Cinta karena harta akan musnah, karena rupa akan termakan usia.Tapi cinta karena Allah, akan kekal abadi sampai Jannah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurusysyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Es Krim Rasa Coklat
...______...
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
Setelah berhenti sebentar di masjid untuk menjalankan sholat maghrib kini Dimas benar-benar berhenti lagi di salah satu restoran ternama. Sesuai perkataannya dia akan membelikan sesuatu untuk makan malam buat keluarga Arini.
Restoran megah itu sudah di depan mata, Dimas tampak semangat dalam melangkah namun berbeda dengan Arini. Arini berjalan pelan dia sangat ragu untuk masuk ke tempat yang ramai dan juga terlihat sangat indah itu.
"Masak iya sih aku harus masuk ke sana? di sana makanannya pasti mahal-mahal. Yang jelas Arini tidak akan bisa membayarnya nanti," gumamnya begitu lirih bahkan Dimas sama sekali tak mendengarnya padahal jarak mereka tidak terlalu jauh.
Dimas kembali menoleh karena Arini tak kunjung menyusul. Dan benar saja, gadis itu kini malah berhenti di tempat, tak bergerak sama sekali.
"Kamu kenapa, Arini?" tanya Dimas dan kini kembali melangkah menghampiri Arini.
Arini menundukkan wajahnya dengan diam, tangannya memainkan ujung hijabnya, "Pak dokter, Arini mau pulang saja. Arini tidak mau ke sini, itu tempatnya sangat bagus dan besar makanannya pasti mahal-mahal kan? Arini tidak akan bisa membayarnya," ucapnya malu.
Dimas tersenyum, padahal tadi dia sudah mengatakan kalau Dimas yang akan membelikannya, tapi kenapa Arini jadi seperti ini, apa Arini melupakan itu?
"Jangan pikirkan harganya, Arini. Sekarang kita masuk dan pesan makanannya, bukannya kamu mau cepat pulang kan?" tanya Dimas.
Arini mengangguk, dia memang ingin cepat pulang karena kakek neneknya pasti sudah menunggunya dan sangat khawatir.
Sudah sekali saja Arini membuat mereka khawatir, dan tidak lagi. Tapi sepertinya Arini yang merasa khawatir sekarang dengan keadaan mereka.
"Tapi Pak dokter, Arini tidak punya uang untuk membayarnya," ucapnya lagi dan masih setia berdiri di tempat semula.
Dimas menghembuskan nafasnya panjang, sepertinya Arini belum jelas dengan apa yang dia katakan.
"Arini, kamu jangan pikirkan masalah uang, aku yang akan membayarnya. Sekarang kita masuk, cepat pesan lalu kita bisa pulang," ucap Dimas menjelaskan.
Wajah Arini terangkat untuk menatap Dimas, dan pria yang juga tampan itu mengangguk pelan. Ya Allah, betapa beruntungnya jika Arini di kelilingi orang-orang baik juga tampan seperti Dimas, mungkin air matanya tak akan pernah terjun bebas lagi dari matanya.
"Tapi...? bagaimana kalau Arini tidak bisa membayarnya pada Pak dokter? gaji saya pas-pasan, Arini juga tidak akan bisa bekerja di tempat Pak dokter sebelum lima tahun lagi, terus bagaimana?" Arini terlihat bingung.
Dimas sedikit pusing bagaimana untuk menjelaskannya. Nih anak kadang otaknya langsung nyaut gitu saja namun kadang dedel banget kayak benang ruwet.
"Kamu mau cepat pulang apa tidak?" Tubuh Dimas membungkuk, berusaha mensejajarkan nya pada Arini yang pendek.
"Iya," jawab Arini pelan.
"Kalau begitu sekarang kita masuk, kamu nurut saja tidak usah banyak bertanya apalagi protes, oke.. " kini Arini mengangguk.
"Anak pintar, sekarang kita masuk dan kamu boleh memilih makanan apapun yang kamu mau," sambung Dimas.
"Benarkah! Arini boleh memilih apapun!?" Wajah Arini begitu berbinar. Dia begitu bahagia karena di manjakan oleh Dimas. Dan tentunya Dimas langsung mengangguk saat itu.
"Arini boleh minta es krim!" ucapan nya melengking tinggi.
