Cinta adalah sebuah anugerah dari Sang Pemberi Hidup namun terkadang manusia bisa salah melabuhkan cinta. Tapi bagaimana jika sebuah kesalahan fatal malah bisa mengartikan kata cinta?
Dalam sebuah tugas.. sang ajudan menemani istri muda sang jenderal yang ternyata adalah seorang 'kupu malam'.
A. Kesalahan dari pertemuan itu akhirnya membuatnya memahami arti hidup yang sesungguhnya dan dari kehidupan baru ini pula dirinya mengenal arti cinta dan sabar
B. Kisah masa lalunya yang tiba-tiba saja kembali benar-benar menghantam rumah tangganya di saat sang istri tengah mengandung buah hatinya. Mampukah situasi kembali membaik atau akan terpisah karena hadirnya sang mantan.
***
Tidak membawa unsur SARA saat berkomentar, apalagi membawa instansi tertentu, harap mengikuti alur cerita dan bagi yang tidak tahan konflik harap SKIP.
Cerita hanya rekayasa dalam karya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Belajar merayu
Bang Alden membawa istri kecilnya pulang begitu pula Bang Ghazzal sudah membawa Shena ke tempat tugasnya.
Seperti biasa Nadilla selalu menghindarinya. Hatinya benar-benar terkunci dan malas untuk melihat Bang Alden lagi.
"Nad.. jangan diam begitu donk..!! Apa dengan diam begitu masalah kita akan selesai???" Tegur Bang Alden saat Nadilla sudah akan mengunci pintu kamar.
Nadilla yang kesal tetap menekan pintu tersebut sampai kaki Bang Alden terjepit pintu.
"Awwwhh.. Gusti Allah.. Nadillaaa..!!" Suara Bang Alden sedikit meninggi karena kesabarannya sudah ada di ujung tanduk.
"Siapa suruh di situ???? Jangan pakai baju loreng..!! Nadilla mual..!!" Nadilla masih mengomel karena tidak ingin dekat dengan Bang Alden.
"Apa salahnya baju loreng?? Kenapa kamu selalu menyalahkan baju loreng???" Tanya Bang Alden, lama-lama hatinya kesal karena Nadilla terkesan banyak alasan.
//
"Allahu Akbar, ini Abang baru saja mandi Neng. Bau darimana????? Lama-lama Abang masuk angin juga nih??" Protes Bang Ghazzal.
Shena melenggang masuk ke dalam kamar seakan tidak peduli dengan Bang Ghazzal yang sudah kedinginan karena empat kali mandi. Bagaimana tidak, sejak tadi istri kecilnya terus saja mual membuatnya cemas.
Baru saja Bang Ghazzal akan kembali membuka pintu tapi seseorang menghubungi dirinya. Nama yang begitu familiar namun sudah beberapa lama ini di abaikannya karena dirinya sudah memiliki ikatan pernikahan dengan Shena.
"Kamu kemana aja sih Mas?? Kenapa nggak angkat telepon ku, nggak balas pesanku???" Tanya seorang wanita di seberang sana.
"Saya sibuk, banyak kegiatan juga di luar jam dinas." Jawab Bang Ghazzal.
"Aku kangen Mas."
"Saya nggak bisa menemui kamu lagi Shinta." Bang Ghazzal sengaja menjauhi Shinta. Apalagi alasannya kalau bukan karena Shena dan calon bayi kecilnya.
"Ada apa?? Kamu berubah Mas. Sekarang kamu tidak tanya lagi tentangku. Apa kamu tidak perduli lagi padaku??" Agaknya Shinta merasa ada yang berbeda dari kekasihnya itu.
"Hubungi siapa???? Abang nggak mau bujuk Shena lagi????" Terdengar suara dari dalam kamar menegur Bang Ghazzal yang masih berada di luar kamar.
