NovelToon NovelToon
Korban Dua Cinta

Korban Dua Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Teen / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang Dihapus

Fajar belum sepenuhnya pecah di ufuk timur ketika Alya membuka kelopak matanya. Cahaya kelabu yang suram merayap pelan melalui celah tirai beludru, menyinari kamar utama yang senyap. Udara pagi itu terasa sedingin es, menusuk hingga ke tulang.

Alya terbaring diam di atas ranjang berukuran king-size yang kini tampak berantakan. Sprei sutra krem yang semula rapi kini kusut, berpilin di antara kedua kakinya, menahan tubuhnya seperti belenggu.

Seluruh tubuhnya terasa remuk, seolah-olah setiap sendi dan ototnya sengaja dipisahkan satu per satu. Rasa nyeri yang berdenyut hebat menjalar dari panggul, punggung, hingga ke bahunya yang dipenuhi bekas cengkeraman memar.

Namun, berbeda dengan malam-malam sebelumnya di mana jiwanya tenggelam dalam pusaran histeria, pagi ini kepala Alya terasa sangat jernih. Begitu jernih hingga terasa dingin. Air matanya telah mengering, meninggalkan bekas jalur kaku di pipinya.

Rasa takut yang biasa melumpuhkannya kini telah menguap, digantikan oleh ruang hampa yang membeku di dalam dadanya.

Ia melirik ke samping. Sisi ranjang di sebelahnya kosong. Reza sudah tidak ada di sana.

Alya mendengar suara gemercik air yang samar dari kamar mandi dalam. Pria itu sedang membersihkan diri.

Alya memaksakan dirinya untuk duduk.

Gerakan sekecil itu mengirimkan gelombang rasa sakit yang membuat pandangannya berkunang-kunang. Ia menggigit bibir bawahnya erat-erat, menolak mengeluarkan satu suara pun.

Sambil memegangi tepi ranjang, ia menurunkan kedua kakinya menyentuh lantai marmer. Dinginnya lantai itu seolah menyengatnya kembali ke realitas.

Matanya menyapu sekeliling kamar.

Di lantai dekat meja rias, sobekan kaus oblong putihnya tergeletak mengenaskan, berserakan bersama kancing-kancing celana pendeknya yang terputus kasar.

Jejak kekejaman.

Alya tahu ia tidak boleh membiarkan jejak itu tetap di sana. Jika Aminah atau pelayan lain masuk untuk merapikan kamar dan melihatnya, badai baru akan tercipta. Dan yang lebih penting, ia tidak ingin Reza melihat sisa-sisa kebrutalannya sendiri dan mengira bahwa ia telah berhasil menghancurkan Alya sepenuhnya.

Dengan tubuh yang bergetar, Alya membungkuk, memunguti sobekan kain itu satu per satu. Setiap kali ia menekuk tubuhnya, rasa perih di perut dan punggungnya memprotes, tetapi pikirannya yang dingin terus memerintah tanpa ampun: Hapus. Bersihkan. Jangan sisakan apa pun.

Ia berjalan tertatih-tatih menuju lemari pakaian raksasa di sudut ruangan. Ia mengambil sepotong gaun tidur katun hitam panjang berlengan panjang yang tersimpan di bagian paling belakang—pakaian longgar yang sengaja ia siapkan untuk menyembunyikan memar-memar barunya.

Setelah menyembunyikan pakaiannya yang robek di dasar keranjang pakaian kotor terdalam yang tertutup, ia merapikan sprei sutra di ranjang. Ia menarik kainnya kuat-kuat, meratakan setiap kerutan, menepuk-nepuk bantal putih yang sempat basah oleh air matanya.

Ketika pintu kamar mandi terbuka dan uap hangat keluar bersama sosok Reza, kamar itu sudah terlihat kembali sempurna. Seolah-olah malam yang biadab itu tidak pernah terjadi.

Reza keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya. Rambutnya basah, dan wajahnya tampak segar. Pria itu menghentikan langkahnya saat melihat Alya sudah berdiri di dekat jendela, membelakanginya, menatap lurus ke arah halaman luar yang temaram.

Reza berdeham pelan, seolah ada rasa canggung yang tiba-tiba menyumbat tenggorokannya. Ia menatap punggung Alya yang terbalut kain hitam longgar.

"Aku... ada proyek di kantor hari ini. Mungkin pulang larut. Kamu tidak usah menungguku di luar kamar lagi."

Alya tidak berbalik. Ia bahkan tidak mengangguk. Suaranya keluar pelan, datar, dan tanpa riak emosi sedikit pun.

"Ya."

Hanya satu kata. Tapi dinginnya kata itu sanggup membuat Reza terdiam beberapa detik di tempatnya berdiri, sebelum akhirnya pria itu berbalik untuk mengenakan kemeja kerjanya dengan terburu-buru, seolah ingin segera melarikan diri dari atmosfer kamar yang mencekam.

Satu jam setelah mobil mewah Reza menderu meninggalkan halaman, Alya melangkah turun ke lantai bawah. Setiap anak tangga yang ia pijak terasa seperti siksaan fisik, tetapi ia tetap berjalan dengan punggung tegak.

