Bara, hantu pemula dengan nilai pas-pasan, mendapat tugas akhir: meneror penghuni apartemen dalam 30 hari atau turun derajat jadi hantu kelas teri. Masalahnya, korbannya adalah Dinda, content creator horor yang skeptis dan malah mengkritik teknik menakut-nakuti Bara karena "kurang estetik".
Di tengah tekanan KPI dari supervisor hantu yang toksik dan tuntutan algoritma media sosial, Bara justru terjebak menjadi asisten pribadi Dinda. Akankah Bara berhasil menyelesaikan magangnya, atau malah gagal total karena terlalu asyik berdebat soal lighting dan angle kamera?
Sebuah komedi horor segar tentang hantu yang takut PHK dan manusia yang takut unfollow.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kode Morse dan Kontrak Baru
Ponsel tua di dalam ventilasi itu bergetar lagi. Bukan karena ada notifikasi masuk, melainkan karena baterai yang sudah sekarat akhirnya menyerah pada gravitasi dan waktu. Layarnya padam, meninggalkan ruangan hanya diterangi cahaya ring light Dinda yang masih menyala redup.
Bara menatap ponsel mati itu seolah-olah itu adalah bom nuklir. "Topeng Barong Hitam... Penjaga... Lari..." gumamnya, mencoba mencerna kata-kata yang baru saja ia baca. "Din, ini bukan lelucon Mbak Yuli. Dia nggak akan pakai istilah 'Penjaga' atau 'Topeng Barong'. Itu terminologi level dewa."
Dinda tidak menjawab. Ia sedang sibuk menggulirkan layar ponselnya sendiri—bukan untuk mengecek media sosial, tapi membuka aplikasi catatan dengan kecepatan jari yang membuat Bara pusing.
"Bara," kata Dinda tiba-tiba, suaranya datar namun tajam. "Kamu bilang kamu hantu magang. Statusmu sekarang apa?"
"Ehm... lulus? Predikat Cum Laude in Psychological Warfare?" jawab Bara bingung.
"Bukan status akademismu. Status kontrak kerjamu. Apakah setelah lulus, kamu otomatis jadi hantu tetap? Atau ada masa transisi? Ada opsi perpanjangan kontrak? Atau... apakah kamu bebas memilih penempatan berikutnya?"
Bara mengerutkan kening. Pertanyaan itu terdengar seperti wawancara HRD, bukan diskusi soal ancaman supernatural. "Well... secara teknis, setelah lulus magang, kami diberi pilihan: ditempatkan di unit permanen sesuai KPI, dipromosikan ke divisi khusus, atau... mengambil cuti panjang tanpa gaji untuk 'pencarian jati diri gaib'. Tapi kenapa kamu tanya ini?"
Dinda mengangkat wajahnya. Matanya berbinar dengan cahaya yang hanya dimiliki oleh content creator yang baru saja menemukan niche pasar yang belum tersentuh.
"Karena aku butuh hantu tetap," katanya tegas. "Bukan hantu magang yang bisa dicabut kapan saja kalau Pak Broto berubah pikiran. Aku butuh partner bisnis jangka panjang. Dan berdasarkan pesan di ponsel itu, sepertinya kita baru saja mendapatkan tawaran pekerjaan yang jauh lebih besar daripada sekadar menakut-nakuti penghuni apartemen."
Bara terdiam. Ia melihat Dinda, lalu melihat ponsel mati di tangannya, lalu kembali ke Dinda. Perlahan, pemahaman mulai terbentuk di benaknya.
"Kamu... mau merekrutku?"
"Aku mau menawarkan kolaborasi strategis," koreksi Dinda. "Lihat, Bara. Kamu punya akses ke dunia gaib. Kamu punya clipboard, jam tangan hantu, dan apparently, koneksi ke entitas purba yang bahkan Pak Broto pun takut sebut namanya. Di sisi lain, aku punya platform, audiens, kemampuan riset digital, dan yang paling penting: keberanian untuk melakukan hal-hal yang dianggap 'tidak masuk akal' oleh manusia normal maupun hantu normal."
Ia berdiri, berjalan menuju jendela, dan menatap langit malam Jakarta yang tertutup awan.
"Pesan itu bilang 'Jangan Percaya Pada Penjaga'. Artinya, ada faksi dalam dunia gaib yang tidak bisa dipercaya. Tapi juga artinya, ada informasi yang disembunyikan. Informasi itu adalah konten emas, Bara. Bukan konten horor receh. Ini konten misteri, konspirasi, sejarah tersembunyi, dan pertarungan kosmik. Audiensku bosan dengan jumpscare palsu. Mereka haus akan cerita nyata yang membuat mereka mempertanyakan realitas."
Dinda berbalik, menatap Bara lurus-lurus.
"Jadi, ini tawaranku. Jadilah hantu tetapku. Bukan sebagai penunggu apartemen. Tapi sebagai Co-Host Investigasi Paranormal Nusantara. Kita gunakan skills kamu untuk mendeteksi energi, membaca jejak gaib, dan berkomunikasi dengan entitas. Aku akan gunakan skills-ku untuk mendokumentasikan, menganalisis pola, dan menyebarkan kebenaran—atau setidaknya, versi kebenaran yang bisa diterima algoritma."
