Dunia Zei tadinya hanya sebatas sawah berlumpur dan beratnya cangkul di pundak. Sampai akhirnya, Turnamen Musim Semi mengubah segalanya. Di atas arena, Zei melihat Qian Yue’er dari Sekte Cendrawasih bertarung. Gerakannya bukan sekadar bela diri, melainkan tarian maut yang terlampau indah untuk disaksikan oleh mata seorang petani miskin.
Sejak detik itu, Zei menolak takdir lahirnya. Ia tak butuh pedang pusaka; dengan Qi elemen tanah yang brutal dan alat tani yang ia tempa menjadi senjata, Zei menantang dunia persilatan. Ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen, menghancurkan cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya tak lebih dari sampah yang bermimpi menyentuh bintang.
Di saat para pendekar lain bertarung demi kekuasaan dan keabadian, alasan Zei mengayunkan senjatanya sangat sederhana dan naif: ia hanya ingin membuktikan diri pantas berdiri di panggung yang sama, dan melihat sang bulan menari di hadapannya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Bagi penduduk Desa Danau Keruh, tanah adalah awal dan akhir dari segalanya. Tanah memberi makan, tanah menumbuhkan padi, dan pada akhirnya, pelukan tanah pula yang akan menelan tulang-belulang mereka. Zei tumbuh dan bernapas dalam siklus itu.
Di balik kulit lengannya yang legam terbakar matahari, mengalir Qi elemen tanah yang kasar—energi yang seumur hidup hanya ia gunakan untuk mengayunkan cangkul lebih cepat, atau menghangatkan akar bibit padi saat musim hujan tiba. Sejauh mata Zei memandang, semestanya hanyalah hamparan lumpur hitam, dengus kerbau penarik bajak, dan anyir peluh yang tak pernah kering.
Hingga hari itu tiba. Hari ketika Turnamen Musim Semi digelar di ibu kota prefektur, tak jauh dari batas desanya.
Berbalut baju rami bertambal dan beralaskan anyaman jerami yang menipis, Zei berdiri berdesakan di ambang arena turnamen yang megah. Terhimpit di antara keriuhan ribuan penonton kasta terendah, pemuda itu menatap ke depan. Di sanalah, untuk pertama kalinya dalam hidup, Zei menyadari bahwa dunia memiliki warna lain di luar spektrum abu-abu dan cokelat lumpur.
Di atas panggung batu kuarsa pualam yang tak bercela, seorang gadis turun dari langit.
Dia adalah Qian Yue’er dari Sekte Cendrawasih.
Saat ujung sepatunya menyentuh arena, desir angin berembus, menyapu wajah Zei dengan aroma kelopak bunga surgawi—sebuah keharuman yang begitu asing dan mewah bagi hidungnya. Gadis itu terbalut jubah sutra putih murni, dihiasi sulaman benang emas bermotif bulu burung surga yang berkilau di lengannya. Wajahnya pias sedingin es abadi, namun memancarkan keagungan yang seketika mencekik keriuhan stadion menjadi kesunyian yang mencekam.
Ketika lawannya merangsek maju membawa pedang besar yang membara, Yue’er tidak menangkis, tidak pula menghindar dengan kasar. Ia sekadar bergerak. Dan di sepasang mata jelata Zei, gerakan itu bukanlah sebuah pertarungan berdarah.
Itu adalah sebuah tarian.
Ditemani kibasan selendang sutra yang dialiri Qi elemen angin, Yue’er melayang dan berputar, seolah hukum gravitasi tak punya kuasa atas dirinya. Gerakannya begitu anggun, teramat ringan, meniru pesona burung cendrawasih yang mengepakkan sayap di dahan pohon surga. Setiap tebasan angin yang ia lepaskan membelah udara dengan presisi dan estetika yang mematikan. Sang lawan tumbang, hancur bahkan sebelum senjatanya mampu menyentuh ujung jubah sang gadis.
Zei terpaku, napasnya tertahan di tenggorokan. Jantungnya bergemuruh liar, bukan karena teror, melainkan oleh kekaguman yang begitu pekat. Di relung hatinya yang paling naif, Zei merasa seakan baru saja menyaksikan napas keindahan alam semesta itu sendiri. Sesuatu yang terlampau suci, yang seharusnya tak eksis di dunia bising, amis, dan kotor tempat ia dilahirkan.
Ketika turnamen berakhir dan Qian Yue’er kembali mengangkasa bersama rombongan tandu sektenya, menghilang di balik awan, Zei menundukkan kepala. Tatapannya jatuh pada kedua belah tangannya: kasar, penuh bongkahan kapalan, dengan sisa-sisa tanah sawah yang menghitam di sela-sela kuku.
Pungguk merindukan bulan. Zei sangat paham pepatah itu. Bagi makhluk bumi sepertinya, menatap langsung ke arah matahari seperti Qian Yue’er hanya akan membutakan mata.
Namun, pesona itu telanjur mengakar di dadanya, mencengkeram sekokoh beringin tua di jantung desanya. Zei tidak haus akan keabadian. Ia tidak sudi menumpahkan darah demi secarik gelar kultivator terkuat. Ia hanya menyadari satu kebenaran mutlak: jika ia menghabiskan sisa usianya di kubangan sawah ini, ia tidak akan pernah lagi menyaksikan tarian surgawi itu.
Satu-satunya cara untuk kembali menatap sang rembulan adalah dengan ikut memanjat langit.
Zei mengangkat wajahnya, menatap cakrawala yang kini kosong. Tangannya perlahan turun dan meraih gagang cangkul di sampingnya, mencengkeramnya erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di bawah kulitnya, Qi elemen tanah yang biasanya pasrah membelah lumpur, kini bergejolak liar dan panas.
Hari itu, di tepi sawah yang bisu dan diguyur aroma tanah basah, seorang anak petani memutuskan untuk menentang takdirnya.