Citra tak pernah menduga akan terjerat asmara dengan mantan kakak iparnya, Bima. Bima adalah kakak tiri Bayu, mantan suami Citra.
Rumah tangga Citra dan Bayu hanya bertahan selama dua tahun. Campur tangan Arini, ibu kandung Bayu membuat keharmonisan rumah tangga mereka kandas di tengah jalan.
Akankah Citra menerima Bima dan kembali masuk dalam lingkungan keluarga mantan suaminya dulu? Bagaimana juga reaksi Bayu juga Arini ketika mengetahui Bima menjalin asmara dengan Citra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepincut Asmara
Sesampainya di kantor dan dirasa aman dari gangguan bos dan kedua rekannya, Citra baru membuka pesan dari mantan kakak iparnya itu. Dia tak ingin terlalu lama mengabaikan pesan Bima, khawatir pria itu tersinggung, apalagi kantor tempatnya bekerja sedang menjalin kerja sama dengan kantor Bima bertugas. Jika sampai Bima marah dan merasa tersinggung dia abaikan, dia takut akan mempengaruhi sikap Bima dalam memutuskan kerjasama mereka berlanjut atau tidak. Mungkin ia terlalu berlebihan, tapi dia tak ingin disalahkan karena hal tersebut.
"Di mana kamu tinggal? Apa saya boleh tahu alamat rumahmu?"
Pesan pertanyaan dari Bima itu yang muncul di ponsel Citra, membuat Citra membeliakkan mata. Kemarin Bima meminta nomer ponselnya, sekarang alamat rumahnya. Mau apa lagi pria itu? Pikirnya.
Seketika Citra dibuat gusar. Dia khawatir dugaan Liza yang mengatakan Bima seperti tertarik padanya ternyata benar.
"Alamak ... Jangan sampai ..." gumam Citra menggigit bibir bawahnya, merasa tak nyaman setelah pertemuannya dengan Bima. Seandainya itu benar, apa kata orang nanti kalau dia bersama mantan iparnya itu?
Citra lalu mengetik balasan pada Bima. "Maaf, baru balas, Mas. Tadi sedang di luar. Saya masih tinggal di alamat yang lama." Tak ingin menyebut alamat rumahnya, Citra hanya mengatakan jika rumahnya belum pindah dan masih tinggal di rumah orang tuanya.
Pesan balasan yang ia kirim hanya ceklis dua dan belum terbaca Bima hingga beberapa saat. Sepertinya Bima sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Syukurlah, semoga aja pesanku ada paling bawah dan nggak terbaca sama dia," harap Citra menaruh ponselnya kembali di meja.
Ddrrtt ddrrtt
Baru saja dia menaruh ponselnya di meja, suara notif pesan masuk kembali terdengar, membuat Citra berdebar, khawatir kalau itu adalah pesan jawaban dari Bima.
Citra memejamkan mata dan menarik nafas perlahan. Ternyata yang ditakutkan benar terjadi, Bima yang membalas pesannya tadi.
"Saya belum pernah tahu di mana kamu tinggal. Kirimkan saja, biar nanti saya cari alamatnya." Bima memang tidak pernah tahu alamat tempat tinggal Citra, karena saat akad pernikahan Bayu, dia tak menghadirinya, baru saat resepsi dia datang, itu pun digelar di gedung bukan di rumah orang tua Citra.
Bola mata Citra kembali melebar dengan mulut ternganga. Jelas-jelas Bima mengatakan akan mencari alamatnya, sepertinya pria itu akan datang ke rumahnya.
"Astaga!" Citra bingung, harus menjawab atau mengabaikan permintaan Bima tadi.
"Maaf, memangnya ada apa, ya, Mas? Saya sama Bayu sudah nggak ada urusan lagi." Citra sengaja mengulur waktu, tak segera memberi alamat rumahnya pada Citra. Dia pun menegaskan kalau tidak ada urusan dengan keluarga besar Wardana lagi setelah resmi bercerai.
"Ini tidak ada hubungannya dengan Bayu. Saya hanya ingin bersilaturahmi saja. Apa tidak boleh?" balas Bima menjelaskan karena Citra tak segera memberi alamat rumahnya.
"Silaturahmi pasti ada niat terselubung ..." gumam Citra setelah membaca balasan dari Bima. Dia menebak kalau itu bukan hanya sekedar silaturahmi, apalagi mengingat dugaan Liza terhadap Bima. Seketika ia menyesal ikut dengan Liza bertemu dengan Bima. Seandainya saja dia tak menggantikan Erwin, mungkin dia tidak akan bertemu dengan Bima dan tak akan menghadapi situasi canggung seperti saat ini.
"Apa kamu keberatan saya tahu alamatmu?"
Pertanyaan Bima berikutnya membuat Citra serba salah tak enak hati, sehingga akhirnya ia memberikan alamat tempat tinggalnya.
"Oke, terima kasih." Setelah mendapatkan alamat Citra, Bima langsung mengucapkan terima kasih dan mengakhiri komunikasinya. Sementara Citra masih menebak-nebak, mau apa Bima menanyakan alamat rumahnya.
