BERLANJUT
Namaku adalah Xitan , sejak kecil di buang oleh kluargaku, lalu aku di pungut dan dibesarkan oleh keluarga mafia kelas atas. Mencuri adalah keahlianku, Bahkan aku mencuri barang milik sahabatku sendiri.
Namun siapa sangka, peristiwa aneh dan misterius terjadi tiba-tiba . Saat aku mencuri barang yang menurut rumor adalah barang mistis yang cukup misteriterius itu akupun mati dalam tragedi mengerihkan dan rohku hinggap di tubuh putri kluarga kerajaan yang terbuang. Kami tertukar dan selanjutnya kenangan sang pemilik tubuh membuatku geram hingga aku berniat balas dendam pada kluarga ayahnya yang semena-mena saat berusaha membunuh sang pemilik tubuh.
Akupun mendapat musuh di setiap petualanganku...
Akankah aku kembali ke duniaku saat tubuhku lenyap oleh bom yang di bidikkan Luxcor padaku.
Ataukah aku takan pernah bertemu dengan Zerro sahabatku sedari kecil...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Geerqiasilatusiluchen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Efek Racun?
Dendam Sang Putri
Part #31- Efeck Racun
Karna keserakahan akibat dendam yang membara dalam hati Xitan, Akhirnya Xitan berusaha mencari bunga Api dan Pil ahadi untuk menyempurnakan peleburan batu ruang yang ia beli beberapa hari yang lalu. Banyak ketidak puasan dalam hatinya hingga memaksanya masuk menara pagoda yang sangat terlarang. Akibatnya ia terjebak di dalam pagoda tersebut.
Belum ada tanda-tanda bisa keluar dari pagoda tersebut, Nasib Xitan malah sial dengan terpatuk ular merah yang telah menghuni pagoda tersebut selama ribuan tahun.
Titik terdalam menara Tujuh pagoda dewa...
Seseorang meringis saat tangannya yang terpatuk ular berusaha di tolong oleh seseorang.
" Ugggh! Pangeran' Apa yang kau lakukan! Jangan lakukan hal bodoh!"
" Sudah lah. Jangan banyak bicara, Kita tak pernah tahu efek seperti apa yang akan timbul saat kau terpatuk ular merah trsebut"
" Sial kenapa ini terjadi padaku!"
" Sudahlah, tak ada gunanya menyalahkan diri sendiri, toh semua itu takan bisa mengulang waktu"
Xitan mulai sedikit putus asa...
Deg! Pangeran berdegug. Ia menatap tangan Xitan yang mulai membalut lukanya kembali dan melegenerasinya dengan kulit yang baru.
" Master... Kau ini mahluk apa sebenarnya?" Xitan mengalihkan pandangan yang sedari sibuk mencari celah jalan keluar dari tempat itu ke arah nanar pangeran yang sedang berjongkok di hadapannya.
" Tentu saja aku adalah manusia, Kau pikir aku ini apa?" Ucap Xitan tak sadar pada apa maksud dari pertanyaan sang pangeran.
Master, kau ini manusia macam apa, Jangan-jangan racun pun takan mampu menembus tubuhmu dan malah berbalik keluar. Bathin Pangeran Qiang Gu.
" Ada apa? Kau melotot saat menatapku, apa aku terlihat seperti hantu di matamu?" Xitan mulai melihat tangannya yang mulai pulih kembali, iapun tersenyum simpul " Oh, ini maksud dari pertanyaanmu tadi?"
Pangeran Qiang Gu mulai berdiri dari duduknya dan menghampiri Xitan, Iapun duduk menyandar di punggung Xitan dalam batu yang sama .
" Apakah itu ilmu pemulihan tubuh? Aku bahkan tak pernah tahu jika ada ilmu seperti yang kau miliki"
" Tidak, aku bahkan mendapatkannya tanpa sengaja, Ilmu ini hanya membalut luka yang membuat tubuhku terkoyak, Jika racun yang telah masuk dalam tubuhku, Takan bisa keluar dengan mudah, Sebab... ilmu itu tak bisa mendetoks apalagi mengeluarkannya, aku harus berusaha" Xitan mulai bangun dan mendonggakan kepalanya ke atas langit gua tersebut.
" Aneh, tadikan di atas adalah lubang besar, sekarang malah batu bodoh yang tebal" Gerutu Xitan tampak konyol.
" Mungkin saat jatuh tadi kita terseret arus, Bagai mana jika kita berenang kembali melewati pusaran air tadi" Ujar Pangeran, Xitan hanya bisa mengangguk mendengar saran sang pangeran.
" Kalau begitu ikuti aku" Pangeran melambaikan tangannya ke arah Xitan kitan pun mengagguk, Pangeran mengambil napas panjang dan menceburkan diri.
Byuuur! Pangeran mulai ada di dalam dasar kolam dingin tersebut. Ia mulai menyelam, Iapun mencari pusaran yang tadi telah ia lewati.
Ketemu, ini dia pusaran air yang tadi kami hindari hingga terpental jauh karna tekanan pusaran itu, Aku harus memegangi tangan master, Pangeranpun menoleh ke belakang.
Degh!
