“Aku tidak pernah tertarik dengan gaya kampungan mu itu, aku menikahi mu karena perusahan kakek. Siapa pun yang menikahi dirimu maka pria itu berhak menjadi penerus perusahan Wina Graha.” ucap Brian seraya memandang rendah wanita di balik daster biru tua itu.
Wulan bangkit dari lantai menatap ke arah Brian sambil mengepal kedua telapak tangannya.
“Aku berjanji akan menjatuhkan dirimu serendah rendahnya hingga kamu sendiri tidak bisa bangkit dari tempat kamu jatuh. Ini adalah sumpahku,” batin Wulan.
Ia akhirnya berlalu dari hadapan Brian dan Raya wanita selingkuhan suaminya itu.
Pernikahan membuat hidup Wulandari seperti dalam neraka, namun pernikahan itu pula yang membawa Wulandari pada seorang pria bernama Arkan Rafali. Sepupu suaminya yang mampu membuat hatinya merasakan manisnya cinta.
Di balik penderitaan Wulandari, ditengah rencana nya balas dendam, kisah cinta manisnya tumbuh bersama Arkan.
Penasaran dengan akhir kisah nya mereka. Yuk tongkrongin terus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-Ternyata Hanya Pura Pura-
Bip
Bip
Bip
Ponsel Brian terus berbunyi. Untuk mengangkat panggilan tersebut, Brian berjalan keluar dari kamar pasien menuju tangga darurat di ujung koridor rumah sakit tersebut. Ia tak ingin percakapannya di dengar oleh Wulan meskipun saat itu dia masih tertidur.
“Dimana?” tanya Brian.
“Saya masih di bawah di parkiran sebelah timur tuan. Saya mendapat laporan dari tim di lapangan barusan.”
“Gimana perkembangannya?” tanya Brian.
“Sepanjang malam mereka sudah mencari hingga ke seluruh dermaga, mereka juga sudah mengecek peti kemas di sekitar pelabuhan serta beberapa kapal telah di geledah tapi belum berhasil menemukan kakek itu,” lapor Farel si asisten kepercayaan Brian.
“Bodoh! Cari terus sampai dapat. Jika perlu cari kakek itu sampai ke dalam air. Bahkan jika ia telah mati, aku ingin melihat jasad nya ada di hadapanku secepatnya!” ujar Brian Marah.
“Akan saya usahakan lagi, pencarian kami akan perluas hingga ke sekitar pelabuhan. Anak buah dan beberapa aparat pelabuhan sudah kami kerahkan semua tuan,” ucap Farel.
“Ingat, segera temukan sebelum di temukan oleh polisi. Mengerti?” tegas Brian.
“Baik Tuan.”
“Oh ya tuan, sepertinya mobil pak Arkan baru saja memasuki parkiran Rumah sakit,” lapor Farel.
“Baiklah.”
Brian langsung berjalan kembali ke kamar Wulan.
Memasuki ruangan kamar elit itu, Wulan sudah bangun dari tidurnya.
“Kamu sudah bangun? Gimana perasaan kamu?” tanya Brian lemah lembut.
Wulan sedikit heran melihat sikap Brian pagi itu
“Aku sudah sembuh,” jawab Wulan kaku.
“Sudahlah jangan kaku seperti itu. Kamu mau minum? Aku ambilkan minuman,” ucap Brian kemudian meraih sebotol air mineral di atas nakas. Setelah membuka tutup botol, ia menyerahkan minuman itu ke tangan Wulan.
“Kenapa tiba tiba dia berubah baik? Apa yang dia inginkan sekarang?” batin Wulan penuh rasa curiga.
Dari posisi berbaring, Wulan kini berusaha untuk duduk bersandar pada sandaran ranjang. Saat itu juga Brian langsung sigap membantu Wulan.
“Aku baik baik saja tuan, seperti ini aku malah merasa nggak enak.”
“Kamu adalah istriku, siapa lagi yang akan mengurus kamu seperti ini hah?!”
Semakin Brian lembut semakin Wulan merinding. Ia yakin di dalam benak pria itu sedang merencanakan sesuatu.
Wulan berusaha merapihkan rambut nya terlihat kusut. Dengan jemarinya ia menguncir rambutnya ke arah belakang dengan menggunakan karet seadanya.
Brian tertegun menatap Wulan,
“Kamu jelek seperti itu, aku lebih menyukai rambutmu yang tergerai,” ucap Brian kemudian menarik karet itu dari rambut Wulan.
“Tuan,” protes Wulan.
“Sudah dua hari aku tidak keramas, rambutku terasa berminyak semua. Di kuncir seperti tadi akan jauh lebih baik,” jelas Wulan.
“Kamu pilih mana? Di kuncir atau?” Brian mendekatkan kepalanya ke arah Wulan. Ia mencium dahi Wulan.
“Apa yang dilakukannya, dia sudah gila?” batin wulan sambil berpaling menghindar dari cengkraman Brian.
“Mamu cemberut seperti itu bisa membuatku bergairah. Bagaimana jika kita melakukannya di sini?” ucap Brian kemudian memegang kepala Wulan. Karena wajah wanita itu terus menghindar darinya. Brian akhirnya bangkit kemudian mengekang tubuh Wulan, ia menahan Wulan agar tak menghindar darinya. Saat bibir mereka hendak bersentuhan, kemudian..
“Mas,” suara Arkan tiba tiba dari arah pintu.
“Haha, orang yang di tunggu akhirnya muncul juga,” batin Brian.
Brian berbalik badan menatap pria yang sebenarnya sudah beberapa menit berdiri dibalik pintu.
