Naira Putri harus setuju menandatangani kontrak pernikahan dengan CEO muda bernama Samuel Virendra.
Tanpa dia sadari, itu adalah awal mula kesabaran nya sebagai seorang wanita di uji. Bagaimana tidak? sang suami ternyata masih menjalin hubungan dengan kekasihnya.
Ternyata pernikahan kontrak mereka hanya untuk menutupi hubungan Samuel dan kekasihnya yang tidak di restui orang tua Samuel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Author POV
Di rumah besar dengan berbagai fasilitas di dalamnya, seorang pria sedang bermain biliar di salah satu ruangan, sambil mendengarkan musik dia berada di dalam ruangan itu sendirian.
Pria itu Samuel Virendra, dia sedang menghabiskan waktu untuk menunggu kekasihnya menghubungi nya. Setelah bekerja seharian, hanya dengan mendengar suara kekasih nya itulah yang akan membuat nya tenang dan tidur nyenyak.
Riksa sudah tiba di depan pintu rumah besar itu, dia masuk ke dalam dan segera mencari Samuel di tempat yang dia sudah tahu.
"Selamat malam bos!" sapa Riksa pada Samuel.
"Sudah beres semua, jadi besok kamu sudah bisa kembali ke perusahaan?" tanya Samuel sambil membidik sebuah bola berwarna hijau bertuliskan angka lima.
"Maaf bos, tapi tadi siang Tante Stella menghubungi ku, dan dia memintaku mengajak Naira ke salon untuk perawatan tubuh!" jawab Riksa.
"Ibu selalu saja tidak membiarkan hidup ku tenang, sudah dua hari aku tidak tidur dengan benar. Kenapa juga ibu menyuruh nya ke salon, apakah dari itik dia bisa berubah menjadi merak hanya karena ke salon. Itu tidak mungkin kan?" tanya Samuel meremehkan Naira.
Riksa terlihat tidak senang dengan apa yang di katakan oleh Samuel. Karena Riksa tahu wanita yang di anggap merak oleh bos nya itu tidak lebih baik dari Naira, bahkan jika nanti Riksa mendapatkan bukti yang tidak bisa di sangkal lagi oleh Caren. Riksa yakin, Samuel adalah orang pertama yang akan paling membenci wanita itu.
Meskipun Naira adalah gadis sederhana, tapi dia baik dan polos. Juga tidak memakai topeng hanya untuk menutupi kebusukan nya.
"Jangan sampai kamu menyesali apa yang kamu katakan bos, Naira tidak seburuk itu.
Tante Stella bahkan sangat terpesona melihatnya memakai gaun pengantin, apa kamu juga mau melihat nya bos?" tanya Riksa.
"Cih, Riksa! sejak kapan selera ibu ku jadi begitu payah!" keluh nya.
Dan Riksa hanya bisa menghela nafasnya saja mendengar Samuel yang terus memuja kekasihnya dan menjelekkan Naira yang akan menjadi istrinya beberapa hari lagi itu.
"Ya sudahlah, pulang sana!" seru Samuel.
"Sebaiknya kamu juga istirahat bos, kurasa kekasih mu itu tidak akan menghubungi mu malam ini. Aku dengar ada badai di negara itu, pasti sinyal komunikasi disana juga terganggu!" ucap Riksa lalu meninggalkan Samuel.
Samuel meletakkan stick yang dia pegang, dan melihat ke arah Riksa yang berjalan menjauh.
"Jadi dia tidak akan menghubungi ku malam ini. Baiklah, lebih baik aku tidur!" gumam Samuel lalu berjalan menuju kamarnya.
Riksa yang sebenarnya belum benar-benar pergi tersenyum dari jauh melihat Samuel beranjak dari ruangan itu dan pergi ke kamarnya. Sebenarnya tidak ada badai salju, tapi anak buahnya yang mengikuti Caren mengatakan wanita itu sedang pergi berlibur dengan kekasihnya yang lain yang baru datang dari luar negeri. Dan kemungkinan besarnya dia tidak akan ingat pada Samuel apalagi untuk menghubunginya.
Tapi kalau Riksa hanya menyerahkan bukti berupa foto dan video seperti yang sudah-sudah. Dengan kata tidak dan bukan dari Caren. Samuel akan langsung menganggap bukti itu tidak pernah ada. Dengan satu isakan tangis dari Caren, Samuel bahkan bisa tidak mempercayai perkataan ibunya sendiri.
