NovelToon NovelToon
JIWA MAFIA DI TUBUH GADIS TERHINA

JIWA MAFIA DI TUBUH GADIS TERHINA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝑁𝑜𝑣𝑖𝑒25

Zerrin Atalea Felix seorang gadis mafia yang meninggal dunia lalu berpindah jiwa atau biasa di sebut bertransmigrasi ke tubuh Claudia Ramirez seorang gadis kaya tapi begitu di benci oleh saudara kandung nya sendiri, hanya kedua orang tua nya lah yang menyayangi nya.. Claudia yang selalu di anggap sebagai pembully di sekolah nya, padahal kenyataan nya selama ini dia hanya selalu di jadikan kambing hitam oleh seorang yang iri pada nya. Kesalahan pahaman ini lah yang membuat Claudia akhir nya di benci secara berlebihan oleh kedua abang dan lelaki yang sudah dia cintai sejak lama beserta anggota genk nya yang merupakan anggota most wanted di kampus. Kelompok para cowok-cowok kaya, keren dan populer di kawasan sekolah.
Bagaimana kisah jiwa Zerin yang berada di tubuh Claudia selanjutnya, ikuti terus kisahnya ya 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑁𝑜𝑣𝑖𝑒25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Bayang Baru di Dua Dunia

Salah satunya adalah Vania Anindita, siswi berprestasi yang selama ini menduduki peringkat pertama di sekolah dan menjadi pusat perhatian guru serta siswa lain. Sejak Claudia kembali menunjukkan kemampuan aslinya, nilai-nilainya melonjak pesat, ia menjadi ketua panitia berbagai kegiatan, dan bahkan mendapatkan kepercayaan yang lebih besar dari kepala sekolah. Posisi Vania yang selama ini dianggap tak tergoyahkan perlahan tergeser.

Rasa iri yang semula tersembunyi kini mulai tumbuh menjadi kebencian yang nyata. Vania merasa bahwa Claudia datang untuk merebut segala sesuatu yang selama ini ia miliki dengan susah payah. Ia tidak bertindak secara terang-terangan seperti Dinda, namun menggunakan cara yang lebih halus menyebarkan desas-desus samar, memutarbalikkan perkataan Claudia, dan memanfaatkan kesalahpahaman kecil untuk menanamkan keraguan di hati orang lain.

Suatu hari, saat persiapan lomba pidato antar sekolah yang akan diikuti oleh Claudia, Vania sengaja meminjam naskah yang telah disusun dengan rapi, lalu mengembalikannya dengan perubahan halus pada bagian kalimat penutup yang bisa dianggap menyinggung perasaan institusi lain.

Saat Claudia sedang membacakan naskah itu di depan guru pembimbing, kesalahan itu segera terdeteksi. Wajah guru itu berubah tegas.

“Claudia, kalimat ini tidak pantas disampaikan dalam acara resmi seperti ini. Jika dibacakan, bisa menimbulkan kesalahpahaman dan merusak nama baik sekolah,” tegur guru itu.

Claudia meneliti naskahnya dengan cermat, lalu menyadari ada perubahan yang tidak ia buat. Ia mengangkat kepalanya, dan dari sudut matanya menangkap senyum kecil yang tidak disadari terukir di bibir Vania yang berdiri di dekat pintu. Seketika ia mengerti siapa yang berusaha membuatnya terjebak lagi.

Namun ia tidak langsung menuduh. Ia tahu bahwa tanpa bukti, tuduhan hanya akan membuatnya terlihat seperti mencari alasan lagi.

“Maafkan saya, Bu. Sepertinya ada kesalahan penyalinan yang tidak saya sadari. Saya akan segera memperbaikinya dan memeriksa ulang seluruh isinya dengan lebih teliti,” jawab Claudia dengan tenang, tidak menunjukkan rasa marah atau bingung sedikit pun.

Reaksinya yang tenang justru membuat Vania kecewa. Ia berharap Claudia akan panik, marah, atau membuat kesalahan yang bisa diperbesar, namun harapannya itu tidak terwujud.

