Di pertemukan oleh waktu, di persatukan oleh takdir.
Namun, di pisahkan oleh ketamakkan.
Aishleen Khadijah dan Albiru Adityawarman.
Dua insan berbeda karakter, awal pertemuannya begitu unik.
Diam-diam saling mengagumi dan melangitkan nama masing-masing dalam doa.
Hingga pada akhirnya dipersatukan oleh takdir.
Saat kebahagiaan tengah menyelimuti keduanya, mereka harus terpisah oleh ketamakkan.
Takdir buruk apa yang memaksa mereka harus berpisah?
Akankah takdir baik menyertai keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYSEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Otw Halal
...32. Otw Halal....
Biru.
Diruang tengah yang tak terlalu luas, Biru beserta orang tua dan adik-adiknya duduk bersama setelah menyantap hidangan makanan siang yang disajikan oleh tuan rumah.
Sedangkan diruang tamu, tengah ramai beberapa orang yang diutus Azzam untuk menyingkirkan kursi-kursi ke ruangan lain.
Ruang tamu tersebut akan dijadikan sebagai tempat akad nikah antara Biru dan Kha. Ya, Biru dan Kha akan segera melangsungkan pernikahan secara agama malam itu juga. Setelah dengan lugas dan yakin Biru menjawab pertanyaan Azzam tentang kesiapannya menikahi Kha.
“Insya Allah semua hari adalah hari baik. Untuk menghindari fitnah juga, Pak Awan, Bu Senja... Karena bagaimana pun Biru dan Kha sering bersama. Setelah menikah agama, anak-anak kita bisa melengkapi data pengajuan isbat nikah untuk mengesahkan pernikahan mereka.” ujar Azzam siang itu.
Demi apapun ia sama sekali tak memprediksi bahwa kedatangannya ke Jogja yang tujuan awal hanya sekedar silaturahmi, mendadak berubah menjadi acara pernikahannya sendiri. Ternyata hal-hal yang Senja khawatirkan terjadi juga. Pantas saja Senja mempersiapkan barang bawaannya begitu lengkap.
Awalnya Senja sempat protes, karena menurutnya pernikahan butuh banyak persiapan. Belum juga Senja sangat mempertimbangkan restu dari Jihan yang belum Biru pintai.
“Restu Mama Jihan itu penting, Nak! Kamu telfon Mama sekarang, kita lihat apa Mama Jihan setuju atau tidak.”
Biru menghela napas. Mungkin Jihan akan dengan mudah memberikan restu, tetapi Biru bisa menebak dengan jelas apa yang akan menjadi syarat mutlak untuk ia lakukan.
“Boleh nggak, Biru telfon Mama Jihannya nanti setelah akad?” tawar Biru.
Plaak!! Senja memukul lengan Biru sampai anaknya meringis meski tak terasa sakit.
“Maksud Abang, lebih baik minta maaf dari pada minta izin? Nggak ada! Nggak boleh! Telfon Mama Jihan sekarang!”
Akhirnya Biru mengalah. Ia raih gawai dari saku celana, lalu menelpon Jihan.
Ya... Ya... Ya... Aku sudah pernah bilang 'kan ke kamu? Terserah kamu mau nikahin siapa saja, Asal! Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan selanjutnya. Kalau kamu tetap tidak mau melakukan keinginan Mama, biar Mama yang bergerak mendapatkannya!
Lagi, Biru membuang napas berat secara cuma-cuma. Betapa ia sadar memiliki Ibu Kandung rasa Ibu tiri dan sebaliknya. Berbeda dengan Jihan yang selalu menuntut, Senja menyayangi dirinya dengan tulus tanpa syarat.
Tanpa banyak kata, Biru menutup telpon lalu kembali bergabung bersama keluarga diruang tengah. Disana, ia melihat Kha sudah duduk diapit oleh Senja dan Alsea.
“Maafkan Anak Tante yang akan menikahi kamu jauh dari kata layak karena kurang persiapan ya, Kha,”
Biru bisa melihat jelas Kha tersenyum manis. “Bukan salah Mas Biru, Tante. Karena ini juga permintaan Abi.”
“Apa yang membuat Kha mau menerima Biru?” tanya Senja. Biru yang mendengar pun turut penasaran dengan jawaban Kha, ia duduk dibelakang Senja dan menelinga.
