NovelToon NovelToon
Istri Yang Kau Sia-Siakan

Istri Yang Kau Sia-Siakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Nikahmuda
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Alesha rela mengorbankan impian dan kebahagiannya demi rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati dan menerima hinaan dan cacian oleh keluarga suaminya.
Namun semua pengorbanannya berakhir sia-sia ketika ia mengetahui suaminya berselingkuh dan mengaku belum menikah.
Memilih pergi adalah langkah paling menyakitkan yang pernah ia ambil. Tetapi tanpa disadari, keputusan itu justru membawanya pada kehidupan baru yang lebih baik.
Alesha mulai bangkit. Ia ingin membuktikan bahwa keputusannya meninggalkan masa lalu adalah pilihan yang tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Data Alesha

"Nata mau ke mana kamu?"

Aldo yang baru saja turun dari motor menatap tajam adiknya yang hendak pergi dengan pakaian minim.

Nata menatap kakaknya dengan malas.

"Aku mau main, Kak," jawabnya.

"Main? Ini sudah jam berapa, Nata?" bentak Aldo.

Nata menghela napas kesal.

"Kak, aku ini masih muda. Aku ingin menikmatinya bersama teman-temanku, Kak," jawabnya. "Kayak nggak pernah muda saja."

Aldo mengembuskan napas berat.

Adiknya ini memang keras kepala sekali.

"Nata, kamu main ke mana di tengah malam begini?"

"Ada apa sih ini?"

Helena menghampiri kedua anaknya yang sedang berdebat.

"Nata ingin pergi main di tengah malam begini, Bu. Pasti nanti dia pulang subuh dan nggak berangkat sekolah lagi," jawab Aldo kesal.

"Do, adikmu ini masih muda. Biarkan dia menikmati masa mudanya bersama teman-temannya," balas Helena dengan santai.

Aldo menatap tajam ibunya.

Ia benar-benar tidak habis pikir dengan cara berpikir ibunya.

"Tapi, Bu, Renata itu perempuan..."

Belum sempat ia melanjutkan ucapannya, suara klakson mobil terdengar dari depan rumah.

Kaca mobil perlahan turun, lalu menyapa Renata.

"Renata..."

Wajah Renata seketika berubah cerah.

"Putri."

Tanpa menunggu jawaban siapa pun, Renata langsung berjalan menuju mobil.

"Renata!" bentak Aldo.

Renata menghentikan langkahnya lalu menoleh dengan tatapan malas.

"Apa lagi, Kak?"

"Kamu nggak dengar apa yang kakak bilang?"

"Kak, aku bukan anak kecil lagi, Kak," jawab Renata dengan nada kesal.

"Jangan pergi!" bentak Aldo sambil menatap tajam adiknya.

"Kak, aku cuma pergi sama teman-temanku."

"Jam segini?"

Putri yang sejak tadi menunggu akhirnya berdecak pelan.

"Malam, Kak Aldo," ucap Putri dari dalam mobil dengan santai. "Kita cuma nongkrong, Kak. Jangan lebay deh. Memang Kakak nggak pernah muda apa?"

Aldo langsung menatap tajam ke arah Putri.

"Jaga ucapanmu."

Putri hanya mengangkat kedua bahunya dengan santai.

"Jangan terlalu mengekang Renata, Kak."

Aldo mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Sementara itu, Renata sudah terlihat tidak sabar dan beberapa kali melirik ke arah mobil yang masih menunggu dirinya.

"Kak, jangan lebay deh."

Aldo menatap tajam adiknya.

"Kamu diam."

"Nggak mau."

"Renata!"

Helena yang sejak tadi berdiri di samping mereka langsung ikut bicara.

"Sudahlah, Do."

"Tapi, Bu—"

"Nggak ada tapi-tapian."

Helena menoleh pada Renata.

"Hati-hati di jalan."

Renata langsung tersenyum lebar.

"Siap, Bu."

Aldo mengusap wajahnya kasar.

