"Aku pergi, Xander. Kuharap kamu akan baik-baik saja." ~ Tania Maharani
"Pergilah! Jangan pernah menampakkan dirimu lagi di hadapanku! Aku sangat membencimu! ~ Alexander Vincent Pramono
Rumah tangga harmonis yang diharapkan langgeng hingga maut memisahkan rupanya hanya angan belaka. Tania harus pergi meninggalkan suami tercinta dalam keadaan hamil.
Lantas, bagaimana kehidupan Tania setelah resmi berpisah dari Xander? Akankah Arsenio menerima Xander sebagai ayahnya setelah mengetahui pria itu akan menikah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja_90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Abraham
Suara bariton seorang pria membuat keringat dingin mulai ke peremukaan pori, telapak tangan basah disertai jantung yang memompa semakin kencang dari biasanya. Hanya dari suaranya saja Tania dapat mengetahui siapakah pria yang tanpa sengaja menabraknya.
Tak ingin mengingat kembali masa lalu kelam yang akan membuat dadanya sesak, Tania memutuskan melangkah begitu saja tanpa mengucap sepatah kata pun. Ia belum siap atau bahkan mungkin tidak akan pernah siap bertemu kembali dengan seseorang yang dulu pernah tidur satu ranjang dengannya.
Abraham menatap kepergian wanita itu dengan tatapan penuh tanda tanya. Sempat terbesit dalam hati, siapa wanita itu? Kenapa dia pergi begitu saja? Apakah wanita itu marah karena tanpa sengaja menabraknya?
Akhirnya Abraham menggendikan bahu. "Dasar wanita aneh!" ujar pria itu. Ia hendak mengayunkan kaki menuju smoking area, mencoba mengenyahkan pikiran yang selama ini terus hadir dalam benaknya. Namun, saat kaki Abraham melangkah, ekor mata pria itu tanpa sengaja melihat dompet tergeletak begitu saja di lantai.
Abraham membungkukan sedikit badan, kemudian mengulurkan tangan ke depan, meraih benda tersebut. Ia membawa dompet terbuat dari kulit asli, lalu membukanya. "Tania? Jadi, wanita itu adalah Tania Maharani, mantan istri Xander."
"Fuuck! Kenapa aku bisa enggak mengenali Tania, mantan istri sepupuku sendiri?" umpat Abraham seraya berlari menyusul Tania.
Pria itu berlari di antara banyaknya para pelayan yang lalu lalang mengantarkan pesanan. Suasana ramai, hiruk pikuk bisingnya restoran tak menyurutkan niatan Abraham untuk mengembalikan dompet milik Tania.
Sementara itu, Tania baru saja tiba di gazebo, tempat ia serta anak tercinta menghabiskan waktu bersama saat akhir pekan. Napas terengah sebab ia mengambil langkah seribu saat untuk menghindari Abraham.
"Mama kenapa? Apa ada orang yang mau menyakiti Mama?" tanya Arsenio sambari meletakkan boneka jerapah pemerian Ayra.
Dengan sedikit kasar, Tania menghempaskan tubuhnya di tempatnya semula. Ia menghirup napas sebanyak-banyaknya guna mengisi pasokan oksigen di dalam paru-paru. "Mama baik-baik aja, Sayang. Jangan khawatir!" balas wanita itu. Tangan melambai ke hadapan Arsenio menyakinkan sang anak jika tak ada orang yang hendak berbuat jahat kepadanya.
Akan tetapi, Arsenio belum percaya begitu saja. Lantas, bocah kecil itu berdiri kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling memastikan sendiri kalau Tania dalam keadaan baik-baik saja.
"Sekarang udah percaya, 'kan, kalau Mama enggak kenapa-kenapa?" ujar Tania setelah ia dapat mengatur napas. Detak jantung wanita itu pun mulai beraturan jika dibandingkan tadi.
Menghela napas kasar. "Iya, aku percaya. Tapi kalau ada orang jahat yang berani menyakiti Mama, akan kupukul orang itu sama seperti saat aku memukul Haikal karena berani menghinaku," ucap Arsenio.
Saat Tania tengah menenangkan diri, sekelebat kejadian yang baru dialami kembali muncul ke permukaan. Terlonjak kaget hingga tanpa sadar menggebrak meja. "Surti, segera kemasi mainan Arsenio. Kita pergi dari sini, sekarang!" titahnya kepada pengasuh sang anak.
"Loh, emangnya kenapa, Bu? Bukannya Den Arsen baru saja selesai makan." Surti masih belum mengetahui alasan dibalik perintah yang diucapkan Tania kepadanya.
