Note :
JANGAN PLAGIAT ATAU TAMBAL SULAM!
INGAT AZAB
Carilah Rezeki yang halal dengan mencari ide sendiri.
_
_
Drama percintaan beda usia ✅
Novel yang nggak ada konfliknya ✅ (Tapi Bohong)
Hidup Marsha dan Jeremy berubah seratus delapan puluh derajat. Gara-gara sebuah pakaian berbentuk mirip kacamata alias kutang, mereka terjebak dalam sebuah pernikahan konyol yang sejatinya sudah direncanakan oleh nenek-nenek mereka.
Bagaimana bisa Jeremy seorang CEO tampan nan tajir harus menikahi gadis berumur sembilan belas tahun yang lebih pantas menjadi keponakannya?
"Nahasnya aku harus mengambil alih beban keluarga Tyaga" ~ Jeremy
cover by Tiadesign_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Tolong Diberi Rem
“Ah … kakak, terima kasih sudah datang.”
Marsha kegirangan, dia sengaja bertingkah berlebihan saat Jeremy datang ke rumahnya bersama cantika. Satu bucket bunga dan cokelat Jeremy serahkan dengan senyuman palsu. Marsha bahkan mencium bunga yang diberikan Jeremy itu sebelum berujar-
“Tidak wangi.”
Semua orang terbahak karena menganggap Marsha sedang melempar guyonan, padahal gadis itu sedang menyindir calon suaminya sendiri dan jelas hanya Jeremy lah yang tahu maksud sebenarnya.
Richie pun mempersilahkan Jeremy dan Cantika menuju ruang makan, di sana sudah ada beberapa anggota keluarga Tyaga seperti Sean dan Raiga. Keduanya juga lulus bersamaan dengan Marsha. Dua putra Daniel dan Ghea itu nampak duduk bersisian dan sudah menikmati hidangan.
“Oh … ya ke mana adikmu? Bukankah dia pulang hari ini?” tanya Nova ke Jeremy. Oma Marsha itu jelas tahu perihal kepulangan Rey dari Cantika - yang kini sedang sibuk mencicipi pudding lumut buatan Kimi.
“Dia masih jetlag dan istirahat di rumah,” jawab Jeremy. Dia lirik Marsha yang sibuk membuka bungkus cokelat darinya.
“Ckck … ikhlas nggak sih ngasihnya? Kenapa susah banget bukanya,” celoteh Marsha.
Jeremy yang berada di dekatnya pun menyambar cokelat itu dan membukanya dengan sangat mudah. Ingin rasanya dia jitak kepala Marsha jika tidak ada banyak orang di sana.
“Pelan-pelan makannya,” ucap Jeremy penuh perhatian. Sandiwara yang masih dia mainkan membuat Marsha tersenyum dengan sudut bibir. Hal itu terpantau oleh Raiga dan dia pun berbisik ke sang kakak yang duduk di sebelahnya.
“Sean, apa menurutmu Marsha cocok dengan kak Jeremy? Bukankah usia mereka terlalu jauh. Bagaimana kalau Marsha akhirnya hanya dipermainkan?”
“Hem … Marsha memang tidak cocok dengan Kak Jeremy, karena tidak ada manusia yang cocok dengannya,” jawab Sean datar terkesan dingin. Raiga pun menggigit sendoknya, sambil terus menatap wajah kakak kandungnya itu.
“Aku tahu di sekolah dia memiliki pacar, tapi kenapa dia mau menikah dengan kak Jeremuy?” gumam Raiga lagi.
“Berhentilah mengurusi kehidupan pribadi orang, lebih baik kamu fokus dengan ujian masuk perguruan tinggi.” Sean menasehati adiknya dengan sangat bijak, hingga Raiga geleng-geleng tak percaya. Entah dari siapa sikap dingin kakaknya ini diturunkan.
***
Makan malam syukuran kelulusan itu berlangsung cukup hangat, semua orang dewasa masih berbincang sedangkan Marsha sudah naik ke kamarnya pamit untuk tidur. Gadis itu menutup seluruh tubuh dengan selimut, dia tengkurap dan masih sibuk berbalas pesan dengan Andro.
[ Aku berpura-pura ngantuk agar bisa menjauh dari om Jerami dan nenek Cantik, mereka pasti sekarang sedang sibuk membicarakan konsep pernikahan]
Marsha mengirimkan pesan itu ke Andro, tak lama kekasihnya itu pun membalas dengan kalimat yang membuatnya tidak tenang.
[ Pernikahanmu pasti akan megah dan mewah, orangtuamu pasti akan menggelar pesta tujuh hari tujuh malam. Aku minder]
Marsha mencebik kesal. Ia yang sangat tergila-gila kepada Andro tidak terima dengan kerendahan diri kekasihnya itu. Marsha pun mengingatkan apa yang sudah menjadi kesepakatan di antara dirinya, Jeremy dan juga Mia.
[ Tenang saja! dengan menikah dengannya kita bisa bebas bertemu. Aku tidak akan putus denganmu, kita forever ]
Marsha tersenyum sendiri, dia gemas saat Andro mengirimkan sebuah pesan suara berisi kalimat cinta. Sampai tiba-tiba saja senyumnya sirna karena sebuah pesan masuk dari orang yang paling dia benci di seluruh dunia.
[ Masih online? Jangan berpura-pura sudah tidur! Aku tahu kamu pasti sedang pacarana sama si Andro ]
Marsha kesal, dia ingin membalas pesan itu dengan kalimat sindirian yang tak kalah tajam, tapi sayang pesan lanjutan dari Jeremy membuatnya terbungkam.
[ Besok omamu dan nenek ingin mencari cincin untuk pertunangan kita. Aku tidak bisa ikut karena ada rapat penting, jadi tolong mulutmu itu diberi rem agar tidak kebablasan ]
nanti tak pinjemin ke Orang tua ku....