IG : Isthiizty
Disarankan untuk membaca novel PERNIKAHAN RAHASIA SEPASANG ANAK SMA dan SHE'S MINE terlebih dahulu.
Apapun yang sudah di takdirkan menjadi milikmu, tidak akan meleset sedikitpun meski semua orang menghalanginya.
Begitupula jika memang tidak di takdirkan untuk menjadi milikmu, mau seluruh makhluk di dunia ini mendukungmu, sampai kapanpun tak akan pernah menjadi milikmu.
Jadi jangan pernah menyalahkan keadaan. Karena jika dia memang ditakdirkan untukmu, pasti akan ada jalan untuk kalian bersatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isthiizty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ilfeel
Seperti janjinya semalam, pagi-pagi sekali Mike sudah berada di depan rumah kontrakan Floryn. Bahkan dia rela bangun jauh lebih pagi dari biasanya agar tidak terlambat saat mengantar kuliah gadis pujaannya itu.
Mike yang sedang duduk di atas motor sejuta umat miliknya, kembali melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul 6 pagi, itu artinya Mike sudah duduk di atas motor selama hampir satu jam.
"Apa gue dateng kesini kesiangan ya? Perasaan tadi baru jam 5 lebih dikit waktu berangkat dari rumah, tapi kok sampai sekarang Floryn belum juga keluar dari rumahnya. Bukannya semalam dia bilang kalau ada kelas pagi. Emm... apa gue telfon dia aja kali ya? Takutnya dia udah berangkat tanpa sepengetahuan gue." Mike bergumam sembari memutar-mutar ponsel di tangannya.
Hingga detik selanjutnya dia benar-benar menghubungi Floryn. Mike takut kalau ternyata dirinya benar-benar terlambat menjemput calon kekasihnya itu.
Ya walaupun dipikir-pikir kemungkinan terlambat itu sangat kecil, karena dirinya memang berangkat ke rumah Floryn sejak pagi buta untuk meminimalisir keterlambatan.
"Halo, Mike." Suara seseorang di seberang telepon membuat bibir Mike terangkat tanpa di komando. Dia merasa bunga-bunga dihatinya tiba-tiba bermekaran hanya karena suara lembut nan dia rindukan dari seorang gadis di seberang telepon.
"Halo Mike." Floryn kembali menyapa saat Mike tak menyahutinya. Bahkan gadis itu sempat melihat ponselnya untuk beberapa saat karena mengira panggilan telepon mereka telah berakhir.
"Ehh.. Iya Flo." Mike menjawab dengan sedikit gugup. Jujur saja sampai saat ini Mike belum bisa sepenuhnya mengontrol dirinya sendiri jika itu berkaitan dengan Floryn.
Entahlah, Mike merasa seperti menemukan hal lain, sesuatu yang baru yang tak pernah dia ketahui sebelumnya didalam dirinya sendiri.
"Ada apa Mike, apa terjadi sesuatu?" tanya Floryn yang mengira jika Mike menghubunginya sepagi ini karena mungkin dia tak jadi menjemputnya seperti janji pria itu semalam.
"Ehh,, enggak!" Mike menjawab dengan cepat "Emm itu......" Mike kembali terdiam, memikirkan kata-kata apa yang harus dia ucapkan saat ini. Dan entah kenapa dia tiba-tiba menjadi bingung sendiri. Bahkan tanpa Mike sadari, dia terus menggaruk tengkuknya yang sebenarnya sama sekali tak gatal.
"Iya, kenapa Mike?"
"Emm.. itu, apa kamu udah berangkat ke kampus?" tanya Mike lirih. Saat ini dia kembali teringat akan ketakutannya, yaitu takut terlambat menjemput Floryn.
Hingga detik selanjutnya bukan jawaban yang Mike dapatkan. Namun justru sebuah tawa yang cukup nyaring di telinganya. Floryn tertawa? Tapi kenapa? Apa ada yang lucu dengan pertanyaannya?
"Flo...."
"Ehh, maaf Mike." Floryn menyahut sembari mencoba menghentikan tawanya.
"Apa ada yang lucu?" tanya Mike penasaran.
"Enggak. Gak ada yang lucu kok," jawab Floryn dengan tak enak hati.
Sebenarnya Floryn memang merasa lucu dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Mike, bahkan sampai membuat dirinya tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
Bagaimana tidak lucu? Mike bertanya sudah berangkat ke kampus atau belum. Padahal kelas paginya di mulai pukul 8 pagi. Sedangkan sekarang waktu baru menunjukan pukul 6 pagi. Dan waktu tempuh dari kontrakan Floryn ke kampus hanya memakan kurang lebih lima belas menit.
Jadi wajar sajakan jika dia merasa lucu dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Mike. Karena tentu saja jawabannya sudah jelas. Dia belum berangkat. Lagi pula untuk apa dia berangkat ke kampus sepagi ini?
"Emm,, aku cuma mau tanya kamu mau aku jemput jam berapa? Soalnya aku gak tahu biasanya kamu berangkat jam berapa. Aku cuma tahu kalau kamu ada kelas pagi jam 8. Dan aku takut telat saat menjemputmu," ujar Mike menjelaskan ketakutannya.
"Aku biasa berangkat jam setengah 8 Mike. Karena jarak rumahku ke kampus tak begitu jauh."