Dimas mengernyit, kenapa dari sekian banyaknya makanan hanya es krim yang Arini inginkan, "boleh, kamu boleh minta apapun," jawab Dimas.
"Nanti kalau uang pak dokter habis bagaimana? kita nggak akan di suruh cuci piring atau ngepel selama seminggu kan?" Arini sudah takut membayangkan itu.
Dimas terkekeh, hanya sekedar es krim saja uangnya tidak akan habis. Gaji Dimas cukup besar di tambah lagi pemasukan dari usaha orang tuanya yang kini beralih di tangannya.
"Tidak akan, yuk sekarang kita masuk," ajak Dimas.
Kini Arini begitu antusias demi makan es krim. Seumur-umur baru kali ini Arini akan makan es krim, biasanya dia akan makan es lilin saja yang dia beli dengan harga seribu rupiah per batang.
Dimas juga Arini duduk di dekat pantry restoran itu, karena hanya tempat itu yang masih kosong. Kedatangan mereka langsung di sambut oleh pelayan yang membawa daftar menu.
"Silahkan, Tuan," ucapnya dengan menyodorkan daftar menu kepada Dimas.
Dimas tersenyum tangannya langsung terangkat untuk mengambil buku berwarna hitam itu. Dimas mulai membukanya, memperlihatkan pada Arini yang duduk tak jauh darinya.
"Kamu mau makan apa? " tanya Dimas.
"Es krim," jawab Arini antusias.
"Hanya itu saja?" tanyanya lagi dan Arini mengangguk cepat, "kamu tidak boleh hanya makan es krim saja. Kamu baru buka puasa dan belum makan apapun, nanti perutmu akan bermasalah."
"Tadi Arini sudah makan kurma," jawab Arini yang tak mau kalah.
"Kalau mau makan es krim kamu harus makan yang lainnya dulu," Tak mungkin Dimas akan membiarkan Arini makan es krim begitu saja tanpa mengisi perutnya dengan makanan berat terlebih dahulu, itu tak akan baik kan karena Arini tadi puasa.
Arini masih diam, sejujurnya dia tak mau makan apapun kecuali es krim, dia sangat penasaran bagaimana rasanya.
"Sekarang kamu pilih, makanan mana yang ingin kamu makan," Dimas kembali menyodorkan buku itu kepada Arini anta dengan teliti dia mulai melihat satu persatu dari makanan asing yang tak pernah dia lihat.
"Ya Allah, ini makanan apa? astaga..., hanya makanan sekecil ini harganya tujuh puluh ribu? Ini bisa buat makan berapa hari ya..? hemm..., ini bisa untuk makan empat hari, eh.. lima hari.. ya, mungkin lima hari! " ucapnya.
"Kalau ini...?" tangan Arini mulai berjalan di atas buku," Ya Allah, ini malah sembilan puluh ribu! " mulut Arini ternganga.
Dimas masih setia menunggu dia hanya terus mendengarkan celotehan Arini yang tiada henti. Meskipun lama menunggu namun Dimas tetap sabar. Bahkan Dimas terlihat begitu fokus memandangi Arini dan kadang dia akan tersenyum karena merasa lucu.
"Ini nih yang paling murah! Pak dokter, Arini mau ini saja! " tangan Arini menunjukkan gambar yang harganya paling murah di antara yang lain.
"Kamu mau apa?" tanya Dimas namun belum sempat melihatnya.
"Ini, mie goreng! " jawab Arini.
"Mie goreng?" Dimas mengernyit tangannya langsung mengambil buku menu yang Arini bawa, "yang ini loh, Pak dokter," tangannya kembali menunjukkan gambar itu pada Dimas.
"Maksud kamu spaghetti?" tanya Dimas.
"Bukan, Pak dokter. Kalau ini di tempat Arini namanya mie goreng bukan apa tadi...? spa-spa, apa sih ribet amat. Tinggal bilang mie goreng gitu saja kan mudah, kenapa harus spa- spa.., udah ahh.. nggak ngerti," ucap Arini kesal sendiri.
"Spaghetti, Arini," ucap Dimas dengan pelan supaya Arini bisa menirukannya.
"Oh spaghetti, tapi ini benar-benar mie goreng. Apa sekarang namanya sudah ganti ya? sejak kapan gantinya, kenapa Arini tidak tau?" Arini semakin bingung.