Ia benar-benar tidak habis pikir.

Sementara itu, Renata sudah membuka pintu mobil.

"Bye, Bu."

"Hati-hati."

"Iya."

Renata lalu naik ke dalam mobil.

Tak lama kemudian, mobil itu melaju meninggalkan rumah.

Aldo terus menatap kepergian mobil tersebut dengan rahang mengeras.

Setelah kepergian Renata, Aldo menatap ibunya dengan tatapan tidak percaya.

"Bu, kenapa Ibu membiarkan Renata pergi jam segini, hah?" ucap Aldo kesal.

Helena memutar bola matanya malas.

"Kamu ini, jangan terlalu protektif sama adikmu. Nanti kalau dia merasa terkekang, lalu malah melakukan hal yang aneh-aneh bagaimana, hah?" balas Helena santai.

"Aku nggak protektif, Bu. Aku hanya khawatir sama Renata," ucap Aldo sambil menghela napas.

"Sudahlah, Do. Lebih baik kamu bersih-bersih sana."

Setelah mengatakan itu, Helena langsung meninggalkan Aldo dan masuk ke dalam rumah.

Aldo hanya bisa mengembuskan napas kasar. Dadanya terasa sesak memikirkan tingkah adiknya yang semakin sulit diatur.

Tak lama, ia pun ikut masuk ke dalam rumah.

Saat membuka pintu kamar, langkahnya langsung terhenti.

Kamar itu terlihat berantakan.

Pakaian yang tadi pagi ia tinggalkan masih tergeletak di kursi. Handuk bekas pakainya belum dipindahkan. Bahkan meja kecil di samping ranjang terlihat berdebu.

"Alesha kena—"

Ucapan Aldo tertahan di tenggorokannya.

Ia baru teringat.

Alesha sudah pergi.

Tatapan Aldo perlahan menyapu seluruh sudut kamar.

Biasanya saat ia pulang kerja, kamar itu sudah bersih dan rapi. Pakaiannya sudah dilipat. Perlengkapan mandinya sudah disiapkan. Bahkan air minum di meja selalu tersedia tanpa perlu ia minta.

Kini tidak ada lagi semua itu.

Dia menggeleng cepat.

Tidak ada gunanya memikirkan Alesha lagi.

Sebentar lagi ia akan menikahi Risa.

Itu yang seharusnya menjadi fokusnya sekarang.

Aldo segera masuk ke kamar mandi. Ia ingin secepatnya memberitahukan kabar itu kepada ibunya.

Di ruang tamu, Helena masih sibuk memainkan ponselnya sambil sesekali tersenyum kecil.

Aldo menghampirinya.

"Bu."

"Hmm," balas Helena tanpa menoleh.

"Aku ingin menyampaikan sesuatu pada Ibu," ucap Aldo sambil tersenyum.

Helena langsung menoleh ke arah putranya. Keningnya sedikit berkerut melihat raut wajah Aldo yang terlihat begitu bahagia.

"Apa yang ingin kamu sampaikan? Kelihatannya kamu senang sekali, Aldo."

Aldo mengangguk pelan, lalu duduk di samping ibunya.

"Bu... sebentar lagi, Ibu akan punya cucu."

"Apa!"

Mata Helena langsung berbinar.

"Kamu nggak bohong kan?"

Aldo menggeleng.

"Nggak, Bu. Risa hamil."

"Ibu senang banget dengarnya, Do," ucap Helena dengan wajah sumringah. "Ibu akan segera menggendong cucu."

Aldo tersenyum melihat antusiasme ibunya.

"Apa kata Ibu dulu? Alesha memang nggak bisa kasih kamu keturunan. Sekarang terbukti, kan?"

Aldo mengangguk pelan.

Ucapan ibunya memang benar.

"Itulah aku ingin menikahi Risa, Bu. Nanti perutnya semakin besar, kan malu?" ucap Aldo.

Helena mengangguk setuju.