"Ahh..baiklah. Kalau gitu aku tutup telfonnya. Kamu jangan lupa sarapan," ujar Mike. Sebenarnya dia masih ingin mengobrol lebih lama dengan Floryn. Tapi dia tak tahu harus membicarakan hal apa. Lagi pula Mike pikir, Floryn saat ini pasti sedang bersiap-siap.
"Iya Mike."
Panggilan pun berakhir. Hingga akhirnya Mike bisa bernafas lega. Dan itu karena dua hal. Pertama Mike lega karena dia tak terlambat menjemput Floryn. Dan yang kedua dia merasa lega karena pada akhirnya bisa melepaskan ke gugupannya.
"Oke Mike, kamu cukup tunggu satu jam 25 menit dan 30 detik lagi," gumam Mike setelah kembali melihat jam digital di pergelangan tangannya.
Lama menunggu membuat Mike menguap beberapa kali. Dia mulai mengantuk. Bagaimana tidak, Mike baru bisa tidur di jam 2 pagi dan terbangun saat jam baru menunjukan pukul 4.
Itu artinya Mike baru menikmati waktu tidurnya kurang lebih dua jam. Untung saja dia tak ada kelas pagi. Hingga rencananya setelah mengantar Floryn, Mike akan pulang dan kembali melanjutkan tidurnya.
"Mike..." Panggilan dan tepukan lembut di bahu membangunkan Mike yang tanpa sadar telah tertidur di atas motor miliknya.
Mike menggeliat, lalu mengangkat kepalanya. Tak lupa Ia mengucek kedua matanya sebelum akhirnya kedua kelopak matanya terangkat hingga Mike dapat melihat sekitarnya dan menyadari jika saat ini dirinya masih berada tepat di depan rumah kontrakan Floryn.
Kalau gue masih ada disini, itu artinya yang barusan bangungin gue kemungkinan besar.......
Deg
Kedua mata Mike membola saat melihat Floryn menatapnya dengan bibir yang terangkat membentuk senyuman. Oh.. tidak itu bukan senyuman, tapi tawa kecil. Apa karena.....
Mike dengan reflek kembali mengusap kedua matanya untuk memastikan tak ada kotoran yang menempel. Tak lupa Mike menyisir rambut dengan jari jemari serapi mungkin, sembari terus mengumpat dirinya sendiri di dalam hati.
Elo emang bodo* Mike! Bisa-bisanya lo ketiduran di atas motor. Lo liat cara Floryn natap lo tadi? Dan jangan lupa tawa kecilnya.
Ahh... Fix, dia pasti ngetawain penampilan lo saat ini. Muka bantal lo pasti berantakan banget! Bisa-bisa Floryn ilfeel sama lo. Dan itu bakalan bikin lo makin susah buat dapetin hantinya. Huft... Mike lo bener-bener bodo*, bodo*!
"Flo maaf, aku...." ucapan Mike terhenti saat Floryn menunjuk ke arah wajahnya. "Kenapa?" tanya Mike dengan wajah bingungnya.
"Iler kamu gak di bersihin juga?"
Ouh shitt!!
Dengan menahan perasaan malu, Mike langsung mengusap area bibir dengan kedua tangannya. Bisa-bisanya dia melupakan area itu. Ahh.. Mike lo memang bener-bener bodo*. Dan kali ini Floryn pasti sangat-sangat ilfeel padamu.
"Aku hanya bercanda Mike." Ucapan Floryn tak lantas menghentikan aktivitas Mike yang saat ini terus mengusap area bibirnya. Pria itu tak percaya, pasti Floryn berkata seperti itu agar dia tak merasa malu. Ahh.. tapi percuma, Mike memang sudah terlanjur malu.
"Mike aku serius. Tak ada air liur di wajahmu." Mike menghentikan kegiatannya mengusap area bibir. Bukan karena dia mau, tapi karena Floryn menahan tangannya.
"Tapi tadi kamu bilang..."
"Aku hanya bercanda," ucap Floryn memotong ucapan Mike. Gadis itu lantas menengadahkan kedua tangannya seakan meminta sesuatu.
"Hah?" Mike kembali menatap Floryn dengan raut wajah kebingungan.
"Helm nya mana? Kita sudah hampir terlambat," ucap Floryn yang seolah mengerti akan kebingungan pria di hadapannya.
"Ahh, iya. Ini." Mike mengulurkan helm yang sudah dia siapkan khusus untuk Floryn.
"Ya udah ayo kita berangkat!" Floryn naik keatas motor dan duduk manis di jok belakang. Hingga mau tak mau Mike pun segera memakai helm miliknya sendiri.
Deg
Mike tersentak saat merasakan sisi kanan dan kiri jaketnya tertarik dari bagian pinggang. Dan demi memastikan hal itu, Mike mengalihkan pandangannya ke bawah, hingga detik selanjutnya dia tak bisa lagi menyembunyikan kebahagiaannya.
Yes, tanpa gue minta Floryn mau pegangan sama gue. Yes, yes!! Gak pa-pa kalau sekarang cuma pegangan di jaket. Tapi besok-besok gue bakalan pastiin lo meluk perut gue dengan cukup erat. Dan saat itu tiba, gue gak bakalan biarin kedua tangan lo lepas walau cuma sedetik.
ada2 aja tingkah mreka...