Mana sang master? Jangan-jangan dia tenggelam!! Bathin pangeran. Pangeran mencari sang master kelimpungan di dalam air kolam dingin tersebut, Meski sudah ia susuri dalamnuya kolam tersebut, Nyatanya sang master memang tak bisa ia temukan .
Pangeran yang tengah sibuk menyelam pun mulai naik ke permukaan .
Byuuuur!!
Hosh! Hosh! Hosh! Napas berat saat ia nerusaha menahan napas dan menghirupnya kembali.
" Master!" Pekik pangeran, Pangeran memutarkan tubuhnya seraya berenang. Saat matanya tertuju ke tempat ia singgah tadi . Seseorang yang ia cari tengah menyender di batu tempat pangeran terduduk tadi.
" Master!!" Pekik pangeran. Pangeran segera berenang menuju daratan untuk menyelamatkan sang master.
" Master!!! Pangeran mendapatkan tubuh Xitan yang mengigil dan bibir membiru
" Celaka apa yang harus aku lakukan! Master! Bangunlah jangan sampai kau tertidur!" Xitan yang sedang dalam mode lemah itu mulai membuka pelan matanya .
" Dingin, dingin sekali... apakah aku akan mati?" Degh!
" Jangan bicara konyol! Kita datang bersama! Aku tak ijinkan kau tinggal di gua ini sendirian! Bangunlah ini perintah!"
Hahahaha! Akhirnya saat kau mati aku akan segera terbebas, Haaaaah.... cepatlah jangan bertele-tele... Sebelumnya saja bukankah kaymu juga sudah mati? Nae jima.
" Ak-aku tak mau mati... pangeran, bisakah aku menemukan penawar racun ini?" Pangeran panik matanya sembab, Ia berusaja menahan tangisnya dan menjadi sedikit tegar, agar Xitan Tidak panik .
" Aku akan menemukan obat untukmu! Tapi jangan pergi! Ini perintah, Jangan pergi sebelum aku di nobatkan menjadi putra mahkota aku mohon!" Xitan tersenyum, Giginya menggeretas... " Dingin.... sekali"
Pangeran sadar pakaian Xitan dan pakaiannya basah kuyup, racun akan semakin membuatnya tak sadar dalam keadaan dingin . Xitan akan lebih mengantuk hingga mati dalam keadaan tertidur.
BREAAAK! pangeran segera membuka pakaiannya , Ia lihat Xitan sudah sedikit terlelap, Tak ada cara lain selain melepaskan pakaian Xitan dan pakaiannya lalu saling berpelukan.
" Kau pasti akan baik-baik saja!" panik pangeran, pelipisnya basah karna tak tahan saay larut dalam kesedihan.
" Makanlah, Aku tak tahu apa guna pil abadi milik sang Spirt Black Jade ini, tapi kuharap itu akan berguna" Pangeram meminumkan pil tersebut secara paksa pada Xitan hingga meniup mulutnya dengan seteguk air untuk mendesak pil abadi agar tertelan dan tercerna di tubuh Xitan.
" Bertahanlah! Ayo sadarlah... Ku mohon master! Aku tahu kau tak selemah ini!" Pekik pangeran seraya memeluk tubuh Xitan yang sudah terbuka.
Berapa kalipun Pangeran menggoyang goyang tubuh empuk Xitan, Tapi ternyata Xitan tak masih tak sadarkan diri.
" Jangan pergi!! Kumohon!! Ayo kita pulang bersama! Jangan buat aku khwatir master! Ayo bangun!"
" Huk! Ugggh! Master! Bangun... Aku mohon bangunlah Hiks! Hiks!"
Hilang sudah martabat seorang pangeran yang sebentar lagi di nobatkan sebagai putra mahkota Air matanya jatuh untuk wanita yang baru ia kenal beberapa hari yang lalu, Matanya sembab, ia sesegukan menangisi wanita yang telah terkulai lemah dengan detak jantung yang menipis.
" Bangun!" Pekik pangeran mulai mengangkat tubuhnya di pelukannya. Ia menekan nekan perut Xitan , Tapi ternyata tak ada respon, Bahkan tubuh Xitan dingin bagai kan jasad tanpa roh. Pangeran histeris dan memeluknya makin erat seraya teriak menolak kepergiannya.
GYUUUUT! " Cepat lah sadar... Master" pangeran memeluk makin erat di iringi tumpah ruah air matanya hingga ia mulai lelah dan tergeletak di samping Xitan.
.
.
.
" Uhuk! Uhuk!" Xitan terbatuk. Tapi pangeran yang sedari tadi berusaha membangunkannya sudah terlalu letih karna berenang kesana kemari dan juga membangunkan Xitan.
" Uhuk, EKH!" Saat mata buram Xitan menyimak, Ia lihat wajah pangeran terlalu dekat dan tak bergerak, Xitanpun berusaha menjauhkannya dari tubuhnya yang saat itu terhimpit beratnya tubuh kekar sang pangeran.
Pria mesum!! Suara Xitan terdengar pasau saat kesadarannya perlahan membaik.
" Se... Sesak Uggh! " Ucap Xitan terengah dab marah...
- Efek racun The End-
BUKAN VIV 🤪🤪🤪🤪🤪