Hanna seorang gadis indigo, terpaksa memainkan peran permainan hantu semacam bloody mary, demi mencari keberadaan raga teman baiknya dan sang guru yang tertinggal di camping bersama tanpa jejak.
Hanna dengan Ryan harus berkerja sama membantu dan mencari tahu, kenapa mereka diincar oleh arwah penasaran yang menginginkan jiwa mereka, akan tetapi melibatkan nenek tersayang Hanna hilang.
Hanna terpaksa memainkan permainan terkutuk melibatkan jin dan hantu, karena dua hal. Membantu kekasih Ryan yang hilang, dan mencari keberadaan sang nenek tersayang di waktu yang bersamaan.
Hanna dan Ryan, kembali berpetualang dengan berbagai banyak arwah negatif, sehingga akhirnya mereka mengetahui yang terjadi sebenarnya.
Yuks ikutin kisah Hanna!
Gift + Vote.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oktiyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAKAM ISMA
Ryan, tidak pernah menyangka di hari ulang tahunnya yang ke 23 tahun, membuat hatinya terkunci dan membenci kue ulang tahun. Isma sosok kakak yang ia sayangi, harus berakhir dengan tragis karena kecelakaan.
Tepat hari ke tujuh, Ryan hanya bisa meratapi makam Isma yang tak jauh dari rumah. Terlebih sang ibu tak bisa hadir, karena proses perijinan rumit di dubai ke indonesia.
"Ryan, lo yang sabar!" ucap Hanna.
"Di saat kaya gini, nyokap gue ga ada. Dia pikir semua bisa dengan uang, gue benci dengan keadaan seperti ini. Kakak gue harus pergi, apa seperti ini rasanya kehilangan. Bokap gue meninggal di saat gue umur 6 tahun, lalu gue sendirian."
"Allah swt, ada dia penolong sebaik baiknya. Kita berangkat sekarang! kita ke kampus, setelah kasih hasil skripsi, kita buka kotak bloody marry. Masih inget tugas dan amanat arwah itu kan? Maaf Ryan!"
"Soal arwah leher yang ikut gue di hutan, udah di bantu. Semoga beritanya cepat selesai hari ini. Hanya aja kita harus ke rumah arwah bapak tua, dengan perut yang berantakan. Entah kenapa kejadian itu, tepat dengan lokasi ka Isma. Apa dia yang sebab in ka Isma meninggal."
"Istighfar Ryan! takdir, dan sepertinya ada hal mistis yang kita harus pecahin. Sebab jalan itu seperti ada hal aneh." jelas Hanna.
Hanna dan Ryan saat ini pergi, ia meninggalkan makam ka Isma. Mereka berdua menuju kampus, guna memberikan skripsi. Entah kenapa, Siska, Jamet dan Tono akhir akhir ini menghindar. Hal itu membuat Hanna dan Ryan selalu pergi berdua, atau karena rumor yang kini terdengar sampai kampus, jika Hanna dan Ryan adalah penyebab kutukan bencana.
"Lihat deh, penyebab pak Yola hilang. Itukan yang namanya Hanna, ulah dia yang sok mistis. Jangan jangan dia anak dukun, tuh jadi bala ke kita. Awas aja, kalau ada yang berani deketin tuh anak, kita kasih pelajaran." ujar seseorang yang bergosip.
Ryan dan Hanna menatap tajam, kerap semua mata menatap ke arah mereka terlihat aneh, terutama menatap Hanna.
"Han, jangan di ambil hati, mau gue bungkam mulutnya?"
"Ryan, udah ah. Jangan terhasut, kita ke sini cuma mau kasih ini aja. Terus kita cabut, lo mau tau keadaan Mira kan."
"Ok, kalau itu mau lo. Hanna."
DI RUANG BK.
Hanna menunggu di ruang tunggu, sementara Ryan pergi ke toilet. Namun entah kenapa saat ini Hanna merasa aneh dan janggal, pada suasana kantor, salah satu ruang dosen mereka. Hanna tak sendiri ada beberapa murid lainnya yang ikut menunggu untuk bergantian memberikan skripsi.
Kegaduhan semakin menjadi-jadi. Hanna menutup telinganya.
