NovelToon NovelToon
Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Status: tamat
Genre:Petualangan / Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Aliansi Pernikahan / Action / Pusaka Ajaib / Tamat
Popularitas:4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ebez

Sebelum mulai baca novel ini, baca dulu pendahulu dengan judul Babat Negeri Leluhur untuk mengetahui latar belakang cerita ini.



Panji Tejo Laksono, sang putra pertama dari Raja Panjalu Prabu Jitendrakara harus berjuang keras menyatukan kembali perpecahan di kalangan Istana Kadiri karena hasutan tahta yang meracuni pemikiran permaisuri kedua Raja Panjalu.


Intrik politik dalam istana, ketulusan hati dan tekad untuk memajukan negeri tercinta menjadi bumbu perjalanan cerita Panji Tejo Laksono dalam upaya membuktikan diri sebagai penerus yang mampu membawa kejayaan Panjalu setelah pemerintahan Prabu Jitendrakara.


Bagaimana kisah perjalanan cita dan cinta Panji Tejo Laksono dalam tampuk kekuasaan Kerajaan Panjalu setelah mendapat warisan Pedang Naga Api dari sang Ayah? Temukan jawabannya di setiap episode perjalanannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salah Paham

****

Pagi begitu cerah di langit wilayah Padepokan Bukit Biru. Meski mendung tebal masih menggelayut di angkasa, namun di bandingkan dengan semalam yang hujan deras, cuaca terasa lebih baik. Bunga bunga bermekaran di lereng Bukit Biru semakin membuat suasana indah begitu menyentuh hati, di tambah semilir angin yang berhembus perlahan.

Panji Tejo Laksono nampak tersenyum lebar sembari menggeliat dari tempat tidur nya. Kurang 3 hari lagi topo ngrame nya akan segera berakhir. Karena itu hari itu dia berencana melakukan perjalanan pulang ke Kadiri. Rasa rindu nya pada ibu dan ayah nya di istana Kotaraja Kadiri sebentar lagi akan terobati.

Sembari mengucek matanya, Panji Tejo Laksono beranjak dari tempat tidur nya. Dia segera membersihkan diri.

Usai mandi dan bersiap-siap, Panji Tejo Laksono mengemasi seluruh barang bawaan nya sebelum keluar dari kamar tidur nya untuk berkumpul bersama dengan Mpu Wanamarta dan Gayatri serta kawan kawan nya yang lain untuk sarapan pagi.

"Aku mengucapkan terima kasih atas keramahan yang di berikan oleh Padepokan Bukit Biru kepada ku dan kawan ku, Resi Jaladara.

Selepas ini aku berniat untuk pulang ke Kadiri", ujar Panji Tejo Laksono usai mereka menikmati hidangan pagi.

"Kalau begitu, aku hanya bisa mengucapkan selamat jalan pendekar muda. Padepokan Bukit Biru selamanya akan membuka pintu untuk mu. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih atas pertolongan mu tempo hari", balas Resi Jaladara, sang pimpinan Padepokan Bukit Biru dengan sopan.

"Sama sama Resi..

Mpu Wanamarta, aku titipkan pada mu kawan ku Wiropati. Ingat janji kita dua tahun lagi", Panji Tejo Laksono menoleh ke arah Mpu Wanamarta.

"Aku tidak akan pernah lupa Pendekar muda.. Dua tahun lagi, Wiropati akan menjadi pendekar yang punya nama di dunia persilatan", jawab Mpu Wanamarta dengan cepat.

"Kalau begitu aku pamit undur diri. Semuanya mohon jaga kesehatan, semoga Hyang Akarya Jagat selalu melindungi kita semua".

Usai berkata demikian, Panji Tejo Laksono langsung berdiri dari tempat duduknya diikuti oleh Gayatri. Dua orang itu segera berjalan menuju ke arah tempat tidur mereka, mengambil barang bawaan dan bergegas menuju ke arah kuda mereka yang tertambat di geladakan dekat kandang kuda.

Dengan sigap, kedua orang itu melompat ke atas punggung kuda mereka masing-masing. Sebelum menggebrak kudanya, Panji Tejo Laksono menganggukkan kepalanya pada segenap orang yang ada di sana lalu menepuk punggung kudanya menuju ke arah timur. Gayatri mengekor di belakangnya.