Di luar ruangan, saat Vania berjalan sendirian, Claudia menyusulnya dan berdiri tepat di sampingnya. Suaranya rendah dan hanya terdengar oleh mereka berdua.

“Cara yang kau gunakan ini terlalu kasar, Vania. Jika kau ingin bersaing, lakukanlah dengan kemampuanmu sendiri, bukan dengan cara mengotori pekerjaan orang lain,” ujar Claudia dengan nada datar namun penuh tekanan.

Wajah Vania memerah karena terkejut sekaligus marah. “Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan! Jangan menuduh sembarangan hanya karena kau takut kalah bersaing!”

Claudia hanya tersenyum tipis, senyum yang membuat Vania merasa tidak nyaman. “Baiklah, anggap saja aku salah. Tapi ingat satu hal: setiap jejak yang kau tinggalkan akan selalu bisa ditemukan. Jangan sampai kau bermain terlalu jauh hingga terjebak dalam jaring yang kau buat sendiri.”

Setelah itu, Claudia melangkah pergi, meninggalkan Vania yang berdiri kaku dengan perasaan bingung dan waspada. Ia menyadari bahwa gadis yang dihadapinya ini tidak selemah atau sepolos yang ia kira. Ada sesuatu yang berbeda dan menakutkan dalam tatapan serta ketenangannya.

Namun peringatan itu tidak membuat Vania berhenti. Sebaliknya, ia merasa ditantang dan semakin berusaha mencari cara untuk menjatuhkan posisi Claudia, bekerja sama dengan sekelompok siswa yang juga merasa tersaingi atau tidak suka dengan kebangkitan Claudia.

Di tengah munculnya musuh baru ini, Zerrin harus belajar mengatur waktu dan pikirannya dengan lebih cermat. Di siang hari, ia harus berperan sebagai Claudia yang cerdas, tenang, dan mampu menyelesaikan masalah sekolah dengan cara yang sesuai dengan usianya. Di malam hari, ia berubah menjadi pemimpin yang tegas, menganalisis ancaman dari dalam dan luar klan, serta menyusun strategi untuk mencegah pemberontakan yang mungkin dipimpin oleh Rico.

Suatu malam, dalam pertemuan rahasia dengan Tuan Han dan Karim, mereka membahas perkembangan terbaru.

“Tuanku, laporan menunjukkan bahwa Rico sudah mengirimkan utusan ke markas Klan Elang, pesaing utama kita di wilayah barat,” lapor Karim dengan nada serius. “Mereka sedang membahas kemungkinan kerjasama untuk membagi wilayah kekuasaan jika terjadi perubahan kepemimpinan lagi.”

Zerrin duduk diam mendengarkan, jari-jarinya mengetuk pelan di atas meja , kebiasaan yang muncul saat ia sedang berpikir mendalam.

“Jadi ia ingin mengulangi kesalahan yang sama seperti Marco,” gumamnya pelan. “Mengkhianati klan sendiri demi keuntungan sesaat. Ia tidak mengerti bahwa kekuasaan yang didapat dengan bantuan musuh akan selalu berada di bawah kendali mereka.”

“Bagaimana langkah yang harus kita ambil, Tuanku? Haruskah kita menangkapnya sekarang sebelum ia berbuat lebih jauh?” tanya Tuan Han.

Zerrin menggeleng pelan. “Belum. Jika kita bertindak terlalu cepat, kita hanya akan dianggap menindas tanpa alasan yang jelas, dan bisa memicu perpecahan yang lebih besar. Biarkan ia bergerak lebih jauh, biarkan ia mengumpulkan bukti kesalahannya sendiri. Saat saatnya tiba, kita akan menampakkannya di hadapan semua orang, sehingga tidak ada lagi yang bisa membela atau meragukan keputusan kita.”