"Iya iya, namanya mie goreng. Kamu beneran mau makan ini? tapi seharusnya kamu makan nasi bukan ini," Dimas adalah seorang Dokter dia akan memperhatikan masalah kesehatan tentunya.
"Bukan begitu maksudnya Arini, Pak dokter. Tapi, Arini pesan ini saja terus di bungkus. Biar nanti bisa Arini makan di rumah dengan nasi. Begitu," ucap Arini menjelaskan.
Dimas kembali di buat terdiam oleh Arini. Biasanya orang kalau makan spaghetti akan khusus itu saja tapi Arini? dia ingin memakan nya dengan nasi,"kenapa begitu?"
"Ya kan sekaligus biar Arini makan sama kakek dan nenek. Kalau Arini makan enak mereka juga harus makan yang sama juga kan?"
Sudah ke sekian kali Dimas di buat terkagum-kagum dengan Arini. Semua orang hanya akan memikirkan dirinya sendiri tapi tidak dengan Arini. Dia sangat suka berbagi dan selalu memikirkan orang-orang di sekitarnya.
"Baiklah," jawab Dimas pasrah," Mbak, pesan ini tiga di bungkus ya. Sama es krim nya rasa coklat satu,"
"Baik Tuan." Setelah menjawab pelayan itu langsung pergi.
Mendengar kata es krim rasa coklat membuat Arini benar-benar tak sabar ingin dia secepatnya menikmati makanan yang sudah sangat lama dia inginkan itu.
Duduk Arini sudah sangat tidak tenang bahkan dia terus bergerak dan terus mengamati arah di mana mbak-mbak tadi pergi.
"Kamu kenapa?" Dimas begitu heran sebenarnya ada apa dengan Arini. Kenapa Arini terlihat begitu tak sabar hanya karena Es krim rasa coklat.
"Arini sangat penasaran dengan rasanya Pak dokter, Arini belum pernah makan es krim," Arini tertunduk malu.
Dimas begitu tak percaya, jaman gini loh ya untuk makan es krim bisa di beli di mana-mana bahkan harganya juga sangat terjangkau tapi bagaimana mungkin Arini belum pernah memakannya.
Dimas hanya bisa samar-samar tersenyum, dia begitu penasaran dengan kehidupan Arini yang sebenarnya.
"Ini pesanan Anda, Pak," ucap satu pelayan dan memberikan semua pesanan Dimas.
"Terima kasih, Mbak. Bisa pakai ini," Dimas menyodorkan kartu ATM untuk membayarnya dan mbak itu tersenyum dan mengangguk.
"Sebentar ya, Pak, " Pelayan itu kembali pergi dengan membawa kartu yang di berikan Dimas.
"Pak dokter tidak membayarnya?" tanya Arini.
"Ini, Pak. Terima kasih sudah berkunjung," Belum juga Dimas menjawab pelayan itu kembali datang dan memberikan kartu itu lagi kepada Dimas.
"Terima kasih kembali, Mbak," Jawab Dimas begitu ramah," Yuk sekarang pulang,"
"Pulang, kan Pak dokter belum membayarnya,"
"Sudah, tadi pakai ini, yuk! " ajak Dimas.
Keduanya berdiri namun mata Arini masih memandangi kartu yang di bawa Dimas, "Itu kan bukan uang, bagaimana mungkin bisa untuk bayar, Pak dokter pasti bohong kan?" Arini tak mengerti, bagaimana mungkin bisa membayar hanya dengan benda kotak kecil tipis itu.
"Bisa, Arini ini namanya ATM, di dalamnya ada uangnya," ucap Dimas yang semakin membuat Arini tak mengerti.
"Uang?" sepertinya otak Arini tal sampai, Arini benar-benar tak tau apa-apa dengan cara hidup di kota.
////
Bersambung...
____________
ini memang pasangan unik lah ya arini dan Arya
wuah Arya junior sudah mau otw ini semoga lancar ya lahiran nya jangan membuat kerecokan di rumah sakit nanti agar para dokter dan perawat tidak bingung 😅😅😅
nah lho Arya salah jawab kan makanya kalau istri sedang mengagumimu jangan kamu komplain dia keluar kan kata" yg bisa bikin kamu bingung