NovelToon NovelToon
Mantan Ratu Pembunuh

Mantan Ratu Pembunuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:803
Nilai: 5
Nama Author: Joice 758

Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.

Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Terbuka Segala Luka Tersembunyi

Angin sore berhembus pelan menyapu halaman belakang rumah kayu itu, membawa aroma tanah basah pasca hujan ringan dan bunga-bunga liar yang tumbuh subur di pinggir parit berlumut. Di sini, jauh dari pusat desa yang mulai menyalakan lampu minyak satu per satu, suasana terasa sunyi—hanya terdengar suara jangkrik yang mulai bersahutan dan gemerisik daun kelapa yang tertiup angin. Damai sekali, sangat kontras dengan hiruk-pikuk serta ketegangan yang baru saja mereka tinggalkan beberapa jam yang lalu.

Laras bersandar pada tiang teras yang sudah mulai memudar warnanya, matanya menatap kosong ke arah bukit hijau yang menjulang di kejauhan, tertutup samar kabut tipis. Jantungnya masih berdegup tidak beraturan, bukan karena kelelahan berlari menghindari bahaya, melainkan karena pengakuan yang baru saja meluncur dari bibirnya sendiri—juga karena tatapan Dika yang seolah bisa menembus setiap dinding pertahanan yang ia bangun selama belasan tahun. Rasanya seperti melepaskan beban batu raksasa yang dipanggul sendirian begitu lama, namun sekaligus merasakan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: takut jika kebenaran itu justru menjauhkan satu-satunya orang yang membuatnya merasa layak untuk hidup lagi.

Ia meremas ujung kain sarungnya erat-erat. Kuku-kukunya hampir menancap ke telapak tangan, namun rasa sakit itu tidak cukup untuk menghilangkan rasa cemas yang meluap di dadanya. Semua ingatan kelam itu kembali berputar seperti film lama: darah yang membasahi lantai istana, suara teriakan orang-orang yang takut padanya, julukan mengerikan yang melekat pada namanya, hingga saat ia memutuskan membuang identitas lamanya dan melarikan diri ke sudut paling terpencil negeri ini. Selama ini ia pikir ia sudah lari cukup jauh, namun bayangan itu seolah selalu mengejar, menunggu saat yang tepat untuk menyerang kembali.

Langkah kaki berat namun berirama terdengar mendekat di atas lantai teras kayu. Bahu Laras seketika menegang kaku. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Aroma tubuh yang khas—campuran bau tanah hutan, getah pinus, dan sesuatu yang hangat serta maskulin—sudah cukup memberitahunya bahwa itu adalah Dika. Pria itu berhenti beberapa langkah di belakangnya, tidak mendekat dengan tergesa-gesa, tidak juga berbalik pergi. Hanya berdiri diam, seolah memberi waktu bagi Laras untuk menenangkan dirinya sendiri. Sikap pengertian itu justru membuat mata wanita itu makin terasa panas.

“Kau belum masuk? Udara mulai dingin,” suara Dika terdengar rendah dan berat, memecah keheningan sore dengan nada yang lembut, tidak ada sedikit pun nada curiga atau takut yang Laras takutkan.

Laras menarik napas panjang, berusaha menahan getaran di suaranya saat menjawab. “Belum… udara di sini lebih segar. Aku hanya ingin diam sebentar.”

Dika melangkah maju perlahan, langkahnya begitu pelan seolah takut akan mengejutkan burung yang sedang bertengger di dahan. Ia berhenti tepat di samping wanita itu, berdiri sejajar namun tetap menjaga jarak aman. Cahaya matahari sore yang mulai miring menembus celah dedaunan, menciptakan bintik-bintik cahaya keemasan di wajahnya. Laras menoleh sedikit, dan matanya tak sengaja bertemu dengan manik mata Dika yang cokelat gelap. Di sana tidak ada kengerian, tidak ada penghakiman—hanya ketulusan yang begitu dalam hingga membuat mata Laras kabur oleh air mata yang mulai menggenang.

“Kau takut padaku?” tanya Dika tiba-tiba, suaranya begitu pelan namun menembus langsung ke inti hati Laras. “Atau kau takut aku akan melihatmu berbeda setelah tahu siapa kau dulunya?”

Pertanyaan itu membuat napas Laras tercekat. Ia segera memalingkan wajah kembali ke arah bukit, menatap kabut yang makin menebal seolah ada jawaban yang tersembunyi di sana. “Bukan takut padamu,” jawabnya pelan, suaranya bergetar hebat. “Aku takut pada diriku sendiri. Aku takut sisi gelap yang dulu ada di dalam diriku belum benar-benar mati. Aku takut suatu saat nanti aku akan melukaimu… melukai semua orang baik di desa ini yang sudah menerimaku apa adanya. Aku pernah menjadi orang yang mengerikan, Dika. Tangan ini pernah menghapus nyawa orang lain tanpa ragu. Bagaimana kau bisa berdiri di sini dengan tenang, setelah tahu hal itu?”

Keheningan kembali menyelimuti mereka sejenak, kali ini bukan keheningan yang dingin atau menjauh. Perlahan tangan besar Dika terangkat, lalu dengan kehati-hatian luar biasa seolah menyentuh benda paling rapuh di dunia, ia menempelkan punggung tangannya ke pipi Laras. Sentuhan itu begitu hangat, begitu lembut, hingga seluruh tubuh wanita itu bergetar hebat seolah tersengat aliran listrik yang lembut namun menjalar ke seluruh pembuluh darah. Ia memejamkan mata rapat-rapat, menahan napasnya agar tidak terisak.