Di dapur, suasana sunyi. Aminah sedang memotong sayuran, sementara Ningsih dan Wati merapikan meja makan. Begitu mendengar langkah kaki Alya, ketiganya serentak menoleh.

Wati yang pertama kali melepaskan kain lap di tangannya. Matanya membelalak, dipenuhi rasa horor yang instan. Meskipun Alya mengenakan gaun katun hitam panjang yang longgar dengan kerah tinggi, mereka bukanlah orang bodoh.

Gerakan berjalan Alya yang kaku, tangan kirinya yang terus mendekap rusuknya sendiri, serta sudut bibirnya yang kembali pecah dan sedikit membengkak sudah menceritakan segalanya tanpa perlu dikisahkan.

"Mbak Alya..." Wati menutup mulutnya, air matanya langsung merebak di pelupuk mata.

Aminah meletakkan pisaunya dengan tangan yang gemetar hebat. Ia segera melangkah mendekati Alya, menuntun gadis itu dengan sangat hati-hati menuju kursi kayu di sudut dapur, menjauhkannya dari jangkauan pandangan kamera CCTV yang terpasang di ruang keluarga.

"Astagfirullah, Mbak... Bapak melakukan ini lagi?" bisik Aminah dengan suara yang parau, sarat akan kesedihan dan amarah yang tertahan.

Alya duduk perlahan, melepaskan napas berat yang sejak tadi ia tahan di dadanya.

"Tolong ambilkan kotak obat, Bu Aminah. Perih sekali."

Ningsih dengan cekatan berlari mengambil kotak P3K dari lemari gantung, sementara Wati menarik kursi untuk duduk di dekat kaki Alya. Ketika Aminah dengan lembut menggulung lengan gaun katun hitam Alya ke atas, helaan napas tertahan kembali terdengar di dapur itu.

Lengan putih itu dipenuhi memar keunguan berbentuk jari-jari besar yang mencengkeram kuat.

Wati menangis tanpa suara, bahunya terguncang. "Ini biadab, Mbak... Ini sudah keterlaluan. Kenapa Mbak Alya tidak membiarkan kami menelepon polisi atau Mama mbak?”

"Jangan," potong Alya cepat. Suaranya tidak meninggi, tapi ada ketegasan yang membuat Wati langsung terdiam. Alya menatap Wati dengan mata bulatnya yang kini tidak lagi memancarkan kepolosan anak delapan belas tahun.

"Kalau Mama tahu, jantungnya bisa kambuh. Beliau tidak punya kekuatan untuk melindungiku, Wati. Dan jika polisi datang, Kak Gita akan menggunakan seluruh koneksi dan uangnya untuk membungkam semuanya, lalu memutarbalikkan fakta seolah aku yang gila. Pada akhirnya, aku akan tetap dikurung di sini, tapi dengan kondisi yang lebih buruk."

Aminah meneteskan cairan antiseptik ke kapas, lalu mengusapkannya ke sudut bibir Alya yang pecah dengan sangat perlahan.

"Lalu kita harus bagaimana, Mbak? Aminah sakit hati sekali melihat Mbak seperti ini setiap hari. Rumah ini seperti neraka."

Alya membiarkan rasa perih dari antiseptik itu membakar kulitnya tanpa mengaduh. Ia menatap Aminah, Ningsih, dan Wati bergantian.

"Aku tidak akan membiarkan diriku mati di neraka ini, Bu," ucap Alya lirih namun tajam.

"Uang saku bulanan dari Reza... aku sudah menggunakannya kemarin. Aku sudah membayar uang pangkal di kampus swasta program kelas karyawan. Kuliah malam."

Ketiga wanita itu tertegun. Aminah menghentikan gerakan tangannya.

"Mbak... Mbak tetap mendaftar kuliah? Tapi kemarin Bapak mengamuk dan... dan kamera-kamera itu..." Aminah melirik sekilas ke arah luar dapur, di mana lensa hitam CCTV terpasang di sudut langit-langit.

"Benar. Reza melarangku, dan dia memasang mata-mata elektronik itu untuk mengurungku," kata Alya, senyuman tipis yang dingin terukir di wajahnya.

"Dia berpikir kamera-kamera itu adalah jeruji besi yang bisa menghentikanku. Tapi dia lupa, penjara terbaik sekalipun selalu punya celah."

Alya mencondongkan tubuhnya ke depan, mengabaikan rasa sakit di punggungnya. Suaranya kini berubah menjadi bisikan yang dalam di antara mereka berempat.

"Aku butuh bantuan kalian. Aku tidak bisa melakukan ini sendirian. Jika aku hanya diam dan menyerah, suatu hari nanti saat Kak Gita memutuskan dia sudah siap untuk mengambil alih posisi di rumah ini, Reza akan menceraikanku dan membuangku seperti sampah tanpa membawa apa-apa.”

“Aku akan keluar dari sini, tapi aku akan keluar dengan ijazah di tanganku, dengan kekuatanku sendiri. Tapi untuk itu... aku harus bisa mengelabui CCTV itu setiap malam."