Bara menelan ludah. Tawaran itu gila. Tapi... menarik. Sangat menarik. Selama ini, ia hanya mengikuti aturan Pak Broto, mengisi formulir, dan mengejar angka IKP yang artifisial. Ia tidak pernah benar-benar menyelidiki. Ia hanya melaporkan.
"Tapi... apa jaminannya?" tanya Bara hati-hati. "Kalau kita gagal? Kalau 'Penjaga' itu ternyata memang berbahaya? Kalau Topeng Barong Hitam itu benar-benar kutukan?"
Dinda tersenyum. Senyum yang kali ini tidak mengandung unsur manipulasi atau strategi konten. Itu senyum tulus.
"Garansinya adalah kita tidak akan bosan lagi, Bara. Tidak ada lagi puisi cinta cringe. Tidak ada lagi sabotase panci mie. Hanya misteri nyata, bahaya nyata, dan mungkin... makna nyata."
Ia mengulurkan tangannya. Bukan tangan manusia yang hangat, tapi tangan yang siap berjabat dengan sesuatu yang tidak kasatmata.
"Deal?"
Bara menatap tangan itu. Ia ingat pesan di ponsel: LARI SEKARANG. Tapi ia juga ingat perasaan saat Pak Broto berkata "terlalu kreatif untuk jadi hantu magang biasa". Ia ingat perasaan saat Dinda berteriak bukan karena takut, tapi karena tekad.
Ia menyadari bahwa lari bukanlah opsi. Karena wherever he runs, the past will follow. Dan mungkin... justru di situlah letak tujuannya.
Bara mengulurkan tangan transparannya. Saat kulit Dinda menyentuh energinya, terasa dingin yang aneh—bukan dingin kematian, tapi dingin seperti menyentuh batu nisan kuno di bawah sinar bulan.
"Deal," kata Bara.
Tepat saat itu, clipboard di leher Bara bergetar keras. Tinta ungu neonnya mulai menulis sendiri, membentuk kalimat baru yang tidak pernah ia lihat sebelumnya:
KONTRAK BARU TERDETEKSI.
JENIS: INVESTIGASI PARANORMAL NUSANTARA.
STATUS: MENUNGGU VERIFIKASI OLEH ENTITAS PURBA.
PERINGATAN: KONTRAK INI TIDAK DAPAT DIBATALKAN. TIDAK ADA CUTI. TIDAK ADA PENSION.
TANDA TANGAN DIGITAL TELAH DICATAT.
Bara menatap clipboards-nya ngeri. "Din... sepertinya kita baru saja menandatangani kontrak seumur hidup. Dengan klausul yang bahkan Pak Broto pun tidak punya wewenang untuk membatalkan."
Dinda membaca tulisan di clipboard itu. Wajahnya tidak berubah. Malah, sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Bagus," katanya. "Kontrak seumur hidup berarti komitmen penuh. Dan komitmen penuh berarti kita serius."
Ia mengambil ponsel barunya, membuka kamera, dan mengarahkannya ke clipboards Bara yang masih berkedip-kedip.
"Posting pertama kita," bisik Dinda. "Caption: 'Kami baru saja menandatangani kontrak dengan alam gaib. Bukan untuk menakuti. Tapi untuk memahami. Follow untuk perjalanan yang tidak akan pernah sama lagi.' Hashtag: #HantuMagangResign #InvestigasiNusantara #TopengBarongHitam #JanganPercayaPenjaga"
Bara ingin protes. Tapi ia tahu, terlalu terlambat. Ia sudah terikat. Bukan oleh birokrasi Kantor Pusat Hantu Jakarta Selatan. Tapi oleh sesuatu yang lebih tua, lebih gelap, dan jauh lebih menarik.
Di luar jendela, petir menyambar tanpa suara. Cahayanya menerangi ruangan sesaat, dan dalam kilatan itu, Bara swore he saw something standing at the window. Not Mbak Yuli. Not Pak Broto. Something taller. Older. Wearing a mask that looked eerily similar to the one described in the text message.
It was watching them. And it was smiling.
Dinda tidak melihatnya. Ia terlalu sibuk mengatur lighting untuk foto postingan pertamanya.
Tapi Bara melihatnya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya (dan kematiannya), ia tidak merasa takut.
Ia merasa... dipanggil.
"Oke, Din," kata Bara pelan, matanya masih tertuju pada sosok di jendela yang perlahan memudar bersama bayangan malam. "Kita mulai besok. Tapi malam ini... biarkan aku menikmati momen terakhir kebebasanku."
Dinda mengangguk, tidak menyadari bahwa kebebasan yang dimaksud Bara bukan kebebasan dari tanggung jawab. Melainkan kebebasan dari ketidaktahuan.
Karena mulai malam ini, Bara Nyoman—eh, maksudnya Bara si Hantu Magang—akan belajar bahwa beberapa takdir tidak bisa dihindari. Mereka hanya menunggu waktu untuk ditemukan.
Dan waktu itu... telah tiba.