Riko Permana, demi gadis yang dicintainya, rela meninggalkan cita-cita menjadi seorang polisi. Melepas beasiswa yang diberikan negara. Ia mundur, sengaja mengalah. Sengaja membiarkan nilainya menjadi buruk demi memuluskan jalan calon kakak iparnya.
Profesor pembimbing kecewa dan ia merasa bersalah. Hanya satu yg membuat ia bahagia: bisa menikah dengan wanita yang sangat dicintainya.
Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Dirumah mertua ia diperlakukan layaknya budak, dihina dan dipermalukan. Istri yang dicintai tidak membela malah ikut merendahkan.
Puncaknya adalah ketika ia mengetahui bahwa sang istri berselingkuh secara terang-terangan di hadapannya.
Pria yang menertawakan kebodohannya sendiri. Istri yang selama satu tahun pernikahan tidak mau disentuh, kenapa dia tidak sadar sama sekali?
"Cukup sudah! Seluruh cintaku sudah habis. Aku akan tunjukkan pada semua, aku bukan orang yang bisa mereka hina begitu saja. Mereka yang telah menghinaku, akan bertekuk lutut di hadapanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Keadilan Menemukan Jalannya
.
Senyum kemenangan terpatri di wajah Riko, tak ada keraguan dalam hatinya. Ini bukan hanya balas dendam, tapi juga jalan menegakkan keadilan. Namun, ia jujur. Melihat keluarga Darmawan menderita, entah mengapa memberikan kepuasan tersendiri. Ia ingin segera melanjutkan ke tahap berikutnya.
Tak ingin bersusah payah turun tangan seorang diri, Riko mempercayakan langkah selanjutnya kepada orang yang benar-benar ia percaya, seseorang yang memiliki integritas tinggi, Doni.
*
Riko dan Doni duduk berhadapan di sebuah kedai kopi sederhana di pinggiran kota. Aroma kopi yang harum menguar di udara, sedikit mengusir ketegangan yang menyelimuti mereka.
"Doni, ada tugas penting untuk mu," ucap Riko dengan nada serius.
Doni menatap Riko dengan tatapan lembut namun penuh kewaspadaan. Ia tahu bahwa Riko tidak akan menghubunginya jika tidak ada hal yang sangat mendesak.
"Apa yang bisa saya lakukan, Pak Riko?" tanya Doni.
Riko mengeluarkan sebuah amplop coklat dari tasnya dan menyerahkannya kepada Doni. Amplop itu berisi semua bukti korupsi Bagas Darmawan yang berhasil ia kumpulkan sejak beberapa bulan yang lalu.
"Serahkan amplop ini kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)," ucap Riko. "Pastikan amplop ini sampai ke tangan yang tepat."
Doni menerima amplop itu dengan hati-hati. Ia tahu bahwa tugas ini sangat berbahaya, namun ia tidak bisa menolak permintaan Riko.
"Saya akan melakukannya, Pak Riko," ucap Doni tegas, tanpa berani bertanya.
Beberapa hari kemudian, sebuah amplop coklat misterius tiba di meja seorang penyidik KPK. Amplop itu berisi dokumen-dokumen yang sangat rinci dan akurat tentang korupsi yang dilakukan oleh Bagas Darmawan.
KPK yang selama beberapa hari melakukan penyelidikan terhadap Bagas, seperti mendapatkan bonus dan angin segar dengan datangnya amplop itu. Akhirnya mereka tak perlu bersusah payah mencari. KPK akhirnya membawa Bagas ke pengadilan.
.
Di kediaman keluarga Darmawan.
Heri Darmawan, yang baru saja mendengar berita dari pengacaranya bahwa Bagas akan disidang, mengamuk di ruang keluarga. Ia membanting semua barang yang ada di sekitarnya, melampiaskan amarah dan frustrasinya. Apalagi saat pengacara mengatakan bahwa bukti suap yang telah ia lakukan juga telah sampai di meja KPK.
"Sialan! Siapa yang telah berani berkhianat padaku?!" teriak Heri Darmawan histeris.
“Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya Nyonya Ratna, dengan wajah pucat pasi.
"Mantan pelayan itu! Apa benar dia pelakunya?” tanya Tuan Heri Darmawan mengingat apa yang diceritakan oleh nyonya Ratna tentang kejadian ketika di toko perhiasan. “Apa dia ingin membalas dendam atas perlakuan kita di masa lalu? Tapi bagaimana caranya dia mendapatkan informasi tentang semua itu?"
Nyonya Ratna terdiam membisu. Heri Darmawan benar. Riko adalah satu-satunya orang yang memiliki motif untuk menjatuhkan keluarga mereka. Tapi, apa benar Riko memiliki kemampuan untuk melakukan semua itu?
Sebulan Kemudian
Sidang kasus korupsi Bagas Darmawan digelar di sebuah ruang sidang yang penuh sesak. Para wartawan dan pengunjung saling berdesakan untuk menyaksikan jalannya persidangan.
Bagas Darmawan duduk di kursi pesakitan, wajahnya pucat pasi dan kedua tangannya terborgol. Ia terlihat sangat gugup dan ketakutan.
