NovelToon NovelToon
My Boyfriend Is Daddy'S Friend

My Boyfriend Is Daddy'S Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Duda / Cintapertama
Popularitas:699
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Mencintai ayah sahabat sendiri adalah bencana yang Sintia nikmati setiap harinya. Bersama Arga, ia menemukan kedewasaan yang tidak ia dapatkan dari laki-laki lain. Tapi, menyembunyikan status "kekasih" dari Ara, sahabat terbaiknya, adalah beban yang semakin berat.
Keadaan semakin rumit saat pihak ketiga muncul dengan niat busuk untuk merusak hubungan mereka. Satu rahasia terbongkar, maka semua akan binasa. Sanggupkah Arga melindungi Sintia saat badai mulai datang menghantam komitmen rahasia mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Arga bertemu dengan Dokter Mutiara sebentar, dokter paruh baya itu menyarankan agar sekarang Arga bisa memulai sesi pemulihan Sintia dengan mengajaknya banyak ngobrol atau jalan-jalan sebentar disekitar taman Rumah sakit. Siapa tahu hal itu membuat Sintia lupa akan traumanya.

Arga sedang berada dikamar Sintia. Masih di sofa. Pria itu mengerjakan pekerjaan yang tadi belum selesai sembari mengamati Sintia yang masih setia dengan kanvas dan cat air. Gadis itu suka sekali menggambar.

"Kalau kamu capek, tidur!"

Sintia menoleh, ia menggeleng pelan.

"Belum ngantuk, Ga," jawabnya.

Suara derap langkah kaki nampak semakin mendekat ke arah kamar Sintia. Gadis itu meletakan cat air yang semula ia pegang, dan menutupi telinga juga memejamkan mata. Suara itu terus-menerus menggema ditelinga. Arga yang melihat itu membuka pintu. Mama dan Ara berdiri didepan. Tangan Ara nampak diudara seperti ingin mengetuk. Namun, keduluan Arga sudah muncul.

"Gimana kondisi Sintia, Ga?"

Nada Mama sangat khawatir, ada kegelisahan diraut muka Mama. Arga mereka diam ditempat dahulu. Arga masuk ke kamar lagi.

"Ada Mama sama Ara diluar. Kalo kamu enggak mau ketemu dulu aku bisa ngomong—"

"Anter Mama kesini sama Ara."

Sintia sudah lebih tenang, gadis itu mengatur nafas seperti yang diajarkan Dokter Mutiara tadi siang. Mama dan Ara masuk. Mereka berdua menitikkan air mata dan berjalan ke arah Sintia. Mereka bertiga akhirnya berpelukan.

Semoga dengan kehadiran Ara sama Mama kamu bikin kamu cepet pulih, ya. Batin Arga bersuara.

"Gimana keadaan kamu, Nak?" Itu suara Mama. Mata Mama memerah dan ada lingkaran hitam disekitar matanya. Sintia yang melihat itu mengusap kedua mata Mama sembari tangannya gemetar.

"Harusnya aku yang nanya. Mama nggak tidur sampai hitam begini."

Mama menggeleng, ia memeluk putri semata wayangnya itu dengan erat. Ia merasa dunia tidak adil untuk anaknya.

"Mama nggak papa. Sintia gimana disini? Nyaman?"

Sintia menggeleng kemudian mengangguk. "Kadang nyaman, kadang enggak. Tapi sejauh ini aku masih sering ngigau, Ma."

"Kamu yang sabar, ya. Kita semua disini akan selalu ada buat kamu."

Ucapan Mama membuat Sintia tenang. Ia menatap sahabatnya, Ara yang sejak tadi banyak diam. Tidak seperti biasa.

"Harusnya waktu itu gue bisa cegah lo biar lo nggak deket sama dia, Sin."

Sintia menegang, mendengar kata 'dia' saja sudah membuat gadis itu ketrigger. Arga yang melihat itu langsung membuka suara.

"Sintia, kamu dengerin aku?"

Mama menyentuh tangan Sintia yang tegang, mengusap pelan. Kemudian membisikkan kata-kata yang dirasa mungkin dapat menenangkan anaknya.

"Mama disini, Nak. Kamu jangan takut. Ada Arga, ada Ara, ada Mama. Ada dokter dan perawat yang bakal jagain kamu. Sekarang Sintia tarik nafas pelan-pelan terus bayangin kalau kamu lagi ada ditempat dimana kamu merasa nyaman."