Tania mendengkus kesal. "Jangan banyak bicara! Lekas kemasi semuanya!"
Mendengar nada suara sang majikan yang terkesan tidak biasanya, Surti tanpa banyak membantah bergegas memasukan semua mainan Arsenio yang sempat dikeluarkan dari dalam tas ransel. Tak membutuhkan waktu lama wanita itu sukses menjalankan tugas dari Tania dengan sangat baik.
"Semuanya sudah rapi, Bu!" ucap Surti mantap.
***
Tania sudah bersiap meninggalkan restoran itu, tapi sebelum pergi ia melakukan transaksi pembayaran terlebih dulu. Namun, rupanya bukan hanya dia saja yang ingin membayar di kasir melainkan empat orang mengantri membentuk barisan panjang.
"Sial, seharusnya tadi saat masih sepi aku datang ke kasir dan membayar semua pesanan bukan malah berlama-lama di toilet," gerutu Tania menyesali tindakannya.
Perjuangan Tania membuahkan hasil. Kini ia berdiri di hadapan kasir yang sedang menghitung pesanan Tania. Akan tetapi, saat wanita itu mau membayar rupanya dompet ibu kandung Arsenio tak ada di tas.
"Oh Tuhan, bencana apa lagi yang menimpaku? Kenapa dompetku tidak ada di dalam sini?" Tania masih tampak sibuk mencari keberadaan dompet miliknya, tapi sayang benda tersebut tetap tak ditemukan.
Di saat Tania tengah sibuk mencari dompet, seorang pria menyodorkan uang lembaran ratusan ribu rupiah sebanyak tiga lembar kepada kasir. "Gunakan saja uang ini dan kalau ada kembaliannya, masukan ke dalam kotak infaq," tutur pria itu.
Detik itu juga tubuh Tania terasa seperti dilempar ke jurang yang sangat dalam. Lagi dan lagi suara pria itu kembali terdengar di telinga sang wanita.
Hendak meninggalkan antrian dan menemui anak serta Surti yang sedang duduk di kursi tunggu, tangan kekar pria itu lebih dulu mencekal lengan Tania. "Kamu enggak bisa kabur begitu aja dari aku, Tania Maharani."
Tania terdiam seketika. Tidak tahu harus merespon apa saat Abraham berhasil menemukannya. Pikiran wanita itu kosong, mulut bungkam dan lidah pun terasa kelu.
Abraham menarik tangan Tania menjauhi antrian, lalu membawa wanita itu ke tempat yang cukup sepi. "Kenapa menghindari aku? Apa kamu masih marah atas kejadian lima tahun lalu?" cecar pria itu penuh selidik. Matanya yang tajam memicing kepada wanita cantik di sebelahnya.
Tania menepis tangan kekar itu dengan kasar. "Jangan terlalu percaya diri! Aku enggak bermaksud menghindari kamu kok," elaknya. Mana mungkin ia mengatakan jika sebenarnya wanita itu memang menghindari Abraham karena tidak mau berurusan lagi dengan keluarga Pramono. Sudah cukup tersakiti atas hinaan yang diucapkan oleh Miranda dan juga Xander, mantan suaminya.
Abraham menyeringai sinis. "Enggak bermaksud menghindar, lalu kenapa tadi kamu lari dariku seakan melihat setan di siang bolong."
"Hah? Aku, berlari dari kamu? Hoo ... enggak mungkin. Paling itu cuma perasaanmu saja." Tania memalingkan wajah ke arah lain, kedua tangan melipat di depan dada.
Abraham mengangkat alisnya dan menghujamkan tatapan tajam kepada Tania. "Terserah apa katamu. Namun, aku ingin tahu sejak kapan kamu kembali ke Jakarta? Bukankah lima tahun lalu kamu pergi meninggalkan kota ini?"
Mantan istri Xander mengalihkan perhatian pada sosok pria di hadapannya, memandang lekat pemilik iris coklat yang pernah tidur di sebelahnya. "Bukan urusanmu! Mau aku kembali ke kota ini atau tidak, kamu enggak berhak tahu!"
Habis sudah kesabaran Abraham. Ada perasaan sedih dan bahagia dalam waktu bersamaan. Sedih karena kepingan kejadian di masa lalu kembali menari indah di pelupuk mata. Kejadian di mana semua orang menatap hina kepada Tania karena perempuan yang berstatuskan istri orang tengah tidur satu ranjang dengan pria lain. Di satu sisi ia pun bahagia sebab setelah sekian lama akhirnya bertemu lagi dengan si pencuri hati.
.
.
.
Halo semua, sambil nunggu karya ini update, yuk kepoin karya punya teman author. Judul dan nama pena ada di bawah sini. 👇