Wati langsung menghapus air matanya, wajahnya berubah tegang namun penuh tekad. "Mbak mau kami melakukan apa? Katakan saja. Saya tidak takut dipecat lagi."

Ningsih mengangguk mantap. "Saya juga, Mbak. Kami taruhannya cuma pekerjaan, tapi Mbak Alya taruhannya nyawa dan masa depan. Kami pasti bantu."

Aminah menggenggam tangan Alya yang dingin, menatap gadis muda itu dengan pandangan seorang ibu yang siap melindungi anaknya.

"Katakan rencanamu, Mbak. Kami akan jadi bentengmu di rumah ini."

Melihat solidaritas yang begitu murni dari ketiga wanita di hadapannya, setitik kehangatan yang nyata akhirnya kembali merayap di dada Alya. Ia meremas balik tangan Aminah.

"Mulai minggu depan, perkuliahan akan dimulai pukul tujuh malam hingga sembilan malam," kata Alya pelan namun terencana.

"Reza biasanya pulang di atas jam delapan atau sembilan malam jika sedang lembur. Tugas pertama kita adalah memetakan titik buta dari kamera-kamera itu. Pasti ada sudut di halaman belakang atau pagar samping yang tidak tertangkap lensa."

"Ada, Mbak!" sahut Ningsih cepat. "Di dekat pohon kenanga samping rumah, arah gudang belakang. Kemarin saya perhatikan teknisinya tidak memasang kamera di sana karena terhalang rimbunnya daun pohon kenanga. Pagar bambu di sudut itu juga agak longgar, bisa digeser sedikit jika mau keluar ke gang samping komplek."

Alya tersenyum, kali ini senyuman yang penuh dengan perhitungan taktis. "Bagus, Ningsih. Itu jalur keluarku nanti."

"Lalu bagaimana kalau Bapak tiba-tiba pulang cepat atau menelepon ke rumah saat Mbak sedang di kampus?" tanya Aminah cemas.

"Itu tugas Bu Aminah dan Wati," jawab Alya.

"Setiap jam tujuh malam, aku akan mengunci pintu kamar utama dari dalam sebelum aku menyelinap keluar lewat jalur belakang. Jika Reza pulang lebih cepat, Bu Aminah harus berdiri di depan tangga, berpura-pura baru saja mengantarkan makanan dan katakan padanya kalau aku sedang sakit kepala pasca-kejadian kemarin dan tidak ingin diganggu. Kamar sengaja dikunci dari dalam agar aku bisa tidur tenang."

"Dan kalau Bapak memaksa mendobrak atau melihat rekaman CCTV ruang keluarga?" tanya Wati.

"Dia tidak akan curiga melihat rekaman ruang keluarga, karena di dalam rekaman itu, aku tidak pernah terlihat keluar melewati pintu depan," jelas Alya cerdas.

"Bagi kamera itu, aku berada di dalam kamar sepanjang malam. Reza mementingkan harga dirinya; jika dia mengira aku mengurung diri karena merajuk atau trauma, dia justru akan membiarkannya karena dia malas menghadapi konfrontasi."

Aminah menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk dengan keyakinan penuh. "Baik, Mbak. Kami akan pastikan alibi di dalam rumah ini tidak akan bocor. Jika Bapak atau Kak Gita menelepon, Aminah yang akan maju menghadapi mereka."

Alya menatap ketiga wanita di depannya dengan mata yang berkaca-kaca karena haru. Rasa kesepian yang mencekik yang ia rasakan semalam perlahan sirna. Di dalam sangkar emas yang kejam ini, ia telah menemukan sekutunya. Sebuah aliansi sunyi yang dibangun di atas dasar luka yang sama dan solidaritas sesama perempuan.

"Terima kasih," bisik Alya hangat. "Terima kasih banyak."

"Sama-sama, Mbak Alya. Sekarang, Mbak harus makan. Aminah sudah siapkan sup hangat untuk memulihkan tenaga Mbak," kata Aminah sambil mengusap pundak Alya dengan sayang.

Alya menerima mangkuk sup yang disodorkan Wati. Saat ia menyuapkan kuah hangat itu ke dalam mulutnya, rasa hangatnya menjalar hingga ke dadanya.

1
falea sezi
kpn cerai
falea sezi
cpet buat cerai thor najis amat ampe Gita berbagi batangan reza😒
falea sezi
alya goblok🤣mending cerai sekarang lah bloon amat lu di jadiin serep cerai pergi jauh bego
Nihayatuz Zain
🦾
La Rue
ehm mencari celah dari Reza malah ketemu Diana. Tapi ini asumsiku saja, semoga saja tidak seperti apa yang terganbar diotakku 🤔🤭
Halwah 4g
wahhhhh...🤣🤣🤣 kecolongan q
Bp. Juenk: selamat menikmati kk
total 1 replies
M. T🌻
keren banget thor.
jangan lupa mampir yaa🤭
Bp. Juenk: siap. terimakasih
total 1 replies
Key Kastara
😍🔥✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!