NovelToon NovelToon
Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:5.8M
Nilai: 4.7
Nama Author: Isma Wati

Delia adalah seorang pramugari di sebuah maskapai penerbangan di Indonesia. Hingga suatu ketika Delia dijadwalkan terbang bersama seorang pilot tampan idola para wanita, menggantikan rekannya yang berhalangan masuk, dan bertemu dengan seorang pilot tampan, yang digandrungi banyak pramugari.

Delia pikir kapten Abian adalah Captain ramah dan baik, nyatanya Captain itu sangat menyebalkan untuknya, membuat Delia begitu membenci pilot itu.

"Aku bersumpah, walau didunia ini laki-laki tersisa hanya dia, aku tak sudi jika harus berjodoh dengan laki-laki bermulut sambal sepertinya," gerutu Delia.

Namun Delia seperti termakan omongannya sendiri, dia yang tak sengaja bertemu mama Abian, dan wanita itu menjodohkan mereka berdua, Delia pun jatuh cinta pada pesona sang pilot.

Hingga saat Abian datang dan melamar Delia. Terungkap jika kematian ayahnya ada hubungannya dengan Abian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isma Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengunjungi Rumah Ayah.

Delia hanya menunduk saat telah sampai di pusara sang ayah, pusara yang telah dikukuhkan dengan tumpukan batu bata yang disemen itu terukir nama sang ayah yang diakhir namanya disematkan nama sang kakek. Tak ada gelar atau embel-embel apapun, karena memang ayahnya bukanlah laki-laki dengan lulusan pendidikan tinggi.

Ayahnya dimakamkan di tempat pemakaman keluarga, tak banyak makam disana, hanya ada sekitar sepuluh makam yang merupakan tetangga dekat dan saudara dari mama dan ayahnya yang sudah berpulang terlebih dahulu.

Banyak pohon-pohon besar yang melindungi dari sinar matahari, sebenarnya hari belum terlalu sore, namun, rimbunya dedaunan membuat tempat itu sedikit gelap. Delia tak berucap apapun, dia hanya mengaminkan doa sang mama dalam hati, sebab bibirnya tak mampu berkata apa-apa, jika dia mengeluarkan suara, yang terjadi hanyalah suara tangisnya yang terdengar, sebab itu, Delia memilih untuk diam. Mereka duduk bersimpuh dengan melipat kedua lutut, bertumpu pada telapak kaki. Hingga kemudian yang terdengar suara Denisa.

"Yah, sekarang kamar kak Delia udah jadi kamar Denisa, ayah nggak marah kan?, kan kak Delia udah jarang dirumah," Denisa mengadu pada ayahnya, "Kak Delia udah pulang nih yah," Denisa merangkul bahu Delia, membuat Delia menoleh pada Denisa sejenak, lalu kembali menunduk karena matanya sudah mengeluarkan embun yang siap tumpah.

"Payah nih anak kesayangan ayah, masa selama enam bulan baru bisa pulang," Delia terkekeh mendengar ucapan adiknya "Tapi nggak papa sih yah, kak Delia kirim uang terus tiap bulan, bisa bantu biaya kuliah Denisa. Denisa udah lulus tes sekolah kedokteran, celengan ayah kemarin udah Denisa bongkar, buat nambahin uang mama yang kurang. Ternyata sekolah kedokteran biayanya mahal yah, ayah ikhlas kan?" lalu hening, sepertinya Denisa menangis, membuat Delia mengangkat wajahnya, menoleh pada Denisa yang duduk disebelahnya, benar Denisa menangis, Delia menepuk pundak denisa pelan.

"Denisa rindu dibanding-bandingin sama kak Delia," suaranya terdengar bergetar "Kak Delia cuma sekolah sebentar, sekarang udah dapat gaji gede, bisa kirim uang buat makan kita, tapi Denisa janji yah, Denisa akan sekolah yang bener, dan buktiin sama ayah, kalau Denisa bisa sukses kayak kak Delia."

"Udah, ayah pasti bangga sama kalian bertiga, jangan keseringan curhat sama ayah, ayah sudah tenang disana," ucap sang mama.

Delia tersenyum, selalu bangga dengan mamanya, walau dulu sering sekali mamanya marah-marah, tapi kini hanya wanita cerewet inilah yang menjadi sumber kebahagiaan dan kekuatan Delia dan kedua adiknya.

Sesuai permintaan Denisa, Delia kini tidur bersama mamanya, dia telah terusir dari kamarnya sendiri, adiknya itu benar-benar tak mau mengalah, dulu waktu masih ada ayahnya, Denisa satu kamar dengan Dania, dia sering sekali protes pada ayahnya, Delia diberikan kamar sendiri, sedang dia tidur satu kamar dengan Dania.

"Laki-laki yang pulang sama kamu tadi siapa?" tanya mama, kini mereka sudah merebahkan diri dikasur siap untuk tidur.

"Dia pilot tempat Delia kerja Ma."

"Ganteng ya," puji mama "Kayaknya dia juga laki-laki yang baik."

"Biasa aja, laki-laki baik mana ada lepas dari tanggung jawab."

"Dia pesan sama Mama buat jagain kamu, dia juga bilang, kalau mau buktikan jika bukan dia yang menabrak ayah."

Delia terdiam.

"Jika terbukti bukan dia yang nabrak ayah, apa kamu akan memaafkan dia?" Tanya mama.

"Ngapain dia pesan-pesan begitu sama Mama, emangnya dia siapa?, soal dia terbukti bersalah atau nggak, nggak ada hubungannya lagi sama kita, Ma" Delia yang tadi terlentang memandangi langit-langit kamar berganti menghadap mamanya "Delia mau fokus sama kerjaan Delia aja, ayah menyekolahkan Delia agar Delia bisa jadi anak yang membanggakan buat ayah, Delia nggak mau memikirkan tentang laki-laki dulu."