Sintia menurut ia menarik nafas, dan membayangkan ada ditempat dimana ada dirinya dan kedua orang tuanya—Papa ada disana melihat Sintia sembari tersenyum.

"Bangkit, Nak. Papa akan selalu ada disetiap langkah, Sintia. Jangan lupa bahagia, ya. Semoga kamu sehat selalu."

Bayangan Papa makin lama makin pudar. Diganti dengan dinding kamar yang Sintia tempati saat ini. Gadis melihat Mama dihadapannya. Ia berhambur ke pelukan Mama sembari menangis.

"Ma, tadi aku lihat Papa."

Mama hanya mengangguk dan mengelus rambut putrinya itu.

Arga bernafas lega. Sintia akhirnya bisa mengontrol traumanya. Sedang Ara menunduk tidak berani berbuat apapun.

****

Kehadiran Mama membawa pengaruh besar pada progress pemulihan Sintia. Gadis itu tadi malam tidak mengigau sama sekali. Malah ia tidur nyenyak dipelukan Mama. Sarapan pagi ini juga lahap sekali disuapi oleh Mama. Arga tersenyum tipis melihatnya. Ikatan batin antara ibu dan anak tidak pernah salah.

Dokter Mutiara datang bersama dengan seorang perawat perempuan. Melihat Sintia yang lahap makan, dokter tersenyum.

"Syukurlah kamu udah makan. Gimana tadi malam nyenyak tidurnya? Ada yang bikin kamu nggak nyaman Sintia."

Sintia meminum air yang disodorkan oleh Mama, ia menatap Dokter Mutiara kemudian menjawab. "Nyenyak, Dok. Tapi setiap kali saya ingat pembahasan tentang..."

Sintia menggantung ucapannya. Dokter Mutiara paham pasiennya ini masih butuh waktu untuk berdamai dengan keadaan.

"Jangan terlalu dipaksakan. Senyaman kamu aja. Oh, ya per hari ini kamu boleh kalau mau jalan-jalan ke taman sekitar sini. Tapi ingat kalau ada yang bikin kamu ketrigger tarik nafas seperti yang saya ajarkan kemarin. Lalu yang lain bisa bantu untuk suggesti supaya Sintia tenang."

Dokter Mutiara tersenyum kemudian pamit untuk pergi.

****

Mama dan Ara pulang ke rumah karena jadwal mereka berkunjung sebenarnya sudah habis dari semalam tapi karena kehadiran Mama yang dirasa membantu Sintia untuk tenang. Maka dari itu Dokter Mutiara membolehkan sampai pagi. Dan sekarang hanya tinggal Arga dan Sintia. Arga mengajak Sintia jalan ke arah taman. Arga membawa sebuah tali, ia menyuruh Sintia memegang ujungnya begitupun dirinya sendiri. Walaupun tidak bisa menyentuh setidaknya ia tetap bisa menjaga Sintia.

"Inget kata Dokter Mutiara kalau ada yang bikin kamu nggak nyaman tarik nafas dan bilang sama aku."

Sintia mengangguk, gadis itu berjalan terlebih dahulu, Arga ada dibelakangnya berjarak 1m. Sintia berjalan pelan sembari menengok kanan kiri.

"Nggak ada siapa-siapa."

Seolah Arga tahu Sintia sedang memastikan aman. Gadis itu mengatur nafas, memegang tali dengan kencang. Dari arah berlawanan ada seorang pria yang berlari dan tanpa disengaja menabrak Sintia. Gadis itu langsung menunduk dan menutupi muka sembari menggeleng.

"Jangan... Jangan sentuh!" teriaknya.

Arga menarik tali yang masih dipegang oleh Sintia, ia berharap gadis itu masih sadar akan kehadirannya.

"Aku disini. Kamu aman. Tarik nafas pelan-pelan."

Sintia menurut ia menarik nafas pelan, dan melihat ke arah Arga. Pria itu ada disana ia langsung tersadar dan berdiri meski masih gemetar.

"Ga, aku takut," lirihnya.

Arga mengangguk. "Mau balik ke kamar?"

Sintia mengangguk pelan. Rasanya energinya terkuras habis karena kejadian tadi.

***

Gimana eps hari ini manteman??

1
Ekasari0702
kenapa lama sekali up nya
Nadhira Ramadhani: nanti malam insyaallah up kak🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!