Sebagai seorang wanita, saat pacaran pun tidak rela diselingkuhi, apalagi dalam ikatan pernikahan, poligami adalah mimpi terburuk.
Namun keadaan yang menyudutkannya, Risma harus meminta Ardhi menikah lagi, demi membahagiakan orang tua Ardhi.
Demi rasa cintanya pada sahabatnya, Ishana menerima permintaaan Risma, untuk menjadi madu sahabatnya. Mengesampingkan penilaian buruk orang-orang, karena jadi yang kedua selalu salah di mata masyarakat.
Apakah Ardhi bisa adil terhadap istri-istrinya nanti? Atau ikatan baru malah menghapuskan cinta Ardhi yang semula hanya tertuju pada Risma?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Berlawanan
Risma hanya perlu menyelesaikan sedikit dandanannya, kini matanya tertuju pada handphone yang berada di meja riasnya. Pikirannya saat ini adalah Ishana. Jemari lentiknya mencolokkan kabel earphone pada handphone-nya. Dengan senyuman yang menghiasi wajahnya, Risma menekan panggilan ke nomor Ishana. Hanya terdengar bunyi 'tuttt' beberapa kali, panggilan teleponnya terhubung.
"Iya Risma?"
Suara halus itu menyapa telinga Risma dari ujung telepon.
"Na, aku ingin mengakui sesuatu, tapi aku ingin cerita sesuatu. Kamu punya waktu?"
"Sebentar ya Ris ...."
Terdengar suara Ishana berbicara dengan rekan kerjanya lain. Dengan sabar Risma menunggunya, namun jemarinya tetap merias wajahnya.
"Maaf lama ya Ris, sekarang aku sudah di tempat aman, jadi aku bisa dengarin cerita kamu."
"Na, aku mau mengakui sesuatu, semenjak kehadiran Eva, aku sangat tertekan, dan sangat ketakutan."
"Iya aku tahu itu, aku selalu bilang kalau cinta kak Ardhi padamu tidak akan teralihkan oleh kecantikan apapun. Percaya sedikit pada suami sendiri Ris."
"Na, aku ingin cerita, bukan ingin di nasehatin!"
"Maaf Ris, aku terlalu bersemangat soalnya, aku sangat berharap kamu dan kak Ardhi baikan lagi, aku sakit lihat kak Ardhi tertekan karena kamu jauhin."
"Aku rela ngelakuin apa aja, asal kalian bisa baikan lagi," ucap Ishana.
"Makanya, aku ingin memperbaiki segalanya."
"Serius Ris?"
"Iya, serius, makanya aku mau cerita sama kamu."
"Aku seneng banget Ris, makasih banyak kamu mau memperbaiki hubungan kalian."
"Iya, aku juga ingin menata kembali, tapi aku butuh bantuan kamu."
"Bantuan apa Ris?"
"Eva bilang, setelah melahirkan nanti, dia akan pergi dari rumah ini, pergi dari ikatan ini, dan meninggalkan anaknya sama kami. Pernikahan ini tentang mimpi papa Ardhi Na, Eva sudah mewujudkan mimpi papa Ardhi."
Risma bingung bagaimana mengutarakan keinginan hatinya pada Risma. Berulang kali Risma mengatur napasnya, membuat seseorang yang berada di ujung telepon sana resah menunggu ceritanya.
"Awalnya aku takut jujur tentang keinginan hatiku, tapi setelah bicara dengan mama Rita tempo hari, aku memberanikan diriku untuk bicara hal ini."
"Hmmm ...." Ishana masih sabar menunggu lanjutab cerita Risma.
"Mama dan keluarga Ardhi tidak butuh tambahan menantu, tapi butuh seseorang yang berbesar hati untuk melahirkan keturunan mereka, saat aku memilihmu, mereka sedikit kecewa."
Duggg!
Rasanya hantung Ishana ter-iris oleh benda yang sangat tajam. Kilat, namun begitu menyakitkan.
"Bukan kecewa padamu, tapi padaku, bagi mereka kamu wanita yang terlalu baik."
Risma terus menceritakan perbincangan dirinya dengan Wisnu juga dengan Rita, mengatakan pujian kedua orang itu yang tertuju untuk Ishana.
"Mereka bahagia, karena Ardhi mendapat istri kedua sebaik dirimu. Tapi aku tidak."
Doarrrr!
Hati Ishana remuk mendengar penuturan Risma, namun dirinya berusaha tegar untuk sahabatnya.
"Untuk membuatmu bahagia apa Ris?"
Terdengar suara tawa halus dari ujung telepon sana. Sedang Ishana serasa tengah berusaha mencabut satu persatu pisau yang menancap di hatinya.
"Karena Eva pergi, lebih baik kita akhiri segalanya. Orang baik sepertimu terkurung dalam ikatan ini rasanya tidak adil."
"Kamu masih muda Na, belum disentuh kak Ardhi, lebih baik kamu kejar impian baru kamu, daripada bertahan dalam ikatan tanpa cinta ini, ini tidak sehat buatmu Na."
Dada Ishana terasa begitu sesak, kepalanya juga mulai berdenyut. Bagaimana mengatakan pada Risma, kalau dirinya dan Ardhi sudah memulai segalanya.
"Kalau kamu yang bilang sama mama papa Ardhi, ingin keluar dari hubungan ini atas keinginan kamu sendiri, rasanya mereka akan maklum."
