Kiran, gadis cantik yang selalu setia menemani kekasihnya dalam suka mau pun duka. Ia mampu berdiri di belakang kekasihnya yang bernama Devgan, seorang pria yang berprofesi sebagai pengamen. Karena Kiran ia mampu membuktikan kepada semua orang bahwa dirinya layak menjadi pendamping sang pujaan hati.
Suatu ketika, Devgan yang kerap dipanggil Dev itu berhasil menjadi orang terkenal dengan lagu-lagu yang diciptakannya, menjadi seorang penyanyi adalah impiannya sejak kecil. Tapi, disaat ia berhasil, pertahanan kesetiaannya mulai goyah karena ada seorang gadis yang selalu mengisi kesibukannya di dalam dunia hiburannya. Tanpa ia sadari bahwa itu hanyalah godaan dalam kariernya yang tengah melejit.
Lalu, mampukah Kiran mempertahankan kekasihnya itu? Atau malah pergi karena tak ingin menghancurkan nama baik kekasihnya yang tengah naik daun dengan kenyataan bahwa dirinya tengah mengandung benih yang dititipkan oleh kekasihnya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon febyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Syiha," ucap Kiran.
Ini kejutan untuk Kiran, pertemuan tak terduga ini membuatnya senang. Lalu, muncullah sosok Dev dari belakang. Kiran tak menyangka lelaki itu akan memberikan kejutan untuknya dengan cara mempertemukan dirinya dengan saudaranya.
Dan Syiha, melihat sosok anak laki-laki bersembunyi di balik tubuh kakaknya. Kiran mengangguk, seraya mengiyakan bahwa anak yang bersembunyi itu adalah keponakannya.
"Krish," panggil Kiran, dia menarik tangan bocah itu dan menempatkannya di hadapannya. Menyentuh kedua bahu anaknya dan mencondongkan kepala sambil berbisik.
"Itu, Aunty." Krish mendongakkan wajah, dan ibunya tersenyum padanya.
"Kakak." Syiha menghampiri dan langsung memeluk kakaknya itu. "Apa dia anakmu?" tanya Syiha kemudian.
"Iya," jawab Kiran. "Krish, kenalkan. Ini Aunty, adik Mommy."
"Lucu sekali, sepertinya tidak jauh dari Sanju ya?" kata Syiha.
"Sanju?" ulang Kiran, dia sampai melupakan gadis kecil yang berdiri di dekat seorang pria asing.
"Ya, Sanju. Itu putriku," ujar Syiha. "Dan itu suamiku," sambungnya.
Kiran menatap adiknya juga adik iparnya, tanpa terasa dia malah menitikkan air mata. Dia memikirkan hidupnya, adiknya yang penurut hidup bahagia bersama keluarganya. Tentu kehidupan mereka mendapatkan restu dari orang tuanya, sedangkan dia? Jauh dari kata layak, dia berjuang membesarkan putranya seorang diri.
"Bagaimana kabar ayah?" tanya Kiran kemudian.
"Baik, Kapan Kakak akan menemuinya?" tanya Syiha.
"Ayah pasti marah padaku, apa ayah akan memaafkanku?" Kiran sendiri ragu dan takut, dia sudah dikeluarkan dari daftar keluarga. Itu artinya, ayahnya tak menganggapnya lagi sebagai anak.
"Maafkan aku, ini semua salahku," sahut Dev dari belakang. Dia ikut berkumpul dan berada di tengah-tengah, lalu memangku Krish. Bocah itu kebingungan karena tidak tahu apa-apa.
***
Akhirnya, semua berkumpul di ruang tamu. Setelah berbincang cukup lama mereka semua sepakat untuk mengadakan pertemuan. Kiran akan menemui orang tuanya, dan Dev akan meminta restu.
Tak menunggu lama lagi, Kiran dan Syiha bersiap-siap. Tentu juga dengan yang lainnya mereka semua ikut, termasuk Sunil.
"Daddy, apa Kakek akan menyambutku?" tanya Krish.
"Tentu, dia pasti senang karena kau keturunan laki-laki satu-satunya, bukan begitu, Kiran?" tanya Dev.
Kiran tak menjawab, dia fokus berjalan menuju mobil. Hatinya gamang, dia takut ayahnya masih marah padanya. Karena hanya dia yang selalu membangkang, dia juga sudah mencoreng nama keluarga.