"Iya, kamu harus nikahin dia secepatnya, Do."

Aldo kembali mengangguk, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa.

"Tapi, Bu..."

"Tapi apa, Do?"

"Uang aku untuk biaya pernikahan hanya sedikit. Ibu tahu kan, keluarga Risa itu orang berada. Mana mungkin keluarganya ingin pesta sederhana," lirih Aldo.

Helena ikut terdiam.

Senyum di wajahnya perlahan memudar saat mendengar masalah yang sedang dipikirkan putranya.

"Itu memang masalah," gumamnya pelan.

Aldo mengusap wajahnya kasar.

"Aku nggak mungkin mengadakan pernikahan sederhana, Bu. Keluarga Risa terkenal di kota ini."

Helena mengangguk setuju.

"Benar."

Belum lagi tamu undangan, gedung, katering, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Memikirkannya saja sudah membuat kepalanya berdenyut.

Namun Helena justru terlihat tenang.

"Kamu jangan terlalu khawatir."

Aldo menoleh.

"Ibu akan pinjam uang ke Tante Selena. Dia pasti punya uang untuk dipinjamkan kepada kita," lanjut Helena.

Aldo terdiam, mendengarkan ucapan ibunya.

"Setelah kamu menikah, jabatanmu pasti akan naik. Kamu bisa mengembalikan uang Tante-mu itu secepatnya."

Aldo terdiam sejenak.

Ucapan ibunya memang masuk akal.

Kalau ia berhasil menikahi Risa, kariernya pasti akan jauh lebih baik dari sekarang.

"Kalau Tante Selena benar-benar mau membantu, masalah ini jadi jauh lebih ringan, Bu," ucap Aldo pelan.

Helena mengangguk mantap.

"Tentu saja. Besok Ibu akan menghubunginya."

"Yang penting sekarang, kamu pertahankan hubunganmu dengan Risa."

Aldo tersenyum tipis.

"Tentu, Bu."

Helena tampak semakin senang membayangkan masa depan putranya.

"Setelah menikah dengan Risa, hidupmu pasti berubah, Do."

Aldo tidak menjawab.

Namun dalam hati, ia setuju.

Bagaimanapun juga, Risa adalah putri dari pemilik pabrik tempatnya bekerja.

Jika mereka menikah, posisinya akan semakin kuat.

Masa depannya pun akan jauh lebih terjamin.

"Tidak sia-sia Ibu mendukung hubungan kalian dari awal," ucap Helena sambil tersenyum puas.

"Leon."

Leon yang sedang fokus pada tabletnya perlahan menoleh.

"Hmm," jawabnya seperti biasa, singkat.

Kevin melangkah mendekat lalu meletakkan sebuah map di depan Leon.

"Seluruh data tentang Alesha."

Leon menaruh tabletnya di atas meja. Tangannya segera membuka map tersebut, lalu membaca berkas tentang Alesha dengan sorot mata yang tajam.

Leon membalik halaman demi halaman dengan ekspresi datar.

Namun sorot matanya berubah saat menemukan beberapa informasi penting.

“Dia pernah menikah?”

1
Ma Em
Leon sdh menemukan gadis teman masa kecilnya semoga benar Alesha reman masa kecil Leon dan berjodoh Alesha dgn Leon , Aldo sdh menikah dgn wanita pilihan nya apakah benar anak yg dikandung Risa adalah anaknya Aldo .
Hatnah Batulicin
peran Alesha org nya terlalu lemah dan letoy 😝😝😝
Nona Jmn: Sabar
total 1 replies
Hatnah Batulicin
terlalu bnyk KTA "hah"disetiap dialog nya
Anonim: awokawok emang lawak awokawok blok
total 1 replies
dome🌬️🌀🌀🌀
lanjut Thor bikin cerita yg bikin tensi naik🤣🤣🤣🤣🤣
ayoookkkk semangat
semangat
💪💪💪💪💪
dome🌬️🌀🌀🌀
yookkk gelud yookkk Mak, sini biar saya smackdown