Ia menatap mereka berdua dengan pandangan tajam. “Kita akan mengawasinya dengan ketat, memutuskan setiap jalur komunikasinya secara diam-diam, dan memastikan bahwa setiap langkah yang ia ambil justru akan menjerumuskannya ke dalam perangkap yang telah ia buat sendiri.”

Di sekolah, tantangan juga semakin terasa. Vania dan kelompoknya mulai menyebarkan desas-desus bahwa Claudia menggunakan koneksi keluarga untuk mendapatkan keistimewaan, bahwa nilai-nilainya tidak murni, dan bahwa ia bersikap sombong karena merasa berasal dari keluarga kaya. Meskipun kebanyakan siswa tidak mempercayainya sepenuhnya, namun benih keraguan mulai tumbuh di hati sebagian orang.

Suatu hari, saat ujian tengah semester berlangsung, tiba-tiba terjadi kekacauan , selembar kertas berisi jawaban soal ditemukan tergeletak di dekat meja duduk Claudia. Pengawas segera mengambilnya, dan meskipun Claudia menegaskan itu bukan miliknya, namun bukti yang terlihat seolah mendukung tuduhan itu.

“Claudia, ini sangat serius. Jika terbukti, kamu bisa dikenai sanksi berat dan dikeluarkan dari daftar peserta lomba pidato,” ujar guru dengan nada kecewa.

Vania yang melihat kejadian itu menyembunyikan senyum di balik ekspresi prihatin, merasa bahwa rencananya akhirnya berhasil.

Namun Claudia tidak panik seperti yang diharapkan semua orang. Ia meminta izin untuk memeriksa kamera pengawas yang terpasang di sudut ruangan, serta memeriksa sidik jari yang tertinggal di kertas itu , langkah yang ia usulkan dengan tenang dan meyakinkan.

“Saya tidak keberatan jika diperiksa secara menyeluruh, Bu. Saya ingin membuktikan bahwa saya tidak melakukan hal yang melanggar aturan,” ujarnya tegas.

Saat pemeriksaan dilakukan, hasilnya jelas: sidik jari di kertas itu bukan miliknya, dan rekaman kamera menunjukkan bahwa seseorang menyelipkan kertas itu saat ruangan sepi sejenak, namun wajahnya tertutup. Meskipun tidak bisa langsung menunjuk siapa pelakunya, hal itu cukup untuk membuktikan bahwa Claudia tidak bersalah.

Sekali lagi, usaha menjatuhkannya gagal, namun ini menandakan bahwa perang dingin di sekolah baru saja dimulai.

Malam itu, saat Zerrin merenungkan kedua masalah yang dihadapinya, ia menyadari satu kesamaan: baik Rico maupun Vania, mereka sama-sama didorong oleh rasa iri dan ambisi yang tidak terkontrol. Mereka melihat apa yang dimiliki orang lain, bukan berusaha membangun kemampuan diri sendiri.

“Mereka semua mengira kekuasaan dan kehormatan bisa dicuri atau diambil dengan licik,” pikirnya sambil menatap langit malam. “Mereka tidak sadar bahwa apa yang saya miliki bukan hanya posisi atau nama baik, tapi juga kemampuan untuk bertahan dan menghadapi segala rintangan. Siapa pun yang berani melangkah ke jalur yang salah, akan mendapatkan nasib yang sama , terjatuh lebih dalam dari posisi awal mereka.”

Musuh baru telah muncul di kedua dunia yang ia jalani. Tantangan menjadi lebih kompleks, namun Zerrin tidak merasa tertekan. Sebaliknya, ia melihat ini sebagai kesempatan untuk menguji kekuatannya, memperkuat posisinya, dan menunjukkan kepada semua orang bahwa ia tidak akan mudah digoyahkan oleh siapa pun.

Permainan baru telah dimulai, dan kali ini, lawan-lawannya harus siap menghadapi seseorang yang telah bertahan di dunia yang jauh lebih kejam dan berbahaya daripada apa yang bisa mereka bayangkan.

**✿❀ ❀✿** To be continued **✿❀ ❀✿**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!