"Mereka berdua benar-benar pendekar muda yang berbakat, Wanamarta..

Masih muda tapi rendah hati meski memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi", ujar Resi Jaladara sambil menatap ke arah perginya Panji Tejo Laksono dan Gayatri.

"Ada satu hal yang tidak bisa kau mengerti, Kakang Resi..

Pemuda itu bukan pendekar muda biasa. Dia mempunyai kedudukan penting dalam Istana Kadiri", jawab Mpu Wanamarta sembari tersenyum penuh arti.

"Hah? Apa kau serius Wanamarta?", kaget Resi Jaladara mendengar ucapan Mpu Wanamarta.

"Aku tidak tahu persis nya seperti apa, Kakang Resi..

Tapi dia menitipkan Wiropati padaku untuk aku didik menjadi prajurit Kadiri. Itu artinya dia mampu menata tempat untuk seseorang di dalam istana negara. Hanya orang yang memiliki kedudukan penting saja yang mampu melakukan itu semua", Mpu Wanamarta terus menatap ke arah Panji Tejo Laksono dan Gayatri yang semakin terlihat jauh. Tak berapa lama kemudian mereka berdua menghilang dari pandangan mata semua orang di tikungan jalan.

"Lantas kenapa kau rahasiakan itu semua dari ku Wanamarta? Tahu begini, pasti aku akan meminta tempat untuk putra ku juga..", ujar Resi Jaladara sambil membalikkan badannya.

"Hehehe..

Kakang Resi tenang saja, asal putra mu mampu, dua tahun lagi akan ku ajak dia untuk sowan ke Kadiri. Aku akan meminta Taji Lelono untuk menerima juga putra mu sebagai prajurit Panjalu bersama Wiropati", Mpu Wanamarta tersenyum tipis. Mendengar jawaban itu, Resi Jaladara manggut-manggut senang.

Panji Tejo Laksono dan Gayatri terus menggebrak kudanya menuju ke arah timur. Melewati beberapa wanua, mereka terus memacu kuda dengan kecepatan tinggi. Menjelang tengah hari, mereka telah sampai di kaki Bukit Penampihan yang merupakan wilayah Pakuwon Tanjung Anom yang merupakan tapal batas wilayah Kadipaten Kurawan dan Anjuk Ladang.

"Taji, sebaiknya kita berhenti sebentar..

Kuda kuda kita sudah capek berlari", ujar Gayatri sambil menunjuk ke arah mulut kudanya yang sedikit berbuih.

Mendengar perkataan itu, Panji Tejo Laksono langsung menarik tali kekang kudanya. Gayatri mengikutinya.

"Terimakasih Gayatri kau sudah mengingatkan ku.

Ayo kita beristirahat di sana saja", ujar Panji Tejo Laksono sembari menunjuk ke arah sebatang pohon rindang di samping sungai kecil yang di tumbuhi rumput yang tumbuh subur.

Dua orang itu segera melompat turun dari kudanya dan menuntun hewan tunggangan mereka untuk minum air sungai kecil yang jernih itu. Panji Tejo Laksono langsung mengikat tali kekang kudanya pada sebatang pohon perdu untuk memberi kesempatan kepada kuda nya makan rumput.

Perut mereka keroncongan karena matahari sudah tegak di atas kepala.

"Gayatri,

Sebaiknya kau tunggu disini. Aku akan mencari sesuatu yang bisa di makan sebentar", kata Panji Tejo Laksono sembari meletakkan barang bawaan nya di bawah pohon rindang itu. Gayatri mengangguk mengerti dan Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat kearah rimbun pepohonan yang tumbuh subur di kaki Bukit Penampihan.

Menggunakan ilmu meringankan tubuh nya, Panji Tejo Laksono melenting tinggi ke udara dan melompat dari satu dahan pohon ke pohon lainnya sembari mengamati situasi.

Setelah cukup lama berburu, tampak dua ekor ayam hutan nampak sedang asyik mematuk biji bijian yang jatuh di tanah tanpa menyadari bahwa sepasang mata Panji Tejo Laksono mengintai mereka. Diam diam Panji Tejo Laksono meraih dua ranting pohon dan mematahkan nya sembari terus mengawasi dua ekor ayam hutan itu. Lalu...

Shrrriinnnggg shhhrriinggg..

Keooookkkhh!!