***
Bima menopang stick billiard di antara ibu jari dan telunjuknya dan bersiap menyodok bola putih mengarah pada bola lainnya yang berangka.
Sore ini Bima berkunjung ke rumah Kevin. Kevin sahabat dekat Bima sejak mereka kuliah dan tetap menjalin silaturahmi hingga saat ini. Lebih dari dua puluh tahun usia pertemanan mereka, Bima sering bertandang ke rumah Kevin, berbincang dan bermain billiard di sana jika ada yang ingin ia diskusikan dengan sahabatnya mengenai banyak hal.
"Jadi, kau ingin menjalin hubungan dengan mantan istri Bayu, Bim?" tanya Kevin setelah Bima berhasil memasukkan dua bola ke dalam lubang di salah satu lubang corner pockets dan middle pockets.
Bima memang datang dan bercerita kepada Kevin soal pertemuannya dengan Citra. Mereka bukan hanya sekedar teman, tapi seperti saudara. Bahkan Bima lebih dekat, akrab dan terbuka pada Kevin dibanding dengan Bayu yang notabene adalah adik sambungnya sendiri.
"Aku hanya bilang dia itu wanita yang menarik," jawab Bima tak ingin terburu-buru mengatakan ingin menjalin hubungan dengan Citra, meskipun ia memang tertarik pada mantan adik iparnya itu, bahkan sejak pertama kali berjumpa dengan Citra di resepsi pernikahan Citra dengan Bayu kala itu.
"Tapi, dia 'kan bekas istri adik tirimu, Bim! Apa kau nggak tertarik dengan wanita lain yang masih single? Maksudku yang masih gadis. Aku yakin pasti banyak gadis yang mau denganmu kalau kau membuka hati untuk mereka." Kevin sepertinya kurang setuju Bima menjalin hubungan asmara dengan Citra, karena selain berstatus janda, Citra juga adalah mantan istri dari adik tiri Bima. Dia khawatir hal itu akan berdampak buruk bagi hubungan Bima dengan keluarganya jika Bima nekat ingin menjalin asmara dengan Citra.
Dengan penampilan fisik serta karir Bima sebagai pimpinan marketing, dia pikir sebenarnya Bima akan mudah mendapatkan pendamping. Tapi, entah apa yang jadi bahan pertimbangan Bima hingga masih betah sendiri hingga usianya menyentuh empat puluh tahun.
Bima sebelumnya jarang bercerita tentang wanita, sehingga ia dapat menangkap maksud Bima bercerita tentang pertemuan dengan Citra kepadanya.
"Memangnya kenapa kalau status dia janda dan mantan ipar aku?" Bima menaruh stick-nya dan berniat mengakhiri permainan billiard yang sudah berlangsung sekitar satu jam.
"Dia bercerai dengan adikmu, artinya ada yang gagal dia jalani, kan? Sekarang kau tertarik dengannya, lama-lama kau ingin menjadikan dia istri. Apa nggak bisa mendapatkan wanita yang aman dari masalah?" Kevin menyarankan Bima untuk berpikir ulang jika ingin mendekati Citra.
"Dia bercerai karena si Bayu yang nggak becus jadi suami!" Bima berusaha membela Citra yang dianggap tidak baik oleh Kevin. Karena ia yakin perceraian Bayu dan Citra bukan kesalahan Citra dan bukan karena Citra gagal menjalankan tugas sebagai istri. Tapi, karena Bayu gagal menjadi suami yang bertanggung jawab. Setidaknya itulah poin yang ia dapat setelah berbincang dengan Bi Siti.
Kevin tergelak melihat reaksi Bima yang seolah tak terima dia menyalahkan Citra.
"Kau bilang hanya tertarik, tapi kau protes saat aku menilai dia buruk. Apa artinya kau sudah jatuh cinta padanya, bro?" Kevin meledek Bima, melihat respon Bima tadi.
"Terserah apa katamu! Yang pasti, dia tak seburuk yang kau pikirkan!" tegas Bima.
Kevin melangkah mendekat dan menepuk pundak Bima.
"Gini saja, kau bawa dia ketemu denganku. Aku bisa menilai tipe-tipe wanita itu seperti apa!? Kalau menurutku dia memang baik, aku dukung kau dekati dia. Tapi, jika aku nilai dia kurang cocok denganmu, sebaiknya kau pikir-pikir lagi untuk memperistri dia, Bim." Kevin memberi saran pada Bima, karena ia menangkap jika sahabatnya itu sudah mulai kepincut asmara. Kevin memang paling ahli dalam urusan wanita, karena itu ia meminta Bima untuk mengenalkan Citra kepadanya agar dia bisa menilai wanita seperti apa Citra itu.
♥️♥️♥️
woooooy kamu itu udah mantaaan yaah
mantan buang pada tempatnya
tempat nya tong sampah
semoga bima sama citra tdk terpengaruh...
sepicik itu pikiran Arini terhadap Citra?
Ayo Bima lindungi Citra dari niat jahat Arini
kamu emang the best