"Berisik!" kesalnya. Suara langkah kaki terdengar, seketika kelas menjadi sunyi senyap. Pak Brody menatap murid murid, mereka yang lain, tetap tertib walaupun ia keluar sebentar dari kelas.
Hanna memutar bola matanya memalas, begitu munafiknya teman temannya Hanna ini, di ruang kelas ia memberikan ekspresi acuh dan menunjuk Hanna adalah gadis kutukan. Tak sedikit berbicara di ruangan ini ada anak dukun pembawa sial. Hanna melupakan dan mencoba menahan sabar saat itu.
Semuanya sudah lama menunggu, sebagian dari mereka memilih tidur, Pak Brodi masih setia mengawasi kelas lain dan belum kembali, hingga bau amis kembali tercium, Hanna menatap seisi kelas.
Sapu yang berada di belakang teman di ujung pintu jatuh dengan sendirinya, semuanya menatap ke arah sapu tersebut, kecuali Hanna yang menatap ke arah luar. Bulu kuduk mereka merinding, termasuk Pak Brodi yang baru saja datang, Pak Brody mengambil sapu yang jatuh tadi dan meletakkannya kembali ke tempatnya.
Mata Hanna masih setia menatap keluar jendela hingga sebuah bayangan terlintas, spontan Hanna diam tak bergerak. Ia yakin ia tak salah lihat. Belum sampai disitu, pintu yang tadinya tertutup terbuka dengan sendirinya, seperti ada yang mendorong pintu tersebut. Pak Brody yang kebetulan berada di samping pintu ikut terlonjak kaget.
"Angin?" pak Brodi.
"Apa ada angin kencang tadi?" tanya pak Brodi, menatap siswa lain.
"Siapa tadi?"
"Siapa?" teriak pak guru.
'Hantu?' batin Hanna, ingin sekali ia menjawab, tapi tidak semua percaya pada Hanna. Maka Hanna umpat dan simpan dalam hati.
"Siapa yang dorong?"
"Siapa?" teriak pak Brody, dan teman lain ikut terdiam bagai patung.
Hanna kembali melihat bayangan hitam, dengan sosok bergaun merah. Rambut menjutai dengan kepala yang bocor, mengeluarkan amis darah segar. Hal itu ingin sekali membuat Hanna pergi ke toilet. Rasa dari penciuman arwah tersebut mencoba mendekati Hanna dan meminta bantuan.
'Tolong aku! Hanna, aku tahu namamu. Aku tahu kamu bisa melihatku, aku tahu kamu bisa mendengarku...' nada suara Arwah bergema, hanya Hanna yang mendengar.
Wajah pucat Hanna terlihat aneh, kala pak Brody mendekat.
"Hanna, kamu sakit? kamu kenapa?" tanya guru.
Mual, pening itu yang Hanna rasakan kala arwah itu berusaha masuk dan mencoba berkomuniakasi.
"Jangan sekarang." lirih Hanna.
Terkejut pak brody. "Haah, apanya. Kamu bilang jangan sekarang? sentag pak guru, dengan tawa siswa lain ikut membuly.
Huuuuuuu!! teriak siswa lain.
"Ma-maf pak! saya ijin ke toilet, ini hasil skripsi saya." ucap Hanna, lalu ia pergi mencari toilet.
Sesampai Hanna di toilet, ia memuntahkan darah dengan belatung berwarna putih. Hal itu membuat Hanna semakin lemas, dan arwah wanita kepala bocor itu, mendekat dan menunjuk ke arah Hanna.
"Aaaaargh!" teriak Hanna, ia membungkuk dan menekan tengku lehernya. Memejamkan mata seolah Hanna, sudah berada di dimensi lain.
"Auuw, sakit sekali. Dimana aku?" lirih Hanna yang kebingungan dan takut. Kala tempat ini gelap, dan sangat menakutkan. Terlihat darah dari sebuah toilet yang membuat Hanna semakin takut.
Kenapa banjir darah? siapa kamu, perlihatkan apa yang bisa aku bantu. Teriak Hanna, dan hampir syok kala Hanna melihat adegan yang tragis di depan matanya. Seolah Hanna adalah korban, dan ia ikut merasakannya.
Tbc.