“Arkan, bukannya kamu akan terbang pagi ini?” tanya Brian.
“Dari sini aku akan langsung ke bandara,” jawab Arkan.
“Ada apa?” tanya Brian.
“Aku sudah tebak mas pasti ada disini. Aku ingin surat kuasa dari mas, sesuai nama yang tertera pada surat perjanjian kerja sama mas dengan PT Primayama. Tentu saja penanda tangan harus mas sendiri, namun karena aku yang mewakili mas, aku ingin melampirkan langsung surat kuasa dari mas,” jelas Arkan.
Brian terdiam.
“Aku menyuruhnya ke Bali agar tidak menghambat pencarian kakek. Kalau begini… kontrak ini sangat penting buat ku, sebaiknya aku tidak menyerahkan kontrak ini pada perwakilan siapa pun. Tapi nyawa kakek renta itu lebih penting sekarang….” batin Brian.
“Aku akan mengirim email nya saat kamu tiba di bali,” jawab Brian setelah pemikiran yang matang.
“Baiklah mas,” jawab Arkan.
Matanya menatap wanita yang kini sedang bersandar di pembaringan. Wanita yang secara harafiahnya adalah kakak iparnya. Wanita yang berat untuk dia tinggalkan saat ini.
“Aku berangkat dulu,” ucap Arkan kemudian berbalik badan hendak pergi dari situ.
“Arkan,” panggil Brian lagi.
“Iya mas?” sahut Arkan.
“Wulan ingin berlibur beberapa hari, kapal pesiar kita sudah kembali dari Thailand kan?” tanya Brian.
“Saya kurang tau persis mas, minggu kemaren teman teman arisan mama yang pakai. Seharusnya sekarang sudah di dermaga,” ujar Arkan.
“Sayang, mumpung kamu sakit kita akan gunakan kesempatan ini untuk bulan madu kita. Gimana?” tanya Brian pada Wulan.
“Mas, Wulan masih harus istirahat. Kondisinya belum pulih seratus persen, jika jalan jalan jauh apalagi di atas kapal, akan sulit untuknya beristirahat,” jawab Arkan.
“Ah, Arkan dia lebih khawatir kan dirimu, aku seharus nya tau kamu masih perlu istirahat. Tapi, aku hanya sedang tak sabaran ingin menjalin sebuah keluarga sungguhan dengan mu. Aku ingin menjadi suami yang sebenar benarnya untuk istriku,” ucap Brian yang memang sengaja ingin memanas manasi Brian.
“Saya pergi dulu mas,” pamit Arkan.
Ia segera berlalu dari ruangan itu. Perasaan nya sedikit teriris, ia tak rela melihat Wulan dan Brian saat itu. Bahkan untuk menyapa Wulan ia tak berani. Tak ada hak nya sedikitpun pada wanita itu.
“Padahal aku ke sini karena ingin pamitan dengan Wulan, ternyata mas Brian sedang menjaganya. Mas Brian juga berjanji akan menemukan kakek secepatnya. Dibandingkan diriku, mas Brian memang lebih memilik pengaruh yang kuat, dalam sekejap dia sudah mengumpulkan para petinggi kepolisian dan TNI untuk pencarian kakek. Bagus lah, Wulan tak perlu khawatirkan kakek lagi,” batin Arkan. Sambil terus berjalan menuju kendaraan. Batinnya terus bergejolak. Ia cemburu, ia sedih dan tak rela dengan pemandangan yang dilihatnya barusan.
Sepeninggal Arkan ruangan itu berubah menjadi tegang dan kaku. Brian menatap tajam mata Wulan.
“Haha, sekarang giliran kamu, kamu tau kalau dia menaruh perasaan kepada setiap wanita yang ada di dekat ku? Arkan cemburu dengan ku, dia menginginkan semua yang aku miliki. Selama ini dia sudah hidup sebagai bayang bayang diriku haha,” kelakar Brian dengan penuh kebanggan.
“Tuan, apa maksud tuan?” tanya Wulan tidak mengerti.
“Kamu lihat tatapan nya, ia tak rela melihat kita. Hahaha, ternyata sekarang dia sudah tergoda oleh diri mu juga.” Brian tertawa semakin menjadi. Matanya bahkan hampir mengeluarkan airmata karena tertawa.
“Kenapa tertawa seperti itu? Apa yang salah dengan mas Arkan?” tanya Wulan.
“Dahulu dia tergila gila dengan Sheila sahabat Soraya. Ternyata Sheila mendekati Arkan karena dia sepupuku. Setelah aku bersama Soraya dia begitu menginginkan Soraya. Dan sekarang diri mu! Tapi lihat lah dirimu, aku heran jika dia bisa tergoda dengan gaya kampung mu itu,” ejek Brian.
“Dan lihatlah rambut mu itu, mungkin jika di peras bisa menghasilkan satu liter minyak,” lanjut Brian sembari meraih tisu dari atas nakas kemudian melap kedua tangannya. “Cepat atau lambat dia pasti akan merebut perusahan dari tangan ku.”
“Cih,” dengan wajah jijik Brian pun bergegas menuju wastafel kemudian mencuci tangannya dengan sabun.
“Aku tau ada yang aneh, sikap baiknya ternyata hanya pura pura. Cih, aku bahkan lebih jijik dengan sikap sombong mu tuan Brian. Kamu sudah menjamah ratusan wanita yang sebenarnya hanya terlihat cantik dari pakaian mereka saja. Hati nurani mu lebih kotor dan busuk dibanding kan rambut berminyak ku!” batin Wulan.
.
.
.
TBC…