"Oh My God!! Pasti aku bermimpi, siapa pria tampan itu? Kenapa mukanya mirip sekali dengan aktor idolaku, Luhan?"
"Sebaiknya jaga matamu, Cinta Su!!"
"Doakan saja semoga hatiku tidak goyah, lagipula siapa yang bisa menolak seorang Tuan Muda dari keluarga kaya raya, apalagi wajahnya sangat tampan dan mirip idolaku, Luhan. Bukankah kita sebanding, apalagi banyak yang mengatakan jika aku mirip dengan Jessica Jung!!"
Cinta adalah putri bungsu dari keluarga "Su" sejak kecil dia jatuh cinta pada seniornya yang bernama Steven, namun kedatangan pria tampan dari keluarga Qin menggoyahkan perasaan Cinta untuk sang senior.
Cinta terjerat pesona dan kelembutan si Tuan Muda yang terkenal dingin dan arogan. Mampukah Cinta mempertahankan perasaannya pada Steven, atau justru dia benar-benar berpaling pada Aiden?
Hanya waktu yang bisa menjawab semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penculikan Kakek Qin
"Ada apa ini?!"
Kakek Qin terkejut ketika dia turun dari mobilnya tiba-tiba ada seseorang yang mendorong kan senjata padanya. Orang itu meminta pria berusia 60an itu untuk turun, dengan ujung pistol menempel pada kening dan kepala bagian belakangnya.
Pria tua itu mengangkat kedua tangannya. Peluh tampak membanjiri di sekujur tubuhnya, berkali-kali dia menelan saliva guna mengurangi rasa takutnya.
"Si.. Siapa kalian, dan mau apa kalian?" Tanya Kakek Qin gugup ketakutan.
"Tidak usah banyak omong, jalan!!" Salah satu dari kedua orang itu mendorong Kakek Qin dan memaksanya untuk masuk ke dalam mobil. Tak ingin terkena masalah, dia pun hanya menurut saja.
Kakek Qin duduk dengan diapit dua pria itu. Sedangkan supirnya tewas karena tertembak di kepalanya. Salah satu dari mereka berdua menutup kepala si pria tua dengan sebuah kain hitam. Kedua tangan dan kakinya di ikat erat, sehingga dia tidak berkutik sama sekali.
Salah satu dari kedua pria itu terlihat menghubungi seseorang, yang sepertinya adalah bosnya, orang di balik penculikan Kakek Qin.
"Baik Tuan, saya mengerti."
"Bagaimana kata, Tuan?" Tanya pria yang duduk di balik kemudi.
"Kita langsung ke markas saja, Tuan meminta kita membawa pria tua ini ke sana." Ucapnya yang kemudian di balas anggukan oleh pria tersebut.
"Baiklah, aku paham!!"
-
Cinta menatap bingung pada Aiden yang baru saja memutuskan sambungan telfonnya dengan seseorang. Dalam percakapannya, Aiden mengungkit tentang markas, memangnya Aiden punya markas? Satu misteri lagi yang tidak dia ketahui tentang suaminya ini.
Aiden menghampiri Cinta yang terus menatap padanya. Pria itu memicingkan matanya, melihat tatapan sang istri yang penuh selidik itu.
"Ada apa, Sayang? Kenapa kau terus menatapku seperti itu?" Ucap Aiden yang kemudian di balas gelengan oleh Cinta.
"Tidak apa-apa. Oya, Kak Ai kau mau kemana? Kenapa sudah rapi?" Tanya Cinta penasaran.
"Aku ada urusan, sebaiknya malam ini kau tidak usah menungguku. Mungkin aku pulang agak malam. Baik-baik di rumah, Sayang. Jika bosan sendirian di rumah. Kau bisa pergi ke rumah Mama, aku akan menjemputmu di sana."
"Berapa lama Kak Ai, akan pergi?"
"Mungkin sampai tengah malam." Jawabnya.
Cinta berpikir sebentar. Wanita itu berhambur ke dalam pelukan Aiden lalu mengecup singkat bibir Kissablenya. "Kak Ai tidak bisa pergi tanpa meninggalkan sesuatu untukku. Toh ini masih siang bukan?" Cinta tersenyum sambil mengerlingkan mata pada Aiden.
Aiden mendengus geli. Pria itu menarik tengkuk Cinta lalu menyatukan bibir mereka, mel*mat dan memagut nya dengan lembut.
Sebelah tangan Aiden menarik pinggang Cinta dan membunuh jarak diantara mereka, tubuh mereka menyatu sepenuhnya dan hanya terpisah oleh pakaian yang melekat di tubuh masing-masing.
Seolah tak puas jika hanya bibir mereka yang menyatu. Cinta mendorong tubuh Aiden lalu menindih pria itu, bibirnya kembali mel*mat dan memagut bibir Kiss Able suaminya.
Jari-jari lentiknya melepas satu persatu kancing pada kemeja hitam Aiden lalu menanggalkan dari tubuh suaminya. Menyisakan singlet putih yang masih melekat pada tubuh pria itu.