Di kursi saksi, beberapa orang saksi memberikan kesaksian yang memberatkan Bagas. Mereka menceritakan secara rinci tentang bagaimana Bagas menerima suap dari para pengusaha dan memanipulasi proyek-proyek untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
Heri Darmawan, yang juga didakwa atas tuduhan korupsi dan suap untuk meloloskan Bagas ke akademi kepolisian, duduk di samping putranya. Ia juga terlihat sangat tertekan. Raut wajahnya penuh dengan kemarahan yang tak bisa ia lampiaskan.
Setelah mendengarkan kesaksian para saksi dan memeriksa bukti-bukti yang diajukan oleh jaksa penuntut umum, hakim akhirnya memutuskan untuk menjatuhkan hukuman kepada Bagas Darmawan dan Heri Darmawan.
"Terdakwa Bagas Darmawan terbukti melakukan tindak pidana korupsi," ucap hakim dengan nada tegas. "Oleh karena itu, terdakwa dijatuhi hukuman penjara selama 10 tahun dan denda sebesar Rp 1 miliar."
"Terdakwa Heri Darmawan, terbukti melakukan tindak pidana ganda, korupsi dan juga suap," lanjut hakim. "Oleh karena itu, terdakwa dijatuhi hukuman penjara selama 15 tahun dan denda sebesar Rp 1 milyar 500 juta."
Bagas dan Heri Darmawan terpukul mendengar putusan hakim. Kini hidup mereka telah hancur selamanya.
“Mengapa bisa jadi seperti ini,” gumam tuan Heri. Semua kecurangan yang ia simpan rapi selama bertahun-tahun terbongkar dalam semalam. Skandal Bagas yang terbongkar, membongkar juga kebusukannya.
.
Di salah satu sudut ruang, Riko duduk menyaksikan dengan wajah tanpa ekspresi. Tanpa ia membalas dendam pun, karma telah menghampiri mereka. Dan itu adalah ke atas kejahatan mereka sendiri.
Pria yang kemudian berdiri dari duduknya, membetulkan letak kacamata hitamnya, kemudian melangkah meninggalkan tempat itu. Waktunya kembali ke kehidupan bersama SENTINEL untuk menjalankan tugas selanjutnya.
*
Ratna dan Laras.
Rumah mewah yang dulunya menjadi simbol kemegahan dan kekuasaan keluarga Darmawan kini tampak suram dan tak terawat. Mereka tak lagi memiliki uang sekedar untuk menggaji pembantu.
Halaman yang dulu dipenuhi bunga-bunga indah kini ditumbuhi rumput liar. Kolam renang yang dulu berkilauan kini kotor dan berlumut. Cat dinding yang dulu berkilau kini mengelupas dan kusam.
Di dalam rumah, Nyonya Ratna dan Laras duduk terdiam di ruang keluarga yang gelap dan pengap. Perabotan mewah telah dijual untuk membayar denda dan hutang. Mereka hanya memiliki beberapa perabot sederhana yang mereka gunakan sehari-hari.
"Kita benar-benar bangkrut," ucap Nyonya Ratna lirih, suaranya bergetar. "Semua yang kita miliki telah hilang."
Laras tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepala, menyembunyikan air mata yang mengalir di pipinya. Karirnya sebagai seorang model hancur berantakan. Tak ada lagi tawaran pekerjaan yang datang. Ia merasa malu dan tak berdaya.
Perusahaan milik Heri Darmawan juga mengalami nasib yang sama. Setelah skandal korupsi dan suap terungkap, para investor menarik dana mereka. Para karyawan menuntut keadilan. Hingga perusahaan itu akhirnya terpaksa dijual.
"Kita tidak punya apa-apa lagi," ucap Nyonya Ratna, suaranya penuh keputusasaan. "Bagaimana kita akan hidup sekarang?"
Laras mengangkat kepalanya dan menatap ibunya dengan tatapan kosong. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia merasa seperti berada di ujung jurang, tanpa ada harapan untuk selamat.
Cukupkah semua sampai di situ? Ternyata tidak. Pengadilan bahkan menyita rumah mereka, satu-satunya harta yang tersisa sebagai pengganti kerugian negara akibat korupsi yang dilakukan oleh Bagas dan Heri Darmawan. Rumah, mobil, apartemen, dan semua aset berharga lainnya disita oleh negara.
Nyonya Ratna dan Laras hanya bisa menyaksikan dengan hati hancur saat petugas pengadilan mengeluarkan barang-barang mereka dari rumah. Mereka merasa seperti kehilangan segalanya.
Setelah penyitaan selesai, Nyonya Ratna dan Laras terpaksa pergi dengan menyeret koper besar mereka.
“Kita mau ke mana sekarang, Laras?"
“Laras juga tidak tahu, Ma. Sementara kita cari hotel murah saja."
aduh.. kalo sampai terjadi apes berkali-kali si laras
ditambah emaknya model itu lagi
mungkin emaknya aja yg dijual 😅😅😅
🤭😁😁😁😄