Mama Delia tersenyum, mengambil selur rambut Delia, menyempatkan kebelakang telinganya "Rumah kita udah lama sepi, nggak terdengar suara anak bayi, lucu ya kalau ada suara tangis dan tawa anak bayi."

"Mama mau nikah lagi maksudnya?"

Mama tertawa "Kamu izinin?"

"Ma,"

Delia menjadi risau, jika memang mamanya mau menikah lagi, dia bingung harus mengizinkan atau tidak?, mamanya masih cantik, dan wajar jika harus menikah lagi, tapi Delia tak rela, jika cinta mamanya tak lagi untuk ayahnya.

"Emang masih ada yang mau sama Mama ya?, tapi kalo yang mau sama Mama kayak Abian, Mama nggak nolak."

"Ish, Mama apaan sih?" Delia mencebik, dia berbalik membelakangi mamanya.

"Kalo Mama dapat brondong Mama mau ya Delia, tapi yang kayak Abian" goda mamanya lagi.

Delia tak lagi menanggapi mamanya, dia mencoba memejamkan mata, namun yang terlintas malah bayi besarnya, ihhh nggak boleh, Delia tak boleh memikirkan laki-laki yang menjadi malaikat izroil buat ayahnya itu. Lagian bisa-bisanya mamanya tak marah pada Abian, padahal Abian lah yang menabrak ayahnya. Delia sedikit menyesali dia begitu mudah menerima Abian dalam hidupnya, tapi dia juga terpikirkan oleh mama Abian yang begitu baik padanya.

* * *

Abian yang diperbolehkan menumpang di tempat Rendy kini hanya bisa pasrah, saat dia hanya boleh tidur di sofa di ruang tamu, padahal ada dua kamar kosong dirumah itu, sebab adik dan orang tuanya sedang berlibur keluar kota, namun co-pilotnya itu malah dengan tega membiarkan dia tidur tersiksa di tempat sempit ini.

Abian merasa dia seperti suami yang ketahuan selingkuh, atau suami yang pulang malam hingga tak di bukakan pintu oleh istrinya. Astaga kenapa dia tidak memilih pulang saja?, tapi jika dia pulang, Abian tak tega melihat wajah kecewa mamanya, walau dia sudah mendapat bukti bahwa bukan dia pelakunya, setidaknya Abian bisa memanfaatkan keadaan ini, hanya dengan mamanya lah, nanti dia bisa mengajak Delia, Abian yakin, jika Delia tak akan tega menolak jika mamanya yang memintanya untuk datang.

Abian membuka ponselnya, menyesali tak memiliki foto Delia sama sekali, dan kini Delia juga memblokir nomornya, jadi dia tak bisa melihat foto profil gadis itu, baru sehari tak bertemu Delia Abian sudah sangat merasakan rindu yang begitu berat.

Sedang dikamarnya, Rendy sedang mentertawakan Abian, dia merasa berada satu level diatas Abian saat ini. Tak menyangka, kemarin dia yang merasa iri dengan kehidupan Abian, sekarang malah bersyukur, hidupnya tak sedrama percintaan Abian, roda itu cepat berputar.

Namun tak lama terdengar suara Abian yang terdengar seperti sedang menelepon seseorang.

"Iya Von."

"Kamu cantik sekali Von malam ini, apalagi jika sedang memakai seragam, tidak jauh berbeda dengan Delia. Baju tidur kamu seksi Von, aku suka."

Seketika dada Rendy kembali memanas, entah apa yang ada dipikiran Rendy, padahal dia dan Voni tak memiliki hubungan apa-apa, segera Rendy membuka pintu kamarnya, ingin tahu, apa Abian dan Voni benar-benar melakukan panggilan video, Rendy keluar kamarnya, tak tahu jika Abian berada disebalik tembok kamarnya dan dengan segera Abian masuk ke kamar Rendy, dan menguncinya dari dalam.

"Maaf Ren, aku nggak bisa jika harus tidur diluar," terdengar teriakan Abian dari dalam.

Rendy mengacak rambutnya kesal, Abian ternyata hanya mengerjainya, dan dia kenapa bisa tertipu?. Hanya mendengar nama Voni disebut, dia secara implusif ingin tahu yang Abian dan Voni lakukan, Rendy kembali merasa kalah dari Abian.

.

.

.

.

Disini sudah ada yang pulkam lom? *sebelum pulkam, cek-cek lagi ya, jangan sampai ada yang ketinggalan, sehat" Kalian semua, semoga selalu suka dengan setia part nya ...

Jangan lupa tinggalkan jejaknya 🤭🥰🥰*

1
Dina Zuraida
Luar biasa
Ken L
sama2 ga bisa tahan diri
Ken L
wjwkwm
Ken L
bagus ceritanya
Endah Lestary
Luar biasa
Santi Sukmawati
haha
Rafa Azka Malikha Irawan
Luar biasa
Nita Aja
suka banget
Agus Fitriyani91
Lumayan
Andini Dwi pertiwi
Luar biasa
Sonya Bererenwarin
omg
Sonya Bererenwarin
biaannn...modussss
Sonya Bererenwarin
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Sonya Bererenwarin
Luar biasa
Sonya Bererenwarin
rasaaaiiinnnn minum tuhhh kopi rasa garammm😂😂😂
Audrey Ayudya
Luar biasa
rama
ceritanya bagus dan menghibur
Linda Antikasari
Luar biasa
TongTji Tea
setujuuu papa...lope lopee deh sama papa
Anonymous
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!