Jadi dengan cara inilah, setidaknya Riksa bisa membuat Samuel tidak menunggu telepon dari Caren dan beristirahat karena pekerjaan di perusahaan juga sangat banyak, sementara dirinya harus mengurus pernikahan Samuel dan Naira.
Riksa keluar dari rumah besar itu menuju ke mobilnya dan pulang ke apartemen nya. Apartemen Riksa tidak jauh dari perusahaan, jadi jika terjadi masalah di perusahaan dia akan dengan cepat bisa menyelesaikannya.
Jarak apartemen Riksa dari rumah Samuel juga tidak terlalu jauh, hanya kurang dari dua puluh menit saja untuk nya sampai di apartemen milik nya. Apartemen yang dia beli dari hasil kerja keras nya, apartemen yang begitu nyaman baginya. Tempatnya melepas lelah setelah seharian beraktivitas.
***
Keesokan harinya...
Seperti biasanya Anisa, ibu dari Naira membangunkannya di pagi hari bahkan saat ayam jantan belum berkokok. Anisa melakukan itu karena akan membuat nasi uduk dan juga gorengan yang akan dia jual di kantin. Naira selalu membantu ibunya memasak setiap pagi.
Di dapur suara bising setiap paginya juga akan membangunkan Ibras yang bertugas untuk membungkus kerupuk dan juga beberapa roti yang dibuat sendiri oleh Anisa dan Naira.
"Nanti kalau kak Naira sudah nikah sama pacarnya yang kaya itu, apa kita masih akan jualan uduk dan roti begini Bu, di kantin sekolah?" tanya Ibras.
Anisa lalu melihat ke arah Naira yang masih sibuk mengaduk sambal, perasaan sedih tiba-tiba saja muncul di dalam hati Anisa.
Tiba-tiba saja matanya berkaca-kaca.
"Iya ya, apa nanti kamu akan sering pulang dan menengok kami Nai?" tanya ibu dengan suara lirih.
Ayah yang tadinya masih fokus dengan alat press nya juga ikut melihat ke arah Anisa. Begitu melihat istrinya itu sedih, dia lantas berdiri dan mendekati Anisa.
"Ibu bicara apa? Naira pasti akan sering ke rumah dan mengunjungi kita! iya kan Nai?" tanya ayah pada Naira.
Naira menghampiri kedua orang tuanya dan memeluk mereka. Ibras juga tidak ingin kalah dia juga menghampiri Naira dan kedua orang tuanya.
***
Makanan untuk di jual di kantin sekolah sudah siap, seperti biasa jam enam tepat tukang becak langganan Anisa akan datang dan membawa semua barang-barang itu ke sekolah. Sedangkan Anisa akan berangkat bersama Rama dengan motor legenda milik Rama.
Setelah ayah dan ibunya berangkat, Naira biasanya akan mencuci pakaian sambil menunggu jam berangkat kerja ke toko buku. Dan kali ini dia melakukan rutinitasnya itu.
"Kak, Ibras berangkat sekolah dulu ya! Assalamualaikum!" seru Ibras.
"Wa'alaikumsalam!" jawab Naira dan melanjutkan mencuci.
Tiba-tiba saja Naira mendengar ponselnya berdering. Karena dia merasa yang tahu nomernya hanya Riksa, dia sudah mengira kalau telepon itu dari Riksa.
"Halo Riksa ada apa?" tanya Naira dengan cepat.
"Riksa kepala mu! ini aku Samuel!" bentak seseorang di ujung telepon.
Naira sampai harus menjauhkan telepon nya dari telinganya karena teriakan Samuel. Naira melihat ke layar ponsel, dan memang tidak ada namanya, hanya nomernya saja.
"Ih, gak pake teriak-teriak juga kan bisa!" protes Naira.
"Ada apa?" tanya Naira malas.
'Huh, masih pagi udah dibuat darah tinggi aja sama ni si lidah tajam, pasti kalau gak marah-marah, ngehina aku nih!' batin Naira yang memang selalu negatif thinking yang ada di kepalanya kalau sudah berhubungan dengan Samuel.
***
Bersambung...