Satu ayam hutan langsung tersungkur ke tanah sedangkan satu lagi masih bisa kabur meski ranting pohon yang di lemparkan Panji Tejo Laksono menembus tubuh nya.

Whuuussshh..

Secepat kilat, Panji Tejo Laksono melesat turun ke arah ayam hutan yang mati lantas memburu ke arah ayam hutan yang kabur.

Dalam dua tarikan nafas, Panji Tejo Laksono sudah mampu mengejar ayam hutan yang kabur itu. Namun sialnya si ayam hutan kembali terbang lagi dan jatuh di dekat sebuah telaga kecil yang berair jernih. Panji Tejo Laksono segera memburu ayam hutan itu lalu secepat kilat menangkap nya.

"Kena kau sekarang!!"

Panji Tejo Laksono tersenyum lebar sembari mengangkat ayam hutan yang masih meronta berusaha kabur itu. Namun saat Panji Tejo Laksono mendongak ke depan, sebuah pemandangan tak terduga tersaji di depan mata nya.

"Kyaaaaa....

Tolong ada lelaki cabul mengintip ku mandi! Tolong akuu..."

Seorang wanita muda yang sedang mandi di telaga kecil itu langsung berteriak keras dan segera menyambar bajunya. Dengan cepat dia memakai bajunya.

"Kau salah paham Nisanak. Aku tidak bermaksud mengintip mu", ujar Panji Tejo Laksono mencoba menjelaskan.

"Kau bohong!

Guru tolong aku! Ada lelaki cabul disini", teriak si perempuan muda itu tanpa peduli penjelasan dari Panji Tejo Laksono.

Tak berapa lama kemudian, tiga orang berpakaian putih dan hijau tua datang ke tempat itu. Seorang lelaki sepuh berjenggot panjang dengan tatapan mata tajam mendekati si gadis muda yang berteriak keras tadi.

"Palupi,

Apa yang terjadi? Kenapa kau berteriak keras seperti itu?", tanya lelaki sepuh itu segera.

"Guru,

Lelaki cabul itu mengintip ku mandi. Dia menodai kehormatan ku. Mohon guru tegakkan keadilan untuk ku", ujar gadis cantik bernama Palupi itu sembari menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono.

"Hei ini semua tidak benar. Ini salah paham saja...", belum sempat Panji Tejo Laksono menyelesaikan omongannya, seorang anak muda berkumis tipis melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari mengayunkan tangan nya.

Whuuthhh!!

Panji Tejo Laksono dengan gesit menghindar dari hantaman tangan si pemuda berkumis tipis itu sembari berucap lantang.

"Dengar dulu penjelasan ku, ini semua salah paham", Panji Tejo Laksono melompat mundur beberapa langkah.

"Kau sudah mengintip adik seperguruan ku, saat nya ku congkel matamu sebagai ucapan maaf mu!", sahut si pria berkumis tipis itu sembari melayangkan serangan bertubi-tubi kearah Panji Tejo Laksono.

Whhhhuuuuggghhh..

Plakkkk plllaaakkkkk..

Blllaaaaaarrr!!!!

Terpaksa Panji Tejo Laksono membela diri dari serangan pemuda berkumis tipis itu dengan menahan serangan tapaknya. Dua orang itu terdorong mundur sejauh 2 tombak.

'Kemampuan bocah ini hebat juga. Dia mampu mengimbangi permainan silat Madangkungan ', batin kakek tua itu sembari mengelus jenggotnya yang memutih.

Sedangkan Palupi dan seorang lelaki muda lainnya terus mengamati pertarungan sengit antara Panji Tejo Laksono dan lelaki berkumis tipis yang bernama Madangkungan itu.

10 jurus mereka lewati dan terlihat Madangkungan yang semula di atas angin terlihat mulai terdesak.

Madangkungan mengibaskan tangannya pada kepala Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda itu segera merunduk dan dengan cepat melayangkan serangan beruntun ke arah dada Madangkungan dengan keras.

Dhaaaasssshhh Dhhaaaassshhh!

Aaaarrrgggggghhhhh!!!

Tubuh Madangkungan terdorong mundur sejauh 2 tombak dan jatuh terduduk. Darah mengalir dari sudut bibir nya. Melihat itu, seorang lelaki di samping Palupi langsung mencabut pedang nya dan melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari membabatkan pedang nya.

Shreeeeettttthhh!!

