Sejak usia lima tahun, Raya Amelia hidup dalam neraka buatan ayahnya, Davin, yang menyalahkannya atas kematian sang ibu. Penderitaan Raya kian sempurna saat ibu dan kakak tiri masuk ke kehidupannya, membawa siksaan fisik dan mental yang bertubi-tubi. Namun, kehancuran sesungguhnya baru saja dimulai, di tengah rasa sakit itu, Raya kini mengandung benih dari Leo, kakak tirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qwan in, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Setelah tiga hari menjalani perawatan intensif, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu Lili tiba, hari dimana ia diperbolehkan pulang. Pagi itu, suasana ruang perawatan terasa jauh lebih hangat daripada hari-hari sebelumnya.
Raya sibuk membereskan barang-barang Lili ke dalam tas kecil yang sudah mulai usang. Gerakannya rapi, meski sesekali ia berhenti, memastikan tak ada satu pun milik putrinya yang tertinggal. Di atas ranjang rumah sakit, Lili duduk sambil mengayunkan kakinya pelan. Wajahnya cerah, senyumnya merekah, seolah semua rasa sakit yang ia lewati beberapa hari terakhir menguap begitu saja.
“Hari ini kita pulang, kan, Bu?” tanya Lili dengan mata berbinar.
Raya menoleh dan tersenyum lembut. “Iya,” jawabnya pelan. “Hari ini kita pulang.”
"Asyik! Lili nggak sabar mau ketemu Om Leo. Lili kangen banget..." Bocah itu menangkupkan kedua tangannya di depan dada, membayangkan wajah pria yang baru dikenalnya itu. "Kira-kira Om Leo kangen nggak ya sama Lili?"
Gerakan tangan Raya yang sedang merapikan tas seketika terhenti. Nathan, yang sedari tadi berdiri di sudut ruangan sambil memeriksa catatan medis di tabletnya, perlahan menurunkan alat tersebut. Ia menatap Raya dengan dahi berkerut, ada rasa ingin tahu yang tak bisa ia sembunyikan.
“Leo?” tanyanya hati-hati. “Siapa Leo?”
Raya sempat tertegun sejenak, mencari kata yang paling aman agar tidak memancing kecurigaan lebih jauh. "Tetangga baru," jawabnya singkat sambil kembali sibuk dengan tasnya. "Dia tinggal di rumah sebelah yang sudah lama kosong itu."
Nathan mengangguk perlahan, meski ada sedikit keraguan yang melintas di wajahnya. Ia tahu seberapa tertutupnya Raya terhadap orang asing, dan mendengar Lili begitu merindukan seorang tetangga baru adalah hal yang tidak biasa.
"Aku sudah memesankan taksi untuk kalian," ujar Nathan, mengalihkan pembicaraan agar suasana tidak menjadi kaku. "Sebenarnya aku ingin mengantar kalian sampai ke depan rumah, tapi jadwal operasi hari ini benar-benar padat. Aku tidak bisa meninggalkan rumah sakit."
Raya menoleh dengan tatapan penuh rasa tidak enak. "Terima kasih. Tapi seharusnya kamu tidak perlu repot-repot sampai sejauh itu. Kamu sudah melakukan banyak hal untuk kami."
"Bukan masalah, Anna. Selama itu untuk Lili, tidak ada yang repot," ucap Nathan tersenyum tulus.
Beberapa saat kemudian, mereka melangkah keluar dari ruang perawatan. Koridor rumah sakit yang biasanya terasa dingin, kini terasa sedikit lebih hidup. Nathan menggendong Lili dengan hati-hati, membiarkan kepala bocah itu bersandar di bahunya, sementara Raya berjalan di sisi mereka sambil menjinjing tas perlengkapan milik lili.
Di wajah Lili, senyum itu tak pernah pudar. Ia tak tahu apa yang menanti di luar sana, tapi satu hal ia yakini, sebentar lagi ia akan pulang, dan ada seseorang yang ia rindukan menunggu di rumah.
Sepanjang perjalanan pulang, kabin taksi yang sempit itu penuh dengan suara ceria Lili. Bocah itu seolah memiliki energi cadangan yang tak ada habisnya. Ia tak henti-hentinya berceloteh tentang daftar kegiatan yang akan ia lakukan bersama Leo, mulai dari mewarnai gambar baru, hingga mencari belalang di semak-semak.
Raya hanya duduk diam di sampingnya. Ia menyandarkan kepala pada jendela kaca, sesekali tersenyum tipis atau mengangguk singkat untuk menanggapi antusiasme putrinya. Namun, di balik senyum itu, pikiran Raya sedang menyusun dinding benteng yang baru.
"Lili..." panggil Raya lembut.
Lili menoleh, matanya bulat penuh rasa ingin tahu. "Iya, Bu?"
Raya menarik napas panjang, mencoba mengatur nada suaranya agar terdengar biasa saja. "Nanti kalau sudah sampai rumah, Lili janji ya sama Ibu. Jangan bilang ke Om Leo kalau Lili habis dari rumah sakit."
Dahi kecil Lili berkerut. Ia tampak bingung dengan permintaan ibunya yang tiba-tiba. "Kenapa, Bu?" tanya Lili polos. "Apa nanti Om Leo bakal sedih kalau tahu Lili sakit?"
Raya tertegun sejenak. Ia melihat gurat kekhawatiran di wajah anaknya. Dengan kaku, Raya mengangguk. "Iya, Sayang. Om Leo bisa sedih sekali nanti kalau tahu," bisiknya lirih, seolah membenarkan alasan yang dibuat Lili.
Lili terdiam, lalu mengangguk pelan dengan raut wajah yang mendadak serius, seolah baru saja menerima misi rahasia yang sangat penting.
Padahal, jauh di lubuk hatinya, bukan kesedihan Leo yang Raya khawatirkan. Ia hanya tidak ingin pria itu melangkah terlalu jauh ke dalam zona nyaman yang telah ia bangun dengan susah payah. Baginya, Leo adalah masa lalu yang seharusnya tetap tinggal di belakang.
Raya takut jika Leo tahu bahwa putri mereka mengidap gagal ginjal, pria itu akan menggunakan rasa iba sebagai tiket masuk kembali ke hidup mereka. Ia tidak ingin belas kasihan, tidak ingin drama tanggung jawab yang terlambat, dan yang paling utama, ia tidak ingin berbagi Lili. Baginya, Lili adalah dunianya, dan ia sudah cukup kuat untuk menjaga dunia itu sendirian tanpa perlu kehadiran sosok pria yang pernah mematahkan hatinya.
Tak lama kemudian, taksi mulai melambat saat memasuki jalan setapak menuju rumah mereka. Dari kejauhan, Raya bisa melihat sosok Leo sedang duduk di teras rumah kayunya, tampak gelisah sambil terus menatap ke arah jalan.
"Ingat janji kita ya, Lili," bisik Raya sekali lagi sebelum taksi benar-benar berhenti.