Secepatnya Bang Ghazzal mematikan panggilan telepon tersebut, lagipula dirinya juga sudah mulai kedinginan karena hanya handuk saja yang menutupi bagian terpenting dalam hidupnya.
cckkllkk..
Bang Ghazzal mencoba membuka pintu kamar namun pintunya terkunci rapat, ia menghela nafas berat harus berusaha memaklumi kelakuan bumilnya. "Dek.. buka dulu pintunya..!!"
"Sudah terlambat, seharusnya Abang bujuk Shena. Kenapa malah asyik telepon orang lain..!!" Jawab Shena dari dalam kamar.
"Ayolah dek.. Abang sudah masuk angin nih. Baju Abang ada di dalam lemari, tolong buka lah dek." Kata Bang Ghazzal masih berusaha membujuk Shena.
"Bagi yang tidak bayar parkir, usir saja..!! Siapapun yang mau masuk harus bayar biaya parkir..!!" Jawab Shena.
Bang Ghazzal memijat pelipisnya, badannya sudah kedinginan, angin masih kencang tapi harus berhadapan dengan kelakuan Shena yang melarangnya masuk ke dalam kamar.
"Buka dah, bukaaaaa..!!! Abang bayar biaya parkir..!!!"
Mendengar jawaban itu, pintu kamar terbuka lebar. "Mana uangnya??" Shena menodongkan tangan meminta bayaran jatah parkirnya.
Bang Ghazzal mengabaikan tangan Shena yang menodongnya.
"Abang nggak dengar ya..!!!" Pekik Shena.
Bang Ghazzal tetap diam sampai Shena jengkel sendiri karena merasa di abaikan.
"Baaaang..!!" Pekik Shena semakin merasakan di permainkan.
Barulah saat itu Bang Ghazzal menoleh dan melihat ke arah Shena.
"Biasakan sopan bicara dengan suami..!!" Tegur Bang Ghazzal.
Shena tersenyum sinis, dirinya yang memang tidak senang dengan pernikahan ini jelas ingin mencari bahan keributan dengan Bang Ghazzal.
"Oohh.. Jadi Abang tidak mau memberi nafkah untuk istri??? Baiklah kalau begitu." Dengan senyuman sengit Shena merasa bahagia. .
Tau Shena sengaja mencari perkara dengannya, Bang Ghazzal mulai waspada. Ia mulai paham arah tujuan pembicaraan Shena.
"Begitu?? Sekarang nafkah apa yang kamu mau?? Akan Abang penuhi sekarang juga..!!" Kata Bang Ghazzal.
"Penuhi saja apa yang menjadi kewajiban Abang sebagai suami Shena..!!"
Bang Ghazzal pun menyimpan senyum licik. Ia mendatangi Shena dengan wajah gaharnya. "Kamu benar, seharusnya memang Abang memberimu nafkah biar kamu anteng dan nggak berbuat ulah."
"Abang mau apa?" Shena resah dan ketakutan saat Bang Ghazzal menarik ujung handuk yang terlilit di pinggang.
"Mau keramasin dedek bayi."
gggllkk..
Shena sangat cemas tapi Bang Ghazzal sudah memeluknya erat. "Jangan pernah lor lagi, tidak pernah ada niat Abang menyakiti kamu." Bang Ghazzal mengecup bibir Shena, istri Letnan Ghazzal itu hanya terdiam.. Matanya berkedip-kedip.
Paham istrinya tidak lagi berontak, Bang Ghazzal memperdalam paguttannya. Setiap sentuhan lembut itu akhirnya mendapatkan balasan.
"Abang boleh parkir pesawat jet? Berapa Abang harus bayar?" Tanya Bang Ghazzal tidak bisa lagi berpura-pura sanggup menahan rasa.
"Seluruh isi kantongmu..!!" Kata Shena menatap mata Bang Ghazzal.
"Ambil sendiri sesuka hatimu..!! Sekarang waktunya Abang ganti oli dulu..!!"
.
.
.
.
sue looo