Tenang saja Panji Tejo Laksono meladeni permainan pedang lawannya. Meskipun lawan memburu dengan serangan ganas dan mematikan, namun sang pangeran Panjalu itu tetap hanya mempertahankan diri saja.

5 jurus berlalu dengan cepat. Si lelaki bertubuh kekar itu menusukkan pedangnya ke arah leher Panji Tejo Laksono. Dengan cepat Panji Tejo Laksono menggeser tubuhnya sedikit, memutari bilah pedang dan menyentil tangan si pemuda kekar itu segera.

Cepllasshh..

Pedang terlepas dari genggaman tangan si pemuda kekar itu. Panji Tejo Laksono langsung melayangkan tendangan keras kearah perut si lawan.

Bhhhuuuuuuggggh..

Auuuggghhhhh!!!

Raungan kesakitan berbarengan dengan tubuh si pemuda kekar itu yang terpental ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras. Sedangkan Panji Tejo Laksono langsung menyambar gagang pedang yang terlepas itu dengan tangan kiri nya.

Madangkungan hendak melesat maju lagi namun teriakan keras kakek tua berjenggot panjang itu langsung menghentikan gerakannya.

"Cukup!

Kalian bukan lawannya. Percuma juga maju menghadapi nya", ujar kakek tua itu.

"Tapi Guru dia...", omongan Palupi segera di potong oleh kakek tua itu sembari menatap tajam ke Luh Jingga.

"Kau ini selalu mengedepankan amarah mu saja, Palupi. Dengarkan dulu penjelasan nya, baru boleh bertindak.

Anak muda,

Sekarang jelaskan pada ku apa yang sebenarnya terjadi?", kakek tua itu menoleh ke arah Panji Tejo Laksono.

"Maaf sebelumnya Kisanak..

Aku tidak sengaja sampai di tempat ini karena mengejar ayam hutan yang aku buru. Aku bersumpah atas nama Hyang Akarya Jagat bahwa aku tidak berniat mengintip murid mu yang sedang mandi ", Panji Tejo Laksono langsung mengangkat kedua ekor ayam hutan ke depan kakek tua itu.

Hemmmmmmm..

"Penjelasan mu masuk akal juga.. Ayam hutan itu masih mengeluarkan darah segar artinya dia benar benar baru mati. Aku percaya padamu", ujar kakek tua itu sembari mengelus jenggotnya.

"Terimakasih atas pengertian mu Kisanak. Karena masalah ini sudah selesai, aku mohon pamit dulu", Panji Tejo Laksono hendak melompat tapi kakek tua itu menghentikan gerakannya.

"Tunggu anak muda..

Melihat ilmu silat mu, kau berasal dari Padepokan Padas Putih. Siapa nama mu dan guru mu?", tanya kakek tua itu segera.

"Aku Taji Lelono..

Guru ku adalah salah satu sesepuh Padepokan Padas Putih yang sudah meninggal, Mpu Sakri. Apa aku sudah boleh pergi?", Panji Tejo Laksono menatap wajah sepuh lelaki tua berjanggut putih itu.

"Rupanya murid Si Tangan Api itu.. Berarti kau tidak menggunakan kemampuan beladiri mu sepenuh hati saat melawan dua murid ku tadi..

Mpu Sakri adalah tokoh sepuh yang sangat di hormati di dunia persilatan. Satu kehormatan bisa berjumpa dengan murid nya. Aku Mpu Hanggawira mengundang mu untuk mampir ke Padepokan Bukit Penampihan kami, anak muda..", ujar kakek tua sembari tersenyum tipis.

"Guru,

Kenapa kau malah mengundang si cabul itu ke padepokan? Harusnya kau menghajar nya karena sudah melecehkan ku", Palupi protes keras pada Mpu Hanggawira.

"Tutup mulut mu, Palupi..

Apa aku tidak pernah mengajari mu tata krama hingga berani meragukan omongan ku?", Mpu Hanggawira mendelik tajam ke arah Palupi Gadis cantik berbaju hijau muda itu langsung mengkerut melihat kekesalan di wajah sepuh Mpu Hanggawira.

Tak enak menolak undangan Mpu Hanggawira, Panji Tejo Laksono mengiyakan ajakan kakek tua itu. Mereka lalu berjalan keluar dari dalam hutan itu ke arah Gayatri yang sedang menunggu Panji Tejo Laksono di bawah pohon rindang.