“Laras… dengarkan aku baik-baik, jangan pernah lupakan ini,” bisik Dika, lalu ia memutar tubuhnya hingga berdiri tepat menghadap wanita itu, menangkup kedua pipinya dengan kedua tangannya yang kasar namun hangat. “Masa lalu memang membentuk siapa kita hari ini, tapi masa lalu tidak berhak menentukan siapa dirimu selamanya. Aku tidak melihat ratu pembunuh yang ditakuti orang-orang di hadapanku sekarang. Aku melihat wanita yang berani menahan badai untuk melindungi anak-anak desa. Wanita yang bangun paling pagi untuk membantu nenek tua memanen sayur. Wanita yang rela mempertaruhkan nyawanya kemarin hanya untuk menyelamatkan orang yang bahkan tidak ia kenal dekat. Orang berubah, Laras. Dan kau berubah menjadi manusia yang paling berhati mulia yang pernah kutemui.”

Air mata yang sejak lama ditahan akhirnya tumpah perlahan, menetes membasahi jari-jari tangan Dika. Rasa lega yang luar biasa bercampur rasa haru yang tak terlukiskan meluluhkan tembok pertahanan yang selama bertahun-tahun Laras bangun setinggi langit. Ia tidak pernah menyangka ada orang yang mau melihat melampaui nama buruk dan kisah mengerikan yang melekat padanya.

“Tapi… apa kau tidak kecewa?” tanyanya pelan, matanya masih tertutup rapat. “Aku bukan orang yang kau kira selama ini.”

“Kecewa?” Dika terkekeh pelan, lalu mengusap air mata di pipi Laras dengan lembut. “Justru aku makin kagum padamu. Betapa beratnya jalan yang kau tempuh sendirian selama ini, betapa banyak rasa sakit yang kau sembunyikan. Dan kau tetap bertahan, tetap berusaha menjadi baik. Itu jauh lebih hebat daripada semua kekuatan yang pernah kau miliki dulu.”

Perlahan Laras membuka matanya, menatap wajah pria itu dengan pandangan yang mulai berani—pandangan yang penuh harapan dan rasa cinta yang selama ini ia simpan rapat dalam diam. Dika menatapnya balik, matanya penuh kasih sayang yang begitu dalam hingga membuat jantung Laras berdegup kencang lagi. Perlahan ia mendekatkan wajahnya, hingga napas hangatnya menyapu lembut dahi wanita itu.

“Bolehkah aku dekat?” bisiknya, meminta izin dengan penuh rasa hormat.

Laras tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mengangguk pelan, lalu memejamkan matanya kembali. Saat bibir Dika menyentuh keningnya dengan lembut, seluruh tubuhnya terasa rileks seolah semua beban di pundaknya diangkat sekaligus. Pria itu menurunkan keningnya, menyentuh kening Laras, lalu hidungnya mengusap lembut hidung wanita itu sebelum akhirnya bibirnya menyentuh bibir Laras dengan lembut dan penuh rasa syukur. Itu bukan ciuman yang liar atau terburu-buru, melainkan janji tanpa kata—bahwa ia tidak akan pergi, bahwa ia akan tetap ada di sana, apa pun yang terjadi.

Tangan Laras melingkar di leher Dika, menariknya sedikit lebih dekat, sementara tangan pria itu melingkar erat di pinggangnya, memeluknya seolah takut ia akan menghilang jika dilepaskan. Di sana, di bawah cahaya matahari sore yang mulai memudar, dua jiwa yang dulu terluka dan kesepian akhirnya saling menemukan rumah satu sama lain. Tidak ada lagi topeng yang harus dipakai, tidak ada lagi rahasia yang harus disembunyikan.

Namun di tengah kebahagiaan yang baru saja mekar itu, perasaan tidak tenang tiba-tiba menyelinap di hati Laras. Ia berhenti sejenak, lalu menoleh tajam ke arah pinggir hutan di belakang rumah, di mana bayangan pohon-pohon rimbun mulai menyatu dengan kegelapan senja.

“Ada yang mengawasi kita,” bisiknya tiba-tiba, suaranya kembali serius dan tajam—suara yang dulu pernah dikenal oleh semua musuhnya.

Dika segera melepaskan pelukannya perlahan, lalu ikut menoleh ke arah yang sama, tangannya bergerak sigap menahan tubuh Laras di belakangnya. “Kau yakin?”

“Aku merasakannya. Aura yang dingin, penuh kebencian… dan sangat akrab,” jawab Laras, matanya menyipit meneliti setiap gerakan di balik semak-semak. “Mereka tidak pergi kemarin. Mereka hanya menunggu waktu yang tepat.”

Jauh di balik semak belukar yang gelap, sepasang mata berwarna merah gelap menatap mereka dengan penuh dendam yang membara. Sosok itu tersenyum miring, lalu perlahan menghilang tanpa suara, menyisakan hanya angin dingin yang berhembus kencang seolah membawa pesan ancaman: Kau mungkin menemukan kebahagiaanmu sekarang, Laras. Tapi hutang masa lalu tidak pernah bisa dilunasi begitu saja. Aku akan mengambil kembali apa yang menjadi milikku, dan menghancurkan siapa saja yang berani berdiri di jalanmu.

Malam itu, bintang-bintang mulai muncul di langit Karimun, namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani tidur nyenyak. Laras tahu, perjuangannya belum selesai. Bahkan bisa dikatakan, perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan kali ini, ia tidak akan berjuang sendirian—tapi risikonya, kini bukan hanya nyawanya yang dipertaruhkan, melainkan juga nyawa orang yang paling ia cintai di dunia ini.

 

bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!