(Update setiap weekend)
Sungguh pahit hidup Olivia yang selama 4 bulan belakangan ini harus menjadi wanita simpanan dari Adams, pria yang merupakan kekasih sahabatnya yang bernama Alena hanya demi menutupi kesalahan yang dilakukannya.
Hidup Olivia kian menderita saat dirinya dinyatakan hamil. Awalnya ia sempat mengira jika anak yang dikandungnya adalah anak dari Adams. Pria yang selalu memanfaatkan tubuhnya sebagai pelampiasan di saat Alena sibuk dengan rutinitas dan jadwal shootingnya yang padat. Namun, Adams mengungkap bahwa ternyata dirinya mandul hingga membuat Olivia merasa bingung dengan ayah dari bayi yang dikandungnya saat ini.
Bagaimana cara Olivia dapat menemukan pria yang telah menghamilinya? Dan, apakah Olivia bisa menemukan kebahagiaan dengan segala kesedihan dan kemalangan yang dialaminya?
Follow Instagram Author: ekapradita_87
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10 Miliar
Selamat membaca!
"Adams, untuk apa kamu datang ke sini? Apa kamu sengaja membuntutiku?" Olivia bertanya dengan wajah penuh keterkejutan karena ia sama sekali tidak menyangka jika ternyata Adams sangat mengkhawatirkannya.
"Iya, aku memang sengaja mengikuti mobil pria itu. Aku enggak mau sampai kamu disakiti oleh mereka, Liv."
Perkataan itu spontan membuat tawa Olivia terdengar renyah hingga membuat siapa pun yang ada di ruangan itu merasa bingung dengannya. "Kamu tidak ingin mereka menyakitiku, bulshit! Selama 4 bulan kemarin apa kabar, Adams? Apa kamu benar-benar tidak merasa telah menyakiti aku?"
Raut wajah Adams seketika berubah sendu. Ia begitu menyesal atas apa yang telah diperbuatnya. "Maafkan aku, Liv. Tapi, aku benar-benar menyesal, apalagi setelah tau kamu hamil. Sekarang kamu tidak perlu lagi mencari siapa ayah dari anakmu, biarkan aku yang akan menjadi ayahnya, Liv. Aku akan bertanggung jawab dan membuatmu bahagia. Aku janji!"
Bukannya senang Adams bicara seperti itu, Olivia malah meminta kepada Selim untuk membawa pria itu pergi dari ruang tamu agar mereka bisa melanjutkan negosiasi yang sempat tertunda karena kedatangannya. "Tolong suruh anak buahmu membawa dia pergi, Tuan! Aku tidak mau lagi mendengar omong kosongnya."
Adams pun berontak ketika Selim memerintah dua penjaga rumah untuk membawanya pergi. "Liv, ayo pergi ikut aku! Jangan pernah kamu terima tawaran dari mereka, Liv!"
Olivia sama sekali tidak menghiraukan apa pun yang Adams katakan. Ia bahkan tidak beranjak dari posisi duduknya dan kini kembali melihat Selim yang sudah duduk di tempatnya semula.
"Baiklah, saya akan menyetujui apa yang kamu mau, tapi dengan syarat tambahan."
"Maksudnya?" tanya Olivia bingung.
"Kamu harus tinggal di rumah yang nanti akan saya siapkan sampai kamu melahirkan. Pokoknya selama itu, kamu tidak boleh pergi ke mana pun. Bagaimana?"
Olivia tampak berpikir sejenak. Baginya ini mulai terasa seperti kisah-kisah novel yang sering dibacanya. Di mana seorang wanita dihamili oleh pria konglomerat dan pada akhirnya, wanita itu akan menikah dengan pria itu. Namun, ia merasa tidak yakin jika kisah hidupnya saat ini memiliki akhir yang sama dengan cerita dalam novel itu, apalagi wanita yang ada di sebelah Selim benar-benar nyaris sempurna hingga tak ada celah baginya untuk menemukan kekurangan darinya.
"Saya setuju, tapi saya tidak mau kamu mengurung saya di rumah. Kamu harus tetap mengizinkan saya pergi ke mana pun yang saya mau dan pembayaran harus dilakukan di awal." Olivia begitu pintar memanfaatkan situasi yang memang sangat menguntungkan untuknya hingga membuat pria yang masih memperhatikannya di lantai 2 jadi tersenyum.
"Tidak bisa, Oliv. Bagaimana saya bisa tau jika kamu tidak akan pergi setelah menerima uang dari saya?" jawab Selim yang sesekali melirik ke atas. Ia seolah meminta petunjuk apakah jawabannya benar atau tidak.
"Bukannya kamu bisa mempekerjakan seorang pengawal untuk mengawal saya ketika saya pergi. Kamu juga bisa menyiapkan saya seorang sopir. Jadi saya tidak akan bisa melarikan diri. Saya pikir orang kaya sepertimu, tidak akan sulit menyediakannya."
"Kamu memang pintar, Oliv. Baiklah, saya akan mengabulkan semua persyaratanmu. Jadi berapa yang harus saya bayar di awal untuk perjanjian ini?"
"10 miliar." Olivia melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap Selim dengan senyum penuh kemenangan. Ia benar-benar tidak menyangka jika kehamilannya adalah sebuah berkah yang bisa membuatnya naik kelas. Tak akan lagi direndahkan sebagai wanita simpanan karena uang yang didapatnya dari Selim sudah tentu membuatnya menjadi wanita kaya. "Aku melakukan ini untuk ibu dan adikku. Aku hanya ingin mereka bahagia. Suatu saat nanti ketika anak ini sudah besar, dia pasti akan mengerti keputusanku yang aku ambil ini," gumam Olivia yang tampak murung saat mengatakan kalimat terakhirnya itu.
Di tengah rasa kalutnya, dering ponsel miliknya berbunyi. Olivia pun langsung mengambil benda pipih itu dari dalam tasnya. Melihat layar pada ponsel yang tertera nama Kevin di sana.
"Kevin, oh iya! Aku kan memintanya untuk menunggu di parkiran rumah sakit. Bodoh, kenapa aku bisa lupa ya?" batin Olivia yang baru teringat bahwa ia benar-benar meninggalkan pria itu di sana.
Bersambung ✍️
walaupun diajak ngomong cuma anggukan kepala saja .
selama empat bulan bersama kamu hanya kau jadikan simpananmu tak pernah menghargai olive