"Taji, siapa mereka?", tanya Gayatri begitu Panji Tejo Laksono dan guru murid Padepokan Bukit Penampihan mendekati nya.

"Ini Mpu Hanggawira, salah satu sesepuh Padepokan Bukit Penampihan. Dia mengundang kita untuk mampir ke tempat nya.

Kami bertemu saat aku berburu ayam hutan ini", Panji Tejo Laksono menjelaskan. Meski sedikit heran dengan tingkah Palupi yang terlihat sebal dengan Panji Tejo Laksono, Gayatri memilih untuk tidak bertanya lebih jauh lagi. Mereka segera bergegas menuju ke Padepokan Bukit Penampihan yang ada di lereng sisi selatan.

Sebuah pemukiman kecil yang terdiri dari sebuah rumah besar, 2 rumah sedang dan puluhan rumah kecil berpagar kayu gelondongan sebesar paha orang dewasa menjadi markas Padepokan Bukit Penampihan.

Dua orang penjaga gerbang yang bertugas langsung menghormat pada Mpu Hanggawira dan murid murid nya saat mereka sampai di depan gerbang padepokan. Begitu pintu gerbang terbuka, mereka segera memasuki markas besar itu. Pemandangan indah tersaji di depan mata Panji Tejo Laksono dan Gayatri. Di belakang padepokan, nampak Bukit Penampihan menjulang tinggi berselimut hijau pepohonan hutan yang menutupi nya.

Di depan rumah paling besar, nampak puluhan murid Padepokan Bukit Penampihan sedang berlatih dengan penuh semangat.

Salah satu yang mencolok perhatian adalah seorang gadis cantik berbaju kuning kemerahan yang sedang bertarung melawan seorang lelaki bertubuh gempal.

Namun pertarungan tak seimbang itu berlangsung cepat. Gadis cantik berbaju kuning kemerahan itu segera memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras kearah kepala si lelaki kekar.

Dhasshhh...

Si lelaki bertubuh gempal itu langsung jatuh tersungkur dengan pipi membiru.

"Aku mengaku kalah, Nimas...", ujar si lelaki bertubuh gempal itu segera. Dia segera berjalan menepi.

Hemmmmmmm..

"Ayo siapa lagi yang ingin mencoba kemampuan silat ku?", si gadis berbaju kuning kemerahan itu mengedarkan pandangannya.

Mendengar perkataan itu, Palupi tersenyum licik karena sebuah pemikiran melintas di kepala nya. Dia masih belum terima dengan sikap Panji Tejo Laksono tadi. Dia segera menunjuk pada Panji Tejo Laksono yang baru saja turun dari kudanya.

"Kangmbok Luh Jingga,

Dia ingin mencoba"

1
Sint Uriel
adakah karya selanjutnya...?!?
Gd Jaya Official
bendera lima warna legenda xiao chen
Hadi Ghorib
ayo Baca ulang 🙏👍👍💪😍
Hadi Ghorib
balasan yang setimpal
Nggenk Topan
mantaapppp
Nggenk Topan
bukankah pedang tulang iblis dulu disimpan pangeran jayengrana setelah mengalahkan iblis bukit jerangkong?
Nggenk Topan
gumbrek gumbrek 🤣🤣
ardan
keren
Dian Adi Kurnianto
bagus sekali. semoga bisa menjadi sekaliber Sebastian F Tito.
iwakali
wah ternyata jual beli kucing udah ada dr jaman baheula ya
Ariema Aries
sangat menarik alur cerita bagus
iwakali
mantap thir
Hadi Irawan
cerita yg sangat bagus, alur cerita nya mantap dan sangat layak untuk dijadikan referensi dalam pembuatan film kolosal.
saya sangat tertarik dengan cerita yg bertemakan sejarah Nusantara, good job buat author
Joel
Luar biasa
Tegar Nagan
haha
Agen One: Mampir kak, judulnya Legenda pendekar 2 naga🙏
total 1 replies
Nunung Setiawan
Lumayan
Nunung Setiawan
Luar biasa
Mahayabank
/Good//Good//Good//Good//Good//Pray//Pray/
Mahayabank
Panjang sangad...tuh gelar.../Good//Good//Good/
Mahayabank
/Good//Good//Good/ The best
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!