Manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Namun bagaimana jika seseorang di tuntut untuk selalu sempurna?
Arkabian Selat Muara. Ketua besar dari ALTARES Gang. Laki-laki yang memiliki paras hampir sempurna di SMANBA. Hal yang paling tidak ia sukai adalah, ada orang yang mengusik kehidupannya.
**
"Menurut lo cinta itu apa?"
"Cinta itu luka, cinta itu sakit. Dunia itu jahat Lun, kita dipertemukan oleh semesta tapi tidak ditakdirkan bersama."
Akankah kehadiran seseorang mampu membuat Arka berubah? Yuk baca dan pergi ke dunia Arka»
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ejubestie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Pencarian
"Kenapa lo baru pulang?"
"Ada tugas dikit?"
Alis Bayu terangkat seakan tidak percaya dengan ucapan adiknya. Cowok itu memperhatikan Lolly yang melepaskan sepatunya lalu duduk di sofa tanpa mau mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
"Ganti baju dulu sana, sekalian mandi." kata Bayu lalu membawakan Lolly air minum. Bayu memang menyayangi adiknya dari apapun.
"Bentar, gue capek, bang." Lolly meneguk air minumnya hingga habis setengah, "Bang, gue boleh minta sesuatu nggak?" tanya Lolly
"Apa?"
"Gue mau Arka,"
Bayu memutar bola matanya malas, ia sudah jenuh dengan permintaan adiknya. Hampir setiap hari Lolly berkata seperti itu. Apakah tidak ada cowok lain yang menarik di mata adiknya? Bayu sudah beberapa kali memberitahu Lolly, jika perasaan seseorang tidak bisa kita kendalikan, tetapi gadis itu kekeh dengan keinginannya.
"Princess,"
Lolly menghembuskan nafasnya kasar. "Gue tau jawaban lo, bang."
Lolly memungut tasnya lalu beranjak hendak ke kamar, namun baru tiga langkah cewek itu menghentikan langkahnya lalu berbalik. "Kalau lo nggak bisa penuhi keinginan gue, gue bisa mewujudkan keinginan itu sendiri, bang."
Setelah mengatakan itu Lolly pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sedangkan Bayu, cowok itu memijat pangkal hidungnya yang tak gatal.
Ia sangat pusing melihat tingkah adiknya, kenapa gadis itu tidak menetap di luar negeri bersama orang tuanya saja.
"Hallo," Bayu mengangkat telepon dari anggota nya.
"Gue keluar," kata seseorang diseberang sana.
Bayu sontak berdiri dan mengepalkan tangannya. "Gue nggak salah dengar?!"
Orang diseberang sana menghembuskan nafasnya, "Keputusan gue udah bulat, gue keluar dari Dragon, Bayu."
Tut
Panggilan terputus secara sepihak oleh lawan bicaranya. Bayu membanting ponselnya hingga pecah, lalu cowok itu mengambil jaketnya dan pergi ke suatu tempat.
"Lo nggak boleh keluar, Mada."
...****...
Basecamp Altarez sore ini cukup ramai, semua anggota geng ini berada di sini. Apalagi besok adalah hari minggu, inti Altarez sedang berdiskusi tentang piknik yang mereka rencanakan buat Luna.
"Jadi, dimana tempatnya? Ada yang mau rekomendasi tempat yang cocok nggak?" tanya Nisa yang sangat antusias dengan acara piknik.
"Di gunung gimana?" kata Karlo bersuara.
"Nggak seru piknik di gunung, jalan nya nanjak. Juga pasti butuh waktu yang lama," timbal Razi.
"Ya udah dipantai aja gimana?" kata Okta ikut berpendapat.
"Tempatnya panas, nanti bu bos kita kepanasan," ujar Razi tidak sependapat dengan ucapan Okta.
"Ck. Emang lo ada saran tempat yang bagus, Zi? Perasaan lo nggak setuju semua," kesal Nisa yang mendengar cowok itu selalu mengeluh.
Cowok itu menyengir, "Hehe, nggak ada si."
"Huuu," suara inti Altarez menyoraki cowok itu.
"Semuanya diam," itu suara Devano. "Mending kita tanya langsung sama Luna, biar dia yang bilang tempat mana yang paling dia suka." ucap Devano. Dirinya juga pusing mendengar teman-temannya berdebat seperti ini.
"Gue setuju," kata Nisa. Lalu cewek itu mengambil ponselnya berniat menghubungi Luna.
Arka tidak ikut bersuara. Cowok itu hanya menjadi pendengar yang baik. Toh dirinya juga tidak terlalu suka acara begituan, ia ikut karena ada Luna disana. Arka berdecak sebal karena ponselnya tiba-tiba berdering.