"Usul aku, karena Eva sudah mewujudkan tujuan utama kita semua, sebaiknya kamu naik sekoci kamu sendiri ya Na, dayung sendiri untuk kebahagiaan kamu sendiri."
"Jangan kamu buang-buang waktu untuk seseorang yang tidak kamu cinta, dan tidak mencintai kamu Na."
Aku mencintai suami kamu Ris ..., walau cinta suamimu lebih utamanya hanya dirimu.
Namun di ujung telepon sana, Ishana berusaha untuk tegar.
Tok! Tok! Tok!
"Nona Risma ... di tunggu Nyonya Rita sama Nona Eva di bawah."
Suara ketukkan pintu, dan panggilan dari bi Atin membuat Risma harus menyudahi panggilan telepon mereka.
"Sudah dulu ya Na, nanti kita sambung lagi."
Risma menutup panggilan telepon mereka. Dia segera menyelesaikan semuanya, dan segera menemui Rita dan Eva.
****
Di sudut Rumah Sakit yang sepi, Ishana hanya bisa menangis, sakit mengetahui kalau Risma ingin dirinya pergi, karena mimpinya sudah terwujud. Ishana terus menumpahkan tangisnya di tempat sepi itu.
40 menit berlalu, Ishana masih belum bisa menguatkan dirinya. Kebahagiaan dirinya dan Risma sesuatu yang berlawanan, kebahagiaan dirinya di barat, sedang kebahagiaan Risma di timur, untuk mendekati yang 1, dia harus menjauhi yang satu.
"Arrgggggg ...." Ishana hanya bisa menjerit.
"Kenapa kamu minta hal ini setelah aku jatuh cinta pada suami kamu Risma ...."
"Kalau sejak awal dirimu tidak siap berbagi, kenapa kamu seret aku kedalam semua ini?"
"Dengan mencintai suami kamu saja, ini sudah sangat menyakitkan bagimu. Tapi aku tidak bisa melawan semua itu!"
Ishana duduk di lantai menyandarkan punggungnya pada tembok Rumah Sakit itu.
"Kenapa kamu menangis Na?"
Suara khas yang selalu membuat jiwanya tenang membuat Ishana terperanjat.
"Kak Ardhi?"
"Kenapa menangis?"
Melihat Ardhi berjalan kearahnya, Ishana segera bangkit dari posisinya "Kak, demi kebaikan semua orang, kita akhiri segalanya, cinta kita dari awal semua ini sudah salah."
"Kamu bicara apa?"
"Aku mohon kak, kita akhiri semua ini, lepasin aku dari ikatan ini."
Ardhi sangat tidak mengerti ucapan Ishana, dia menarik Ishana menuju ruangan khusus miliknya yang letaknya tidak jauh dari sana.
"Katakan ada apa?"
"Tidak ada apa-apa kak, aku hanya ingin kita melupakan semuanya."
"Lupa? Aku gak akan bisa!"
"Demi kebahagiaan kakak dan Risma, aku mohon lepasin aku."
"Sekarang, kebahagiaan aku itu juga ada kamu, kamu dan Risma adalah 1 dalam hati aku."
"Kak ...." Ishana bingung bagaimana membuat Ardhi mengerti.
"Na, aku butuh kamu, tolong aku."
"Aku akan membuat Risma mengerti, kalau istri pilihan dia untukku telah masuk ke dalam hatiku, aku akan bicara padanya, mengakui padanya, kalau kita telah memulai segalanya."
"Kalau Risma menolak?"
"Tidak mungkin, kamu lupa betapa sayangnya dia padamu, dan betapa cintanya dirinya padaku?
Ardhi terus berusaha meyakinkan Ishana, kalau mereka bertiga bisa membina hubungan ini bersama-sama."
"Kalau Eva pergi dari kita, harusnya aku juga pergi kak."
"Itu tidak benar, aku tidak mengharapkan Eva pergi, tapi aku juga tidak memaksa dia untuk tinggal."
"Kak, bagaimana kalau kebahagiaan Risma adalah hanya ikatan yang sehat, hanya ada kakak dan dirinya."
"Aku akan bilang padanya, bahwa kebahagiaan aku juga ada dirimu."
"Aku butuh kamu Na, tolong aku, aku stres, aku tidak bisa fokus kerja, aku pernah cerita padamu bukan? Kalau aku punya sesuatu yang tinggi, pabila ku tahan tanpa sebab, aku bisa stres."
"Ku mohon Na, hanya kamu saat ini yang mengerti aku dan bisa menolongku."
***
Sedang Di luar Rumah Sakit.
Mobil yang dikemudikan Pak Abim perlahan memasuki parkian Rumah Sakit.
Mata Risma tidak sengaja menangkap mobil Ardhi yang melaju santai memasuki wilayah parkiran khusus untuk pegawai Rumah Sakit.
"Kak Ardhi?" Risma bergumam pelan.
"Ayo Risma ikut kita, kamu juga harus tau perkembangan anak kita," ucap Eva.
Risma berusaha mengumpulkan sisa kesadarannya, dia mengira yang dilihatnya barusan adalah mimpi. "Iya Va."
Eva, Rita, dan Risma, segera melangkahkan kaki mereka menuju ruangan dokter Sonia.