Cinta kembali membenamkan bibirnya pada bibir Aiden dan mel*matnya seperti tadi. Bukan ciuman lembut penuh perasaan, melainkan ciuman panas yang menuntut.
Tak suka di dominasi terlalu lama. Aiden segera merubah posisi mereka dengan menempatkan Cinta di bawah tubuhnya. Permainan itu sepenuhnya di kuasai oleh Aiden.
"Mmmhhh.. Mmmmhh .."
Aiden mencium bibir itu lagi dengan sangat ganas, ia mengetuk-ngetuk bibir Cinta dengan lidahnya dan wanita itu langsung menyambutnya. Kedua tangan Aiden meremas kedua payudara Cinta.
"Ahhh!...Hnnng!" Membuat ******* berkali-kali keluar dari mulutnya.
Setelah lidahnya berhasil menerobos masuk ke dalam mulut Cinta. Aiden menyapukan lidahnya pada deretan gigi putih Cinta, dan mengabsen nya satu persatu, kemudian menekan-nekan lidahnya pada lidah wanita itu.
Entah berapa lama lagi Aiden dan Cinta akan mengulur waktu bercinta mereka, sementara barang milik masing-masing sudah sama-sama ingin merasakan kenikmatan. Membuat hari yang terasa panas ini, menjadi semakin panas oleh kegiatan mereka.
.
Aiden mengecup kening Cinta setelah selesai dengan kegiatan ranjang mereka. Kemudian Aiden bangkit dari posisinya dan berjalan menuju kamar mandi. Dia harus mandi lagi karena sekujur tubuhnya basah oleh keringat.
Sedangkan Cinta, wanita itu langsung berdiri dan memakai kembali pakaiannya, lalu merapikan penampilannya yang berantakan.
Cinta merasakan sakit pada bagian paha dalamnya karena permainan Aiden yang terlalu keras, sesekali wanita itu merintih sambil memegangi bagian yang sakit.
Selang beberapa menit Aiden kembali dengan tubuh yang jauh lebih fresh dari sebelumnya. Rambutnya basah dan menutupi sebagain wajah tampannya. Membuat pria itu terlihat.. Err, sangat menggoda.
"Sayang, bisa siapkan pakaian untukku?" Ucap Aiden yang kemudian di balas anggukan oleh Cinta.
Wanita itu beranjak dari hadapan Aiden dan pergi ke ruangan di mana sang suami menyimpan semua barang-barang milik mereka berdua. Tak berselang lama Cinta kembali dengan kemeja lengan panjang dan Vest yang senada dengan celana dan jasnya.
"Ini, Kak Ai." Cinta menyerahkan pakaian itu pada Aiden.
"Terimakasih , Sayang." Ucap Aiden kemudian mengecup singkat bibir Cinta.
Setelah berpakaian rapi. Aiden berpamit pergi pada Cinta. Wanita itu mengantarkan Aiden sampai gerbang.
Sedangkan Cinta langsung pergi ke rumah ibunya yang letaknya berseberangan dengan Mansion mewah suaminya. Cinta akan menunggu Aiden di sana.
-
Setelah berkendara selama lebih dari tiga puluh menit. Aiden tiba di lokasi, pria itu di sambut oleh salah seorang anak buahnya yang membukakan pintu untuknya.
Semua orang yang berada di bangunan bertingkat itu langsung membungkuk saat melihat kedatangan Bos mereka. Sedangkan Aiden tetap bersikap dingin dan acuh.
Dua orang menemaninya, mereka berjalan menuju ruang bawah tanah. Tempat anak buahnya menyekap sanderanya.
Aiden ingin melihat bagaimana reaksi orang itu saat melihat kedatangannya, dan ternyata dia adalah dalang di balik penculikan yang menimpa dirinya.
Dan Aiden berani bersumpah, jika orang itu pasti akan langsung terkena serangan jantung dadakan setalah bertemu dengan dirinya.
"Buka pintunya." Pinta Aiden pada dua orang yang berjaga di depan pintu. Kedua orang itu mengangguk. Kemudian mereka membukakan pintu untuk Aiden.
"Dia ada di ruangan khusus, Bos."
"Apa semua sudah kalian jalankan seperti yang aku perintahkan?!"
Keduanya mengangguk dan menjawab dengan kompak. "Sudah, Bos."
"Kerja bagus. Setelah ini kalian boleh pergi, aku butuh bicara dengannya hanya berdua saja!!"
"Kami mengerti,"
Salah satu dari kedua pria itu membuka pintu di depannya. Di dalam sana seorang pria tua kaki dan tangannya terikat,dengan wajah terbungkus kain hitam. Mulutnya di tutup dengan lakban sehingga makian yang keluar dari mulutnya tidak terdengar sama sekali.
"Buka penutup kepalanya!!" Pinta Aiden.
Salah satu dari kedua pria itu menghampiri pria tua yang duduk terikat pada sebuah kursi kayu. Dengan kasar pria itu membuka penutup kepala membuat pria tua itu membelalakkan matanya setelah melihat siapa orang yang berdiri di depannya.
"AIDEN QIN?!"
-
Bersambung.