Dahinya berkerut saat melihat nama yang tertera di sana
Om Rey
"Hallo, Om, selamat malam." kata Arka menyapa pria itu.
''Putri saya ada sama kamu, Ka?"
Arka nampak terdiam sebentar, mencerna kata-kata dari Om Rey.
"Nggak, Om. Luna nggak sama Arka," kata Arka.
"Siapkan pasukan kamu, putri saya hilang!"
Setelah itu sambungan terputus secara sepihak. Arka yang mendengar ucapan Reyhan lalu berdiri tegak. Pikiran kemana-mana sekarang, cowok itu masih diam dan menunggu respon dari Nisa karena cewek itu sedang menghubungi Luna.
"Guys, handphone Luna nggak aktif," kata Luna yang sudah mencoba beberapa kali menghubungi gadis itu.
"Bang**t, ada yang cari masalah sama gue," kata Arka. Sontak itu membuat semua anggota ALTARES menatap Arka kaget karena ucapan cowok itu.
"Arka, lo kenapa? Kesurupan?" tanya Devano.
"Luna hilang."
"Hah apa?!"
Semuanya menjadi panik saat mendengar ucapan ketua mereka. Tidak mungkin kan ini ulah dari geng Dragon lagi? Arka nampak berpikir sejenak, lalu cowok itu memindahkan pandangannya pada Reza. "Za, coba lo hubungin Nara, siapa tau Luna nginep di sana."
Ekspresi Arka benar-benar panik karena mendengar kabar hilangnya Luna. Ia bahkan tidak menyadari apa yang sedang terjadi pada dirinya. Suasa di basecamp yang semula hangat kini menjadi tegang.
"Nggak ada," kata Reza singkat setelah mendengar jawaban dari Nara lewat telepon.
"Gue baru ingat, Ka. Katanya dia mau nemuin lo setelah pulang sekolah, karena lo yang nyuruh dia. Gue juga lihat dia pulang terakhiran tadi siang. Oh ya satu lagi, lo kok nggak ngomong langsung malah pake surat segala?" kata Nisa saat mengingat kejadian tadi di kelas.
Alis Arka terangkat. Surat? Surat apa? Arka bahkan tidak menyuruh Luna untuk menemuinya. Jika ingin cowok itu bisa langsung menghampiri kelas Luna dari pada harus menulis surat, alay menurut Arka.
"Gue nggak pernah nulis surat buat, Luna." kata Arka.
Arka mengacak rambutnya frustasi, "Alga, lo pimpin anak-anak buat bergerak cari Luna."
Setelah itu Arka mengambil kuncinya, dan memakai jaketnya. Arka keluar dari basecamp berniat mencari gadis itu.
Bagaimanapun caranya, ia harus menemukan Luna.
Alga mengerahkan anggota ALTARES untuk mencari Luna, ia membagi menjadi dua kelompok. Yang satu mencari Luna mengikuti Arka, yang lain mencari di tempat yang kemungkinan Luna berada di sana.
"Semua bergerak sekarang!" perintah dari Alga. Anggota Altarez bersiap-siap dan mulai menyalakan motor mereka.
Arka melajukan motornya terlebih dahulu dan disusul oleh anak Altarez lainnya.
Suasana jalanan yang ramai tidak bisa menghentikan Arka. Sekarang tujuan utama cowok itu adalah sekolahan. Cowok itu masih yakin jika Luna pasti masih berada di sana.
Rombongan itu berhenti tepat di depan SMA Negri Bangsa. Hanya ada beberapa lampu yang masih menyala disana. Arka langsung bergerak mencari Luna disetiap sudut sekolah.
"Berpencar," kata Arka pada anggota Altarez.
"Siap bos."
Setiap ruangan sudah Arka cari, namun Luna sama sekali nggak ada disana. Arka hampir gila jika terjadi apa-apa sama gadis itu. Ini semua salah dirinya karena tidak bisa mengawasi Luna dari jauh, andai saja tadi ia mengantar gadis itu sampai rumah, mungkin semua ini nggak bakal terjadi.
"Arka, gimana?" tanya Om Reyhan yang baru tiba di sekolahan.
Arka lemas tak mampu menatap mata pria itu, "Arka belum nemuin, Luna, Om. Sekali lagi, Arka gagal." lirihnya.
Reyhan menepuk pundak Arka dan tersenyum, "Kamu nggak pernah gagal, Ka. Sekarang kita cari, Luna, lagi."
Arka mengangguk lalu mencari dengan teliti setiap sudut sekolah. Ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu dengan Luna.
Ayolah, Luna, beri gue pertanda Lo ada dimana?
semangat kak... ☺