😤😤😤😤😤😤😤😤😤kuweseeellleee rekkk...
dome🌬️🌀🌀🌀
haduuhhhhh... Jagan lembek laahhh kau wahai wanita. sudah dihina diremehkan ga dihargai sekarang disakiti secara verbal dan fisik apalagi yg kau harapkan dari si biyawak suamimu. gila digampar masih bisa ngarep dibela. digampar yaa neng digampar.. udah kayak ga ada harga diri lagi lu. ngapain masih ngarep laki percaya sama kamu
dome🌬️🌀🌀🌀
eehhhhhh.... Mak lampir, itu bukan tanggung jawab mantumu yaa buat nafkahi kluarga kalian. setres kan kalian. coba brobat dl sapa tau gila.
yg Suai siapa tapi yg dituntut nafkahi siapa. kan gendeng yaaa.. ga DA kewajibannya mantu atau istri menafkahi keluarga nya apa lagi menafkahi kluarga suami.😄😄😄
ibu ini lupa minum obat inii pastii makanya rada kumat 🤭
dome🌬️🌀🌀🌀
kenapaaa,, kok berasa dunia mu yg runtuh Alesha dipecat. ga ada sumber pendapatan yaa yg bisa kau ambil dari Alesha lagi. makin lah kluarga suaminya semakin merendahkan Alesha... cereeeee ajaaaaaa laahhh Gedeg udah akuuuhhh😄😄😄😄
dome🌬️🌀🌀🌀
ihhhhh.... jengkelnya. kalau sudah tau tak dihargai dirumah yg kau anggap kluarga lebih baik pisaaahhhhhj... tinggalkan kluarga yg ga bisa menghargai mu itu Alesha. sudah dinafkahi seadanya banyak dituntut ini itu ga dihargai. parahnya udah kayak babu luar negri aja.
mending sekalian beneran kerja jadi babu luar negri makan gratis tinggal gratis digaji besar. sama aja kan kayak kau tinggal dirumah kluarga suami mu, macam babu. bedanya babu luar negri digaji🤣🤣🤣🤣
lahhh ini sudah lah dihina dijelekkan dibabuin ga dihargai, dinafkahi ala kadarnya saja. boro boro mau beli berlian segunung🤣🤣🤣🤣
lanjut lahhhhhh
dome🌬️🌀🌀🌀
lanjuuutttt lah.. gaskeuunnnn🤗💪💪
dome🌬️🌀🌀🌀
haduhhhh,,,, baru awal bab dan baru paragraf pertama baca sudah membuat aku punya darah tinggi dadakan😤😤😤

Thor kira kira kalau buat cerita, LG anteng2 baca sudah dibuat darah tinggi thorrrrrrr teganya dikau pada daku. 🤣🤣🤣🤣
coba Thor masukin aku kedalam novel mau aku geprek itu mertua dan ipar laknatnyaaa... sudah ga dinafkahi kok masih mau aja punya suami modelan gitu....
astaghfirullah
astaghfirullah
astaghfirullah
sabarrrr sabarrr... orang sabar rejekinya lebaaarrrrrrrrrrrr😁
Ma Em
Semoga Alesha sukses setelah berpisah dgn Aldo , Aldo pasti menyesal karena sdh menyia nyiakan istri sebaik dan sesabar seperti Alesha , semoga Alesha jadi orang yg sukses dan semakin bersinar .
Nona Jmn: Aamin😊
total 1 replies
Ma Em
Alesha kenapa kamu mau memenuhi kebutuhan Aldo dan ibunya sedangkan kerja kerasmu tdk pernah dihargai , lawan mereka Alesha jgn cuma nangis lbh baik tinggalkan suamimu yg tdk pernah menganggap mu istri tapi kamu cuma dianggap pembantu gratisan .
Nona Jmn: Pantau terus Alesha ya, kak🙂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!