Langkah Kiran terhenti kalau Dev mencekal lengannya, dia memberi wanita itu kekuatan. Jika orang tuanya masih marah, ada dirinya yang selalu menemani. Suka atau tidak atau bahkan tidak ada restu pun Dev akan menikahinya.
"Semuanya akan baik-baik saja, percaya padaku," kata Dev.
Kiran hanya tersenyum tipis, semoga saja seperti itu, pikirnya.
***
Tanpa terasa, perjalanan yang hampir memakan satu setengah jam itu, mereka pun sampai di kediaman Mohan. Rumah bercat putih itu tak kalah bagus dari rumah Dev yang dia siapkan untuk keluarganya.
Kiran menatap rumah megah itu, terakhir dia melihatnya lima tahun silam. Di mana dia mendapatkan pengusiran dari orang tuanya sendiri.
"Ayo, Kak," ajak Syiha.
Kiran menahan tubuhnya, dia tak berani menginjakkan kaki tanpa izin dari ayahnya. Dia malah takut, ingat betul kemaraha ayahnya waktu itu.
Dev segera menghampiri, dia menggenggam tangan kekasihnya. Dia menguatkan bahwa Kiran tak sendiri, hidupnya sudah berbeda. Meski orang tuanya membencinya, dia akan menghidupi Kiran dengan layak, bahkan akan membawanya pergi jauh.
Syiha kembali mengajak kakaknya. "Ayo, Kak. Ayah pasti senang bertemu denganmu." Dia menarik tangan kakaknya untuk segera masuk.
"Ayah, ibu. Lihat, siapa yang datang?" teriak Syiha dari lantai bawah.
"Ada apa, Syiha? Kenapa teriak-teriak?" tanya Gauri dari arah dapur. Wanita paruh baya itu terdiam saat melihat sosok anak sulungnya yang pergi sejak lima tahun silam. Matanya berkaca-kaca, ibu mana yang tidak merindukan putrinya?
"Kiran," lirih Gauri.
"Ibu." Kiran menghampiri dan segera menyentuh kaki ibunya, lalu menciumnya.
Namun, keharuan itu terhenti saat seseorang turun dari tangga. Dengan angkuhnya orang itu berjalan. Dia adalah Mohan, orang yang paling disegani di rumah itu. Tidak ada yang bisa membantahnya termasuk istrinya sendiri.
"Masih berani datang ke sini setelah membuat malu keluarga? Apa yang kamu banggakan jika hidup bersamanya?" tanya Mohan.
Lelaki itu tidak tahu bagaimana perjuangan putrinya untuk hidup. Yang dia tahu anaknya menjadi seorang wanita murahan yang mau ditiduri oleh laki-laki yang tidak jelas.
"Ayah, maafkan aku," kata Kiran. Dengan cepat dia menghampiri.
"Stop di situ, kau bukan lagi putriku! Aku tidak punya anak pembangkang!" sergah Mohan.
Dev tidak menyangka kalau orang tua Kiran setega ini. Dia pun akhirnya ikut menghampiri, dan langsung merangkul kekasihnya.
"Wah-wah, pria ini yang kamu banggakan? Pergi dari sini!" usir nya kemudian.
"Ayah, ku mohon maafkan aku," kata Kiran lagi.
"Pergilah, aku tidak sudi melihatmu di sini!" usir Mohan untuk yang kedua kalinya.
"Kakek," panggil Krish kemudian. Bocah itu berharap setelah melihat keberadaannya hati pria tua itu akan luluh.
Namun, sepertinya Mohan benar-benar tidak peduli. Dia menatap bocah itu dengan angkuh. Lalu segera pergi kembali menaiki anak tangga.
Kiran sangat kecewa, dan dia pun segera pergi mengajak Krish juga Dev dari rumah orang tuanya.
"Kiran," panggil ibunya.
Kiran hanya menoleh sekilas, untuk apa dia datang? Dia sudah tidak dianggap anak oleh ayahnya sendiri. Kiran pun akhirnya benar-benar pergi.
____
Rekomendasi hari ini 🥰🥰
Jangan lupa mampir ya.
kiran anak orang kaya, hidup miskin dan jadi pelayan.
Kriss anak orang terkenal, cucu orang kaya. tapi mau makan sepotong daging saja tak tersampaikan.
Thoor pertemukan Dev dengan Kiran.
kebahagiaan mereka di ujung jari mu thoor.
semangat terus dan sukses bikin aku mewek trus mbak Febyanti