah melingkari tangan Davina di lengangnya, kini berjalan perlahan di karpet merah yang banyak di taburi kelopak bunga marah dan putih, menuju ke atas panggung pelaminan. Gerakan mereka langsung disambut oleh sorak-sorai riuh dan tepuk tangan bergemuruh dari ribuan warga desa.
"Selamat ya, Neng Vina! Den Barra!" teriak para ibu-ibu dari arah tenda tamu.
Di atas panggung, di bawah rimbunnya kelopak bunga dan sorotan lampu peri yang syahdu, Barra memutar tubuhnya menghadap Davina. Ia membawa tangan manis istrinya mendekat ke arah bibirnya, tepat di depan sebuah pengeras suara yang terpasang di sudut panggung.
"Boleh aku mengatakan sesuatu di depan semua orang?" tanya Barra, matanya berbinar jenaka namun penuh ketulusan.
Davina mengangguk pelan dengan wajah merona. "Katakan saja, Barra."
Barra menundukkan kepalanya sedikit, mencium punggung tangan Davina dengan penuh perasaan. Sebuah kecupan yang sangat lama dan dalam. Setelah melepaskan kecupannya, ia menatap mata Davina dan berbicara melalui mikrofon.
"Terima kasih untuk seluruh warga desa yang sudah hadir hari ini," ujar Barra, suaranya menggema tegas ke seluruh penjuru bukit. "Dua tahun lalu, saya membawa Davina pergi dengan banyak kekurangan. Namun hari ini, di tempat kelahirannya, saya berjanji di depan kalian semua untuk mencintainya tanpa batas waktu."
Warga desa langsung bersorak heboh mendengar ucapan romantis sang CEO.
"Hidup Den Barra! Romantis sekali!" teriak para pemuda desa kompak.
Barra kembali mendekatkan wajahnya ke telinga Davina, berbisik dengan nada posesif yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Hari ini, seluruh dunia tahu kamu adalah milikku selamanya, Nyonya Alfarizi."
"Dan kamu adalah imamku selamanya, Tuan Alfarizi," balas Davina dengan suara bergetar bahagia.
Sorakan warga kembali pecah saat sepasang kekasih itu saling melempar senyum terbaik mereka, mengunci babak baru kehidupan mereka dengan kebahagiaan yang sempurna.