Tanpa ragu Kha menjawab. “Bagaimana saya bisa menolak jika memang benar Allah datangkan dia untuk saya.”
“Satu lagi, Nak. Kamu minta mahar apa dari Biru?”
Kha menatap Alsea sesaat, Umminya mengangguk pelan seraya tersenyum, seakan sedang berinteraksi dengan mata.
“Saya tidak ingin memberatkan Mas Biru, Tante. Karena Kha tahu ini dilakukan mendadak. Apapun yang Mas Biru kasih, Kha akan menerima dengan ikhlas.” ujar Kha.
Senja pun terlihat lega. Sebab ia sudah menyiapkan beberapa barang yang belum mereka keluarkan dari mobil, salah satunya berisi seperangkat alat sholat dan barang lainnya yang pantas untuk dijadikan mahar.
Senja menatap Biru seraya berbisik. “Alhamdulillah... Untung Mama sudah siapin semua, dugaan Mama nggak pernah meleset!”
Biru terkekeh dan mengacungkan dua jempolnya. “Mama emang paling the best!” bisik Biru tepat dibelakang telinga Senja.
******
Malamnya, selepas sholat Maghrib, kediaman Kha mulai ramai dipenuhi tamu-tamu yang di undang oleh Azzam. Mulai dari pemuka agama dilingkungan setempat yang akan menjadi penghulu, saksi untuk pernikahan, keluarga besar Kha dan para tetangga.
Biru menatap pantulan dirinya di cermin. Malam ini ia memakai setelan baju Koko putih pemberian Alsea. Meski sederhana, tapi ia senang karena bajunya dibuat langsung oleh tangan si calon mertua. Sebuah kebanggaan tersendiri untuk Biru.
Biru sedikit gugup. Sejak suara Qiroah terdengar dari Masjid, terhitung ia sudah bolak-balik ke kamar mandi sebanyak 7 kali, hal itu memancing gelak tawa Awan dan Barid.
“Mukanya sok cool, giliran mau nikahin anak orang mendadak thermor. Perlu gue gantiin nggak, Bang?” cibiran Barid mendapat lemparan bantal dari Senja.
Senja berdiri, mensejajarkan diri dengan Biru, lalu menarik anaknya kedalam pelukan. Terdengar suara isakan tangis, samar sebab Senja menyembunyikan wajahnya dibahu Biru.
“Ma... Kok, nangis? Mama nggak ikhlas Biru nikah?”
Senja menggeleng. Senja sampai mendongak sedikit berjinjit untuk menangkap kedua pipi Biru. “Mama ikhlas... Tapi Mama masih belum percaya bakal secepat ini. Sebentar lagi Abang punya keluarga sendiri. Jadi suami yang baik ya, Bang....”
Biru mencium tangan Senja lalu merengkuh kembali tubuh Senja ke pelukan.
Biru menenangkan dengan mengusap lembut punggung Senja. “Mama nggak usah khawatir, Biru tetap anak Mama, selamanya Biru cuma milik Mama Senja sama Mama Jihan.”
“Ya emang anak Mama! Emang kamu mau jadi anak Mama siapa lagi?! Mau nambah?!”
“Boleh, Mah?” mendengar sahutan Awan, sontak membuat Senja membulatkan mata. Serta merta ia melemparkan slingbag yang menggantung di tangannya.
“Papa mau nambah? Belum puas udah 2 kali? Masih mau upgrade istri lagi?”
“Kan Mama yang bilang barusan, Papa cuman ikutan aja.” kilah Awan.
Disela candaan mereka didalam kamar tamu. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Barid membukakan pintu. Gamya, anak bungsu dirumah ini datang memberikan peci pemberian Azzam untuk Biru kenakan, serta mengabari jika acara akan segera dimulai.
“Kita keluar sekarang,” ajak Senja. “Bismillah ya, Nak. Otw halal ini, jadi jangan gugup.” ujar Senja menenangkan Biru.
Tinggalkan jejak sebelum scroll ya bestieee. love u all ❤️
baca bab awal,mulai tertarik
baca bab 2,mulai suka
q lanjut baca ya kak author, makasih 🙏😉
karena akan ada tahap yang namanya ta'aruf